Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pintu geser ruang ganti itu terbuka dengan bunyi desis yang halus.
Kini giliran Langit, sang CEO muda sekaligus calon mempelai wanita, yang melangkah keluar dari ruang ganti.
Ia mengenakan gaun pengantin off-shoulder berwarna putih gading dengan ekor panjang yang elegan.
Gaun sutra premium itu melekat sempurna di tubuh sintalnya, membungkus setiap lekuk dengan presisi yang mematikan.
Potongan rendah di bagian bahu memamerkan tulang selangka yang tegas dan kulit seputih pualam, memancarkan aura kecantikan yang legal sekaligus sensual.
Di sudut ruangan, Bumi Mahardika, calon suami kontrak sedang menyesap kopi hitam dari cangkir porselen kecil.
Ketika pintu terbuka, cangkir itu tertahan di udara, tepat beberapa sentimeter di depan bibirnya.
Mata Bumi menatap Langit tanpa putus, mengagumi keindahan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, meski lewat sebuah kontrak.
Tatapannya yang biasanya datar dan sedingin es, kini terpaku.
Ada binar tak biasa di manik mata hitamnya. Ia terbiasa melihat Langit dalam balutan setelan blazer formal yang kaku, atau pakaian kasual satin saat mereka membahas pasal-pasal perjanjian.
Namun hari ini, wanita di depannya tampak seperti makhluk dari semesta yang berbeda. Begitu agung, begitu tak tersentuh, namun sekaligus begitu nyata.
Langit yang menyadari tatapan intens itu mencoba berdehem, meski pipinya mendadak terasa sedikit panas.
"Bagaimana? Terlalu berlebihan?" tanyanya, mencoba mempertahankan suara tegas khas seorang pemimpin perusahaan.
Bumi tidak langsung menjawab. Ia perlahan menurunkan cangkir kopinya ke atas meja kaca, ketukan porselennya terdengar nyaring di keheningan butik.
Ia berdiri, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jinsnya yang sedikit memudar di bagian lutut.
Para pegawai butik tertawa menyaksikan kelakuan Bumi saat terpana melihat kecantikan Langit yang berlipat ganda.
Dua orang perancang busana yang berdiri di dekat podium saling berbisik sambil tersenyum geli, memaklumi reaksi sang calon mempelai pria yang tampak seperti baru saja terkena sihir.
"Mas Bumi sampai tidak berkedip begitu," goda salah satu pegawai senior dengan nada bercanda.
"Cantik sekali kan, Mas? Jangan sampai lupa napas."
Bumi hanya mendengkus pelan, mencoba menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat runtuh.
Ia melangkah mendekati podium. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi tegap khas pria yang terbiasa melakukan pekerjaan fisik berat, membuat kehadiran Bumi terasa dominan di samping Langit.
"Gaunnya bagus," ucap Bumi pendek dengan suara beratnya yang khas. "Tapi ekornya terlalu panjang. Kalau kau mendadak harus lari dari kejaran investor yang marah, kau bisa tersandung."
Langit memutar bola matanya, namun sebuah senyuman tipis tidak bisa disembunyikan dari sudut bibirnya.
Ada candaan menggelitik dan pembahasan lucu yang selalu muncul di antara mereka.
"Ini pernikahan, Bumi, bukan pelarian dari kejaran penagih utang," sahut Langit, berbalik menghadap cermin besar di depan mereka.
"Dan lagi, tidak akan ada investor yang marah di hari pernikahanku. Semua sudah dijadwalkan dengan rapi."
"Tetap saja. Di duniaku, sesuatu yang menjuntai lebih dari tiga puluh senti dari tubuh itu namanya beban mekanis. Menghambat mobilitas,"
balas Bumi datar, tanpa ekspresi, namun matanya tetap memperhatikan pantulan Langit di cermin.
"Ini namanya estetika, Bumi" puji Langit dengan nada meremehkan yang dibuat-buat.
"Kau tidak bisa menyamakan gaun pengantin rancangan desainer Paris dengan kabel bodi motor yang berantakan." Sambung langit lagi.
"Kabel bodi kalau berantakan bisa bikin korsleting dan kebakaran, Nona CEO. Kalau gaun ini? Paling hanya membuatku repot kalau kau minta digendong karena kelelahan."
Langit mendengus geli. Gaya Bumi yang dingin, kaku, namun selalu memiliki argumen spontan yang aneh terbukti selalu berhasil menghidupkan suasana di antara ketegangan bisnis yang biasa dihadapi Langit sehari-hari.
"Siapa juga yang minta digendong olehmu?"
"Kita lihat saja nanti di pelaminan. Kau memakai sepatu hak setinggi itu, sementara acaramu berlangsung lima jam. Secara hukum fisika, lututmu akan menyerah di jam ketiga."
Saat Langit hendak membalas ucapan konyol itu, ia merasakan kain di bagian punggungnya sedikit melonggar.
Salah satu kancing kait tersembunyi di bagian belakang gaun rupanya belum terpasang dengan benar karena posisi ekor gaun yang agak melintir.
"Ah, sebentar, Nona. Biar saya bantu rapikan ekornya," ujar seorang pegawai butik yang hendak mendekat.
"Biar saya saja," potong Bumi tiba-tiba.
Langkah pegawai itu terhenti, lalu mundur dengan senyum penuh arti.
Bumi melangkah ke belakang podium. Ia berlutut dengan satu kaki, membenarkan posisi kain satin yang melingkar di lantai, lalu berdiri tepat di belakang tubuh Langit.
Karena potongan gaun yang berdesain off-shoulder, bagian punggung atas Langit terekspos sepenuhnya.
Kulitnya terasa hangat dan sehalus sutra. Ketika jemari Bumi yang besar, sedikit kasar karena sering bersentuhan dengan kunci Inggris dan mesin, bergerak perlahan untuk mengaitkan kancing kecil di batas kain, ujung jarinya tidak sengaja menyapu kulit punggung Langit.
Seketika, ada rasa berdesir dari keduanya.
Langit menahan napasnya.
Sentuhan tangan Bumi yang kasar justru memberikan sensasi hangat yang mengejutkan, mengirimkan sengatan listrik halus yang langsung menjalar ke tulang belakangnya.
Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Di sisi lain, Bumi pun membeku sesaat.
Sentuhannya pada kulit Langit terasa begitu kontras dengan dunianya yang keras.
Kulit wanita itu begitu rapuh sekaligus memabukkan.
Bumi bisa mencium aroma parfum melati dan vanila yang menguar dari leher Langit, membuat konsentrasinya buyar selama beberapa detik.
Bumi berdehem kecil, berusaha menetralkan debaran aneh di dadanya sendiri. Dengan cekatan, ia menyelesaikan kancing terakhir.
"Sudah," kata Bumi, melangkah mundur satu langkah, kembali ke mode dinginnya yang biasa.
"Kancingnya sudah terpasang. Tenang saja, torsinya sudah pas. Tidak akan lepas walau kau pakai untuk joget koplo."
Langit langsung berbalik, menatap Bumi dengan mata menyipit namun penuh tawa. Pembahasan konyol kembali berlanjut, memecah kecanggungan yang sempat merayap di antara mereka.
"Joget koplo? Di pernikahan CEO pemilik Dewanta group? Yang benar saja!" Langit tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang jarang ia tunjukkan di depan rekan bisnisnya.
"Kau merusak citra aristokrat yang sedang kubangun susah payah hari ini, Bumi." Lanjut langit.
"Citra itu melelahkan, Langit," ujar Bumi, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Langit. "Kau membayar mahal untuk kontrak ini hanya agar keluargamu berhenti menjodohkan mu dengan pria-pria breng-sek yang bisa di kendalikan Paman mu bukan?, jadi nikmati prosesnya. Anggap saja ini investasi jangka pendek dengan hiburan gratis dari montir bengkel pinggiran."
Langit terpaku sejenak mendengarnya. Kata-kata Bumi selalu terdengar sinis di permukaan, namun entah bagaimana, selalu ada kebenaran yang menenangkan di dalamnya. Di dekat pria ini, ia tidak perlu berpura-pura menjadi CEO yang sempurna tanpa celah.
"Kau benar," bisik Langit, senyumnya kini melunak, tampak tulus dan sangat cantik. "Setidaknya hiburannya tidak membosankan."
"Tentu saja tidak. Tarifku sudah termasuk asuransi mendengarkan keluhanmu setiap malam," sahut Bumi dengan seringai tipis di sudut bibirnya,nsebuah ekspresi langka yang membuat ketampanan wajah liarnya meningkat drastis.
Para pegawai butik yang melihat interaksi keduanya hanya bisa tersenyum gemas.
Mereka tidak tahu tentang kontrak hitam di atas putih yang mengikat keduanya.
Yang mereka lihat hanyalah sepasang kekasih yang saling melengkapi, sang ratu yang anggun dan sang pelindung yang bersahaja dengan caranya yang unik.
"Baiklah, kita ambil gaun ini. Dan pastikan kau melatih otot lenganmu, karena siapa tahu prediksi fisikamu benar, dan kau harus menggendongku di jam ketiga."
Bumi menaikkan satu alisnya, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Langit. "Jangan remehkan tenaga orang yang biasa hidup di jalanan, Nona Langit. Menggendongmu seharian penuh pun, mesin dalam tubuhku tidak akan overheat."
Wajah Langit merona merah padam, membuat Bumi tersenyum puas sebelum berbalik kembali menuju sofanya untuk menghabiskan sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin.
Jangan lupa kasih komen yang manis-manis kayak mereka ya.