Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dua bulan berlalu sejak badai fitnah yang dihembuskan Musdalifah berhasil ditumpas.
Kyai Adi dan Umi Mina memutuskan untuk mempertahankan kandungan Musdalifah.
Mereka tidak mau Musdalifah menggugurkan kandungannya, meskipun sekarang Zafar berada di sel penjara.
Di sisi lain kehidupan Musa dan Laila kini kembali dinaungi ketenangan, kehangatan, dan kedamaian yang begitu indah.
Rutinitas Laila berjalan dengan penuh keberkahan. Pagi hingga siang hari, ia mencurahkan baktinya sebagai dokter spesialis di rumah sakit utama.
Sementara pada sore hari, Laila menyempatkan diri datang ke ruko klinik gratis mereka—meski hanya beberapa jam—untuk memeriksa dan melayani kesehatan warga sekitar yang begitu mencintainya.
Musa pun kembali aktif mengajar di pesantren serta mengisi tausiyah di berbagai masjid, membawa keteduhan bagi para jamaah.
Siang itu di rumah sakit, jadwal Laila sangat padat. Ia baru saja menyelesaikan prosedur operasi rumit yang memakan waktu beberapa jam di dalam ruang bedah.
Rasa lelah yang teramat sangat menyelimuti tubuhnya, namun senyum puas dan tulus tetap mengembang karena operasi berjalan sukses.
Dengan langkah yang sedikit gemetar dan napas terengah pelan, Laila melangkah menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang kerjanya untuk beristirahat sejenak.
Pandangannya perlahan memburam, kepala rasa berputar hebat, dan tumpuan kakinya mendadak kehilangan tenaga.
Brugh!
Tubuh anggun Laila ambruk di lantai tepat di depan ruang perawat.
"Dokter Laila!" teriak Perawat Tika histeris dari balik meja jaga.
Jeritan itu seketika memecah keheningan lorong rumah sakit.
Beberapa perawat dan staf medis yang berada di sekitar lokasi langsung berlari kencang mendekat dengan raut wajah panik luar biasa.
"Tolong! Dokter Laila pingsan! Cepat ambil brangkar!" panggil Perawat Tika dengan suara bergetar.
Dengan sigap, dua orang petugas medis mengangkat tubuh lemas Laila dan menaruhnya di atas brangkar yang dorong cepat menuju ruang pemeriksaan darurat untuk segera mendapatkan penanganan medis.
Suasana di ruang istirahat darurat rumah sakit mendadak tegang.
Perawat Tika dengan sigap memasang selang infus pada punggung tangan Laila yang tampak pucat, sementara seorang dokter jaga mulai memeriksa tanda-tanda vital sang dokter spesialis.
Perawat Tika yang masih diliputi kecemasan segera merogoh saku jasnya, mengambil ponsel, dan mencari kontak Musa untuk memberitahu kabar mengejutkan ini. Tanpa menunggu lama, ia menekan tombol panggil.
Di tempat lain, di balai kelurahan yang dipadati warga, Musa sedang berdiri di hadapan puluhan jamaah untuk menyampaikan tausiyah siang itu.
Suaranya yang tenang dan berwibawa baru saja mulai mencairkan suasana ketika ponsel di saku bajunya bergetar hebat.
Musa sempat tertegun sejenak, namun karena panggilan itu berulang, ia mengangkatnya dengan sopan.
"Halo, Assalamu'alaikum." ucap Musa pelan.
"Wa'alaikumussalam, Ustadz Musa! Mohon maaf mengganggu, bapak harus segera ke rumah sakit sekarang! Dokter Laila pingsan!" suara Perawat Tika terdengar panik dan tergesa-gesa dari ujung sambungan.
Deg!
Dunia di sekeliling Musa seakan berhenti berputar dalam sepersekian detik.
Jantungnya berdegup kencang, napasnya tertahan, dan rasa cemas yang teramat besar langsung merajai seluruh perasaannya.
"I-iya, saya ke sana sekarang!" jawab Musa dengan suara bergetar keras.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Musa langsung mengakhiri sambungan telepon.
Dengan raut wajah panik yang tak bisa disembunyikan, ia menghampiri Pak Lurah dan para pengurus kelurahan yang duduk di kursi utama.
"Pak Lurah, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya harus segera pamit sekarang juga. Istri saya di rumah sakit mendadak pingsan," ucap Musa setengah berlari dengan napas memburu.
Pak Lurah dan para warga yang mendengar hal itu langsung mengangguk cemas.
"Ya Allah, silakan, Ustadz Musa! Semoga Dokter Laila baik-baik saja. Cepat susul ke sana!"
Musa tidak lagi menunggu. Ia langsung melangkah cepat keluar dari balai kelurahan, menuju mobilnya dengan pikiran yang dipenuhi rasa khawatir luar biasa terhadap kondisi Laila tercinta.
Musa memacu mobilnya melesat kencang menembus padatnya lalu lintas siang itu.
Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam dadanya, doa-doa tak putus-putus ia rapalkan, memohon perlindungan dari Allah SWT agar sang istri tercinta diberi keselamatan.
"Ya Allah, jagalah Laila. Lindungilah dia." bisik Musa parau dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Musa menginjak rem secara mendadak.
Tanpa memedulikan posisi parkir yang belum rapi, ia melompat keluar dan berlari kencang menembus pintu kaca otomatis lorong rumah sakit.
Langkah kakinya yang lebar membawanya langsung menuju ruang perawatan darurat.
"Dokter Laila! Di mana istri saya?!" tanya Musa terengah-engah kepada Perawat Tika yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan.
"Pak Musa!" Perawat Tika menunjuk ke arah bilik periksa.
"Dokter Laila ada di dalam. Baru saja selesai diperiksa oleh Dokter Hadi dan tim."
Musa tidak menunggu aba-aba lagi. Ia dorong pintu ruangan itu hingga terbuka.
Di atas ranjang rumah sakit, Laila terbaring lemas dengan selang infus terpasang di punggung tangannya.
Wajahnya masih nampak pucat, namun matanya sudah sedikit terbuka dan menyambut kedatangan Musa dengan pendar yang sangat lembut.
"Sayang!" panggil Musa dengan suara bergetar seraya berhambur mendekati sisi ranjang.
Musa langsung menggenggam erat jemari Laila yang terasa dingin, membelai dahinya dengan gemetar, lalu menciumnya berkali-kali penuh rasa cemas yang membuncah.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa yang sakit? Ya Allah kamu buat aku takut sekali," cercah Musa tanpa henti, matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah sang istri.
Laila mengulas senyum tipis di balik masker dan cadar medisnya yang sedikit tersingkap.
"Aku tidak apa-apa, Musa. Cuma sedikit pusing dan lemas."
Di samping ranjang, Dokter Hadi yang berdiri memegang lembar rekam medis menyunggingkan senyum hangat melihat kepanikan Musa.
Ia menepuk pelan pundak Musa untuk menenangkan sahabat sekaligus suami dari sejawatnya itu.
"Tenang dulu, ustadz Musa. Napasnya diatur dulu," ujar Dokter Hadi ramah.
Musa menoleh cepat ke arah Dokter Hadi. "Dokter Hadi, bagaimana keadaan istri saya? Kenapa dia bisa pingsan mendadak seperti ini? Apakah beliau kelelahan pasca operasi?"
Dokter Hadi terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya sembari menatap sepasang suami istri di hadapannya itu dengan pendar kebahagiaan.
"Memang Dokter Laila kelelahan, Ustadz Musa. Tapi bukan hanya karena operasi," tutur Dokter Hadi sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Lalu karena apa, Dokter?" tanya Musa kian penasaran dan cemas.
Dokter Hadi menyerahkan lembar hasil pemeriksaan laboratorium terbaru ke tangan Musa.
"Selamat, Ustadz Musa, Dokter Laila. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu keenam. Dokter Laila pingsan karena kelelahan hebat ditambah hormon kehamilan awal. Kandungannya sehat, tapi mulai sekarang harus benar-benar dijaga dan tidak boleh terlalu lelah."
Musa terpaku seketika. Lembar hasil laboratorium di tangannya seakan bergetar hebat.
Huruf-huruf dan angka medis di atas kertas itu mendadak kabur oleh genangan air mata bahagia yang seketika mendesak keluar dari pelupuk matanya.
Tanpa memedulikan lagi siapa saja yang berada di dalam ruangan tersebut, Musa langsung meluncur turun dari kursi, bersujud di lantai rumah sakit.
Bibirnya bergetar hebat merapalkan kalimat tahmid dan rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas anugerah terindah yang telah lama mereka nanti-nantikan.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih, Ya Allah." gumam Musa berulang kali dengan suara serak sarat tangis haru.
Setelah beberapa saat menumpahkan rasa syukurnya di atas lantai, Musa bangkit berdiri.
Dengan wajah yang masih basah oleh air mata bahagia, ia menghampiri ranjang, mencondongkan tubuhnya, lalu mendaratkan kecupan penuh kelembutan dan rasa cinta yang teramat sangat tepat di pipi Laila.
"Terima kasih, Sayang.Terima kasih banyak." bisik Musa penuh haru di sisi telinga istrinya.
Laila tersenyum manis, jemarinya yang bebas dari selang infus terulur mengusap air mata di pipi suaminya dengan penuh kelembutan.
Melihat momen mengharukan itu, Dokter Hadi tersenyum lebar sambil merapikan kembali peralatannya.
"Nah, karena kondisi fisik Dokter Laila perlu pemulihan optimal demi keselamatan janinnya, sebagai kepala departemen saya memberikan instruksi tegas. Mulai hari ini, Dokter Laila resmi saya berikan cuti total selama dua minggu ke depan. Tidak ada jadwal operasi, tidak ada piket jaga malam, dan tidak ada aktivitas melelahkan di klinik!" ucap Dokter Hadi memberikan keputusan mutlak.
Mendengar vonis cuti panjang tersebut, mata Laila langsung membelalak lebar.
Ia spontan mengangkat sedikit tubuhnya dari bantal, melayangkan protes dengan nada manja yang khas.
"Tapi, Dok. Dua minggu itu terlalu lama! Pasien-pasien di poliklinik dan ruko bagaimana? Lagi pula aku merasa sudah baikan, rasanya cuma sedikit lemas biasa." protes Laila dengan bibir mengerucut di balik cadarnya.
Musa menoleh tajam ke arah istrinya. Dengan pandangan penuh kasih namun tegas, ia melirik Laila lekat-lekat, seolah memberikan isyarat bahwa kali ini ia tidak akan membiarkan sang istri membantah perintah demi kesehatan buah hati mereka.
Ia memasang ekspresi paling protektif yang ia miliki. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Laila dengan tatapan yang menyiratkan bahwa tidak ada tawar-menawar dalam urusan ini.
"Tidak ada tapi-tapian, Dokter Laila," ucap Musa dengan nada tegas namun sarat kelembutan.
"Mulai detik ini, statusmu bukan lagi sekadar istriku atau dokter rumah sakit, tapi juga seorang ibu yang sedang mengandung darah daging kita. Jadwal operasimu, jadwal poliklinikmu, dan kegiatan di ruko, semuanya off total selama dua minggu ke depan."
Laila mendengus pelan, mencoba mempertahankan argumennya.
"Tapi Mas, aku kan cuma pingsan biasa karena kecapekan."
"Kecapekan karena kamu bekerja bagai kuda, Sayang!" potong Musa lembut namun tak terbantah. Ia lantas menoleh ke arah Dokter Hadi.
"Terima kasih banyak, Dok. Keputusan Dokter sudah sangat tepat. Saya akan pastikan dia beristirahat total di rumah dan tidak kabur ke mana-mana."
Dokter Hadi tertawa renyah mendengar jawaban tegas Musa.
"Bagus, Ustadz Musa. Memang harus dikawal ketat. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk melanjutkan tugas. Silakan diurus administrasi kepulangannya jika sudah siap."
"Baik, Dok. Terima kasih sekali lagi," balas Musa.
Begitu Dokter Hadi melangkah keluar ruangan,
Musa kembali berbalik menghadap Laila. Pria itu dengan hati-hati merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya, lalu menarik kursi duduk tepat di sebelah ranjang.
Tangannya menggenggam jemari Laila erat-erat, sementara tatapannya berubah menjadi jauh lebih lembut.
"Sudah, ya. Istriku sayang. Turuti perintah suami dan doktermu ini," bujuk Musa sambil mengusap lembut punggung tangan Laila.
"Sekarang, tugas utamamu adalah duduk manis, makan makanan yang bergizi, dan biarkan aku yang mengambil alih semua pekerjaanmu di rumah maupun di ruko untuk sementara waktu."
Laila yang melihat betapa siaga dan khawatirnya sang suami akhirnya menyerah.
Ia mengulas senyum di balik cadarnya, merasa begitu beruntung memiliki pendamping hidup seperti Musa.
"Baiklah, Suamiku. Aku menyerah," kata Laila menyerah dengan nada lembut.
"Tapi awas ya, kalau aku bosan di rumah, jangan larang aku sekadar membaca buku kedokteran."
Musa terkekeh pelan, mencium punggung tangan Laila dengan penuh takzim.
"Membaca buku boleh, tapi kalau beranjak dari tempat tidur tanpa izin dariku, hukumannya akan aku lipat gandakan." ucap Musa.
makasih buat cerita ny yx kak ,,
semoga ,,
lanjuuut kak ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁