Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — DARAH AYAM DAN MALAM PERSEMBAHAN
Lantai kayu kamar tidur terasa begitu dingin saat fajar menyingsing di ufuk timur.
Ningsih masih berlutut membisu di samping ranjang bambu sambil mengusap jemari kaki Dedek.
Tubuh anak kami terkulai sangat lemah, dengan napas halus yang sesekali terhenti sejenak.
“Mas... leher Dedek makin parah pagi ini,” rintih Ningsih dengan suara yang sudah serak habis.
“Memar hitam cengkeraman itu sekarang menjalar seperti akar pohon tua ke dada anak kita,” lanjutnya terisak.
Aku mendekati ranjang, memperhatikan bekas memar lima jari hitam di kulit leher Dedek.
Garis-garis hitam kebiruan itu benar-benar merambat membiru, menjangkau tulang dada anakku.
Hawa dingin membekukan keluar menyengat dari permukaan kulit dada Dedek yang pucat.
“Kita harus bawa Kyai Ahmad ke rumah kita sekarang, Ningsih,” tegasku dengan nada panik.
“Beliau orang alim yang mengerti doa-doa penyembuh gangguan gaib,” tambahku memberi harapan.
Namun baru saja nama Kyai Ahmad terucap keluar dari bibirku, suasana kamar mendadak berubah.
Grombol!
Suara piring seng di atas meja dapur mendadak terlempar jatuh dan pecah berkeping-keping.
Angin dingin berbau bangkai dan wangi kantil busuk mendadak bertiup kencang menerobos celah jendela.
Dedek yang semula pingsan mendadak menggeliat kaku di atas ranjang bambu kami.
Kedua matanya mendadak melotot terbuka lebar, menampilkan warna hitam pekat tanpa putih.
“Jangan pernah berani panggil kyai... atau leher anakmu kupatahkan sekarang!” jerit suara gaib dari mulut Dedek.
Darah segar berwarna merah gelap mendadak meleleh keluar dari kedua lubang hidung anakku.
Ningsih menjerit ketakutan setengah mati, langsung memeluk kepala Dedek dengan derai air mata.
“Jangan, Mbah! Jangan sakiti anak saya!” jerit Ningsih memohon ampun histeris.
“Kami patuh! Kami tidak akan panggil kyai!” jerit Ningsih berulang kali menangis.
Tubuh Dedek mendadak terkulai lemas kembali di atas kasur kapuk, memejamkan mata rapat-rapat.
Aku terduduk lemas di lantai kayu kamar dengan tubuh gemetar hebat dan peluh dingin mengucur.
Ancaman penunggu Makam Keramat Panjang benar-benar nyata dan tidak memberikan celah sedikit pun.
“Mas... bagaimana ini?” rintih Ningsih memandangi wajah pucat anak kami.
“Mahluk halus itu mengawasi setiap kata yang keluar dari mulut kita di dalam rumah ini,” lanjutnya.
“Aku harus pergi mencari ayam hitam mulus hari ini, Ningsih,” jawabku dengan suara bergetar.
“Ujang bilang cuma sajen darah ayam hitam yang bisa menyelamatkan nyawa Dedek malam nanti,” tambahnya.
Ningsih menatapku dengan mata sembap penuh rasa duka dan keputusasaan yang sangat dalam.
“Apakah tidak ada jalan lain selain menumpahkan darah hewan buat iblis itu, Mas?” tanya Ningsih.
“Tidak ada jalan lain lagi, Ningsih,” jawabku memegang erat kedua bahu kemejanya.
“Malam nanti adalah malam Jumat Kliwon, puncak penetapan sajen darah perjanjian gaib,” jelasku.
“Kalau aku tidak membawa sajen darah ayam hitam itu... nyawa Dedek yang ditarik sebagai gantinya,” ringisku.
Ningsih memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipi tirusnya.
“Pergilah cari ayam itu, Mas... selamatkan anak kita satu-satunya,” bisik Ningsih pasrah.
Aku mengangguk kaku, lalu bergegas berdiri melangkah keluar dari dalam kamar tidur.
Matahari pagi menggantung suram di balik gumpalan awan hitam tebal di atas pemukiman desa.
Aku menyalakan mesin sepeda motor tua di samping rumah dengan engkol kaki yang keras.
Motor memacu cepat menyusuri jalanan tanah desa menuju lokasi pasar hewan di ujung kampung.
Suara raungan mesin motor Ujang mendadak terdengar mendekati dari arah persimpangan jalan.
Ujang memotong laju kendaraanku, lalu memarkir motornya tepat di depan sepeda motorku.
“Kamu mau pergi ke mana pagi-pagi begini, Mas?” tanya Ujang melompat turun dari motornya.
“Aku mau cari ayam hitam mulus buat sajen Jumat Kliwon nanti malam, Jang,” jawabku terengah.
“Pasar hewan desa tidak akan menjual ayam cemani mulus hitam sempurna, Mas,” kata Ujang menggeleng.
“Kenapa pasar hewan tidak menjual ayam jenis itu, Jang?” tanyaku heran dan cemas.
“Ayam cemani hitam mulus tanpa cacat cuma dipelihara oleh orang-orang tertentu saja,” jawab Ujang.
“Lalu di mana aku bisa mendapatkan ayam cemani hitam itu sebelum malam tiba, Jang?” tanyaku panik.
Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke dekat setang motor tua saya sambil menoleh ke kiri dan kanan.
“Pak Kasan punya dua ekor simpanan ayam cemani hitam mulus di rumahnya, Mas,” bisik Ujang.
“Pak Kasan yang pernah meminjam uang gaib di Makam Keramat Panjang itu?” tanyaku memastikan.
“Iya, Pak Kasan yang melunasi semua utang banknya bulan lalu,” jawab Ujang mengangguk pelan.
“Mari ikut aku ke rumah Pak Kasan sekarang sebelum beliau pergi ke kebun,” ajak Ujang.
Aku mengangguk cepat, lalu mengekor di belakang sepeda motor Ujang menyusuri jalanan semak.
Rumah Pak Kasan berdiri terpencil di dalam rimbunan kebun bambu yang sangat sepi dan gelap.
Bangunan tembok tua itu tampak kusam tanpa cat, dengan pelataran tanah yang dipenuhi daun kering.
Sreeek!
Pintu kayu rumah Pak Kasan terbuka perlahan saat kendaraan kami berhenti di halaman depan.
Seorang lelaki tua berbadan kurus kering melangkah keluar teras dengan langkah kaki yang diseret.
Wajah Pak Kasan tampak sangat cekung, dengan kantung mata hitam tebal dan bibir kebiruan.
Aku terperanjat kaget melihat penampilan fisik Pak Kasan yang tampak seperti mayat hidup.
Padahal dua bulan lalu, Pak Kasan masih terlihat gagah dan segar bugar saat berbelanja di pasar.
“Ada perlu apa kalian datang ke rumahku pagi-pagi begini, Ujang?” tanya Pak Kasan datar.
Suara bicara Pak Kasan terdengar sangat serak dan bergetar kaku dari balik tenggorokannya.
“Kawan saya ini butuh ayam cemani hitam mulus buat sajen Jumat Kliwon nanti malam, Pak Kasan,” jawab Ujang.
Pak Kasan berpaling menatap wajahku lurus-lurus dengan pandangan mata yang sangat dingin kosong.
“Kamu orang baru yang meminjam modal di Makam Keramat Panjang itu kan, Surya?” tanya Pak Kasan.
“Iya, Pak Kasan... saya Surya yang terdesak utang toko minggu lalu,” jawabku menunduk sopan.
Pak Kasan terkekeh pelan, sebuah suara tawa serak yang terdengar sangat pahit dan menyakitkan.
“Utang uang di dunia memang cepat lunas, tapi utang darah tidak akan pernah selesai, Surya,” ujar Pak Kasan.
“Maksud Pak Kasan utang darah tidak pernah selesai itu bagaimana?” tanyaku dengan jantung berdegup keras.
Pak Kasan perlahan menarik lengan baju kurungnya ke atas, memperlihatkan kulit tangannya.
Seluruh permukaan kulit lengan Pak Kasan tampak bersisik hitam kering, menyerupai kulit ular mati.
Aroma bau tanah kuburan basah dan wangi kamboja busuk menguar tebal dari tubuh lelaki tua itu.
“Setiap kali kamu memberikan sajen darah, ragamu akan sedikit demi sedikit dihisap oleh penunggu makam,” bisik Pak Kasan.
“Lihatlah ragaku sekarang... aku tidak bisa makan nasi lagi, cuma bisa minum air kelapa muda,” tambahnya.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak mendengarkan pengakuan jujur Pak Kasan.
“Tapi kamu butuh ayam cemani itu buat menyelamatkan anakmu kan, Surya?” tanya Pak Kasan lagi.
“Iya, Pak Kasan, anak saya sedang sakratulmaut dicengkeram mahluk gaib itu,” sahutku memohon.
Pak Kasan berbalik jalan melangkah masuk ke dalam rumah panggungnya yang remang-remang.
Beberapa menit kemudian, Pak Kasan keluar kembali membawa sebuah kurungan bambu kecil.
Di dalam kurungan bambu itu, terdapat seekor ayam jantan berbulu hitam pekat tanpa cacat.
Paruh, jengger, lidah, hingga kuku kaki ayam itu berwarna hitam legam bagaikan arang terbakar.
Ayam cemani itu membisu kaku di dalam kurungan, tidak bersuara atau menggepakkan sayapnya sedikit pun.
“Ambil ayam cemani hitam mulus ini, Surya,” kata Pak Kasan menyerahkan kurungan bambu.
“Berapa harga pembayaran yang harus saya serahkan buat ayam ini, Pak Kasan?” tanyaku merogoh saku.
Pak Kasan menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyuman dingin yang sangat menakutkan.
“Aku tidak butuh lembaran uang hasil kertas pesugihan itu dari tanganmu, Surya,” kata Pak Kasan.
“Cuma ada satu syarat yang harus kamu penuhi buat membawa ayam ini,” lanjut Pak Kasan serius.
“Syarat apa yang harus saya penuhi buat Pak Kasan?” tanyaku mengejar penjelasan.
“Nanti malam saat kamu menyiramkan darah ayam ini di atas batu nisan makam keramat itu...” kata Pak Kasan.
“Sebutkan namaku dan katakan kalau sajen darah ini adalah bagian dari cicilan ragaku,” bisik Pak Kasan.
Darahku terasa membeku mendengar syarat mengerikan yang diajukan oleh Pak Kasan tersebut.
Lelaki tua ini ternyata menyerahkan kewajiban sajen darah miliknya untuk ditanggungkan kepadaku.
“Kenapa saya harus menyebutkan nama Pak Kasan saat ritual berlangsung?” tanyaku ragu.
“Biar mahluk gaib itu tidak menyiksa badanku lagi di malam Jumat Kliwon ini, Surya,” jawab Pak Kasan.
“Kalau kamu tidak mau menyebut namaku, aku tidak akan pernah menyerahkan ayam ini kepadamu,” ancam Pak Kasan.
Aku memandangi kurungan bambu berisi ayam cemani hitam di depan dadaku dengan kebingungan tebal.
Tanpa ayam hitam mulus ini, Dedek akan mati dicengkeram oleh penunggu Makam Keramat Panjang nanti malam.
“Baiklah, Pak Kasan, saya janji akan menyebutkan nama Pak Kasan saat ritual nanti malam,” sahutku pasrah.
Pak Kasan mengangguk puas, lalu melepaskan pegangan tangannya dari gagang kurungan bambu.
“Bawa ayam itu pergi sekarang sebelum matahari tenggelam di ufuk barat,” pesan Pak Kasan pendek.
Aku menyambar kurungan bambu itu, lalu berjalan terburu-buru menuju sepeda motor tua saya.
Ujang mengikutiku dari belakang sambil menepuk-nepuk bahuku dengan raut wajah tegang.
“Ingat baik-baik janji sajen darahmu nanti malam di makam keramat itu, Mas,” kata Ujang mengingatkan.
“Pukul dua belas malam tepat kamu wajib sudah berada di depan batu nisan Makam Keramat Panjang,” lanjutnya.
“Apakah kamu akan datang mengantarku sampai ke gerbang batu kompleks makam, Jang?” tanyaku.
Ujang menggelengkan kepalanya rapat-rapat sambil melangkah naik ke atas sepeda motornya.
“Malam Jumat Kliwon adalah malam sakral gaib paling mengerikan di bukit itu, Mas,” jawab Ujang.
“Tidak ada satu pun warga desa yang berani melintasi hutan bambu itu saat tengah malam Jumat Kliwon,” tegasnya.
“Kamu harus melangkah sendirian membawa ayam cemani dan pisau pemotong ini,” tambah Ujang menyerahkan pisau.
Ujang merogoh saku jaketnya, menyerahkan sebilah pisau dapur berbilah tajam berhulu kayu hitam.
Aku menerima pisau dapur tajam itu dengan telapak tangan yang gemetar hebat tak terkontrol.
“Terima kasih atas bantuan pisaunya, Jang,” ucapku pelan memasukkan pisau ke dalam saku.
“Semoga kamu selamat menuntaskan ritual darah ini dan anakmu sembuh total, Mas,” kata Ujang.
Ujang menyalakan mesin motornya, lalu memacu kendaraannya meninggalkan kebun bambu Pak Kasan.
Aku mengikat kurungan bambu berisi ayam cemani hitam di jok belakang sepeda motor tua.
Perjalanan pulang ke rumah panggung terasa sangat panjang, dipenuhi kecemasan yang membakar jiwa.
Senja mulai turun menyiramkan warna merah keandongan yang suram di atas langit perkampungan kami.
Suara jangkrik dan burung hantu mulai menyahut-nyahut riuh dari kegelapan rumpun pohon pisang.
Sesampainya di rumah, aku membawa kurungan bambu berisi ayam cemani itu masuk ke dalam dapur.
Ningsih duduk membisu di dekat meja kayu sambil memandangi ayam hitam di dalam kurungan.
Aroma bau pandan basah dan wangi kantil busuk mendadak tercium makin pekat menyengat hidung.
“Ayam hitam ini yang bakal kamu potong di atas nisan makam keramat itu nanti malam, Mas?” tanya Ningsih.
“Iya, Ningsih, darah ayam cemani ini yang ditagih oleh penunggu makam buat menyelamatkan Dedek,” jawabku.
Ningsih melangkah mendekati kurungan bambu, memandangi sosok ayam hitam yang membisu kaku tersebut.
“Kenapa ayam hitam ini diam saja tidak bersuara sama sekali ya, Mas?” tanya Ningsih heran.
“Ayam ini dipelihara khusus buat ritual gaib, Ningsih,” jawabku membohongi detail cerita Pak Kasan.
Ningsih menghela napas panjang, lalu berjalan masuk ke kamar tidur buat memeriksa kondisi Dedek.
Aku duduk di kursi kayu dapur, mengasah bilah pisau dapur tajam memakai batu asahan hitam.
Sret... Sret... Sret...
Suara gesekan pisau di atas batu asahan terdengar nyaring di tengah keheningan malam yang pekat.
Pukul sebelas malam lewat empat puluh lima menit, waktu keberangkatan ritual akhirnya tiba.
Aku menyelipkan pisau dapur tajam yang sudah diolesi minyak wangi di dalam saku kemeja.
Kurungan bambu berisi ayam cemani hitam kuangkat dengan tangan kiri yang dingin membeku.
Ningsih berdiri di ambang pintu kamar tidur sambil memeluk tubuh Dedek yang masih pingsan kaku.
Air mata Ningsih mengalir deras tanpa suara di atas pipinya yang pucat dan tirus.
“Selamatkan anak kita ya, Mas... tolong pulanglah dengan selamat,” bisik Ningsih meratap lirih.
“Aku pasti pulang membawa kesembuhan buat Dedek, Ningsih... percayalah padaku,” janji serakku.
Aku berbalik melangkah keluar dari pintu dapur belakang menuju kegelapan malam Jumat Kliwon.
Angin malam bertiup sangat kencang, menggoyangkan dedaunan pohon pisang dan rumpun bambu.
Suara gemuruh angin malam terdengar seperti jeritan dan rintihan ratusan mahluk gaib yang menanti.
Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat menyusuri jalanan tanah menanjak menuju puncak bukit.
Di dalam saku kemejaku, pisau dapur tajam terasa sangat dingin menyentuh kulit dadaku.
Di tangan kiriku, ayam cemani hitam di dalam kurungan mendadak membuka matanya yang merah menyala.
Ritual persembahan darah Jumat Kliwon di Makam Keramat Panjang kini telah berada di depan mata.
---