"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keesokan paginya, kabar tentang kekalahan Kaisar Dirgantara sudah menyebar ke seluruh anggota Bully lewat jaringan bisik-bisik yang biasa mereka pakai untuk menyampaikan pesan rahasia. Sore itu, seluruh anggota faksi dikumpulkan di lapangan belakang gudang sekolah, tempat yang biasa mereka pakai untuk pertemuan resmi ketika tidak ada guru yang berpatroli.
Seratus orang berjaket hitam berdiri berjejer dalam formasi rapi, wajah-wajah mereka menyiratkan rasa penasaran bercampur sedikit kecemasan, menunggu pengumuman yang sejak pagi sudah jadi bahan pembicaraan di seluruh sudut sekolah.
Kaisar Dirgantara berdiri di depan barisan, tubuhnya masih dibalut beberapa perban di bagian lengan dan dahinya, bekas pertarungan semalam yang belum sepenuhnya pulih meski regenerasi tubuhnya sendiri cukup cepat sebagai anak Bully yang terbiasa babak belur.
"Dengerin baik-baik," Kaisar Dirgantara membuka suara, lantang dan tegas, cukup untuk membungkam bisik-bisik yang masih terdengar di antara barisan. "Semalam, gue kalah. Bukan dari orang yang lebih kuat doang, tapi dari orang yang lebih pinter mainin otak di tengah pertarungan."
Beberapa anggota saling bertukar pandang, keterkejutan jelas terpancar di wajah mereka. Tidak pernah sekali pun mereka mendengar Kaisar Dirgantara mengakui kekalahan secara terbuka seperti ini.
"Mulai hari ini," Kaisar Dirgantara melanjutkan, menoleh ke arah Juna yang berdiri di sampingnya dengan sikap tenang, "gue tunduk sama dia. Juna Adiwiyata. Dan itu berarti kalian semua juga tunduk."
Keheningan sesaat menyelimuti lapangan, hanya suara angin sore yang berembus pelan menerbangkan debu di tanah berpasir itu.
"Raja kita?" salah satu anggota di barisan belakang berbisik pelan kepada temannya, nada suaranya setengah tidak percaya. "Si anak baru itu yang ngalahin Ben sama Kaisar sekaligus?"
"Denger-denger emang bener," temannya menjawab, "gue liat sendiri bekas obor di gudang pelabuhan kemarin. Hancur parah tempatnya."
Juna melangkah maju selangkah, menatap seratus pasang mata yang kini tertuju sepenuhnya kepadanya. Ia tidak merasa gentar sedikit pun, justru sebaliknya, ada kepuasan tersendiri yang menjalar di dadanya melihat begitu banyak orang yang kini berdiri menunggu perintahnya.
'Ini baru permulaan,' batinnya, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk seringai yang penuh keyakinan. 'Dari anak beasiswa yang dihina habis-habisan, sekarang seratus orang berdiri menunggu apa yang bakal aku katakan.'
"Aku nggak butuh kalian menyembahku," Juna berkata, suaranya tenang namun cukup keras untuk menjangkau seluruh barisan. "Aku cuma butuh kalian nurut kalau aku kasih perintah. Selama itu nggak terjadi, kita nggak akan punya masalah."
Sebagian besar anggota mengangguk pelan, menerima perkataan itu tanpa banyak protes. Namun di sudut barisan, tiga orang berdiri dengan ekspresi yang jelas tidak puas, bisik-bisik kecil di antara mereka cukup terlihat meski mencoba disembunyikan.
"Gila aja," salah satu dari tiga orang itu bergumam cukup keras hingga terdengar oleh beberapa orang di sekitarnya, "gue nggak bakal tunduk sama anak baru yang bahkan belom ada sebulan di sekolah ini."
Kaisar Dirgantara menoleh tajam ke arah suara itu, matanya menyipit penuh amarah. "Siapa yang ngomong tadi?"
Ketiga orang itu terdiam sejenak, namun salah satu dari mereka akhirnya melangkah maju dengan dagu terangkat, mencoba menunjukkan keberanian yang sebenarnya rapuh.
"Gue," ucapnya, suaranya sedikit bergetar meski berusaha terdengar tegas. "Kaisar boleh aja kalah dan tunduk, tapi gue nggak akan ngikutin perintah orang yang nggak gue kenal sama sekali."
BUAGH!!
Tanpa peringatan, Kaisar Dirgantara melangkah maju dan melayangkan pukulan telak ke wajah orang itu, membuatnya terjengkang ke tanah dengan darah mengalir dari hidungnya.
"Kalo gue bilang tunduk," Kaisar Dirgantara menggeram, berdiri di atas tubuh yang tersungkur itu, "berarti lu tunduk. Nggak ada tapi-tapian."
Dua orang lainnya yang tadi ikut berbisik langsung mundur ketakutan, namun Kaisar Dirgantara tidak berniat membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia menatap tajam ke arah keduanya, membuat mereka membeku di tempat.
"Lu berdua juga," ucapnya dingin, "kalo nggak terima, boleh keluar sekarang. Tapi jaket itu harus dilepas dulu."
Kedua orang itu saling bertukar pandang, ketakutan jelas terpancar di wajah mereka. Salah satu dari mereka akhirnya melangkah maju dengan kepala tertunduk, melepas jaket hitamnya perlahan dan menyerahkannya kepada Kaisar Dirgantara tanpa berani menatap mata siapa pun.
Jaket itu dilempar begitu saja ke tanah berpasir, mendarat dengan suara hempasan pelan yang terdengar jelas di tengah keheningan lapangan. Orang pertama yang tadi dipukul juga akhirnya bangkit dengan susah payah, melepas jaketnya sendiri dengan tangan gemetar sebelum melangkah pergi meninggalkan barisan, diikuti kedua temannya yang bernasib sama.
Juna mengamati seluruh kejadian itu dalam diam, tidak ikut campur, membiarkan Kaisar Dirgantara menegakkan kembali disiplin di antara anak buahnya dengan caranya sendiri.
'Brutal,' batin Juna, menyaksikan tiga orang itu berjalan menjauh dengan punggung telanjang tanpa jaket kebanggaan mereka, 'tapi efektif. Setidaknya sekarang nggak ada lagi keraguan di antara sisanya.'
Kaisar Dirgantara berbalik menghadap sisa barisan yang kini berdiri lebih tegak, wajah mereka menunjukkan rasa hormat yang jauh lebih tulus dibanding sebelumnya.
"Ada yang mau nyusul?" Kaisar Dirgantara bertanya lantang, menyapu pandangannya ke seluruh barisan.
Tidak ada yang menjawab. Semua kepala tertunduk hormat, beberapa bahkan membungkuk kecil ke arah Juna sebagai tanda penerimaan yang tidak terucap lewat kata-kata.
Juna menatap seratus wajah yang kini tunduk di hadapannya, sebuah rasa hangat yang asing namun memuaskan menjalar di dadanya.
[Kepercayaan Bully: 100]
[Wilayah Bertambah: Markas Bully]
Panel kecil itu berkedip sekilas di sudut pandangannya, namun Juna hampir tidak memperhatikannya, terlalu larut dalam kepuasan melihat kekuasaannya yang kini benar-benar nyata, bukan lagi sekadar ambisi yang ia rencanakan sendirian di malam hujan beberapa minggu lalu.
'Satu faksi penuh di tangan,' batinnya, menatap langit sore yang mulai berubah jingga di atas lapangan. 'Tiga lagi, dan sekolah ini bakal jadi milikku sepenuhnya.'