Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
..."Ada harga mahal yang harus dibayar saat kau berani menyentuh api, dan ada bahaya mematikan saat kau mencoba memadamkannya."...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aroma kayu cedar, tembakau mahal, dan alkohol berkadar tinggi mengendap tebal di udara bar eksklusif yang temaram itu.
Denting es batu beradu dengan gelas kaca, diiringi alunan musik jazz tempo lambat yang merayap dingin, mengalun seolah meratapi kehampaan malam di sudut kota Los Angeles, California.
"Tuangkan lagi."
Perintah itu keluar untuk kesekian kalinya dari bibir Jameson Baxter Ashford. Suaranya berat, bergetar tipis di antara sapuan rasa pahit yang membakar kerongkongannya.
Di balik kemeja mewahnya yang terbuka di bagian atas, bahu tegap pria itu tampak merosot layaknya seseorang yang membawa beban begitu berat—sebuah ketampanan yang terperangkap dalam kesendirian dan keheningan malam.
Bartender di balik meja kayu mahoni itu hanya bisa mengangguk pasrah, menuangkan cairan amber pekat ke dalam gelas kristal yang sudah hampir kosong.
"Sempurna? Setia? Ha... kalian semua buta!" Jameson meracau pelan.
Matanya yang tajam menatap nanar layar ponsel yang menyala di atas meja.
Bibirnya tersenyum sinis, mengumpat tanpa nada mabuk yang hilang kendali—ia sepenuhnya sadar, dan justru kesadaran itulah yang menyiksanya.
"Kalian tidak tahu bagaimana wanita brengsek itu mengkhianatiku..."
Ia melirik kembali layar ponselnya.
Di sana, sebuah tajuk berita hiburan utama terpampang megah, lengkap dengan foto sepasang manusia yang tersenyum manis di atas karpet merah: seorang aktris cantik yang sedang berada di puncak popularitas, merangkul mesra seorang Aktor Pria dengan senyum penuh kemewahan.
Kekasih Jameson—seorang aktris yang ia cintai dan dukung dalam bayang-bayang—baru saja mengumumkan hubungan rahasianya kepada publik.
Namun rasa sakit itu tak berhenti di sana; pisau tumpul yang menusuk dadanya terasa berkarat karena pria yang berada di pelukan sang aktris tak lain adalah sahabat dekat Jameson sendiri.
Demi menjaga karier sang kekasih, Jameson memilih jalan backstreet. Ia rela meredam namanya, bersembunyi dalam bayangan hanya agar wanita itu bisa bersinar di panggung dunia.
Tapi lihatlah sekarang.
Keduanya ternyata bertalenta tinggi dalam berakting—bahkan di kehidupan nyata.
Mereka begitu pandai bersandiwara di belakang punggungnya hingga rasanya pantas jika disandingkan dengan piala Oscar atas kepalsuan terbaik tahun ini.
"Tuangkan lagi," bisik Jameson, jemarinya memutar-mutar tangkai gelas.
Ia hanya ingin membakar habis ingatan tentang kebohongan yang membusuk itu.
Tiba-tiba, keheningan di sampingnya terpecah oleh gesekan kursi kayu. Seorang wanita duduk tanpa permisi, mengibaskan mantel gelapnya yang basah oleh sisa gerimis luar.
Di leher jenjangnya yang terbuka, seekor tato kupu-kupu hitam tampak mengintip samar di bawah pendar lampu remang-remang.
"Permisi... bisa rekomendasikan minuman terbaik di sini? Ini pertama kalinya aku kemari," suara wanita itu terdengar halus, merdu, namun memiliki artikulasi tegas tanpa nada ragu sedikit pun.
Jameson berpaling perlahan.
Matanya menyusuri bibir tipis berhias lipstik merah padam, hidung mancung, dan sepasang mata tajam dinaungi bulu mata lentik yang menatapnya tanpa kepura-puraan.
Jameson menatapnya keheranan.
Apakah wanita ini gila? Atau dia datang dari planet lain?
Di seluruh penjuru Los Angeles, dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasa, siapa yang tidak mengenal sosok Jameson Baxter Ashford?
Pria yang hampir dikenal semua orang di wilayah kampus maupun pertemuan para anak konglomerat atas, putra kesayangan dari keluarga terpandang dan terkenal berbahaya di seluruh California.
Dan saat ini dimintai rekomendasi oleh seorang wanita?
Oh shittt! Ketenangannya diganggu.
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Jameson meraup ponselnya di meja dengan gerakan yang terkesan meremehkan. Tanpa mengalihkan pandangan dari wanita di sebelahnya, ia memanggil sebuah kontak.
"Hai, Louis," ucap Jameson dingin pada ponsel yang menempel di telinganya.
"Suasana hatiku sedang sangat buruk hari ini. Aku hanya ingin minum sendiri dengan tenang malam ini... tapi seseorang yang tidak kukenal terus mengajakku bicara omong kosong."
Di seberang telepon, suara santai Louis sahabatnya, menyahut samar.
"Abaikan saja. Nanti dia juga paham sendiri kalau kau sedang tidak ingin diganggu."
"Hm," jawab Jameson singkat sebelum mematikan sambungan telepon begitu saja.
Hazel Rosemary Brooks di sampingnya terdiam sejenak.
Wanita bertato kupu-kupu itu menangkap lirikan sinis Jameson dan ucapan sindiran yang disengaja itu.
Wanita itu mengangguk-angguk kecil, rahangnya mengetat tipis mengindikasikan rasa tersinggung yang tertahan, namun ekspresinya tetap tenang tanpa emosi meluap.
Jameson kembali mengabaikannya, memberi isyarat pada bartender untuk memenuhi gelasnya lagi.
Sementara itu, duduk di sebelah pria narsistik yang merasa dirinya pusat alam semesta membuat Hazel tersenyum sinis.
Tingkat kesombongan pria di sebelahnya benar-benar melewati batas toleransinya. Wanita itu menggeleng kecil, lalu meraih ponselnya sendiri dari saku blazernya.
Dengan santai, Hazel menelepon seseorang sembari matanya melirik sinis pada profil samping wajah Jameson.
"Hai, Stephanie!" ujar Hazel dengan suara cukup lantang agar terdengar jelas di tengah alunan musik bar. "Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau di bar banyak sekali pria narsistik?"
Telinga Jameson mendadak menajam. Tangannya yang memegang botol alkohol terhenti sejenak di udara.
Matanya menyipit, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut wanita asing itu.
"Aku cuma ingin minum sendirian karena baru pertama kali menginjakkan kaki di sebuah bar," lanjut Hazel, tersenyum pelan dengan senyuman meremehkan yang amat jelas.
"Aku baru saja meminta rekomendasi dengan sopan. Tapi pria di sampingku mendadak berpikir aku sedang berusaha menggodanya. Mimpi sekali..."
Jameson mengepalkan jemarinya di atas meja. Bibirnya merapat kaku.
Narsistik? Berani-beraninya wanita ini membicarakannya secara terang-terangan di sampingnya?
"Ini benar-benar tidak adil, kau tahu?" tawa Hazel terdengar ringan namun menusuk. "Sudah ditolak bahkan sebelum mencoba. Kasihan sekali."
Hazel menurunkan ponselnya dan mematikan sambungan. Tanpa menatap Jameson, ia kembali membuka buku menu di depannya, lalu bergumam pelan namun cukup keras untuk didengar sang Pria.
"Lagipula... Pria sepertimu bukan tipeku. Aku ragu kau tahu cara bersikap sopan."
Sesuatu dalam diri Jameson meledak seketika. Rasa sakit akibat pengkhianatan kekasihnya, dan kini hinaan terang-terangan dari seorang wanita asing yang tak dikenal berbenturan menjadi sebuah amarah pekat yang membakar akal sehatnya.
Senyum sinis terukir di wajah tampannya—senyum yang menandakan bahwa batas kesabarannya telah runtuh sepenuhnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Jameson berdiri tegak dari kursinya.
Hazel baru saja hendak menoleh ketika jemari Jameson yang kuat tiba-tiba meraih kerah pakaian atau bahunya, menyudutkan wanita itu dalam satu gerakan impulsif.
Sebelum Hazel sempat bereaksi atau mencerna apa yang terjadi, bibir Jameson sudah menempel erat di atas bibirnya.
Sebuah ciuman panas, menuntut, dan penuh desakan emosi meledak seketika.
Tak ada kelembutan; hanya ada keputusasaan, kemarahan, dan hasrat untuk membuktikan bahwa tak ada wanita yang bisa meremehkannya.
Jameson melumat bibir wanita itu dengan ganas, menyalurkan seluruh rasa pahit dan penderitaannya ke dalam tautan bibir mereka.
Hazel tertegun selama milidetik, rasa terkejut menjalar di dadanya.
Namun, alih-alih menolak, kehangatan dan keliaran dari ciuman pria itu memancing instingnya. Bibirnya yang tadinya kaku kini merileks, berganti menjadi balasan yang sama posesifnya.
Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, tangan kekar Jameson berpindah ke pinggang Hazel. Ia mengangkat tubuh wanita itu dari lantai seolah tanpa beban, menyuruh Hazel melingkarkan kedua kakinya di pinggang kencangnya.
Hazel menyambutnya tanpa ragu, jemarinya meremas rambut tebal Jameson saat tautan bibir mereka kian dalam dan liar, mengabaikan tatapan tercengang dari bartender yang menjadi satu-satunya saksi di sana.
"Bawa aku pergi dari sini," bisik Jameson di antara napasnya yang memburu, bibirnya masih menempel pada kulit leher Hazel.
Tanpa melepaskan pagutannya, Jameson memutar tubuh, melangkah lebar keluar dari bar, meninggalkan meja kayu dan bartender yang masih terpaku.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Suara pintu penthouse suite di hotel bintang lima teratas kota Los Angeles tertutup keras, mengunci kebisingan dunia luar di balik pintu kayu jati yang kokoh.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi pendar remang lampu kota dari balik jendela kaca besar, aroma percintaan dan alkohol membumbung tinggi.
Ciuman mereka tak pernah terputus sejak dari dalam lift pribadi hingga melintasi lorong menuju kamar mewah itu.
Lompatan emosi yang menggebu memicu percikan api yang tak terkendali. Jameson mendorong tubuh indah Hazel ke arah dinding.
Pakaian mewah yang melekat kencang dilucuti tanpa ampun, tergeletak tragis di atas karpet tebal.
Jameson mengerang rendah, menyusuri leher jenjang Hazel, mengecup dan menyesap kulit halus di mana tato kupu-kupu itu berada, seolah ingin melupakan seluruh rasa sakit yang tersembunyi di dalam dadanya.
"Kau sangat liar untuk seorang wanita yang angkuh," bisik Jameson dengan suara serak menahan gairah, jemarinya membelai pinggul mulus Hazel yang gemetar.
"Diam dan lakukan tugasmu, Pria Asing," balas Hazel meluapkan keangkuhannya, meski napasnya sudah terengah-engah dan matanya berkaca-kaca oleh kepasrahan gairah.
Jameson terkekeh rendah, membalikkan posisi hingga membawa Hazel ke ranjang berseprai sutra putih yang melingkupi tempat tidur king-size mereka.
Di bawah temaram cahaya malam, dua jiwa yang sama-sama tersakiti dan penuh keangkuhan itu saling menyatu dalam pusaran gairah yang membara.
Setiap sentuhan Jameson begitu intens, membakar dinginnya hati Hazel dan dirinya sendiri yang sempat membeku akibat luka.
Jameson menundukkan wajahnya tepat di antara dua paha wanita asing itu.
Untuk pertama kalinya dia merendahkan harga dirinya sebagai pria Ashford, memuja apa yang ada di hadapannya.
Beberapa detik kemudian dia beralih menatap mata wanita di bawahnya. Seakan mengerti, wanita itu mengangguk pelan memberikan izin.
Dan...
deg!
Kenapa sempit sekali?
Jleb.
Wanita itu meringis kencang.
Sialan, dia masih perawan! batin Jameson terkejut bukan main.
Namun bukannya menangis, wanita itu justru menahan rasa sakit dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Jameson dengan lembut mengecup seluruh permukaan wajahnya, mengusap helai napasnya yang memburu.
"Terlambat untuk menyesalinya," bisik Jameson dalam desah serak.
Percintaan panas malam itu mengalir tanpa henti, dipenuhi oleh desahan napas yang memburu, tautan jemari yang saling mencengkeram erat seprai, dan gejolak emosi yang tak lagi tertahan.
Di dalam kegelapan kamar hotel mewah itu, mereka membiarkan diri mereka hancur dan terlahir kembali dalam pelukan satu sama lain—sebuah pelarian manis yang membakar habis sisa-sisa air mata dalam kehangatan malam yang panjang.
...----------------...
Happy reading 🦋 Sequel Novel "Hi My Lord"
up up up 🤣