Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Part 3
Sore harinya, Sebuah mobil SUV hitam besar berhenti tepat di depan pagar kontrakan. Dua pria bertubuh tegap turun dengan setelan jas hitam rapi. Aura mereka mengintimidasi, membuat warga yang tadi pagi mencibir kini hanya berani mengintip dari balik tirai jendela.
Salah satu pria mengetuk pintu dengan tidak sabaran seperti sedang menagih hutang. Gendis membuka pintu. Ia sudah mandi dan berpakaian rapi, seolah sudah menduga kedatangan mereka.
"Nyonya Gendis?"
"Ya, saya," jawab Gendis mantap.
"Ikut kami. Tuan Arya menunggu Anda."
"Untuk apa?" Gendis tidak langsung menurut. Ia menatap pria berjas itu tanpa gentar. "Kalau dia mau bicara, kenapa tidak datang sendiri?"
"Tuan Arya tidak punya waktu untuk drama recehan seperti ini. Masuk ke mobil, atau kami punya cara lain untuk membawa Anda."
Gendis tahu ia kalah tenaga. Melawan dua algojo ini konyol. Ia mengangguk singkat. "Baik. Saya ikut. Tapi bukan karena takut pada kalian, tapi karena saya perlu bicara dengan bos kalian."
Gendis melangkah keluar, masuk ke dalam mobil mewah itu dengan kepala tegak. Ia tidak menoleh sedikitpun pada Bu Marni yang melongo di balik pagar. Satu jam kemudian, mobil memasuki gerbang istana keluarga Bratadikara. Kemewahan rumah itu memang mencengangkan, tapi Gendis tidak membiarkan dirinya terlihat kagum. Ia memasang wajah datar saat digiring menuju ruang kerja di lantai dua.
Pintu ganda kayu jati dibuka. Aroma kopi mahal dan pendingin ruangan menyambutnya. Di balik meja kerja besar, Arya duduk membelakangi pintu, menatap pemandangan kota. Kursinya berputar perlahan saat Gendis masuk.
Wajah tampan itu masih memancarkan permusuhan yang sama. Arya melempar sebuah map biru ke atas meja.
"Duduk," perintah Arya dingin. Matanya meneliti penampilan Gendis dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Tanda tangani itu." Gendis tidak langsung duduk. Ia merogoh saku gamisnya, mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan yang sudah lecek,lalu tangan satu nya merogoh saku gamisnya yang lain dan mengeluarkan 10 lembar uang seratus ribuan juga, lalu meletakkannya di atas meja Arya.
"Apa ini?" alis Arya terangkat satu.
"Uang tanda terimakasih Anda ketinggalan," jawab Gendis datar. Ia menarik kursi, lalu duduk dengan punggung tegak. "Saya menolong orang pingsan karena kemanusiaan, bukan karena butuh sedekah. Tapi karena kamu memulai semua ini dengan tidak sopan, maka aku akan melakukan hal yang sama."
Arya terdiam sejenak, ada kilatan kaget di matanya, jelas-jelas semalam perempuan ini gemetar saat warga memaksa mereka menikah, tapi sekarang dia merasa sombong? tapi sikap arogan menutupnya. Ia mendengus geli. "Sok jual mahal. Baca kontraknya."
Gendis membuka map itu. Matanya menyusuri poin demi poin.
"Pernikahan kita harus rahasia. Tidak ada resepsi atau apapun yang mengharuskan kita terlihat berdekatan dan di luar rumah, kita orang asing," Arya menjelaskan dengan nada bosan. "Kamu pikir setelah menjebak saya, kamu bisa hidup enak jadi Nyonya Besar? Mimpi. Kamu cuma kesalahan satu malam yang harus saya bayar mahal."
Gendis menutup map itu kembali. Ia menatap Arya tajam.
"Tuan Arya, Saya tidak tahu siapa yang menjebak siapa. Tapi di mata hukum dan agama saya, Anda suami saya."
"Hanya di atas kertas," potong Arya cepat. "Dan itu kertas sampah karena pernikahan kita hanya dibawah tangan."
"Kalau begitu ceraikan saya sekarang," tantang Gendis.
Rahang Arya mengeras. "Kamu tahu saya tidak bisa melakukan semua itu, Reputasi keluarga saya jadi taruhannya karena video sialan itu."
Gendis tersenyum miring. "Nah, berarti Anda butuh saya. Anda butuh status pernikahan ini untuk menutup aib."
Gendis mengambil pena di atas meja.
"Saya akan tanda tangan, karena saya juga butuh tempat tinggal yang aman dari fitnah warga. Tapi ingat satu hal, Tuan..."
Gendis menatap manik mata Arya dalam-dalam.
"Jangan sebut saya kesalahan. Dan jangan pernah berpikir Anda bisa membeli harga diri saya, apalagi menginjak-injaknya. Saya istri Anda di rumah ini, perlakukan saya dengan hormat selayaknya manusia. Atau saya tidak akan segan membuat neraka yang Anda janjikan itu, menjadi kenyataan buat Anda juga."
Gendis membubuhkan tanda tangannya dengan cepat, lalu menutup map itu kasar.
"Kamar saya di mana?" tanyanya tanpa rasa takut.
Arya terpaku di kursinya. Ini pertama kali dalam hidupnya yang penuh kuasa, ada seorang wanita miskin, janda kampung, yang berani menatap matanya dan mengancam balik tanpa rasa takut.
Arya menyeringai tipis. Seringai yang berbahaya.
"Lantai tiga. Pojok kanan. Jangan harap ada pelayan yang melayanimu. Bawa barangmu sendiri."
Gendis berdiri, mengangguk singkat, lalu keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Arya yang menatap pintu tertutup itu dengan rasa kesal yang aneh. Wanita itu... ternyata punya cakar.
Sementara itu, di halaman kontrakan yang kini sepi.
Bu Marni masih berdiri sambil mengipas-ngipaskan uang lima puluh ribuan di tangannya,hasil uang taruhan dari ibu-ibu lain yang senang melihat Gendis diusir.
Setelah memastikan tidak ada yang mendengar, Bu Marni merogoh ponsel bututnya dari saku daster. Ia berjalan ke belakang rumah, dekat jemuran, lalu menekan sebuah nomor yang tidak disimpan namanya.
Hanya butuh dua dering, telepon diangkat.
"Halo, Bos?" sapa Bu Marni dengan suara dipelankan, tapi nadanya penuh semangat.
"Bagaimana? Beres?" Suara berat seorang pria terdengar dari seberang sana. Dingin dan tidak sabar.
"Beres total, Bos! Rencana sukses besar!" Bu Marni terkikik licik. "Si Gendis sudah pergi. Dia dijemput orang kaya itu tadi sore. Warga sini sudah cap dia perempuan gatel, jadi dia nggak bakal berani balik lagi ke sini."
Terdengar helaan napas lega dari seberang. "Bagus. Pastikan dia tidak tahu siapa yang menyuruhmu. Dan ingat, mulutmu dikunci rapat-rapat."
"Aman, Bos. Yang penting sisa pembayarannya ditransfer ya, Bos. Buat modal arisan besok," pinta Bu Marni tanpa tahu malu.
"Sudah saya transfer. Jangan hubungi saya lagi kecuali penting."
Tut. Tut. Tut.
Sambungan diputus sepihak. Jauh di pusat kota, di sebuah kantor mewah yang dingin.
Seorang pria meletakkan ponselnya di meja marmer. Ia menatap bingkai foto di mejanya, foto dirinya merangkul seorang pemuda yang tersenyum cerah.
Bramantyo tersenyum miring menatap foto adiknya itu.
"Maafkan aku, Galang," gumamnya sambil mengelus bingkai foto itu. "Aku cuma membersihkan hama setelah kamu pergi. Harta Papa tidak boleh jatuh ke tangan perempuan miskin itu. Sekarang dia sudah jadi milik orang lain. Harta kita... aman."
Bram tertawa kecil. Ia tidak tahu, bahwa orang lain yang menikahi Gendis adalah Arya Bratadikara. saingan bisnis terbesarnya sendiri. Takdir, sepertinya, sedang bercanda dengan mereka semua.
Bersambung...