NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELARIAN BERDARAH

Lorong beton di balik panggung itu terasa membekukan. Suhu dari mesin pendingin sentral gedung berembus kencang, menusuk langsung ke kulit Leo yang basah oleh keringat dingin dan darah. Ia menyeret langkahnya menjauhi pintu rahasia, sebelah tangannya bertumpu pada dinding yang kasar untuk menjaga keseimbangan.

Setiap kali ia menarik napas, rasa sakit yang luar biasa meledak dari pundak kanannya. Peluru dari pistol Marco bersarang cukup dalam, merobek otot dan jaringan di dekat tulang selangkanya. Darah segar terus menetes, meninggalkan jejak merah gelap di lantai abu-abu lorong tersebut.

"Sialan... Marco keparat," desis Leo seraya menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan sakit.

Suara dobrakan pintu dan teriakan kasar terdengar menggema dari arah lorong di belakangnya. Para pengawal Marco sudah berhasil menjebol pintu rahasia dan kini memburunya seperti anjing pelacak yang kelaparan.

Leo memutar otaknya cepat. Lorong layanan ini bercabang dua di depan sana; ke kiri menuju area lift barang, dan ke kanan menuju dapur utama hotel yang terhubung langsung dengan tangga darurat ke basement. Menggunakan lift sama saja dengan bunuh diri, Marco pasti sudah mematikan daya atau menunggu di pintu keluar lift. Pilihan satu-satunya hanyalah lewat dapur.

Dengan sisa tenaga yang ada, Leo memaksa kakinya berlari ke arah kanan. Ia mendorong pintu ganda berbahan *stainless steel* dan masuk ke dalam dapur utama hotel yang luas. Tempat itu gelap gulita, hanya diterangi oleh dua lampu darurat di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan pucat. Aroma rempah, mentega, dan daging panggang yang tadinya menggugah selera kini terasa membuat perutnya mual akibat pusing karena kehilangan banyak darah.

Leo bersandar di balik meja persiapan makanan yang panjang. Ia merobek sisa kemeja putihnya dengan tangan kiri dan giginya, membuat sebuah pita kain yang cukup panjang. Dengan gerakan cepat yang menyakitkan, ia melilitkan kain itu ke pundak kanannya, mengikatnya kuat-kuat untuk menekan pendarahan.

"Ughh!" erang Leo tertahan saat ikatan itu menekan lukanya.

Pandangannya sempat berkunang-kunang selama beberapa detik. Bayangan ayahnya yang terkapar bersimbah darah di atas panggung kembali berkelebat di benaknya. Rasa duka yang teramat dalam kembali menghantam dadanya, namun kali ini, kesedihan itu terbakar oleh kemarahan yang mendidih. Ia tidak boleh mati di sini. Kalau ia mati, Marco akan menguasai segalanya dan ayahnya akan dikenang sebagai korban dari anak kandungnya sendiri.

Dobrakan pintu ganda dapur menyadarkan Leo dari lamunannya. Dua sinar senter menembus kegelapan, menyapu sekeliling area dapur.

"Periksa area oven dan ruang pendingin! Jangan sampai dia lolos!" perintah seorang pengawal berbadan tegap.

"Sepuluh juta dolar, kawan. Siapa sangka bos Marco bakal pasang harga setinggi itu untuk kepala anak bos besar," kekeh pengawal kedua yang memegang senter di tangan kiri dan pistol di tangan kanan.

Leo menahan napasnya. Ia berjongkok di balik meja *stainless*, mendengarkan derap langkah sepatu bot kedua pengawal itu yang makin mendekat. Ia tidak punya senjata api. Glock miliknya tertinggal di panggung setelah ia tertembak. Tangan kanannya nyaris lumpuh, hanya tersisa lengan kirinya yang bisa digunakan untuk bertarung.

Mata Leo bergerak liar dalam keremangan, mencari apa saja yang bisa dijadikan senjata. Di rak bawah meja persis di sebelahnya, terdapat sebuah pisau daging besar (cleaver) yang biasa digunakan koki untuk memotong tulang. Leo meraih gagang pisau itu perlahan dengan tangan kirinya. Besinya terasa dingin dan berat.

Langkah kaki pengawal pertama berhenti tepat di sisi lain meja tempat Leo bersembunyi. Cahaya senter menyapu langit-langit tepat di atas kepala Leo.

"Hei, lihat ini. Ada ceceran darah di lantai," panggil pengawal pertama.

"Dia pasti ada di dekat sini. Siapkan senjatamu," sahut rekannya.

Leo tahu ia tidak punya waktu lagi. Detik berikutnya, saat pengawal pertama mencondongkan badan untuk melihat ke balik meja, Leo melompat naik.

"Bajingan!" umpat pengawal itu karena terkejut.

Leo tidak memberinya kesempatan untuk mengangkat pistol. Dengan tangan kirinya, Leo mengayunkan pisau daging itu, bukan menggunakan mata pisaunya, melainkan bagian gagang kayunya yang keras, menghantam rahang pengawal itu dengan tenaga penuh.

Brak!

Bunyi tulang beradu terdengar keras. Pengawal itu terhuyung ke belakang, pistolnya terlepas dari genggaman. Leo langsung maju, menendang lutut pria itu hingga ia jatuh berlutut, lalu mendaratkan sikunya ke tengkuk sang pengawal hingga pria itu ambruk pingsan ke lantai.

"Di sana! Berhenti!" teriak pengawal kedua yang berada sekitar lima meter dari Leo. Moncong senjatanya langsung memuntahkan peluru.

Dor! Dor!

Leo melempar tubuhnya ke samping, berlindung di balik rak panci berlapis baja. Peluru menghantam panci dan wajan di atasnya, menimbulkan suara dentingan logam yang memekakkan telinga dan bunga api di tengah kegelapan.

Leo melirik ke arah pistol yang tadi dijatuhkan oleh pengawal pertama. Jaraknya hanya satu meter, tapi terlalu terbuka. Pengawal kedua terus mendekat sambil mengarahkan senternya ke rak panci.

Leo meraih sebuah wajan besi cor yang berat dari rak terbawah. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu melemparkan wajan itu sekuat tenaga ke arah cahaya senter di sebelah kanan, sementara tubuhnya sendiri berguling ke arah kiri.

Prang!

Pengawal itu terkejut dan melepaskan tembakan refleks ke arah wajan yang melayang. Memanfaatkan jeda sepersekian detik itu, Leo meraup pistol di lantai dengan tangan kirinya, menodongkan senjata itu dan langsung menarik pelatuknya.

Dor!

Peluru Leo bersarang tepat di bahu kanan pengawal tersebut. Pria itu menjerit kesakitan, menjatuhkan senjatanya dan jatuh terduduk di lantai.

Leo bangkit berdiri dengan napas terengah-engah. Ia menodongkan pistolnya ke arah kepala pengawal yang mengerang kesakitan itu. Meski tangannya gemetar, tatapan mata Leo sangat tajam dan mematikan.

"Berapa orang yang menjaga tangga darurat menuju basement?" tanya Leo dingin.

"A-aku tidak akan bicara, pengkhianat," rintih pengawal itu seraya memegangi bahunya yang berdarah.

Leo melangkah maju, menginjak luka tembak di bahu pria itu dengan sol sepatunya.

"Arghhhh! Hentikan! Hentikan!" jerit pria itu seraya meronta-ronta.

"Ayahku baru saja dibunuh di depan mataku, dan kalian semua percaya pada Marco," bisik Leo dengan suara gemetar menahan amarah. "Aku tidak punya kesabaran malam ini. Berapa orang di tangga darurat?!"

"E-empat! Ada empat orang berjaga di pintu keluar lorong basement!" jawab pria itu terbata-bata menahan sakit. "Mereka menutup semua akses pelabuhan!"

Leo menarik kakinya, membiarkan pria itu meringkuk kesakitan di lantai. Ia memungut senter dan satu pistol lagi yang tergeletak, menyelipkannya ke ban pinggang. Sebelum pergi, ia melepas radio komunikasi yang terpasang di kerah baju pengawal pertama yang pingsan.

Dari radio itu, terdengar suara parau Marco.

"Semua unit, dengarkan baik-baik. Target terluka parah. Dia kehilangan banyak darah. Sisir setiap lantai, tutup semua pintu keluar. Tembak mati di tempat, jangan ambil risiko."

Leo mematikan radio itu dan membuangnya ke sudut ruangan.

Ia kembali berlari, menembus pintu belakang dapur dan masuk ke area tangga darurat. Suasana di tangga sangat sunyi, hanya terdengar gema langkah kakinya sendiri yang menuruni anak tangga beton. Darah segar kembali merembes dari bahunya, menetes membasahi celana bahan mewahnya.

Pandangannya mulai berputar. Kekurangan darah mulai menyerang kesadarannya. Rasa dingin menjalar dari ujung jari hingga ke dadanya.

"Bertahanlah... sedikit lagi," gumam Leo pada dirinya sendiri seraya bersandar pada pegangan tangga besi.

Ia tiba di lantai dasar tanah, pintu besi bertuliskan *Loading Dock & Basement* berada beberapa langkah di depannya. Di balik pintu itu, ada empat pengawal bersenjata yang siap membunuhnya. Dan dari arah atas tangga, Leo mulai mendengar suara derap langkah rombongan pengawal lain yang menyusul turun. Ia terjebak di tengah-tengah.

Leo menatap sebuah tabung pemadam api berwarna merah besar yang terpasang di dinding dekat pintu. Ia mendapat sebuah ide gila, sebuah pertaruhan nyawa terakhirnya di gedung ini.

Dengan sebelah tangan, Leo menurunkan tabung pemadam itu dari kaitannya. Ia mencabut pin pengamannya, lalu meletakkan tabung itu di depan pintu besi. Leo memutar gagang pintu, mendorongnya sedikit hingga terbuka celah sekitar sepuluh sentimeter, lalu menendang pintu itu kuat-kuat hingga terbuka lebar.

"Itu dia! Di tangga darurat!" teriak salah satu pengawal dari arah *loading dock* yang langsung menyadari pergerakan pintu.

Leo tidak keluar. Ia bersembunyi di balik dinding tangga dan menembak tepat ke arah tabung pemadam api yang tergeletak di tengah ambang pintu.

Dor! Pshhhhhh!

Tabung itu meledak, memuntahkan busa kimia putih dan asap karbon dioksida yang sangat tebal. Dalam sekejap, area pintu dan sebagian ruang *loading dock* tertutup kabut putih yang membutakan pandangan.

"Uhuk! Sialan! Aku tidak bisa melihat!" rutuk salah satu pengawal di luar sana.

"Tembak saja ke arah pintu! Habisi dia!" perintah pengawal lain.

Rentetan tembakan membabi buta menghantam dinding beton di sekitar pintu, membuat serpihan batu beterbangan.

Leo menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, lalu berlari menembus asap putih pekat itu. Ia menerjang maju secara membuta, mengandalkan ingatan tata letak ruangan yang pernah ia pelajari. Begitu ia keluar dari kepungan asap tebal, ia melihat bayangan dua pengawal sedang sibuk menembak ke arah tangga darurat.

Tanpa ragu, Leo mengangkat senjatanya dan menembak paha kedua pria itu.

Dor! Dor!

Keduanya tumbang sambil menjerit. Dua pengawal lainnya yang berada di dekat truk bongkar muat terkejut melihat Leo sudah berada di luar zona asap. Mereka mencoba membidik, namun Leo melempar dirinya ke balik pilar beton tebal pembatas parkir.

Peluru musuh mengoyak pilar tempat Leo berlindung. Leo tidak punya waktu meladeni baku tembak panjang. Ia harus keluar dari gedung ini sekarang juga.

Di ujung lorong, terdapat pintu *rolling door* besi yang setengah terbuka, membiarkan angin badai malam dan rintik hujan menderas masuk ke dalam area parkir. Itulah jalan keluarnya.

Leo memfokuskan sisa-sisa pandangannya yang mulai mengabur. Ia keluar dari balik pilar, melepaskan tiga tembakan perlindungan ke arah dua pengawal yang tersisa. Salah satu pelurunya mengenai kaca spion truk hingga hancur, memaksa kedua pengawal itu menunduk berlindung.

Memanfaatkan celah waktu yang amat sempit itu, Leo berlari kencang menuju pintu *rolling door*. Langkahnya tidak lagi tegap, tubuhnya sempoyongan, bahu kanannya terasa seperti terbakar api neraka.

Tepat saat ia berguling melewati celah *rolling door* yang setengah terbuka, sebuah peluru menyambar betis kirinya.

"Akhh!" teriak Leo saat dagingnya robek oleh peluru, membuatnya terjatuh keras ke aspal jalanan belakang gedung yang basah oleh hujan deras.

Ia merayap di atas genangan air kotor, menyeret kakinya yang kini ikut terluka. Hujan badai mengguyur tubuhnya, menghapus sebagian darah di wajah dan kemejanya. Dari belakang, suara pengawal yang mencoba membuka *rolling door* terdengar makin beringas.

Leo memaksakan diri untuk berdiri, berpegangan pada dinding bata berlumut di gang sempit belakang hotel. Di ujung gang sana, sayup-sayup terdengar suara aliran sungai besar kota yang membelah distrik pelabuhan. Ia tidak tahu apakah ia bisa selamat malam ini, tapi satu hal yang ia yakini: selama ia masih bernapas, takhta yang direbut Marco tidak akan pernah tenang.

Dengan napas tersengal dan tubuh yang perlahan mati rasa, Leo berjalan terseok-seok menembus gelapnya badai, meninggalkan kemegahan masa lalunya di belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!