Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - LUSA PAGI
Lima keping tembaga itu berbaris di atas meja.
Lin Feng telah menghitungnya tiga kali sejak pulang dari pasar. Jumlahnya tetap sama. Peta jalan terlipat di sampingnya, sementara roti kering di dalam bungkusan mulai kehilangan aroma. Semua yang ia miliki untuk memulai hidup baru dapat dimuat dalam satu gulungan kain.
Ibunya sedang menambal bagian siku bajunya yang robek. Ayahnya belum pulang dari rumah keluarga Zhao. Di luar, angin malam menggesek daun-daun bambu di atap.
“Kalau kau jadi pergi ke kota,” kata ibunya tanpa mengangkat wajah, “kau akan tinggal di mana?”
Lin Feng memandang peta. “Aku belum tahu.”
“Siapa yang akan kau cari?”
“Aku juga belum tahu.”
Jarumnya berhenti. “Jadi kau hanya tahu nama kota dan jalan menuju ke sana.”
“Aku tahu ada pasar bahan, asosiasi alkemis, dan beberapa toko obat.”
“Dari mana kau tahu?”
Lin Feng tersadar. Ia hampir menjawab bahwa ia sudah menghabiskan bertahun-tahun di sana—tetapi hanya melalui layar. “Aku pernah mendengar orang membicarakannya.”
Ibunya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan jahitan. “Jangan sampai kau pergi ke sana karena mengira semua pintu akan terbuka begitu kau tiba.”
Kalimat itu terasa seperti teguran yang tepat. Kota dalam permainan memang memiliki lokasi-lokasi yang menunggu pemain: toko, guild, arena. Dalam kehidupan nyata, setiap pintu mungkin memiliki pemilik, jam buka, dan alasan untuk menolak orang asing.
“Aku tidak berharap langsung diterima bekerja,” katanya. “Aku hanya ingin mencari pekerjaan sederhana. Membantu mengangkut barang, membersihkan toko, atau menyortir bahan.”
“Untuk menyortir bahan, kau harus tahu mana yang bisa dijual.”
“Aku bisa belajar.”
“Belajar membutuhkan waktu.”
“Aku tahu.”
Ibunya meletakkan baju di pangkuannya. “Kau sering mengatakan tahu, tapi belum tentu benar-benar mengerti.”
Lin Feng diam. Ia tidak punya pembelaan. Dalam hidup sebelumnya, ia memahami banyak hal tentang sistem alkimia, tetapi tangannya tak pernah harus membedakan akar segar dari akar busuk. Di sini, pengetahuan itu baru berguna jika ia dapat membuktikannya tanpa merugikan orang lain.
Ayahnya masuk tak lama kemudian. Ia membasuh tangan di luar, lalu duduk di dekat pintu. Ibunya menyampaikan pembicaraan mereka. Lelaki itu mendengar sampai selesai, tidak menyela.
“Pedagang itu berangkat lusa pagi,” katanya akhirnya. “Kau masih ingin ikut?”
“Jika rusukku tidak sakit saat berjalan besok.”
“Kalau masih sakit?”
“Aku menunggu gerobak berikutnya.”
Ayahnya mengangguk. “Itu jawaban yang lebih baik daripada berangkat apa pun yang terjadi.”
Lin Feng menatapnya. “Ayah tidak ikut?”
“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan di ladang sekarang. Kalau aku pergi, keluarga Zhao akan mencari orang lain. Kita tak punya cukup uang untuk menganggur beberapa hari.”
Tidak ada keluhan dalam suaranya, hanya hitungan yang sudah lama ia pahami. Lin Feng melihat kembali lima keping tembaga. Dua akan membayar gerobak. Makanan untuk perjalanan akan mengurangi sisanya. Jika ia gagal mendapatkan pekerjaan, ia mungkin harus pulang dengan berjalan kaki.
“Aku bisa berjalan saja,” katanya. “Uangnya bisa dipakai untuk bekal.”
“Jalan bukit masih rusak,” jawab ayahnya. “Kau baru pulih. Jangan mengubah satu keping menjadi alasan untuk mengambil risiko yang lebih besar.”
“Kalau aku naik gerobak, aku akan tetap punya uang lebih sedikit saat tiba.”
“Dan tubuhmu mungkin tidak memburuk sebelum mencari kerja.” Ayahnya mengusap lehernya yang kaku. “Kita tidak sedang memilih jalan yang paling murah. Kita memilih yang bisa kau jalani.”
Lin Feng mengangguk perlahan. Ini bukan pilihan yang bisa dihitung dengan angka tunggal. Ia harus membandingkan biaya dengan kondisi tubuh, dan uang dengan kemungkinan mendapatkan pekerjaan.
Ibunya meletakkan roti kering di atas meja. “Aku bisa menyiapkan nasi dan sayur asin. Kau tidak perlu membeli semuanya di jalan.”
“Aku tidak mau mengambil jatah rumah.”
“Kalau kau pergi mencari kerja, makanan itu bukan jatah yang terbuang.”
Ia menatap ibunya. Ada ketegasan lembut di sana, tak memberi ruang bagi penolakan yang hanya lahir dari rasa sungkan. Lin Feng akhirnya mengangguk.
Ayahnya meraih peta dan meratakannya. “Kau harus bertanya kepada pedagang itu tentang tempat turun yang aman. Jangan turun di gerbang lalu berjalan sendirian tanpa tahu arah.”
“Dia bilang sampai gerbang kota.”
“Gerbang itu besar. Tanyakan di mana dia akan berhenti dan siapa yang biasanya membawa barang ke pasar.”
“Baik.”
“Dan jangan memberi orang lima keping tembaga hanya karena mereka mengaku tahu pekerjaan.”
Lin Feng hampir berkata bahwa ia tak sebodoh itu. Ia mengurungkan niatnya. Ia baru berada di dunia ini beberapa hari. Ia belum tahu bentuk uang palsu, belum tahu siapa yang bisa dipercaya, dan belum mengerti aturan kerja di kota.
“Aku akan bertanya dulu sebelum membayar apa pun.”
Ayahnya tampak puas. “Kalau begitu, besok kita temui pedagang itu. Kau bisa memastikan tempat duduk dan biaya. Setelah itu, kita lihat apakah tubuhmu siap.”
Malam itu, Lin Feng tidur dengan peta terlipat di bawah bungkusan. Ia tidak sedang merencanakan rute rahasia atau mencari lokasi bahan langka. Ia mencoba mengingat wajah gerbang kota dari game, tetapi kenangan itu bercampur dengan bayangan yang diceritakan ayahnya tentang perjalanan masa kecil.
Ia tak tahu apakah gerbang itu akan sama.
Pagi harinya, rasa nyeri di rusuknya tinggal sisa. Ia bisa berjalan dari rumah ke pagar dan kembali tanpa berhenti. Ayahnya memeriksa langkahnya, lalu mengizinkan mereka menemui pedagang di pasar.
Gerobak lelaki itu sudah hampir penuh. Ia sedang mengikat kain terpal di atas muatan ketika Lin Feng dan ayahnya tiba.
“Aku ingin memastikan ongkos dan tempat turun,” kata Lin Feng.
“Dua keping sampai gerbang timur,” jawab pedagang itu. “Kalau kau ingin ke pasar obat, kau harus mencari jalan sendiri setelah turun. Aku tidak akan mengantarmu berkeliling.”
“Apa ada tempat untuk mencari pekerjaan dekat gerbang?”
“Banyak tempat. Itu tidak berarti mereka membutuhkanmu.”
Lin Feng mengangguk. “Aku paham.”
Pedagang itu memandangnya sebentar, seolah menilai apakah ia akan tersinggung. “Kalau kau masih bisa membawa barang ringan, kau boleh naik. Jangan berdiri saat gerobak bergerak. Jalan dua hari, mungkin lebih kalau roda terjebak.”
“Aku akan ikut besok jika tubuhku tetap membaik.”
“Datang sebelum matahari terbit. Kalau kau terlambat, tempatmu diambil karung.”
Tidak ada janji kerja, bantuan khusus, atau sambutan hangat dari kota. Hanya satu tempat di gerobak dengan ongkos yang harus dibayar dan waktu berangkat yang tak menunggu siapa pun.
Dalam perjalanan pulang, ayahnya tidak berkata bahwa ia bangga atau takut. Ia hanya berjalan di samping Lin Feng, menyesuaikan langkah dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Lin Feng memiliki rencana yang bukan sekadar bertahan hidup pada hari itu.
Besok pagi, jika rusuknya tidak kembali sakit, ia akan berangkat menuju Azure Cloud City.