Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reinkarnasi Fana dan Pertemuan Pertama di Bawah Hujan
Jenderal Muda Kerajaan Jing dan Sang Putri Terasing di Istana Leng Guang
Pusaran Roda Takdir Ujian Fana meliuk-liuk membelah ruang dan waktu, menelan dua jiwa suci pelindung Tiga Alam. Ingatan akan keagungan Istana Langit, pendar Tiga Elemen Semesta, hingga kesaktian sihir Mahadewa perlahan-lahan terkunci rapat di dalam ceruk jiwa terdalam mereka.
Hukum semesta meleburkan esensi jiwa mereka ke dalam rahim fana di Dunia Manusia, mengawali kehidupan reinkarnasi pertama dalam putaran Ujian Takdir Fana.
Dua puluh tahun berlalu di Alam Manusia...
Di daratan fana, membentang Kerajaan Jing, sebuah kerajaan besar yang sedang berada di puncak kejayaan militer namun sarat akan intrik politik istana.
Di perbatasan utara, nama Song Qian menggetarkan panggung sejarah fana. Ia dilahirkan kembali sebagai putra tunggal seorang panglima perang. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, Song Qian telah diangkat sebagai Jenderal Muda Kerajaan Jing. Wajahnya amat tampan berhias garis rahang yang tegas, matanya bening dan tajam memancarkan wibawa alami, serta ketangkasannya memimpin pasukan tak tertandingi oleh siapa pun.
Namun, di balik semua kehormatan dan kemenangan perangnya, Jenderal Song Qian menyimpan sebuah rahasia tersembunyi. Sejak kecil, ia selalu terbangun dari tidur malamnya dengan dada yang berdesir hangat. Di dalam mimpinya yang samar, ia selalu melihat bayangan sesosok wanita bergaun putih anggun yang berdiri di bawah pohon Bunga Plum seraya menatapnya dengan pendar kehangatan yang amat tulus.
Siapa wanita di dalam mimpiku itu? Kenapa jiwaku merasa begitu merindukannya, seolah-olah aku telah mencarinya selama berabad-abad? gumam Song Qian saban malam.
Hari itu, Kota Jing'an, ibu kota Kerajaan Jing, diselimuti oleh hujan gerimis musim gugur. Udara dingin berhembus menembus pilar-pilar batu Merah Istana Kerajaan.
Istana Kerajaan Jing sedang menggelar Pesta Kemenangan Agung untuk menyambut kepulangan Jenderal Song Qian dari medan perang utara. Musik kecapi dan tawa para pejabat istana memenuhi Aula Emas. Namun, Song Qian yang pada dasarnya menyukai ketenangan merasa risih oleh sanjungan dan minuman keras para bangsawan.
Mumpung perhatian para pejabat teralihkan oleh tarian istana, Song Qian melangkah keluar secara diam-diam dari aula utama, membiarkan tubuhnya yang berbalut zirah perak bersulam jubah kain hitam berjalan menyusuri lorong-lorong istana yang sepi.
Langkah kaki Song Qian membawanya kian jauh ke area belakang istana, sebuah wilayah terpencil yang jarang diinjak oleh kerabat kerajaan, yaitu Istana Leng Guang. Istana ini terkenal sebagai kediaman dingin tempat diasingkannya para putri atau selir yang tak memiliki pengaruh politik.
Di sudut halaman Istana Leng Guang yang gersang, tumbuh sebuah pohon Plum tua yang dedaunan dan bunganya basah tertimpa tetesan air hujan.
Langkah Song Qian mendadak terhenti seketika.
Tepat di bawah naungan pohon Plum tua tersebut, berdiri sesosok wanita bergaun sutra putih polos tanpa perhiasan mewah. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai terikat pita giok sederhana. Wanita itu berdiri membelakanginya, menyadarkan jemari tangannya yang lentik dan halus untuk menampung tetesan air hujan yang jatuh dari kelopak Bunga Plum.
Meskipun wanita itu tidak memakai gaun mewahnya dan dikucilkan oleh istana, aura keanggunan, kesucian, dan kedinginan murni yang memancar dari tubuhnya membuat seluruh pemandangan halaman yang gersang itu seketika meredup!
Dialah Putri Gu Qian, reinkarnasi fana dari Mahadewa Qian Gu. Di kehidupan fana ini, ia dilahirkan sebagai putri yatim piatu yang ibunya telah wafat sejak ia kecil. Karena tidak memiliki pengaruh keluarga pejabat di istana, sang raja mengasingkannya di Istana Leng Guang yang dingin.
Putri Gu Qian terkenal sebagai putri yang paling dingin, pendiam, dan acuh tak acuh terhadap kemewahan duniawi. Namun, persis seperti Song Qian, di dalam benak Putri Gu Qian selalu ada lubang kehampaan yang tak pernah bisa diisi oleh apa pun, sebuah perasaan hampa menantikan kedatangan seseorang yang tak kunjung datang.
TET... TET... TET...
Tetesan air hujan jatuh menimpa helai daun di atas kepala Song Qian. Jantung sang Jenderal Muda mendadak berdetak kencang bagaikan genderang perang. Resonansi jiwa yang terikat puluhan ribu tahun melompati batas ingatan fana mereka.
Tanpa disadari, Song Qian melangkah maju. Sepatu boot militernya mengepak genangan air di atas batu setapak.
"Tuan Putri... udara musim gugur di tempat ini sangat dingin. Kau bisa jatuh sakit jika terus berdiri menampung hujan," tutur Song Qian, suara beratnya yang bernada tegas namun penuh ketulusan memecah keheningan taman.
Putri Gu Qian terkejut pelan. Ia perlahan memutar tubuhnya, memalingkan wajahnya menatap ke arah sumber suara.
Saat mata bening milik Putri Gu Qian beradu tatap secara langsung dengan manik mata tajam milik Song Qian...
DEGGGG!
Dunia di sekeliling mereka seolah-olah berhenti berputar. Hujan gerimis yang turun bagaikan melambat di udara.
Meskipun mereka berdua sama sekali tidak mengingat identitas dewa mereka sebagai Mahadewa Semesta dan Keturunan Dewa Qing Tian, getaran ikatan cinta dan Resonansi Jiwa Murni yang pernah menyatu di dalam darah mereka meledak hebat di dasar dada masing-masing.
Putri Gu Qian tertegun membisu. Tatapan mata dinginya yang biasanya tak tersentuh oleh siapa pun mendadak bergetar halus. Menatap wajah tampan jenderal muda di hadapannya, lubang kehampaan di dalam dadanya seketika terisi penuh oleh kehangatan yang amat familiar.
Pria ini... kenapa matanya terasa begitu dekat dengan jiwaku? Seolah-olah dialah sosok yang selalu hadir di dalam mimpiku selama ini... batin Putri Gu Qian berdesir haru.
Sementara itu, Song Qian berdiri terpaku layaknya patung batu. Napasnya tertahan di tenggorokan. Wanita bergaun putih di hadapannya ini... memiliki paras, mata, dan aura yang persis sama dengan wanita bergaun putih di dalam mimpinya.
Dengan gerakan refleks yang lembut, Song Qian melepas jubah kain hitam hangat yang melapisi zirahnya. Ia melangkah satu tapak mendekat, lalu menyelimutkan jubah hitam tebal itu di atas bahu Putri Gu Qian yang tampak kaku.
"Maafkan kelancanganku, Tuan Putri," bisik Song Qian lembut seraya merapikan lipatan jubahnya di leher sang putri. "Namaku adalah Song Qian... Jenderal Pengawal Kerajaan."
Putri Gu Qian menunduk menatap jubah tebal yang kini memberikan kehangatan di tubuhnya. Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap Song Qian dengan pendar mata yang amat hangat seraya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan.
"Song Qian..." sebut Putri Gu Qian pelan, suaranya merdu bagaikan seloka surgawi. "Namaku adalah Gu Qian. Mengapa seorang jenderal besar yang baru menang perang sudi melangkahkan kaki ke tempat kumuh dan terasing seperti Istana Leng Guang ini?"
Song Qian menyunggingkan senyuman paling tampan dan cerah di parasnya. "Mungkin... takdir yang membimbing langkahku ke sini, Tuan Putri. Untuk menemukan jawaban atas mimpi yang selalu mengusik tidurku."
Dada Putri Gu Qian berdesir mendengar ucapan jujur dan berani itu. Di tengah dinginnya perlakuan istana fana terhadap dirinya, kehadiran Jenderal Song Qian membawa seberkas sinar surya yang paling terang ke dalam kehidupannya.
Namun, sebelum kehangatan di antara mereka berkembang lebih jauh...
PLAK! PLAK! PLAK!
Suara derap langkah kaki yang kasar dan bising mendadak menghancurkan ketenangan taman Istana Leng Guang.
Sekelompok kasim dan pengawal istana bergaun merah melangkah masuk dengan raut wajah kejam dan angkuh. Di depan mereka, berdiri Kasim Kepala Li, orang kepercayaan Ibu Suri Kerajaan Jing.
"Putri Gu Qian!" seru Kasim Li dengan nada suara yang melengking tinggi dan melecehkan. "Keluarkan dirimu sekarang juga! Bawa perbekalanmu dan bersiaplah!"
Putri Gu Qian merapatkan jubah hitam Song Qian di tubuhnya, raut wajahnya kembali menyelimuti kedinginan yang acuh tak acuh. "Ada apa, Kasim Li?"
Kasim Li tertawa sinis seraya menyilangkan tangannya di dada. "Kabar gembira untukmu, Putri Terbuang! Ibu Suri dan Sang Raja telah memutuskan takdirmu! Demi menjaga perdamaian perbatasan, besok pagi kau akan diutus sebagai Putri Upeti untuk dinikahkan dengan Raja Tua dari Kerajaan Barbarian Utara!"
DEGGGG!
Pernyataan kejam itu seketika menghantam taman bagaikan petir di siang bolong.
Raja Barbarian Utara terkenal sebagai raja fana yang sangat kejam, tua, dan haus darah. Mengirim Putri Gu Qian ke sana sama saja dengan memvonis mati sang putri dalam penderitaan.
Wajah Putri Gu Qian mendadak pucat pasi. Ia mengepalkan tangannya di balik jubah Song Qian.
Namun, sebelum Kasim Li sempat melangkah mendekati Putri Gu Qian...
SRAKKKKK!
Sebilah pedang perak terhunus cepat dari sarungnya. Ujung pedang tajam milik Jenderal Song Qian menempel tepat satu milimeter dari tenggorokan Kasim Li.
Aura membunuh yang amat dingin dan dahsyat meledak dari tubuh Jenderal Song Qian, membuat seluruh pengawal istana seketika gemetar ketakutan dan berlutut di atas tanah.
"Siapa yang memberi kalian keberanian... untuk menyentuh dan memaksanya?!" gertak Song Qian dengan suara berat nan mengintimidasi yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Kasim Li gemetar hebat, matanya melotot panik menatap wajah sang jenderal perang. "J-Jenderal Song Qian?! Kenapa kau berada di sini?! Ini... ini adalah keputusan resmi Yang Mulia Raja dan Ibu Suri! Kau tidak berhak mencampuri urusan pernikahan politik istana!"
Song Qian menoleh sedikit, menatap Putri Gu Qian yang berdiri di belakangnya. Di dalam lubuk jiwanya yang terdalam, naluri perlindungan pelindung semesta yang telah terukir sejak kehidupan dewa meledak tanpa bisa ditahan.
Song Qian memutar pedangnya, lalu menancapkannya ke atas tanah batu seraya memberikan penegasan yang mengguncang seluruh Istana Leng Guang.
"Kembalilah dan sampaikan pesan ini kepada Raja dan Ibu Suri!" tegas Song Qian lantang. "Selama aku, Song Qian, masih bernapas dan memegang pedang di Kerajaan Jing ini... tidak akan ada seorang pun yang bisa menyentuh atau mengirim Putri Gu Qian keluar dari istana ini sebagai upeti!"
Pemberontakan sang Jenderal Muda demi cinta fana! Bagaimanakah murka Yang Mulia Raja dan Ibu Suri saat mendengar Jenderal Song Qian menentang keputusan kerajaan demi membela Sang Putri Terasing? Dan konspirasi politik berdarah seperti apakah yang dirancang oleh para menteri licik untuk menjatuhkan posisi militer Song Qian dan merebut Putri Gu Qian secara paksa?
Bersambung..........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!