Alicia Harold hanya ingin menikmati malam terakhirnya sebelum menjadi mahasiswa.
Namun karena terlalu bosan di acara keluarga, gadis barbar itu diam-diam mabuk dan berakhir jatuh ke dalam pelukan seorang pria dingin yang paling ingin ia hindari.
Bryan Bright, calon kakak iparnya dan dosen di Imperial College University.
Sejak malam itu, kehidupan Alicia berubah menjadi mimpi buruk. Dosen killer itu seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas darinya. Alicia terus berontak, menghindar, dan menjaga batas.
Namun bagaimana jika tanpa sadar batas itu perlahan berubah menjadi perasaan?
"Amit amit, aku tidak mungkin suka si Bryan mulut harimau itu!" kesal Alicia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JDPDK Bab 6 - Video Semalam
Siang harinya, Alicia akhirnya terbangun setelah tidur selama beberapa jam.
Kepalanya sudah tidak terlalu pusing seperti pagi tadi, tapi tubuhnya masih terasa sedikit lemas. Begitu membuka mata Alicia langsung menggaruk kepalanya frustasi. "Bagaimana nasib sepatu ku? Apa penjelasan siluman itu?" ucap Alicia dengan suara merengek frustasi.
Sudah berusaha melupakan kejadian itu tapi ternyata tidak bisa, karena ini menyangkut hubungannya dengan sang kakak.
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuat Alicia langsung menoleh.
“Al, ini kak Annie. Boleh masuk?" tanya Annie dari luar sana.
Mendengar suara kak Annie, Alicia buru-buru bangun dan merapikan rambut. Ia tidak ingin kakaknya melihat dirinya sedang mengamuk sendirian seperti orang tidak waras.
“Masuk saja, Kak!” jawab Alicia.
Pintu kamar terbuka dan Annie masuk sambil membawa sesuatu di tangannya, lalu menutup pintu kembali.
Begitu melihat kakaknya, Alicia langsung tersenyum manis. Senyum yang sebenarnya sangat mencurigakan jika saja Annie memperhatikannya dengan lebih saksama.
Annie kemudian duduk di tepi tempat tidur dan meletakkan sesuatu yang dibawanya di atas nakas.
"Apa itu kak?" tanya Alicia.
"Sepatumu."
Deg! Alicia sontak mendelik. Debat jantungnya tak bisa lagi ia sembunyikan. Lidahnya terasa kelu untuk mempertanyakan lebih jauh.
Sementara Annie menatap sang adik, melihat apakah Alicia akan jujur? Tapi yang ada Annie malah melihat wajah Alicia jadi pucat.
"Staff hotel melihatmu menjatuhkan sepatu ini, lalu memberikannya pada Bryan. Semalam Bryan memang pulang paling akhir," ucap Annie, ia tak tega melihat adiknya yang pucat. Sampai akhirnya ia mengikuti kebohongan ini.
Dan setelah mendengar penjelasan itu barulah Alicia bisa bernafas lega. 'Syukurlah, siluman itu tidak bicara sembarangan.' batin Alicia.
"Aku sudah membuang sepatu ini, malah dikembalikan," ucap Alicia, kesal karena sepatu ini membuatnya kembali melihat Bryan.
“Kamu ini. Bukannya berterima kasih karena sepatumu ditemukan, kamu malah mengomel. Kalau tidak ada Bryan, mungkin sekarang sepatumu masih tertinggal di hotel.”
"Biar saja Kak, aku sudah tidak menginginkan sepatu ini."
"Tetap saja, nanti kalau ketemu Bryan lagi kamu harus berterima kasih."
"Tidak mau. Kak Annie harus mendengarkan aku, akhiri saja hubungan kak Annie dengan pria itu!"
"Kenapa?"
"Karena kak Annie terlalu sempurna untuk siluman harimau itu. Kakak tahu kan rumor Bryan Bright itu seperti apa? Dia itu preman, mulutnya ketus dan suka melakukan kekerasan!" balas Alicia panjang kali lebar.
Memang bukan rahasia lagi jika Bryan Bright telah banyak menghajar para mahasiswanya, pukulan fisik dan juga tekanan nilai. Pria itu benar-benar kejam, karena itulah dilingkungan kampus Bryan dikenal sebagai dosen killer.
“Sudahlah, cepat bersiap. Jangan sampai terlambat pada hari pertama kuliah," balas Annie yang tak ingin melanjutkan pembicaraan tentang Bryan.
Alicia cemberut, tapi kemudian hatinya kembali bimbang. Bahkan dengan semua fakta itu kak Annie nya tetap mempertahankan si siluman harimau. Itu artinya kak Annie benar-benar mencintai Bryan.
Dan artinya kak Annie tak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. 'Kak Annie, kak Annie, bisa-bisanya mencintai pria seperti itu.' batin Alicia. 'Malang sekali kakakku,' timpal Alicia lagi di dalam hati, nelangsa sendiri dengan nasib sang kakak.
Alicia bahkan sudah membayangkan bagaimana jika kak Annie dan Bryan menikah, kak Annie pasti akan sangat menderita karena kesepian dan kekerasan dalam rumah tangga.
Huh! Alicia menghela nafas pelan. 'Tidak boleh, aku harus tetap membuat kak Annie putus dengan siluman itu.'
Alicia berencana mencari pria tampan untuk dikenalkan pada sang kakak.
"Mandilah," titah kak Annie hingga membuyarkan semua lamunan Alicia.
"Iya, Kak," balas Alicia patuh.
Barulah saat itu Annie pun keluar dari kamar sang adik.
Sebelum jam dua tepat, Alicia dan Prilly sudah tiba di kampus untuk mengikuti perkuliahan pertama mereka. Hari ini Alicia tampil cantik sekali, meskipun berdandan tomboy tapi kecantikannya sedikitpun tidak tertutup. Bahkan rambutnya yang diikat seperti ekor kuda membuatnya terlihat semakin cantik.
"Al, sepuluh menit lagi kelas dimulai. Ayo kita masuk," ajak Prilly. Sejak pertama datang mereka memang belum ke kelas. Alicia terus menarik tangan Prilly untuk berkeliling, entah apa yang sebenarnya Alicia cari. Prilly yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti sang sahabat. Dia tak begitu masalah karena mulutnya pun asik makan potato chips.
"Kita bolos saja Pril, hari ini aku ingin mencari pria tampan," balas Alicia lalu tersenyum lebar.
"Hah! Bolos? Cari pria tampan untuk apa? Jangan Al, hari ini pak Bryan dosennya," balas Prilly yang seketika menghentikan langkah dan cemas. Bagaimana mungkin mereka bolos dari kuliah dosen killer? sementara perkuliahan mereka baru saja dimulai.
Sementara Alicia sejak awal memang sebenarnya malas masuk. Sejak awal Alicia sudah berencana bolos dari matakuliah si Bryan. Sungguh, Alicia tak peduli dengan nilai kuliah. Lagipula ia akan tetap menjadi pewaris di perusahaan keluarganya.
Prilly juga bukan orang biasa, sama-sama nona muda dari keluarga kaya seperti dia. Jadi Alicia tak perlu mencemaskan apapun. Apalagi hanya seorang dosen galak seperti Bryan.
"Sudahlah, bolos saja. Kita masuk jam kedua," balas Alicia dengan entengnya.
Tepat saat itu ponselnya bergetar di dalam tas. Alicia ambil dan melihat ada pesan baru dari nomor asing. Alicia membukanya dan membaca pesan tersebut. Semakin ia baca semakin panas pula hatinya.
'Ini aku Bryan, jika aku datang dan kamu belum ada di kelas, aku akan kirim video semalam pada Tante Aluna.'
"Akh!" pekik Alicia dengan suara tertahan.
"Astaga! Ada apa sih Al? Kok tiba-tiba teriak begitu?" tanya Prilly ikut panik.
Alicia melihat jam di pergelangan tangannya, sekarang hanya tinggal tujuh menit sebelum jam dua tepat. Sementara sekarang mereka berada jauh dari kelas.
Alicia benci sekali dikendalikan seperti ini, benci harus berjuang untuk orang lain hanya untuk bertahan hidup.
Tapi pesan Bryan tersebut benar-benar tak bisa dia abaikan. Video semalam? Video apa? Alicia yakin betul mereka tak sampai sejauh itu. Alicia yakin betul keperawanannya belum hilang. Alicia tidak merasakan sakit apapun. Bahkan pakaiannya pun masih sempurna saat pertama kali bangun.
"Prilly," panggil Alicia dengan suara penuh penekan, kesal tapi tak bisa berbuat banyak.
"Ada apa Al?" tanya Prilly takut-takut, ia melihat wajah Alicia yang merah karena amarah. Prilly hapal betul bagaimana raut wajah Alicia jika sedang emosi.
"Ayo kita lari ke kelas, jangan sampai terlambat."
"Apa? katanya mau bolos?"
"Ayo lari!" ajak Alicia dan akhirnya menarik tangan Prilly untuk segera lagi.
Kelasnya kali ini ada di lantai 4 gedung kuliah 2, sementara sekarang mereka masih berada di bawah. Lift penuh dan satu-satunya jalan hanya bisa lewat tangga.
"Alicia aku capek," keluh Prilly.
"Sedikit lagi Pril, ayo cepat!"
"Haduh, mau pingsan."
dia harus masuk ke kandang harimau 🤣🤣🤣
kalo pak bry tau bisa mulai cemburu dalih disiplin?🤭🤭🤭