Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Hafalan yang Terganggu
Kalau di Darul Hikmah ada satu hal yang tidak boleh terganggu, itu hafalan.
Jam setoran itu sakral. Habis Subuh, habis Maghrib, semua santri harus setoran. Kalau tidak setoran, namanya dicatat di papan. Malu.
Muthi'ah selama ini tidak pernah bolong setoran. Hafalannya lancar, nadzamnya jelas, tajwidnya rapi.
Tapi seminggu terakhir, semuanya berubah.
Pagi itu, di aula putri, Muthi'ah duduk depan Ustazah Khadijah buat setoran nadzam Imrithi.
"Bismillah, Muthi'ah, mulai dari bait kemarin," kata Ustazah Khadijah.
Muthi'ah menarik napas, mulai.
"Wa ba'du fa'lam bi wujubil ma'rifah..."
Baru dua bait, berhenti. Lupa.
Ustazah Khadijah mengangkat alis, "Loh? Kemarin lancar. Coba ulangi."
Muthi'ah mengulang, "Wa ba'du fa'lam bi wujubil... wujubil..."
Buntu lagi. Tangannya meremas ujung jilbab. Keringat dingin.
Di belakang, Dina, Zahra, dan Salsa yang lagi menunggu giliran saling lihat.
Zahra berbisik, "Muthi'ah kenapa? Tumben."
Muthi'ah akhirnya menunduk, "Afwan, Ustazah. Boleh diulang besok? Saya... belum murajaah."
Ustazah Khadijah tidak marah, hanya heran. "Ya sudah, besok dilancarkan lagi ya."
Muthi'ah balik ke tempat duduk, mukanya merah. Malu bukan karena tidak hafal, tapi karena tahu kenapa dia tidak hafal.
Pikirannya bercabang.
Habis rapat Haflah kemarin dengan Jay, otaknya jadi berputar terus. "Tadi omongan gue benar nggak ya? Tadi Gus Jay mikir apa ya tentang ide gue?"
Padahal pas rapat kelihatan profesional, tapi habis rapat kepikiran terus. Sampai kebawa ke hafalan.
Di asrama putra, kejadian yang sama, tapi versi lebih parah.
Jay itu terkenal hafalan Alfiyah-nya kuat sekali. 1000 bait, lancar tanpa melihat kitab.
Malam itu, giliran Jay yang setoran mingguan ke Kiai Hasyim.
Kiai Hasyim duduk, "Jay, lanjutkan bait 300 sampai 320."
Jay mulai, suaranya tegas.
"Wa bil jarri wat tanwini wan nida wa al..."
Lancar sampai bait 310.
"Wal athfu in... wal athfu in..."
Berhenti.
Kiai Hasyim melihatnya lama, lalu berkata, "Wal athfu in apa, Jay?"
Jay diam. Bait yang sudah dia hafal dari umur 14 tahun itu tiba-tiba hilang.
"Lupa, Bi," kata Jay pelan.
Kiai Hasyim kaget. Ini pertama kalinya Jay lupa Alfiyah di depan Abinya. Beliau diam agak lama, menatap Jay, seolah mencari tahu ada apa.
"Jay, kamu kenapa? Capek?" tanya Kiai Hasyim akhirnya.
Jay menggeleng, "Nggak, Bi. Mungkin kurang murajaah."
Padahal bukan kurang murajaah. Tiap mau menghafal, yang terbayang malah rapat kemarin. Cara Muthi'ah bicara soal konsumsi. Cara Muthi'ah menunduk tapi idenya berani.
Habis setoran, Jay keluar, mukanya kusut. Di teras masjid, Heeseung sudah menunggu.
"Gimana? Lancar?" tanya Heeseung.
Jay duduk, "Nggak. Lupa. Bait 311 lupa."
Heeseung hampir menyembur kopinya, "Lu? Lupa Alfiyah? Serius?"
Jay diam.
Heeseung duduk di sebelahnya, nadanya berubah serius.
"Jay, jujur sama gue. Kepikiran Muthi'ah ya?"
Jay tidak langsung menjawab.
"...nggak tau, Hyung. Gue nggak mikir yang aneh-aneh. Cuma... habis rapat kemarin, gue jadi mikirin terus. Ide dia bagus. Terus kepikiran lagi, jadi nggak fokus," kata Jay jujur.
Heeseung mengangguk, "Kalau perasaan sudah mulai mengganggu ibadah, mengganggu hafalan, itu tandanya niat lu harus diluruskan lagi. Lu sekarang lagi di fase kagum. Kagum itu wajar. Tapi kalau kagumnya bikin lu lupa sama Allah, berarti ada yang salah sama cara lu kagum."
Jay mendengarkan, menunduk.
"Gue nggak bilang lu nggak boleh kagum sama Muthi'ah. Tapi harusnya, kalau lu kagum sama orang sholehah, ibadah lu makin kencang, bukan makin kendor," lanjut Heeseung.
Di kamar putri, Zahra bicara hal yang hampir sama.
"Muth, kamu kenapa sih? Kepikiran Gus Jay ya?" tanya Zahra langsung.
Muthi'ah kaget, "Hah? Enggak!"
"Alah, sudah, ngaku saja. Aku lihat kok. Semenjak rapat Haflah kemarin, kamu jadi sering melamun," kata Zahra.
Muthi'ah menunduk, "Iya, dikit. Soalnya... ternyata Gus Jay nggak seseram yang orang bilang. Dia mau dengerin ide aku. Terus jadi kepikiran terus. Sampai hafalan jadi berantakan. Aku dosa ya, Zah?"
Zahra mengelus punggung Muthi'ah, "Nggak dosa. Wajar. Namanya juga kagum. Tapi Muth, Allah dulu ya. Gus Jay belakangan. Kalau kamu niatnya benar, insyaAllah Allah yang atur hatinya, bukan kamu yang atur pakai overthinking."
Malam itu, dua orang di dua asrama yang beda, melakukan hal yang sama.
Muthi'ah menggelar sajadah lagi, sholat witir, lalu murajaah Imrithi pelan-pelan. Kali ini niatnya dibetulkan, "Ya Allah, lancarkan hafalan hamba biar bisa jadi santri yang benar."
Jay juga menggelar sajadah di kamar putra, murajaah Alfiyah dari awal lagi. "Ya Allah, lancarkan hafalan hamba biar bisa jadi ustadz yang benar."
Dan ajaibnya, bait yang tadi lupa, pelan-pelan kembali lagi.
Di kamar putri, suara Muthi'ah terdengar lagi, pelan tapi lancar.
"Wa ba'du fa'lam bi wujubil ma'rifah..."
Dina yang sudah mau tidur, terbangun, "Nah gitu dong, Muth. Balik lagi."
Mereka belum jadian. Belum saling suka yang bagaimana-bagaimana. Tapi malam itu, mereka sama-sama belajar satu hal yang paling penting di pesantren: kalau hati mulai ramai, balik lagi ke hafalan. Balik lagi ke Allah.