Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Ujian Dilema dan Pilihan Pahit
Dua hari kemudian, sebuah kasus kecelakaan lalu lintas tabrak lari masuk ke IKKJ. Jasad seorang pria tanpa identitas terbaring di meja pemulasaraan.
dr. Nisa sedang melakukan pemeriksaan luar seraya mencatat detail luka tumpul di area dada. Arya berdiri di sisinya, menyiapkan peralatan pembersih.
"Luka lecet di dada kanan ini polanya agak aneh, Arya," gumam dr. Nisa seraya mendekatkan kaca pembesar. "Seperti bekas kisi-kisi gril mobil, tapi bentuknya melengkung. Saya belum pernah lihat tipe gril seperti ini."
Arya menatap jasad pria itu. Tanpa sadar, jemari tangannya bergerak pelan mendekati lengan jenazah. Ia tahu, dengan satu sentuhan singkat, ia bisa langsung tahu merek mobil, plat nomor, hingga wajah pelaku tabrak lari tersebut.
Ia melirik dr. Nisa yang berdiri sangat dekat di sampingnya. Dokter muda itu menatapnya dengan penuh harap dan kepercayaan.
"Kalau aku menyentuhnya sekarang dan langsung menyebutkan jenis mobilnya... bagaimana aku menjelaskan darimana aku tahu?"
Jika ia pura-pura menebak, dr. Nisa yang kritis pasti akan makin mencurigai 'keajaiban' insting Arya. Jika ia jujur, ia menyeret dr. Nisa ke dalam bahaya. Namun jika ia diam saja, pelaku tabrak lari itu mungkin tidak akan pernah tertangkap.
Arya mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam sarung tangan lateks. Pilihan ini...
Dengan keputusan bulat yang menoreh hatinya sendiri, Arya menarik tangannya menjauh dari jasad tersebut. Ia memilih tidak menggunakan kemampuannya di depan dr. Nisa secara langsung.
"Maaf, Dok," kata Arya dengan suara datar dan kaku, suara yang sengaja ia buat dingin. "Saya cuma pemulasara jenazah, bukan detektif. Soal pola luka itu sepenuhnya wewenang Dokter Forensik dan Tim Olah TKP Kepolisian untuk menyimpulkannya secara ilmiah."
dr. Nisa tersentak. Perubahan sikap Arya yang mendadak dingin dan formal membuat dokter muda itu menatap Arya dengan dahi berkerut heran.
"Arya? Kenapa kamu mendadak bicara formal begitu?" tanya dr. Nisa pelan. "Biasanya kamu mau bantu memberikan pendapat..."
"Saya cuma tidak mau melangkahi wewenang medis Anda, Dokter Nisa," potong Arya kaku tanpa menatap matanya. "Tugas saya di sini hanya memandikan dan mengkafani. Permisi, saya mau ambil stok alkohol di gudang."
Arya berbalik cepat dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan dr. Nisa yang berdiri mematung dalam kebingungan dan kekecewaan yang tertahan.
Malam harinya, di parkiran belakang RSUD Bina Husada.
Hujan gerimis membungkus area parkir yang sepi. dr. Nisa berjalan menuju mobilnya seraya membawa tas kerja. Langkah kakinya terhenti saat melihat Arya berdiri di dekat tiang lampu parkiran, dan berlindung di bawah payung hitam.
dr. Nisa menghela napas, lalu melangkah menghampiri Arya.
"Kenapa kamu menghindari saya seharian ini, Arya?" tanya dr. Nisa langsung, suaranya terdengar terluka namun menuntut kejelasan. "Kalau saya ada salah kata atau sikap yang membuat kamu risih, tolong katakan."
Arya menatap dr. Nisa di bawah remang lampu jalan. Matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam, namun keyakinannya untuk melindungi keselamatan dokter itu jauh lebih besar daripada egonya sendiri.
"Dokter Nisa tidak salah apa-apa," jawab Arya tenang dan pelan. "Saya yang harus minta maaf."
"Lalu kenapa kamu memasang tembok tebal begini?"
"Dunia saya dan dunia Dokter Nisa itu berbeda," ujar Arya seraya menatap rintik hujan yang jatuh dari tepi payungnya. "Dokter adalah orang berpendidikan tinggi dengan masa depan yang cerah di dunia medis. Sedangkan saya... kehidupan saya dipenuhi oleh hal-hal kelam dan risiko yang tidak seharusnya Dokter ketahui."
"Risiko apa?!" tekan dr. Nisa seraya maju melangkah. "Saya dokter forensik, Arya! Saya menghadapi kematian dan mayat setiap hari! Jangan perlakukan saya seperti wanita rapuh yang harus dilindungi dari hal-hal kelam!"
"Ini bukan cuma soal mayat, Nisa!" nada suara Arya naik sedikit, hingga membuat panggilan nama itu meluncur alami tanpa gelar 'Dokter'.
dr. Nisa terdiam mendengar ketegasan dalam suara Arya.
Arya menatap mata dr. Nisa dalam-dalam. "Ada bahaya nyata yang selalu mengintai di sekitar orang-orang seperti saya dan Pak Farhan. Makin dekat seseorang dengan saya, makin besar risiko orang itu disakiti oleh hal-hal yang tidak bisa saya kontrol. Saya menghormati Anda... dan karena saya sangat menghargai keselamatan Anda, saya harus menjaga jarak."
Atmosfer di antara mereka membeku seketika. rintik hujan terasa kian dingin.
dr. Nisa menatap Arya cukup lama. Ia bukan wanita bodoh. Dari keheningan mata Arya dan nada bicaranya yang penuh beban perlindungan, dr. Nisa akhirnya mengerti. Arya tidak sedang menolaknya karena benci, melainkan sedang membangun 'dinding pelindung' demi keselamatan dirinya.
Air mata tipis menggenang di sudut mata dr. Nisa, namun ia menyunggingkan senyum tegar yang pahit.
"Jadi ini caramu melindungi orang-orang yang kamu pedulikan?" bisik dr. Nisa pelan. "Dengan mengisolasi dirimu sendiri dalam kesepian?"
"Ini jalan yang harus saya tempuh," jawab Arya mantap, meski dadanya terasa teriris.
dr. Nisa mengangguk perlahan. Ia merapikan jasnya, lalu melangkah menuju mobilnya. Sebelum membuka pintu mobil, ia menoleh kembali menatap Arya.
"Terima kasih sudah jujur soal batasan itu, Arya," kata dr. Nisa lembut. "Saya mungkin tidak akan bertanya lagi soal rahasiamu. Tapi ingat... dinding yang kamu bangun ini mungkin melindungi orang lain dari bahayamu, tapi jangan sampai dinding ini membunuh kemanusiaan di dalam dirimu sendiri."
dr. Nisa masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi menembus kegelapan malam yang berbintik hujan.
Arya berdiri sendirian di bawah temaram lampu parkiran. Ia menyaksikan lampu belakang mobil dr. Nisa menghilang di balik gerbang rumah sakit.
Iptu Farhan yang memantau dari dalam mobil polisinya di sudut parkiran perlahan menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela. Ia menatap Arya dengan tatapan prihatin sekaligus bangga, pemuda itu kini telah belajar membuat pengorbanan paling pahit yang harus ditanggung oleh seorang penjahit keadilan di balik bayangan.
Arya memutar tubuhnya, dan melangkah kembali menuju dinginnya koridor IKKJ. Langkah kakinya berat, namun matanya memancarkan keteguhan murni.
Ia telah memilih jalannya, menjadi pelindung tak terlihat, berdiri di batas antara hidup dan mati, demi menjaga kedamaian orang-orang yang ia cintai.
Bersambung...