Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekolah
Operasi militer kemarin yang dilakukan oleh Letnan Kolonel Laut Marinir Martinus Revelino Rehata dan kawan - kawan tidak mengakibatkan perang antar negara tetangga, karena Ino bersama empat tim lainnya berani untuk negosiasi. Ternyata mereka yang mau menduduki pulau terluar yang masih dalam kawasan laut Indonesia yang kaya akan hasil bumi, adalah perompak yang biasa bekerja di perairan laut atlantik.
Kondisi Ino sudah sangat membaik, dan dia sudah beraktivitas seperti biasanya di markas besar angkatan laut. Sedangkan istrinya Gracia Anastasya sedang hamil besar. Ino diberi kesempatan untuk sekolah staf dan komando (Sesko). Kali ini dia mendapat giliran berpendidikan di sesko TNI bersama angkatan yang lain. Setelah lulus sesko di kesatuannya. Letnan Kolonel Laut (Marinir) Martinus Revelino Rehata sudah menghitung kapan waktu yang tepat dia akan mengikuti sesko TNI, setelah di hitung - hitung dan mengikuti jadwal dari TNI, Ino bisa sekolah dengan tenang selama tujuh bulan di Bandung setelah istrinya Gracia Anastasya melahirkan anak kedua mereka. Dan dia masih punya waktu sebulan di rumah membantu istrinya merawat anak kedua mereka.
Hasil USG dengan alat terbaru Mamimnya bisa memperlihatkan bahwa kembali anak kedua Ino dan Cia adalah laki - laki. Sudah seratus persen akurat. Sama seperti mengandung Nuel, pada saat mengandung anak kedua Cia juga rajin berolah raga, sering di temani mamimnya. Dan keluarga juga Cia berharap di kehamilan ini, Cia melahirkan lancar dan tidak ada hambatan.
Nama anak laki - laki sudah disiapkan, setelah mengalami berbagai seleksi, akhirnya nama yang disiapkan Ino dan Cia bagi anak kedua mereka adalah Jeremias Chen Rehata. Nama Chen adalah nama leluhur maminya Ino yang berada di kampung halamannya di Serawak. Baby Chen lahir secara normal di rumah sakit milik keluarganya, di tolong oleh mamimnya sendiri.
"Dikasih nama Chen, mukanya China banget."
"Sama seperti opa kamu Ino."
Dan benar waktu foto masa kecil Ino di gendong opanya terlihat sangat bahwa baby Chen sama seperti nenek moyangnya. Cia tidak di rawat lama, dia kuat dan sehat. Akhirnya dokter Kandungan Martina Rehata memberi ijin ibu Gracia Rehata bisa pulang bersama Jeremias Chen Rehata. Aktivitas sebagai ibu menyusui kembali di rasakan oleh Cia, dia harus berjuang memompa ASI agar anak keduanya terpenuhi makannya. Bahkan dia menjaga pola makannya, makan yang sehat agar ASI yang dihasilkan dengan kualitas terbaik.
"Mas tinggalin sayang dengan anak - anak boleh ya."
"Iya, mas kan harus pendidikan agar karier mas bagus. Di rumah kan ada mami, papi dan mamimnya anak - anak."
"Setiap weekend mas pulang."
"Iya. Aku selalu menunggu mas."
Kembali lagi Ino dan Cia berpisah. Sebenarnya dia berat meninggalkan istri dan anak - anaknya. Namun dia sedikit lega, karena Cia ada bersama orangtua dan kakaknya.
Sudah dua bulan Ino mengikuti pendidikan ini berarti Chen sudah berumur tiga bulan. Setiap weekend Ino kembali ke rumah. Seperti biasa dia akan datang menyetor rindunya kepada kedua jagoannya dan lebih khusus istri tercinta. Selama tujuh bulan nanti dia harus menghabiskan waktu selama delapan ratus tujuh puluh tiga jam untuk belajar. Berarti sisi lima bulan lagi, Ino belajar.
"Mas, adek ijin mau ke China untuk urus usaha di Papua bulan depan."
"Bukannya usaha di Papua baik - baik saja."
"Iya. Adek ke sana mau mempromosi usaha adek yang di terima di sana adek sebagai pembicara bagi pengusaha muda disana." Ino melihat istrinya.
"Kamu sendiri kesana sayang."
"Papi yang nanti temani adek mas." Papi adalah panggilan Cia kepada adik kandung mamanya Cia.
"Anak - anak."
"Rencananya adek mau bawa salah satu dari mereka. Namun mami, papi dan mamim ngak ijini, mereka bersedia menjaga Nuel dan Chen mas." Ino tetap menatap istrinya.
"Mas sebenarnya ngak rela. Tetapi berapa lama adek disana."
"Hanya tiga hari dua malam."
"Kalau mas kangen, mau sentuh adek gimana."
"Hari sabtu adek sudah ada di rumah Jakarta. Mas akan puas menyentuh adek pas adek tiba."
"Benar?? (Cia mengangguk) kuat berapa ronde??"
"Sekuatnya mas."
"Nakal ya. Entar prakteknya nangis mas ....mas ... Sakit." Ino meniru suara istrinya saat mereka berhubungan badan suami istri. Suara itu yang membuat Ino semakin semangat untuk terus bereaksi di atas tubuh istrinya.
"Mas ijinkan. Tetapi malam ini, mas mau kita dua ronde, subuh satu ronde."
"Bukan itu jatah mas selalu. I am yours honey."
Malam ini Ino kenikmati setiap sentuhan dari Cia istrinya. Mereka bertempur bersama. Dan benar dua ronde dilakukan malam hari ini. Cia lemas dalam pelukan Ino setelah mereka bersama - sama mencapai puncak dari hubungan saat ini. Puncak kenikmatan.
"Terima kasih sayang. I love you." Ino mencium kening istrinya.
"Love you more mas."
Cia meninggalkan kedua anaknya demi usaha yang didirikan kedua orangtuanya almarhum.Dan dia bersyukur memiliki seorang Martinus Revelino Rehata dan keluarga besarnya yang pengertian.Di titik sukses usaha kedua orangtuanya, Gracia Anastasya, Sarjana Apoteker yang menikmati dan tampil dalam satu lokakarya pengusaha untuk memberi motivasi. Seperti saat ini dia di undang oleh investor disana. Ternyata Cia menjadi motivator bagi pengusaha muda di negara besar ini. Selama di China, handphone Cia tidak boleh di matikan. Karena setiap saat suaminya menghubungi. Juga Nuel anak mereka. Ini sudah perjanjian. Tak terasa, sudah tiga hari Cia di kota Beijing dan saatnya kembali ke Jakarta.
Tibanya Cia, bersamaan dengan adanya Ino di rumah Jakarta. Bahkan Cia disambut hangat oleh Ino dan kedua anaknya di bandara. Cia memeluk dan mencium ketiga jagoannya yang pengertian. Cia menangis. Kejadian ini disaksikan oleh papinya Cia, orangtua Ino dan kakaknya Ino.
"Maafkan mami sayang."
"Its oke mami. Nuel ngak nakal. Kan opa, oma?"
"Iya sayang." Ino tersenyum. Cia pulang dengan membawa stok Asi yang dia pompa selama di China. Sampai di rumah langsung di atur kedalam kulkas. Ternyata stok ASI buat Chen sudah menipis atau berkurang.
"Mas kangen sayang, bisa ngak peluk mas lama." Cia tersenyum. Dia langsung mencium bibir suaminya, ciuman ini sangat lama dan Cia memeluk Ino sangat mesra.
"Bisa dong. Adek kangen."
Aksi hubungan intim suami istri pun terjadi. Cia sudah meminum pil anti hamil. Karena pil ini yang cocok bagi tubuhnya. Anak - anak bersama opa, oma dan mamimnya.