Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 15
"Lalu berapa yang kamu mau?" teriak Sandra.
Yuri menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis. Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Sandra yang masih tersungkur di lantai semen outdoor. Tatapan matanya begitu mengintimidasi, seolah sedang melihat mangsa yang secara sukarela masuk ke dalam jebakannya sendiri.
"Satu miliar," ucap Yuri tegas, suaranya tenang namun bergema begitu jelas.
Sandra tersentak, matanya membelalak lebar seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mendengarnya.
"Satu... satu miliar?! Kamu gila, Yurinika! Kamu pikir kamu siapa sampai berani minta uang sebanyak itu?!"
"Kenapa? Kaget?" cibir Yuri seraya bersedekah tangan di dada.
"Bukannya kamu anak pejabat kaya? Bukannya kamu sesumbar bilang harga diri aku bisa kamu bayar? Suami yang kamu agung-agungkan itu sudah tiga tahun menguras tenaga, pikiran, dan uang aku demi keluarganya. Satu miliar itu bahkan terlalu murah buat membayar penderitaan aku dan menebus 'kebebasan' kamu dari rasa bersalah jadi pelakor!"
"Nggak sudi aku bayar kamu satu miliar!" jerit Sandra histeris seraya berjuang bangkit berdiri meski tumit high heels-nya agak patah.
"Aku bisa dapetin Mas Abi tanpa harus bayar sepeser pun ke kamu!"
"Oh, ya?" Yuri terkekeh renyah. Ia merogoh saku celananya, menarik ponsel pintarnya, lalu menggeser layar dan menunjukkannya tepat di depan wajah Sandra yang sembab.
Di layar ponsel Yuri, terpampang dua buah berkas video berdurasi panjang dengan resolusi jernih.
"Lihat ini baik-baik, Sandra," bisik Yuri dengan intonasi tajam dan mengancam.
"Ini rekam medis dan rekaman CCTV saat kamu datang melabrak aku minggu lalu. Dan yang kedua... adalah rekaman CCTV kedai hari ini, lengkap dengan adegan kamu berteriak nuduh istri sah sebagai pelakor, ngancam pakai nama Papa kamu, sampai tawaran uang yang baru aja keluar dari mulut manis kamu."
Wajah Sandra yang semula memerah mendadak pucat pasi. Bibirnya yang berbalut gincu merah gemetar hebat.
"Ka... kamu... kamu ngerekam semuanya?!"
"Tentu saja, maaf ya aku bukan wanita bo-doh loh...," balas Yuri dengan senyum miring yang begitu puas.
"Pilihan kamu cuma dua, Sandra. Pertama, kamu transfer satu miliar itu sebagai uang 'ganti rugi' dan biaya perceraian aku dengan Abimana secara diam-diam. Atau kedua..." Yuri menatap kearah puluhan pengunjung yang masih merekam dengan ponsel dari balik kaca kedai.
"...dua video ini, ditambah video rekaman pengunjung hari ini, bakal memenuhi FYP TikTok dan Instagram detik ini juga."
"Yurinika, kamu... kamu bener-bener pemeras!" jerit Sandra menunjuk Yuri dengan jari gemetar.
"Kalau Papa tahu hal ini, karier Papa bisa hancur! Nama keluarga aku bisa cemar! Dan papa juga bisa di pecat!"
"Makanya, pikirkan baik-baik sebelum bertindak liar di tempat umum," potong Yuri dingin tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Kringgg... Kringgg... Kringgg...
Ponsel di genggaman Yuri mendadak bergetar kencang. Nama "Mas Abimana" terpampang jelas di layar yang menyala terang.
Yuri melirik layar ponselnya sejenak, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap Sandra. Senyum cemoohan di bibir Yuri makin melebar. Ia sengaja menggeser tombol hijau, lalu menekan tombol speakerphone dengan suara lantang agar terdengar jelas oleh Sandra.
"Halo, Mas?" sapa Yuri dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan penurut.
Dari seberang telepon, suara Abimana terdengar sangat panic, terengah-engah, dan penuh permohonan.
'Dek, nanti pulag kerja Mas jemput ya...' seru Abimana dari balik telepon, suaranya terdengar begitu jelas di area outdoor yang hening.
"Tumben Mas? Ada apa?"
'Memangnya Mas nggak boleh jemput istri Mas tersayang. Udah ya ngambeknya sayang, kamu tahu kan kalau Mas sangat mencintai kamu. Kamu yang selalu ada bersama Mas dalam keadaan apapun. Tolong maafkan kesalahan Mas kemaren ya... Kita makan malam di luar, mau kan Dek?'
Sandra berdiri membeku di atas lantai semen, matanya melotot tajam menatap layar ponsel Yuri yang masih memancarkan speaker aktif. Suara Abimana, pria yang baru saja tadi malam bersimpuh menangis dan berjanji hanya mencintai Yuri, kini mengumandangkan kata-kata cinta yang sama persis, penuh kemunafikan, tepat di telinga selingkuhannya.
Wajah Sandra yang tadinya pucat pasi karena ancaman video kini berubah merah padam menahan rasa murka, jijik, dan terhina yang luar biasa.
Yuri menyunggingkan senyum kemenangan, lalu sengaja mendekatkan mikrofon ponselnya agar Sandra bisa mendengar kelanjutan percakapan tersebut.
"Makan malam di luar?" jawab Yuri dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja melirik ke arah Sandra yang sudah mengepalkan tangan hingga kukunya menancap di telapak tangan.
"Boleh banget, Mas. Tapi tumben banget ngajak romantis? Lagi ada rezeki nomplok ya?"
Di seberang sana, suara Abimana terdengar sedikit tertawa gugup, mencoba merayu.
'Hehe... ya kan sesekali manjain istri sendiri, Dek. Udah ya, jangan dibahas lagi masalah kemarin. Pokoknya jam lima nanti Mas jemput di depan kedai. Love you, Dek!'
Tut.
Sambungan telepon terputus. Yuri langsung mematikan layar ponselnya dan menyelipkannya kembali ke saku celana, lalu menatap Sandra yang kini napasnya memburu seperti banteng ngamuk.
"Wah..." cibir Yuri dengan nada mengejek.
"Dengar sendiri kan? Katanya dia sangat mencintai aku, dan aku adalah satu-satunya wanita yang ada di sisinya dalam keadaan apa pun. Terus kamu ini dianggap apa sama dia, Sandra? Mainan selingan di kala bosan?"
"Cukup, Yurinika! Tutup mulut sialan kamu!" teriak Sandra histeris, air mata kemarahannya akhirnya tumpah membasahi pipi.
"Laki-laki pengecut itu... beraninya dia..."
"Laki-laki pengecut itu adalah pilihan kamu sendiri," potong Yuri dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh isak tangis Sandra.
"Kamu mau rebut mangsa busuk itu? Silakan ambil sepuasnya! Tapi ingat syaratnya, transfer satu miliar ke rekening aku atau video kehancuran keluarga kamu tersebar luas."
Sandra menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Harga dirinya hancur berkeping-keping. Di satu sisi, ia sangat ingin mencabik-cabik wajah Yuri saat ini juga. Namun di sisi lain, ancaman video tersebut adalah bom nuklir yang bisa menghancurkan karier sang ayah dan martabat keluarganya dalam semalam.
"Oke..." bisik Sandra dengan suara bergetar penuh dendam kesumat.
"Aku bakal transfer uang itu... tapi awas kamu, Yurinika! Jangan harap kamu bisa hidup tenang setelah meras uang aku! Aku bakal buat hidup kamu menderita dengan cara aku sendiri!"
"Ancaman yang klasik," balas Yuri tenang, melipat tangan di dada.
"Silakan urus transferannya, Tntae Pelakor..."
Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Sandra berbalik dengan kasar, menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu melangkah terseok-seok menuju mobilnya akibat tumit sepatunya yang patah. Ia masuk ke dalam mobil, membanting pintu dengan keras, dan langsung menancap gas meninggalkan area kedai dengan kepulan debu tipis.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏