NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Tak Sendirian

Malam itu aku terbangun bukan karena suara yang keras, melainkan karena perasaan aneh — seolah ada yang mengawasi dari sudut kamarku. Langit di luar gelap pekat, bulan tertutup awan tebal. Aku duduk perlahan di tepi tempat tidur, memeluk diriku sendiri. Ruangan ini terasa akrab, tapi malam ini rasanya berbeda. Seperti udara yang tiba-tiba berubah dingin, meski jendela sudah kututup rapat sejak sore.

"Orion?" panggilku pelan, berharap dia ada di dekat sini.

Tidak ada jawaban langsung. Tapi dari balik tirai jendela, kabut tipis perlahan bergerak masuk, dan dia muncul — namun kali ini dia tidak tampak tenang. Wajahnya serius, matanya meneliti setiap sudut ruangan, seolah sedang memeriksa jejak yang tak kulihat mataku.

"Ada yang salah?" tanyaku, jantungku mulai berdebar kencang.

Dia menoleh padaku, lalu mendekat perlahan. "Kau tidak bermimpi aneh semalam? Atau merasa seperti ada yang menyentuh bahumu saat kau sendirian?"

Aku tertegun, mencoba mengingat-ingat. "Sebenarnya... iya. Kemarin siang saat aku tertidur sebentar di meja belajar, aku merasa ada yang menyisir rambutku. Aku pikir itu hanya angin dari kipas yang memutar pelan. Kenapa? Itu bukan angin, kan?"

Orion menghela napas panjang, lalu duduk di sampingku, tangannya mencengkeram ujung selimut seolah menahan sesuatu yang berat. "Bukan angin, Aruna. Dan bukan aku juga. Ada yang datang ke sini. Seseorang... atau sesuatu yang tahu cara masuk tanpa terdeteksi sepenuhnya olehku."

"Tapi pintu dan jendelaku terkunci rapat," kataku, rasa takut mulai merayap perlahan di punggungku.

"Mereka tidak butuh pintu," jawabnya pelan, matanya menerawang ke arah dinding seolah bisa menembusnya. "Mereka bisa menyelinap lewat celah bayangan, saat kau tidak sadar, saat pikiranmu sedang rileks. Mereka hanya mengamati untuk saat ini. Tapi kalau mereka berani masuk ke dalam rumahmu..." Dia berhenti, lalu menatapku tajam namun lembut. "Itu artinya mereka sudah tahu seberapa dalam ikatan kita. Dan mereka tidak mau menunggu lagi."

"Mereka siapa sebenarnya? Orang yang kau takutkan itu?"

Dia mengangguk, lalu berdiri dan melangkah ke arah jendela, menatap ke luar lewat celah tirai.

"Ada kelompok yang disebut Penjaga Keseimbangan. Dulu mereka bertugas memastikan tidak ada yang melanggar batas antar dua dunia. Tapi lama-kelamaan tugas itu berubah menjadi aturan yang kejam — siapa pun yang berani menyeberang, siapa pun yang berhubungan lintas dunia, harus dihilangkan. Mereka percaya kalau dua dunia bersentuhan, keduanya akan hancur. Padahal..." Dia berbalik menatapku, senyum tipis menyungging di bibirnya, "...kita adalah bukti bahwa itu tidak benar."

"Jadi mereka seperti polisi yang salah paham?" tanyaku berusaha mencerna.

Orion tertawa kecil, tapi tawanya terdengar getir. "Kau bisa bilang begitu. Tapi mereka bukan sekadar penegak aturan, Aruna. Mereka memiliki kekuatan yang cukup besar, dan mereka menikmati kekuatan itu. Kalau kebohongan tentang permusuhan dua dunia terbongkar, kekuasaan mereka akan runtuh. Jadi mereka akan melakukan apa saja untuk memastikan rahasia itu tetap terkubur — termasuk menyingkirkan kita berdua."

Aku berdiri, melangkah mendekat ke arahnya. "Lalu apa rencana kita? Menunggu mereka datang begitu saja?"

Dia menggeleng, lalu menggenggam kedua tanganku. "Tentu saja tidak. Tapi kita juga tidak bisa bertindak gegabah. Kalau kita salah langkah, kita akan memberi mereka alasan untuk menyerang lebih dulu. Kita butuh bukti yang lebih kuat dari sekadar cerita leluhur kita. Kita butuh orang lain yang juga mendengarkan dan percaya."

"Maksudmu... kita harus memberi tahu orang lain?"

"Dinda misalnya. Dia orang yang bisa kau percaya seumur hidup, bukan?"

Aku terdiam sejenak. Memikirkan wajah Dinda yang selalu cemas padaku, yang selalu menyuruhku berhati-hati. "Dia mungkin takut, Orion. Bagaimana kalau dia menganggap kita gila?"

"Biarkan dia takut dulu," katanya lembut namun tegas. "Lebih baik dia takut dan waspada daripada dia tidak tahu apa-apa dan menjadi sasaran mereka. Mereka tidak akan ragu menggunakan orang yang kau sayangi untuk mendesakmu menyerah. Aku tidak mau itu terjadi pada Dinda."

Kata-katanya membuatku tersentak. Aku tidak pernah memikirkan sisi itu. Selama ini aku hanya berpikir tentang bahaya yang mengancamku dan Orion. Tapi Dinda? Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dia hanya gadis biasa yang menjalani hari-harinya dengan tenang.

"Baiklah," kataku mantap. "Besok aku ajak Dinda ke tempat kita bertemu. Aku akan bercerita semuanya padanya."

Orion tersenyum lega, lalu menyentuh pipiku dengan lembut. "Bagus. Semakin banyak orang yang tahu kebenaran, semakin sulit bagi mereka untuk menutupinya. Ingat, kita tidak sendirian dalam hal ini. Kita hanya perlu berani bicara."

Tapi saat dia menarik tangannya, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. Di pergelangan tangannya, ada jejak hitam tipis yang melilit seperti akar tanaman, perlahan menghilang di balik lengan jubahnya. Seolah dia merasa aku melihatnya, dia langsung menurunkan tangannya dan menyembunyikannya di belakang punggung.

"Orion..." panggilku pelan, mataku tak lepas dari lengan itu. "Apa yang ada di tanganmu?"

Dia terdiam, lalu memalingkan wajah seolah takut melihat reaksiku. "Tidak ada. Hanya luka lama yang belum sembuh sepenuhnya."

"Luka lama yang tiba-tiba muncul kembali?" aku melangkah selangkah lebih dekat, suaraku sedikit bergetar. "Itu karena kemarin seseorang mengintai kita, bukan? Mereka melakukan sesuatu padamu?"

Dia menghela napas berat, lalu perlahan menarik balik lengan jubahnya. Jejak hitam itu terlihat jelas, melilit dari pergelangan hingga ke siku, terasa dingin saat kujamah dengan ujung jariku.

"Ini bukan luka yang menyakitiku secara fisik, Aruna. Setidaknya tidak terlalu. Ini lebih seperti... penanda. Sekali mereka menyentuhmu dengan sihir bayangan, mereka bisa merasakan di mana kau berada. Semakin lama berlalu, semakin kuat tarikan mereka padamu. Mereka tahu di mana aku berdiri saat ini. Mereka tahu di mana aku berada besok pagi."

"Mereka melacakmu..." bisikku, air mata mulai menggenang di mataku. "Dan kau menyembunyikannya dariku?"

"Aku tidak ingin kau khawatir sebelum waktunya," katanya lembut, jemarinya menyeka air mata yang jatuh di pipiku. "Aku bisa menahannya untuk sementara waktu. Asal kita berhati-hati, asal kita tidak membiarkan mereka mendekat terlalu cepat..."

"Berapa lama?" potongku, menatapnya lekat-lekat. "Berapa lama sebelum penanda ini membawa mereka tepat ke pintu rumahku?"

Dia terdiam lama sekali, matanya berkedip pelan seolah menyusun kata-kata yang tidak ingin terucap.

"Mungkin beberapa hari. Seminggu paling lama. Setelah itu, mereka akan tahu persis di mana kita berada, kapan kita bertemu, dan siapa saja yang ada di dekat kita."

"Berarti kita punya waktu sangat sedikit," kataku, rasa panik mulai menjalar, tapi aku menahannya. Panik tidak akan membantu siapa pun. Aku harus tenang. "Kalau begitu kita harus bergerak lebih cepat. Besok pagi aku cari Dinda. Sore kita kumpul di tempat biasa. Kita susun rencana bersama."

Dia tersenyum bangga melihatku tetap tegar, meski aku tahu dia juga sama cemasnya. "Kau luar biasa, kau tahu itu? Di saat kebanyakan orang akan lari bersembunyi, kau justru menyusun rencana."

"Aku belajar dari seseorang yang menanggung kesepian ribuan tahun tanpa pernah menyerah," jawabku pelan, lalu merangkulnya erat. Dia terkejut sejenak, lalu membalas pelukanku dengan lembut dan hangat.

Saat dia melepaskan pelukannya perlahan, dia menatapku dalam-dalam. "Satu hal lagi, Aruna. Kalau sesuatu terjadi dan aku tidak bisa datang kepadamu... jangan cari aku sendiri. Tunggu di tempat aman. Aku akan menemukanmu. Selalu. Tapi jangan mencoba menyeberang sendirian ke wilayah mereka. Itu jebakan yang paling mereka inginkan."

"Aku janji," kataku, meski hatiku terasa berat mengucapkannya. "Tapi kau juga janji, kan? Kalau kau terluka atau terjebak, kau akan membiarkan aku tahu. Kau tidak akan menghadapi mereka sendirian hanya untuk melindungiku."

Dia ragu sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku janji. Sebisa mungkin."

"Bukan sebisa mungkin," tegasku sambil memegang kedua bahunya. "Harus. Kita tim, ingat? Dua cahaya yang tak saling menelan. Kalau satu jatuh, yang lain menopang. Bukan menggendong sendirian."

Dia tertawa pelan, suara yang terdengar begitu menenangkan di tengah malam yang mencekam ini. "Baik, baik. Aku janji. Kita hadapi semuanya bersama. Sekarang istirahatlah. Aku akan berdiri di luar jendela sampai kau tertidur. Tidak ada yang akan berani masuk selama aku di sini."

Aku berbaring kembali di tempat tidur, menarik selimut hingga ke dada, sementara dia berdiri di dekat jendela, siluetnya tampak tenang namun waspada. Sebelum aku memejamkan mata, aku melihat sesuatu di luar — sepasang mata berkilau samar di antara semak-semak, lalu lenyap seketika saat Orion sedikit mengubah posisinya.

Jantungku berdebar kencang, tapi aku memejamkan mata, mencoba meyakinkan diriku bahwa kita punya rencana. Bahwa kita tidak sendirian.

Tapi di kejauhan, saat aku hampir terlelap, aku mendengar suara bisikan yang terbawa angin — terlalu pelan untuk dipastikan, tapi cukup jelas untuk membuatku menggigil:

"Cahayamu indah sekali... sayang sekali akan padam begitu cepat."

Lalu hening kembali. Hanya suara napasku sendiri yang terdengar di ruangan itu. Dan di luar sana, Orion berdiri tegak, menghadap kegelapan yang semakin pekat, menyembunyikan penanda hitam di pergelangan tangannya yang perlahan... semakin menyebar.

 

😊🖤

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!