Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Tidak Dapat Klub Yang Diinginkan
Satu minggu telah berlalu sejak Danu, Rio, dan Zahra mengajukan proposal pendirian klub mereka. Namun, kenyataan tak sesuai harapan—tak ada satu pun pihak sekolah yang menyetujui proposal tersebut.
Alih-alih patah semangat, rasa penasaran justru menghinggapi mereka bertiga. Siapa sebenarnya murid yang berhasil memenangkan persetujuan dan mendapatkan izin mendirikan klub? Didorong oleh rasa ingin tahu, mereka melangkah menuju area podium lapangan sekolah, bergabung dengan kerumunan siswa lain.
Di atas podium, berdiri dua sosok yang tak asing lagi: Raka dan Dimas.
"Halo, teman-teman... emm, ngomong apa ya?" gumam Raka kebingungan. Tampak canggung, ia menyikut lengan Dimas di sampingnya. "Lu aja, Mas."
"Lu aja lah, Rak!" bisik Dimas menolak cepat.
"Adduh... yaudah, gua aja," desah Raka pasrah. Ia berdehem sejenak, mencoba menguasai mikrofon di depannya. "Hmm, pokoknya terima kasih kepada Pak Guru dan teman-teman yang telah memberi saya sebuah klub yang bebas untuk para siswa-siswi berkreasi. Semoga dengan klub ini bisa membawa manfaat untuk kita semua, terima kasih!"
Raka membungkukkan badan memberi penghormatan, dan Dimas yang berdiri di sebelahnya refleks ikut membungkuk stiff.
Saat melangkah turun dari podium, Dimas berbisik kagum, "Widih, bisa juga ya lu ternyata."
"Makanya, Mas... pinter, jangan tidur mulu!" balas Raka menyeringai.
"Apalah..." gumam Dimas malas.
Keduanya berjalan meninggalkan podium, disusul pembubaran barisan saat para siswa mulai bergerak masuk ke kelas masing-masing.
Di sudut lapangan, Danu yang memperhatikan tingkah polos dan konyol dua murid di atas podium tadi tak sanggup menahan senyum. Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Hahah..."
Tawa kecil itu mendadak terhenti saat Danu menyadari Rio dan Zahra sedang menoleh serentak menatapnya. Danu panik dan buru-buru menunduk canggung.
"Ehh, maaf... alay ya?" cicit Danu merasa bersalah.
Rio mengerutkan dahi lalu tersenyum tipis. "Hah? Gak, siapa yang alay? Gue cuma merasa lu jadi lebih bebas aja dari kemarin."
"Iyakah?" mata Danu berbinar ragu.
"Iya, bener kata Rio," sahut Zahra menimpali dengan hangat. "Jadi kalau ada yang omongin kamu di belakang, minta tolong sama kami saja. Kita kan teman."
"Teman..." ulang Danu pelan. Dada rasanya menghangat mendengar kata itu. "Terima kasih..."
Tanpa ragu lagi, Danu merangkul kedua sahabat barunya itu sebentar sebelum mereka bertiga mulai melangkah santai menuju kantin.
Di tengah perjalanan, Danu menoleh ke arah Rio. "Hmm, ngomong-ngomong kamu kecewa gak, Rio... kalau gak dapatin klubnya?"
Rio mengibaskan tangannya santai. "Gak, gapapa. Cuma seru-seruan aja."
"Ohh..." gumam Danu mengangguk paham.
Sesampainya di kantin, Danu, Rio, dan Zahra memilih meja kosong. Mereka menikmati makanan masing-masing sambil diselingi obrolan ringan yang makin mencairkan suasana.
Tak terasa bel berganti pelajaran berbunyi. Mereka bertiga kembali ke kelas untuk mengambil pakaian olahraga dari dalam tas, lalu bergegas menuju ruang ganti sebelum berkumpul di area lapangan terbuka.
"Halo para murid sekalian!" panggil pak guru olahraga dengan suara lantang. "Hari ini Bapak akan mengajari kalian teknik dribble bola basket. Tapi sebelum itu, kalian pemanasan dulu, ya!"
"Baik, Pak!" sahut seluruh murid kelas 10D serempak.
"Oh iya, tentukan dulu siapa yang mau memimpin pemanasan di depan?"
"Saya aja, Pak!" seru Rio penuh semangat sambil mengangkat tangannya.
"Oke, kamu saja!"
Rio maju ke depan barisan dengan penuh percaya diri. "Ayo teman-teman, jangan lemah! Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan!"
Seusai pemanasan, pak guru mulai memanggil nama murid satu per satu untuk melakukan tes dribble. Ketika nama Danu dipanggil, ia maju mengambil bola basket dari tangan pak guru. Pada percobaan pertama, bola sempat melambung terlalu tinggi dan lepas dari kontrolnya. Namun, begitu Danu mengingat trik yang diajarkan, pantulan bolanya mulai stabil dan ia berhasil menuntaskan tes dengan baik.
Kringgg! Bel tanda istirahat akhirnya bergema.
"Wah, ayo masukin ke keranjang, Danu!" ajak Rio yang masih bersemangat memegang bola.
"Ehh, emang boleh?" tanya Danu ragu.
"Boleh, kan udah istirahat nih!"
"Oke..."
Rio langsung melangkah cepat, melempar bola sambil meloncat tinggi—swish! Bola basket meluncur mulus masuk ke dalam ring.
"Widih, kamu hebat, Rio!" puji Danu terkagum-kagum.
"Iya dong!" Rio menepuk dadanya bangga.
"Ho ho, gitu doang bangga?" cetus sebuah suara menimpali. Zahra berjalan mendekat sambil menyilangkan tangan di dada.
Rio menaikkan alisnya, menantang balik. "Widih... nantang nih jadinya?"
"Iya! Nih, lihat!"
Zahra menyambar bola, melakukan dribble cepat melewati Rio, lalu melepaskan tembakan presisi yang mencetak dua poin!
"Hmm, boleh juga..." gumam Rio pura-pura takjub. "Tapi sekarang giliran lu, Danu!"
"Ehh, aku?" Danu menunjuk dirinya sendiri, terkejut.
"Iya, coba! Daripada diam mulu," dorong Rio menyodorkan bola.
"Oke..."
Danu mencoba memantulkan bola dan mengambil posisi menembak. Sayangnya, tak ada satu pun lemparannya yang berhasil menyentuh jaring. Bola hanya memantul di papan atau meleset ke samping.
Danu menghela napas, menunduk canggung. "Duh, maaf ya, Rio..."
"Ya... gapapa! Nanti bisa dicoba lagi. Ini kan cuma permainan buat bersenang-senang aja!" hibur Rio santai.
"Ohh..." Danu mengangguk pelan. Ia terdiam sejenak, memperhatikan wajah Rio sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, "Rio..."
"Ya?"
"Aku masih bingung... kenapa kamu deketin aku waktu itu?"
Rio terkekeh kecil. "Hahaha, gue gak pandang fisik. Dan... jangan pakai 'aku-kamu' lah, gue gak nyaman."
"Ouhh... ok," sahut Danu. Ia membetulkan kata-katanya. "Ak—, gue usahain."
"Nah, gitu! Jangan formal-formal, gue gak suka," senyum Rio terkembang.
"Kenapa gak suka?"
"Hmmm... gapapa, nanti gue kasih tahu," jawab Rio. Ada kilat rasa sedih yang melintas sekilas di matanya, namun dengan cepat disapu oleh senyuman hangat agar tak ada yang menyadari beban masa lalunya. "Nah... lebih baik kita ke kelas yuk!"
Danu mengangguk, memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia bisa merasakan ada dinding tipis yang sengaja dipasang Rio, tetapi senyum yang ditunjukkan sahabat barunya itu terasa tulus.
Mereka bertiga berjalan berdampingan meninggalkan area lapangan yang mulai sepi, melangkah menuju ruang ganti untuk kembali mengenakan seragam putih-abu-abu.
"Ngomong-ngomong, habis ini pelajaran Pak Taryo, kan?" tanya Zahra sambil merapikan tali sepatunya di lorong.
Rio langsung menepuk jidatnya pelan. "Aduh, iya! Mana tugas merangkum kemarin gue belum selesai lagi."
"Lagian, malamnya malah asyik mabar," sindir Zahra tipis sambil tersenyum mengejek.
Danu hanya bisa terkekeh pelan melihat interaksi kedua temannya. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibanding minggu lalu. Meskipun proposal klub yang mereka impikan ditolak bulat-bulat oleh sekolah, dan meskipun ia belum mahir memasukkan bola ke dalam ring basket, Danu tahu ada satu hal besar yang berhasil ia dapatkan hari ini.
Ia tidak lagi berjalan sendirian di koridor sekolah ini.
"Danu, melamun aja! Ayo cepat, keburu Pak Taryo masuk kelas!" panggil Rio dari depan sambil melambaikan tangan.
"Iya, tungguin!" sahut Danu setengah berlari menyusul langkah Rio dan Zahra.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Danu merasa bersyukur datang ke sekolah.