NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — PERTEMUAN DENGAN PENGKHIANAT

Lorong di belakang aula terasa jauh lebih sunyi dibandingkan ruangan utama yang dipenuhi peserta dan pengunjung. Suara pembawa acara hanya terdengar samar dari kejauhan, bercampur dengan langkah kaki para panitia yang berlalu-lalang membawa dokumen.

Arga Pratama berjalan dengan langkah tenang, meskipun pikirannya sedang berperang melawan kenangan yang telah lama ia kubur.

Adrian Voss.

Nama itu masih memiliki pengaruh besar dalam hidupnya, bahkan setelah lima tahun berlalu.

Dahulu, Adrian bukan sekadar atasan. Ia adalah orang yang memberikan Arga kesempatan untuk bergabung dalam proyek pengembangan mesin generasi baru. Adrian pula yang memperkenalkannya kepada para insinyur ternama dan meyakinkan banyak pihak bahwa Arga adalah salah satu mekanik muda paling berbakat di dunia otomotif.

Namun, semua itu berubah pada malam ketika proyek tersebut mengalami kegagalan besar.

Arga masih mengingat bagaimana dirinya dituduh membocorkan rancangan rahasia perusahaan. Bukti-bukti bermunculan secara tiba-tiba, laporan teknis diubah, dan orang-orang yang dahulu memujinya mulai menyebutnya pengkhianat.

Ia kehilangan pekerjaan, reputasi, dan kesempatan untuk melanjutkan kariernya.

Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan semua itu, melainkan kenyataan bahwa orang yang berdiri di balik kehancurannya adalah seseorang yang selama ini ia percaya.

Arga berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat tua.

Pada papan kecil di samping pintu tertulis:

RUANG RAPAT KHUSUS.

Petugas yang mengantarnya mengetuk pintu dua kali.

"Pak Adrian, peserta yang Anda tunggu sudah datang."

"Silakan masuk," terdengar suara dari dalam.

Petugas membuka pintu, lalu mempersilakan Arga masuk sebelum pergi meninggalkan mereka.

Ruangan itu cukup luas. Sebuah meja panjang berada di tengah, dikelilingi kursi kulit hitam. Di dinding tergantung foto beberapa kendaraan balap dan penghargaan internasional. Jendela besar di sisi ruangan memperlihatkan sebagian area parkir gedung.

Adrian berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan di belakang punggung.

Ia mengenakan jas hitam yang rapi, jam tangan mewah, dan sepatu kulit mengilap. Penampilannya jauh berbeda dari Arga yang hanya mengenakan kemeja hitam sederhana.

Namun, bagi Arga, semua itu tidak berarti apa-apa.

"Sudah lama sekali, Arga," kata Adrian tanpa berbalik.

Arga menutup pintu.

"Lima tahun, tepatnya."

Adrian akhirnya berbalik. Ia mengamati wajah Arga sejenak, kemudian tersenyum tipis.

"Aku mendengar banyak hal tentangmu. Katanya kamu bekerja di bengkel kecil bernama Agung Joyo Motor."

"Informasi yang kamu dengar benar."

"Seorang mantan insinyur proyek internasional sekarang memperbaiki kendaraan milik pelanggan biasa." Adrian menggeleng pelan. "Kehidupan memang bisa berubah dengan cepat."

Arga tidak menjawab.

Ia tahu Adrian sedang berusaha memancing emosinya. Dulu, ia mungkin akan langsung membalas perkataan itu. Namun, lima tahun hidup sederhana telah mengajarkannya bahwa tidak semua ucapan layak mendapatkan tanggapan.

Adrian berjalan menuju meja, lalu duduk.

"Duduklah. Kita perlu berbicara."

"Aku lebih suka berdiri."

Senyum Adrian menghilang sesaat, tetapi ia segera menyembunyikan reaksinya.

"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu."

Ia membuka sebuah map yang terletak di atas meja. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan foto lama.

"Jujur saja, aku tidak menyangka kamu masih tertarik pada dunia otomotif profesional. Setelah kejadian dahulu, kupikir kamu akan menjauh selamanya."

"Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."

"Kalau begitu, kita sama-sama terkejut."

Arga menatap map itu.

"Apa tujuanmu memanggilku?"

Adrian menyandarkan punggung ke kursi.

"Aku hanya ingin mengetahui alasanmu kembali. Apakah kamu benar-benar ingin berkompetisi, atau kamu sedang berusaha mencari sesuatu?"

Arga menatapnya lurus-lurus.

"Kenapa kamu berpikir aku sedang mencari sesuatu?"

"Karena aku mengenalmu. Kamu bukan tipe orang yang mengambil keputusan tanpa alasan."

Arga hampir tertawa mendengar kalimat itu. Adrian berbicara seolah-olah mereka masih menjadi rekan kerja yang saling memahami.

Padahal, orang itulah yang membuat Arga kehilangan segalanya.

"Aku datang untuk berkompetisi," jawab Arga. "Aku tidak membutuhkan alasan lain untuk memperbaiki mesin dan menguji kemampuanku."

"Benarkah?"

"Kalau kamu memiliki pertanyaan lain, langsung saja tanyakan."

Adrian terdiam beberapa detik. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah foto dari map tersebut dan meletakkannya di atas meja.

Foto itu memperlihatkan Arga lima tahun lalu, berdiri di samping sebuah prototipe mesin berwarna perak. Di belakangnya terdapat logo perusahaan yang pernah menjadi tempatnya bekerja.

Arga mengenali foto itu.

Itu adalah prototipe mesin yang dikembangkan dalam proyek ARX-9, proyek yang menjadi awal kehancurannya.

"Kamu masih mengingat proyek ini?" tanya Adrian.

"Tentu."

"Proyek itu sekarang sudah berkembang pesat. Teknologi yang dahulu kita kembangkan menjadi dasar bagi beberapa mesin generasi baru."

"Kita?" Arga mengulang kata itu dengan suara datar.

Adrian mengangkat alis.

"Ya. Kita. Kamu adalah bagian dari tim itu."

"Kalau begitu, kamu seharusnya juga mengingat bagaimana proyek tersebut berakhir."

Udara di ruangan mendadak terasa berat.

Adrian menutup mapnya perlahan.

"Aku mengingat semuanya."

"Bagus. Kalau begitu, kamu juga pasti mengingat tuduhan yang membuatku dikeluarkan dari perusahaan."

Adrian tidak langsung menjawab.

Arga melanjutkan, "Kamu tahu aku tidak pernah membocorkan rancangan mesin itu. Kamu tahu laporan yang digunakan untuk menuduhku memiliki banyak kejanggalan. Tetapi, kamu tetap berdiri di depan dewan direksi dan menyatakan bahwa aku bertanggung jawab."

Adrian menatapnya tanpa ekspresi.

"Keputusan itu diambil berdasarkan bukti yang tersedia saat itu."

"Bukti yang kamu berikan."

"Kamu tidak bisa membuktikan bahwa aku memalsukannya."

Arga mengepalkan tangan, tetapi ia segera melonggarkannya kembali.

"Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar."

"Syukurlah. Karena pertengkaran tidak akan mengubah apa pun."

Adrian bangkit dan berjalan mendekati jendela.

"Kamu tahu, Arga, dunia ini tidak berjalan berdasarkan siapa yang merasa dirinya benar. Dunia berjalan berdasarkan bukti, pengaruh, dan kemampuan seseorang mempertahankan posisinya."

Ia berbalik.

"Lima tahun lalu, kamu kehilangan posisimu. Sekarang kamu kembali sebagai peserta kompetisi. Menurutku, kamu seharusnya menerima keadaan dan berhenti menggali masa lalu."

Arga menatapnya tajam.

"Apakah kamu takut aku menemukan sesuatu?"

Untuk pertama kalinya, Adrian terlihat benar-benar terganggu.

Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Arga untuk menyadarinya.

Adrian segera tersenyum.

"Takut? Mengapa aku harus takut kepada seorang mekanik bengkel?"

"Kalau begitu, kamu tidak keberatan jika aku memeriksa kembali semua data proyek ARX-9?"

Adrian tidak menjawab.

Arga melanjutkan, "Aku masih mengingat setiap tahap pengembangannya. Aku tahu bagaimana sistem pengendali mesin itu bekerja. Aku juga tahu ada beberapa bagian laporan yang tidak sesuai dengan hasil pengujian."

"Data itu sudah menjadi milik perusahaan."

"Aku tidak mengatakan akan mengambil data milik perusahaan. Aku hanya ingin mengetahui kebenaran."

Adrian menatap Arga cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil.

"Kamu masih keras kepala seperti dahulu."

"Dan kamu masih menghindari pertanyaan yang tidak ingin kamu jawab."

Kali ini, senyum Adrian benar-benar hilang.

Ia berjalan kembali ke meja, mengambil sebuah kartu nama, lalu menyodorkannya kepada Arga.

"Kalau kamu membutuhkan pekerjaan, hubungi aku. Aku mengenal beberapa pemilik perusahaan yang mungkin bersedia memberimu kesempatan."

Arga memandang kartu tersebut, tetapi tidak mengambilnya.

"Aku sudah memiliki pekerjaan."

"Di bengkel kecil itu?"

"Namanya Agung Joyo Motor."

Adrian mengangkat bahu.

"Baiklah. Kalau itu pilihanmu."

Ia memasukkan kembali kartu nama ke dalam sakunya.

"Satu nasihat terakhir, Arga. Jangan menganggap kemenangan pada babak pertama sebagai tanda bahwa kamu bisa kembali ke posisi lama. Dunia sudah berubah. Orang-orang yang dulu mengenalmu mungkin tidak akan menerimamu lagi."

Arga mengangguk kecil.

"Aku tidak membutuhkan mereka untuk menerimaku."

"Lalu apa yang kamu inginkan?"

Arga terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Kebenaran."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Arga berbalik dan berjalan menuju pintu.

"Arga," panggil Adrian.

Arga berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Jika kamu terus mencari jawaban tentang lima tahun lalu, kamu mungkin akan menemukan hal-hal yang lebih baik tetap terkubur."

Arga menoleh perlahan.

"Ancaman?"

"Anggap saja peringatan."

Arga memandangnya tanpa rasa takut.

"Kalau memang ada sesuatu yang harus dikubur, mungkin sejak awal sesuatu itu tidak seharusnya dilakukan."

Ia membuka pintu dan meninggalkan ruangan.

Adrian tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang perlahan tertutup.

Beberapa detik kemudian, ia mengambil telepon dari sakunya.

"Marcus, aku ingin kamu datang ke ruang rapat sekarang."

Ia menghentikan panggilan setelah mendengar jawaban singkat dari seberang.

Wajahnya kembali dingin.

"AR-01 seharusnya sudah menjadi bagian dari masa lalu," gumamnya.

Namun, kini ia mulai menyadari bahwa masa lalu tidak selalu bisa dikendalikan.

Ketika Arga kembali ke aula utama, sebagian peserta sedang beristirahat sebelum babak kedua dimulai.

Ia berjalan menuju dispenser air di dekat dinding dan mengambil segelas air mineral. Percakapan dengan Adrian membuat pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan.

Mengapa Adrian begitu khawatir ketika ia menyebut proyek ARX-9?

Apa yang sebenarnya terjadi pada malam kegagalan proyek itu?

Dan mengapa seseorang mengirimkan pesan misterius yang mendorongnya datang ke kompetisi?

Arga mengeluarkan telepon dari sakunya dan membuka pesan yang diterimanya dua hari sebelumnya.

"Kalau kamu masih memiliki keberanian, datanglah ke kompetisi itu. Sudah waktunya dunia mengetahui siapa dirimu sebenarnya."

Nomor pengirimnya masih tidak dikenal.

Ia mencoba menghubungi nomor tersebut, tetapi panggilannya tidak tersambung. Ketika mengirim pesan balasan, tidak ada jawaban.

Arga memasukkan telepon kembali ke saku.

"Sepertinya ada orang lain yang mengetahui sesuatu," gumamnya.

"Sedang memikirkan siapa yang mengirim pesan misterius?"

Arga menoleh.

Dimas Prakoso berdiri di sampingnya sambil membawa dua botol air mineral. Ia menyodorkan salah satunya kepada Arga.

"Ini. Kamu terlihat seperti orang yang baru saja menghadapi ujian yang jauh lebih sulit daripada kompetisi tadi."

Arga menerima botol itu.

"Terima kasih. Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal."

Dimas bersandar pada dinding.

"Aku melihatmu dipanggil salah satu juri. Apakah ada masalah?"

"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."

Dimas tidak mendesak. Ia hanya mengangguk.

"Baiklah. Ngomong-ngomong, selamat atas posisi pertama tadi."

"Terima kasih."

"Aku harus mengakui, aku cukup terkejut. Banyak peserta menggunakan alat diagnostik mahal, tetapi kamu menghabiskan waktu cukup lama untuk pemeriksaan dasar."

"Alat yang mahal memang membantu," jawab Arga. "Namun, alat tidak bisa menggantikan pemahaman. Kalau kita tidak mengerti apa yang sedang diukur, hasilnya hanya akan menjadi angka."

Dimas tersenyum.

"Kalimat itu terdengar seperti ucapan instruktur senior."

"Mungkin karena aku terlalu sering memperbaiki kesalahan orang yang hanya percaya pada angka."

Mereka tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat itu, Arga merasa sedikit lebih nyaman. Dimas tampak berbeda dari Rendy. Ia memiliki rasa percaya diri, tetapi tidak merasa perlu merendahkan orang lain untuk menunjukkan kemampuannya.

"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Dimas.

"Tanyakan saja."

"Aku pernah mendengar nama AR-01 dari seorang teknisi senior. Katanya, ada mekanik muda yang mampu mendiagnosis kerusakan mesin balap tanpa harus mengganti banyak komponen. Orang itu menghilang setelah sebuah proyek besar mengalami kegagalan."

Arga terdiam.

Dimas mengamati reaksinya.

"Apakah kamu mengenalnya?"

Arga menatap botol air di tangannya sebelum menjawab.

"Orang-orang sering membesar-besarkan cerita."

"Itu bukan jawaban."

"Aku tahu."

Dimas menghela napas.

"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu bercerita. Tetapi, kalau kamu memang orang yang aku pikirkan, aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu."

Arga mengangkat pandangan.

Dimas tersenyum dan mengulurkan tangan.

"Semoga kita bisa bertanding secara adil sampai akhir."

Arga menjabat tangannya.

"Semoga."

Mereka kembali ke area peserta ketika pengumuman babak kedua terdengar dari pengeras suara.

Babak kedua akan menguji kemampuan analisis sistem mesin dalam kondisi yang lebih kompleks.

Setiap peserta harus memeriksa sebuah kendaraan yang telah disiapkan panitia. Berbeda dari babak pertama, gangguan kali ini tidak dijelaskan secara terperinci. Peserta hanya menerima keluhan awal dan data singkat mengenai kondisi kendaraan.

Rendy berdiri di depan sebuah mobil sport hitam. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk menebus hasil yang mengecewakan pada babak pertama.

"Babak ini akan menjadi milikku," katanya kepada mekanik timnya.

Ia tidak ingin kembali dipermalukan oleh Arga.

Ketika peserta mulai bekerja, Rendy langsung menghubungkan komputer diagnostik ke kendaraan. Ia menemukan beberapa kode yang mengarah pada masalah sistem pengapian dan aliran udara.

Tanpa membuang waktu, ia memerintahkan rekannya menyiapkan komponen pengganti.

Di meja lain, Arga memulai pemeriksaan dari informasi yang tersedia. Ia membaca keluhan awal, melihat data kendaraan, lalu melakukan pemeriksaan visual sesuai prosedur.

Mesin yang menjadi tanggung jawabnya menunjukkan gejala kehilangan tenaga ketika beban meningkat. Namun, data awal tidak memperlihatkan kerusakan yang jelas.

Arga tidak langsung menyimpulkan bahwa satu komponen tertentu telah rusak.

Ia memeriksa kondisi sambungan, membandingkan data sensor, dan memastikan tidak ada faktor eksternal yang mengganggu pengukuran.

Beberapa menit berlalu.

Peserta lain mulai mengganti komponen berdasarkan dugaan masing-masing.

Arga tetap mengumpulkan data.

Kemudian, ia melihat sesuatu yang tidak biasa pada perubahan nilai pembacaan ketika kondisi pengujian berubah.

Ia mengulangi pemeriksaan.

Hasilnya sama.

Arga menunduk, memperhatikan diagram sistem yang disediakan panitia.

"Jadi, ini yang ingin mereka uji," gumamnya.

Ia menyusun diagnosis dan menyiapkan penjelasan teknis. Kali ini, ia juga menambahkan alasan mengapa beberapa kemungkinan kerusakan lain tidak sesuai dengan gejala yang ditemukan.

Ketika juri mendekati mejanya, Arga menjelaskan temuannya secara runtut.

"Gejala kehilangan tenaga memang bisa mengarah pada beberapa kemungkinan. Namun, data yang tersedia tidak mendukung dugaan kerusakan komponen utama. Saya menemukan ketidaksesuaian pada respons sistem ketika beban berubah. Karena itu, pemeriksaan harus difokuskan pada penyebab gangguan tersebut sebelum memutuskan penggantian komponen."

Juri itu mengangguk.

"Bagaimana kamu memastikan diagnosis ini bukan sekadar kebetulan?"

"Saya mengulang pengukuran dan membandingkan hasilnya. Saya juga memeriksa apakah perubahan yang muncul konsisten dengan gejala awal."

"Jika waktu pemeriksaan lebih panjang, apa yang akan kamu lakukan?"

"Saya akan melakukan pengujian lanjutan sesuai prosedur pabrikan dan mengonfirmasi sumber gangguan sebelum melakukan perbaikan."

Juri mencatat sesuatu di lembar penilaian.

"Baik. Terima kasih."

Arga mengembalikan peralatan ke tempatnya.

Di sisi lain, Rendy baru menyadari bahwa penggantian komponen yang dilakukannya tidak memberikan hasil sesuai perkiraan. Ia mulai kehilangan kesabaran.

"Kenapa masih bermasalah?" serunya.

Rekannya memeriksa kembali sambungan alat diagnostik.

"Mungkin kita harus menguji ulang, Mas."

"Waktunya hampir habis!"

Rendy menoleh ke arah Arga dan melihat mekanik itu telah menyelesaikan pemeriksaannya.

Perasaan kesal kembali memenuhi dadanya.

Ia tidak memahami bagaimana seseorang dengan peralatan sederhana bisa bekerja lebih sistematis daripada timnya yang memiliki akses terhadap teknologi mahal.

Namun, kompetisi belum berakhir.

Rendy masih memiliki satu kesempatan untuk mengalahkan Arga pada babak berikutnya.

Dan ia berniat menggunakan kesempatan itu, apa pun yang terjadi.

Menjelang sore, panitia mengumumkan bahwa hasil babak kedua akan diproses sebelum peserta kembali berkumpul.

Arga duduk di bangku dekat pintu keluar aula. Ia membuka teleponnya dan melihat sebuah pesan baru masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.

"Jangan percaya kepada Adrian Voss. Dia bukan satu-satunya orang yang mengkhianatimu lima tahun lalu."

Arga membaca kalimat itu berulang kali.

Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, melainkan karena pertanyaan yang semakin banyak bermunculan.

Jika Adrian bukan satu-satunya orang yang mengkhianatinya, siapa lagi yang terlibat?

Apakah ada seseorang dari tim lamanya yang ikut menyusun tuduhan tersebut?

Dan mengapa orang itu baru menghubunginya sekarang?

Arga mencoba membalas pesan itu.

"Siapa kamu? Apa bukti yang kamu miliki?"

Pesannya terkirim, tetapi tidak ada balasan.

Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menyimpannya kembali.

Dari kejauhan, seseorang berdiri di dekat pintu samping aula. Orang itu mengenakan topi hitam dan jaket gelap, mengamati Arga tanpa mendekat.

Ketika Arga berdiri dan menoleh ke arah pintu, sosok tersebut segera berbalik dan menghilang di antara para pengunjung.

Arga melangkah beberapa meter untuk memastikan apa yang dilihatnya.

Namun, lorong di dekat pintu sudah kosong.

Ia kembali memandang teleponnya.

Kompetisi ini baru berlangsung beberapa jam, tetapi satu per satu rahasia masa lalunya mulai muncul ke permukaan.

Arga memasukkan kedua tangannya ke saku dan menarik napas panjang.

"Lima tahun aku menunggu jawaban," gumamnya. "Sekarang, aku tidak akan berhenti hanya karena ada orang yang ingin menakut-nakutiku."

Di dalam aula, layar besar mulai menampilkan hasil sementara babak kedua.

Para peserta bergegas kembali ke tempat berkumpul.

Arga berjalan menuju mereka tanpa mengetahui bahwa namanya sekali lagi berada di antara peserta dengan nilai tertinggi.

Dan di ruang juri, Adrian Voss sedang membaca sebuah laporan yang baru saja diterimanya.

Laporan itu berisi ringkasan pemeriksaan Arga pada babak kedua.

Adrian menutup dokumen tersebut perlahan.

"Dia bukan lagi anak muda yang bisa kita singkirkan dengan satu tuduhan," katanya kepada Marcus.

Marcus menatapnya dengan wajah tegang.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?"

Adrian memandang layar yang menampilkan foto Arga.

"Kita cari tahu siapa yang menghubunginya. Sebelum dia menemukan bukti yang sebenarnya."

Di luar gedung, matahari mulai tenggelam.

Kompetisi akan berlanjut esok hari.

Namun, bagi Arga Pratama, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!