NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Bu Risa berlari tergesa-gesa menghampiri mereka berdua dengan wajah panik.

"Ada apa ini? Kenapa Riko menangis dan jatuh?" tanya Bu Risa sambil membantu Riko berdiri.

Lula hanya diam menunduk menatap ujung kaos kakinya yang robek.

Bu Risa menyadari ada yang tidak beres dan langsung memeriksa tubuh kedua anak itu.

Mata Bu Risa membelalak lebar saat melihat ada noda basah berbisa di ujung kaos kaki Lula.

"Lula, kaki kamu kenapa bisa robek begini?" tanya Bu Risa dengan suara bergetar.

"Tadi ada ular hitam panjang Bu Guru, ular itu mau gigit Riko jadi Lula dorong Riko," jelas Lula jujur.

Mendengar kata ular hitam, wajah Bu Risa dan guru lainnya langsung berubah seputih kertas.

Mereka tahu di lahan sebelah memang sering ditemukan ular kobra liar.

"Ya Tuhan, kalian tidak digigit kan?" panik Bu Risa sambil memeriksa betis Lula.

"Lula tidak digigit Bu Guru, ularnya cuma kena kaos kaki terus pergi," jawab Lula menenangkan.

Bu Risa langsung menggendong Lula dan menyuruh guru lain membawa Riko ke ruang kesehatan.

"Pak Satpam! Tolong periksa area semak-semak belakang, ada ular kobra yang masuk!" teriak Bu Risa panik.

Sekolah elit itu seketika menjadi heboh dan sangat tegang.

Pihak sekolah langsung memanggil tim pemadam kebakaran untuk menyisir seluruh area taman.

Bu Risa membawa Lula ke ruang kesehatan dan membersihkan goresan kecil di betis anak itu menggunakan alkohol.

Lula sama sekali tidak menangis saat lukanya dibersihkan.

"Lula anak yang berani sekali, terima kasih sudah menyelamatkan Riko ya," puji Bu Risa sambil menahan tangis.

Bu Risa merasa sangat bersalah karena lalai mengawasi area bermain anak-anak.

Pihak sekolah segera menghubungi orang tua murid untuk mengabarkan kejadian darurat ini.

Kring kring kring.

Ponsel Bastian yang sedang berjaga di rumah sakit berdering nyaring.

Bastian yang memang ditugaskan menjemput Lula hari ini segera mengangkat telepon itu.

"Halo, dengan keluarga Ayodhya?" tanya suara guru dari seberang telepon.

"Iya benar, saya kakak kandung Lula, ada apa Bu?" balas Bastian dengan nada tenang.

"Mohon maaf Pak, tadi di sekolah ada insiden ular kobra masuk ke taman, dan Lula hampir saja tergigit karena menolong temannya." Prang.

Gelas kaca yang sedang dipegang Bastian jatuh ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

Wajah tenang Bastian seketika berubah menjadi sangat pucat dan rahangnya mengeras.

"Saya segera ke sana sekarang, kalau sampai ada luka sedikit saja pada adik saya, sekolah kalian akan saya tutup hari ini juga," ancam Bastian dengan nada yang sangat mematikan.

Bastian langsung mematikan telepon dan berlari keluar dari rumah sakit tanpa melepas jas dokternya.

Dia melompat ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh membelah jalanan Jakarta.

Perasaan takut kehilangan seperti saat kecelakaan Adrian kembali menghantui pikiran Bastian.

Dua puluh menit kemudian, mobil Bastian berhenti mendadak di depan gerbang TK dengan suara decitan ban yang keras.

Cittt.

Bastian keluar dari mobil dan berlari menerobos masuk ke dalam area sekolah tanpa mempedulikan satpam.

"Di mana adikku?!" teriak Bastian saat masuk ke ruang guru.

Bu Risa yang sedang menemani Lula di ruang kesehatan langsung keluar dengan wajah ketakutan.

"P-Pak Bastian, Lula ada di dalam, dia aman dan tidak terluka parah," jawab Bu Risa terbata-bata.

Bastian menerobos masuk ke ruang kesehatan dan melihat Lula sedang duduk santai sambil makan biskuit.

"Kak Bastian!" seru Lula riang melihat kedatangan kakaknya.

Bastian langsung memeluk adiknya itu dengan sangat erat sampai Lula sedikit kesulitan bernafas.

"Syukurlah kau tidak apa-apa, Kakak hampir mati jantungan mendengar telepon dari gurumu," bisik Bastian dengan suara bergetar.

Bastian melepaskan pelukannya dan naluri dokternya langsung bekerja.

Dia memeriksa seluruh tubuh Lula mulai dari kepala, lengan, hingga kaki.

Matanya langsung tertuju pada plester kecil yang menempel di betis Lula.

"Ini luka apa? Katanya tidak digigit?" tanya Bastian menuntut penjelasan.

"Cuma kegores taringnya sedikit Kak Bastian, tidak berdarah kok," jawab Lula jujur.

Bastian menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.

Ini benar-benar di luar kendali mereka.

Mereka sudah menjaga Lula dari ancaman penculik, tapi mereka lupa menjaga anak itu dari bahaya alam liar.

Bu Risa berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk merasa bersalah.

"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya Pak Bastian, kami akan memperbaiki pagar pembatas belakang segera," ucap Bu Risa.

Bastian berdiri dan menatap guru itu dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin.

"Pagar pembatas kalian tidak ada gunanya, aku akan menyuruh tukang merobohkan tembok itu dan membangun beton setinggi tiga meter besok pagi."

"Dan semua biaya pembangunannya akan ditanggung oleh Grup Lentera, pastikan tidak ada binatang sekecil apapun yang bisa masuk lagi," perintah Bastian mutlak.

Bu Risa hanya bisa mengangguk pasrah karena dia tahu berhadapan dengan keluarga Ayodhya sama saja dengan mencari masalah.

Bastian kembali menunduk dan menggendong Lula dengan satu tangan.

Dia mengambil tas adiknya lalu berjalan keluar dari ruang kesehatan.

"Kita pulang sekarang, Kakak tidak mau kau masuk sekolah dulu sampai tembok betonnya selesai dibangun," kata Bastian protektif.

Lula memeluk leher Bastian dan menyandarkan kepalanya yang mulai terasa mengantuk.

"Iya Kak Bastian, besok Lula libur main sama kobra lagi," gumam Lula santai.

Mendengar kata main sama kobra, Bastian hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.

Adiknya ini benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali pada bahaya.

Sesampainya di rumah, kabar tentang insiden ular kobra itu langsung menyebar ke seluruh anggota keluarga.

Baskoro pulang lebih awal dari kantor dan langsung menggebrak meja ruang tamu.

"Papa akan membeli lahan kosong di sebelah sekolah itu dan membangun taman tertutup," putus Baskoro marah.

Adrian yang juga baru tiba langsung menelepon arsitek kepercayaannya. "Buat desain tembok beton lapis baja untuk TK Pelita Hati, selesaikan rancangannya malam ini juga," perintah Adrian lewat telepon.

Cakra dan Dewa duduk mengapit Lula di atas karpet ruang tengah.

Mereka berdua tidak berhenti memeriksa betis Lula yang ada plester kecilnya.

"Sakit tidak lukanya? Kalau sakit biar kupecahkan kepala ular itu," gerutu Dewa dengan wajah ditekuk.

"Kak Dewa jangan marah, ularnya kan sudah pergi karena takut dimarahi Lula," bujuk Lula sambil tertawa.

Cakra menghela nafas panjang dan mengacak rambut adiknya.

"Lain kali kalau ada binatang berbahaya, kau harus lari jauh-jauh, jangan malah diajak mengobrol," pesan Cakra serius.

Arini datang membawa nampan berisi teh hangat dan susu cokelat untuk menenangkan keluarganya.

"Sudahlah, yang penting anak kita selamat dan tidak kurang satu apapun," kata Arini menengahi.

Lula meminum susu cokelatnya dengan tenang di tengah keluarga yang sedang panik berlebihan itu.

Dia merasa lucu melihat ayah dan kakak-kakaknya yang bereaksi sangat berlebihan hanya karena seekor ular lapar.

Namun di sisi lain, kejadian hari ini menyadarkan keluarga Ayodhya akan satu hal penting.

Bahaya bisa datang dari arah mana saja dan kapan saja, tidak peduli seberapa ketat mereka menyembunyikan Lula.

Mereka harus menyelesaikan masalah dari akarnya secepat mungkin.

Baskoro menatap Adrian dengan pandangan yang sangat dalam.

"Kita tidak bisa terus bermain aman, sudah saatnya kita memberikan pukulan telak pada Surya," kata Baskoro dingin.

Adrian mengangguk pelan dengan senyum tipis yang mematikan.

"Semua bukti kejahatan perusahaannya sudah berhasil kumpul, besok kita serahkan semuanya ke kejaksaan," lapor Adrian.

Perang dingin yang selama ini terjadi di balik meja bisnis akhirnya akan meledak ke permukaan.

Keluarga Ayodhya sudah muak terus-terusan berada dalam posisi bertahan.

Kini giliran mereka yang akan menjadi pemburu dan menghancurkan Perusahaan Matahari menjadi debu.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!