Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Mimpi Aula Naga Emas
Ketika matahari mulai naik, sebuah kereta sederhana telah menunggu di halaman luar Istana Weishan.
Kereta itu tidak dihiasi ukiran emas seperti kendaraan kerajaan yang biasa digunakan oleh Permaisuri. Rangkanya terbuat dari kayu gelap, dengan tirai kain berwarna kelabu dan roda yang telah diperkuat untuk melewati jalan berbatu. Dua ekor kuda cokelat dipasang di bagian depan, sementara empat pengawal bersenjata menunggu di kedua sisi.
Tidak ada bendera phoenix.
Tidak ada musik upacara.
Tidak ada barisan pelayan yang mengiringi.
Keberangkatan Wang Laoyin diperlakukan seperti pemindahan seorang tahanan, bukan kepergian seorang perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari keluarga kerajaan.
Wang Laoyin keluar dari Paviliun Fengyi dengan bungkusan kain di tangan.
Ia mengenakan jubah kelabu, pakaian sederhana yang hampir menyatu dengan warna langit pagi. Rambutnya diikat dengan pita putih, dan sepasang sepatu kain menutupi kakinya. Wajahnya tampak pucat, tetapi matanya tetap jernih.
Di halaman, para pengawal telah membentuk barisan.
Kepala kasim berdiri di dekat kereta sambil memegang daftar barang bawaan. Ia memeriksa bungkusan Wang Laoyin dengan teliti, memastikan tidak ada benda yang dianggap terlarang.
“Tidak ada senjata?” tanyanya.
“Tidak.”
“Tidak ada surat?”
“Tidak.”
“Tidak ada perhiasan kerajaan?”
Wang Laoyin mengangkat kedua tangannya.
“Kau dapat melihat sendiri.”
Kasim itu memeriksa bungkusan tersebut, lalu memberi isyarat kepada pengawal.
“Tidak ada masalah.”
Wang Laoyin berjalan menuju kereta.
Namun, sebelum naik, ia berhenti dan menoleh ke arah istana.
Dari halaman itu, ia dapat melihat atap Aula Naga Emas yang menjulang di balik deretan pohon. Cahaya matahari menyentuh genting keemasannya, menciptakan kilau yang begitu indah hingga tampak seolah-olah bangunan itu tidak pernah menyaksikan satu pun ketidakadilan.
Di balik tembok-tembok tersebut terdapat kamar tempat ia pernah tidur, taman tempat ia pernah berjalan bersama Raja, dan aula tempat mahkotanya dirampas.
Ia tidak tahu apakah dirinya akan pernah melihat semuanya lagi.
Ia juga tidak tahu apakah ia akan kembali sebagai seorang perempuan yang dibebaskan dari tuduhan, atau sebagai seseorang yang namanya telah dihapus dari ingatan kerajaan.
Untuk sesaat, ia ingin mengangkat suara dan memanggil nama Raja Han Quan.
Ia ingin bertanya apakah lelaki itu benar-benar sanggup membiarkannya pergi tanpa satu kata pun. Ia ingin mengingatkannya bahwa mereka pernah berbagi kehidupan, bukan sekadar kedudukan. Ia ingin mengatakan bahwa jika ia memang menginginkan perpisahan, setidaknya ia seharusnya memiliki keberanian untuk menatap mata perempuan yang sedang diusirnya.
Namun, pintu Aula Qinzheng tetap tertutup.
Tidak ada Raja yang datang.
Tidak ada pesan yang disampaikan.
Tidak ada kesempatan terakhir untuk berbicara.
Wang Laoyin menelan semua kata yang hampir terucap.
Ia tidak akan memohon kepada seseorang yang telah memilih untuk tidak mendengarnya.
Ia tidak akan mengejar lelaki yang membiarkan kebohongan berdiri di antara mereka.
Dan ia tidak akan menyerahkan sisa harga dirinya hanya demi mendapatkan perpisahan yang layak.
Wang Laoyin berbalik.
Ia menaiki kereta tanpa bantuan pengawal, kemudian duduk di dalamnya dengan bungkusan kain di pangkuan.
Tirai ditutup.
Pintu kereta dikunci dari luar.
Kepala kasim mengangkat tangan.
“Berangkat!”
Cambuk menyentuh udara.
Kedua kuda mulai berjalan, menarik kereta menjauh dari halaman istana.
Roda kayu berderit di atas batu.
Perlahan-lahan, kereta itu bergerak menuju gerbang luar, melewati koridor panjang, menara pengawas, dan barisan prajurit yang berdiri tanpa suara.
Di balik tirai kelabu, Wang Laoyin mendengar suara gerbang besar dibuka.
Suara itu menggema seperti pintu terakhir yang menutup di belakang kehidupannya yang lama.
Ketika kereta melewati gerbang, angin pagi menyentuh wajahnya melalui celah kecil pada tirai. Ia memandang ke luar dan melihat jalan utama ibu kota mulai dipenuhi orang-orang yang membuka kios, membawa keranjang sayur, dan menyapu halaman rumah.
Rakyat Weishan menjalani kehidupan mereka seperti biasa.
Tidak seorang pun tahu bahwa seorang perempuan yang pernah memiliki kedudukan tertinggi di kediaman dalam sedang meninggalkan kota tanpa perhiasan, tanpa penghormatan, dan tanpa kesempatan mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang dicintainya.
Bagi mereka, ia hanyalah seorang perempuan berpakaian kelabu di dalam kereta sederhana.
Bagi istana, ia telah menjadi perkara yang harus disingkirkan.
Namun, bagi dirinya sendiri, ia masih Wang Laoyin.
Dan nama itu belum selesai diperjuangkan.
Perjalanan menuju Kuil Qingyun memakan waktu beberapa hari.
Pada hari pertama, kereta melewati jalan-jalan utama Weishan, kemudian memasuki kawasan perbukitan yang dipenuhi ladang dan desa kecil. Rumah-rumah beratap jerami berdiri di antara pepohonan, sementara penduduk setempat berhenti bekerja ketika melihat rombongan pengawal kerajaan melintas.
Sebagian membungkuk.
Sebagian lainnya hanya menatap dengan rasa ingin tahu.
Wang Laoyin duduk diam di balik tirai, mendengarkan suara roda kereta yang beradu dengan batu-batu jalan. Ia tidak meminta makanan mewah atau tempat istirahat khusus. Ketika rombongan berhenti di sebuah pos penjagaan, ia hanya menerima semangkuk bubur hangat dan air minum.
Tidak ada lagi pelayan yang mengatur waktu makannya.
Tidak ada lagi dayang yang menyiapkan air untuk membasuh wajah.
Tidak ada lagi kasim yang membungkuk sebelum memasuki ruangan.
Ia harus belajar hidup dengan kesederhanaan yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Pada hari kedua, jalan mulai menanjak.
Hutan pinus tumbuh rapat di sepanjang lereng. Batang-batang pohonnya menjulang tinggi, sementara cabang-cabangnya menghalangi cahaya matahari. Udara menjadi lebih dingin, dan kabut turun begitu cepat hingga para pengawal harus memperlambat langkah kuda.
Dari celah tirai, Wang Laoyin melihat tebing-tebing batu yang berdiri di sisi jalan. Di bawahnya, aliran sungai mengalir deras, menghantam bebatuan dengan suara yang menyerupai gemuruh binatang raksasa.
Ia memandang pemandangan itu tanpa rasa takut.
Dahulu, ia hanya mengenal dunia melalui jendela istana, peta-peta kerajaan, dan laporan para pejabat. Kini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melihat langsung luasnya dunia di luar tembok merah Weishan.
Dunia itu keras.
Dingin.
Tidak peduli apakah seseorang pernah mengenakan mahkota atau tidak.
Gunung tidak tunduk kepada titah Raja. Sungai tidak mengubah alirannya demi menjaga kehormatan keluarga kerajaan. Angin tidak berhenti bertiup hanya karena seseorang kehilangan kedudukan.
Ada sesuatu yang anehnya menenangkan dalam kenyataan tersebut.
Di alam yang luas itu, Wang Laoyin bukan lagi Permaisuri yang diadili oleh para pejabat.
Ia hanyalah seorang perempuan yang sedang melakukan perjalanan menuju tempat yang belum dikenalnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan ratusan pasang mata.
Ia dapat duduk dalam diam.
Ia dapat merasa sedih.
Ia dapat membiarkan air mata jatuh tanpa khawatir seseorang akan menggunakannya sebagai bukti kelemahan.
Pada malam kedua, rombongan berhenti di sebuah pos kecil di kaki gunung. Bangunannya terbuat dari kayu, dengan atap genting yang sebagian telah retak. Di halaman terdapat sumur batu dan kandang kuda sederhana. Para pengawal menyalakan api untuk menghangatkan tubuh, sementara seorang penjaga pos menyiapkan makanan.
Wang Laoyin duduk di dalam ruangan kecil yang disediakan untuknya.
Ia memegang mangkuk hangat dengan kedua tangan, membiarkan panasnya meresap ke telapak tangan yang dingin.
Di luar, para pengawal berbicara pelan.
“Apakah benar perempuan itu dahulu seorang Permaisuri?” tanya salah seorang.
“Benar.”
“Bagaimana mungkin seorang Permaisuri berakhir di kuil terpencil?”
“Jangan bertanya terlalu banyak. Kita hanya menjalankan perintah.”
Wang Laoyin menunduk.
Ia hampir tersenyum mendengar kalimat yang sama diucapkan kembali.
Hanya menjalankan perintah.
Barangkali itulah kalimat yang paling sering digunakan manusia untuk menghindari pertanyaan tentang tanggung jawab.
Ia menghabiskan makanannya, kemudian membaringkan tubuh di atas alas sederhana.
Malam itu, ia bermimpi tentang Aula Naga Emas.
Dalam mimpinya, Raja Han Quan berdiri di hadapannya dengan mahkota kerajaan di kepala. Ia mengulurkan tangan, seolah-olah hendak memanggilnya kembali. Wang Laoyin melangkah mendekat, tetapi setiap kali ia hampir mencapai Raja, lantai di bawah kakinya berubah menjadi air yang gelap.
Dari kejauhan, suara Shen Rui terdengar memanggil namanya.
Ia berbalik.
Di belakangnya berdiri sebuah pintu berlumuran darah.
Ketika ia mencoba membukanya, pintu itu berubah menjadi tembok batu yang tidak dapat ditembus.
Wang Laoyin terbangun dengan napas terengah-engah.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia duduk dalam kegelapan, mendengarkan suara angin yang menggesek dinding kayu. Untuk beberapa saat, ia tidak mengetahui di mana dirinya berada. Ia hanya merasakan kekosongan yang begitu besar, seolah-olah seluruh kehidupan yang pernah ia kenal telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Kemudian ia mengingat semuanya.
Ia tidak lagi berada di Paviliun Fengyi.
Ia tidak lagi menjadi Permaisuri.
Ia sedang dalam perjalanan menuju pengasingan.
Wang Laoyin menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Namun, setelah beberapa saat, ia menurunkan tangan dan mengusap pipinya.
“Cukup,” bisiknya kepada dirinya sendiri. “Menangislah malam ini jika kau harus menangis. Tetapi ketika matahari terbit, bangkitlah kembali.”
Ia menatap celah jendela yang memperlihatkan sedikit cahaya bulan.
“Jika aku tidak dapat kembali ke kehidupan yang lama, aku akan belajar membangun kehidupan yang baru.”
Kata-kata itu terdengar sederhana.
Tetapi di dalam hati seorang perempuan yang telah kehilangan hampir segala sesuatu, kata-kata tersebut menjadi janji pertama yang ia buat untuk dirinya sendiri.
( Bersambung ya...🥰)