Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Orang-orang bisa salah paham, Ma,” kata Dira akhirnya.
“Bukan orang-orang yang menciptakan masalah ini. Kamu dan Rangga sendiri yang melakukannya.”
“Aku bisa menjelaskan semuanya kepada Rangga. Dia tidak akan membiarkan Mama mengusirku.”
Bu Farah tersenyum tipis, tetapi sama sekali tidak ada kehangatan di sana. “Silakan hubungi Rangga. Katakan kepadanya bahwa kamu diusir oleh ibunya sendiri karena tidak tahu menjaga kehormatan. Saya ingin melihat, apakah dia masih berani membelamu setelah semua keburukan kalian terbongkar.”
Dira tahu Rangga sedang menghadapi masalah perceraian dengan Jingga. Laki-laki itu juga tidak lagi memiliki keleluasaan untuk bertindak sesukanya. Jika ia memaksakan diri meminta bantuan Rangga, bukan tidak mungkin laki-laki itu justru menyalahkannya. Dan yang paling menakutkan, ia belum tahu seberapa jauh rahasia mereka akan menyebar.
“Ma, tolong beri aku waktu,” pintanya, kali ini dengan suara lebih pelan. “Aku akan memperbaiki semuanya.”
“Memperbaiki apa? Tara tidak akan kembali. Jingga sudah terlanjur terluka. Dan Rangga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.” Bu Farah mengambil tasnya, lalu menunjuk ke arah tangga. “Kemasi barang-barangmu malam ini. Besok pagi, kamu harus sudah pergi dari rumah ini.”
Dira menatap wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu dengan mata memerah. “Mama benar-benar tidak punya belas kasihan kepadaku?”
“Justru karena saya pernah menyayangimu, saya merasa sangat kecewa. Seandainya kamu mengakui kesalahanmu tanpa terus mencari alasan, mungkin saya masih bisa memandangmu sebagai keluarga. Tapi sekarang, saya tidak sanggup berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Satu hal lagi, mulai sekarang panggil aku Tante. Aku bukan ibu mertuamu lagi, dan kamu bukan menantuku lagi.”
Setelah berkata demikian, Bu Farah meninggalkan ruang tengah tanpa menunggu jawaban.
Dira berdiri mematung. Begitu suara langkah Bu Farah menghilang, ia segera meraih ponselnya dan menghubungi Rangga. Panggilan pertama tidak dijawab. Ia mencoba lagi, tetapi hasilnya sama.
Dengan napas memburu, Dira mengetik pesan.
[Rangga, ibumu mengusirku. Aku harus pergi dari rumah ini, kamu harus melakukan sesuatu.]
Pesan itu terkirim, tetapi tidak segera mendapat balasan.
Dira melempar ponselnya ke sofa, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Selama ini, ia selalu yakin bisa mengendalikan keadaan. Ia berhasil membuat Rangga menjauh dari Jingga, membuat laki-laki itu merasa bersalah sekaligus membutuhkan dirinya.
Namun, sekarang semuanya berbalik.
Bu Farah telah mengetahui permainan yang selama ini ia sembunyikan. Jingga sedang memperjuangkan perceraian, dan Rangga tidak lagi bisa dijadikan sandaran dengan mudah.
Dira bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya. Setiap langkah terasa seperti pengingat bahwa tempat yang selama ini dianggapnya aman tidak lagi menerimanya.
Ia membuka lemari dengan kasar dan menarik koper dari sudut ruangan. Pakaian-pakaian dilemparkan begitu saja ke dalamnya. Tangannya bergerak cepat, tetapi pikirannya jauh lebih kacau.
“Ini semua gara-gara Jingga,” gumamnya penuh kebencian.
Ia berhenti ketika melihat foto pernikahannya dengan Tara yang masih terpajang di atas meja. Untuk beberapa detik, wajah mendiang suaminya menatapnya dari balik bingkai. Dira segera membalik foto itu, ia tidak ingin mengingat Tara. Tidak sekarang, ketika dirinya sendiri sedang terancam kehilangan segalanya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Dira meraihnya dengan harapan Rangga akhirnya membalas. Namun, pesan yang muncul justru membuat dadanya sesak.
Rangga: [Jangan libatkan aku dalam masalahmu. Selesaikan sendiri.]
Dira membaca kalimat itu berulang kali. Jemarinya gemetar, lalu mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Pengecut!” desisnya.
Air matanya jatuh, tetapi kali ini bukan karena kesedihan kehilangan Tara. Ia menangis karena orang yang selama ini berhasil ia kendalikan justru meninggalkannya ketika keadaan berbalik mengancam. Dira menghapus air matanya dengan kasar. Wajahnya yang semula tampak rapuh perlahan mengeras.
Jika Rangga memilih menyelamatkan dirinya sendiri, Dira tidak akan tinggal diam. Ia menyimpan terlalu banyak rahasia tentang laki-laki itu, termasuk bagaimana hubungan mereka bermula dan siapa yang sebenarnya berkali-kali menarik siapa untuk kembali.
Kalau dirinya harus jatuh, ia tidak akan membiarkan Rangga berdiri tanpa menanggung akibat yang sama.
Dira menutup koper dengan hentakan keras.
Malam itu, ia kehilangan kendali atas permainan yang selama ini disusunnya sendiri. Namun, di balik ketakutannya, sebuah keputusan mulai tumbuh. Jika tidak ada seorang pun yang bersedia melindunginya, ia akan memastikan bahwa semua orang ikut merasakan kehancuran yang kini mengancam hidupnya.
...*****...
Pagi itu, Jingga berdiri di depan cermin, merapikan kerah blus putihnya. Wajahnya tampak tenang, meski ada sedikit ketegangan di balik tatapan matanya. Hari ini, ia akan menghadapi Rangga di ruang sidang untuk pertama kalinya sejak memutuskan mengakhiri pernikahan mereka.
Ia tidak lagi datang sebagai istri yang berharap suaminya berubah. Ia datang sebagai perempuan yang ingin membebaskan dirinya dari luka berkepanjangan.
Tak lama kemudian, Jingga tiba di pengadilan bersama kuasa hukumnya. Di lorong, ia melihat Rangga berdiri dengan wajah kusut. Begitu melihatnya, laki-laki itu segera menghampiri.
“Jingga, kita perlu bicara.”
Jingga berhenti, tetapi tidak menunjukkan keinginan untuk mendekat. “Ada apa?”
“Bisakah kita menunda sidang hari ini? Aku ingin kita menyelesaikan semuanya secara pribadi. Tidak perlu sampai sejauh ini.”
Jingga menatap pria itu tanpa ekspresi. “Bukankah kamu sendiri yang membuat semuanya sampai sejauh ini, Rangga?”
“Aku mengakui kesalahanku, tapi kita masih bisa memperbaikinya.”
“Memperbaiki apa? Kepercayaan yang sudah kamu hancurkan? Atau luka yang kamu tinggalkan setiap kali tanganmu menyakitiku?”
Rangga terdiam sesaat. Ia melirik beberapa orang yang berjalan melewati mereka, lalu merendahkan suaranya. “Jangan mempermalukanku di depan semua orang, aku masih suamimu.”
“Sebutan itu tidak pernah membuatmu memperlakukanku seperti seorang istri.” Jingga tersenyum hambar.
“Jingga, aku bisa berubah.”
“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum kehilanganku.”
Tanpa menunggu jawaban, Jingga melangkah menuju ruang sidang. Rangga mengejarnya, tetapi kuasa hukum Jingga segera meminta agar ia memberikan ruang bagi kliennya.
Di dalam ruang sidang, proses perceraian pun dimulai. Kuasa hukum Jingga telah menyiapkan sejumlah bukti untuk mendukung permohonan tersebut. Ada dokumentasi kekerasan yang dialami Jingga, rekaman komunikasi yang relevan, serta bukti percakapan dan video yang berkaitan dengan pengkhianatan Rangga.
Setiap dokumen diserahkan sesuai prosedur untuk diperiksa dalam proses persidangan.
Rangga duduk dengan rahang mengeras. Ia tidak menyangka Jingga benar-benar mempersiapkan semuanya dengan serius. Selama ini, ia mengira ancaman dan tekanan emosional cukup untuk membuat perempuan itu kembali menuruti keinginannya.
Namun, Jingga bahkan tidak menoleh kepadanya.
Ketika diberi kesempatan berbicara, Jingga menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri pernikahan tersebut. Suaranya bergetar sedikit, tetapi setiap katanya terdengar jelas.
“Saya tidak ingin mempertahankan pernikahan yang membuat saya kehilangan rasa aman dan harga diri. Saya sudah berusaha bertahan, tetapi saya tidak ingin terus hidup dalam penderitaan yang sama.”
Rangga menunduk, ia menyadari bahwa perempuan yang dahulu selalu memaafkannya kini tidak lagi bisa dikendalikan dengan ancaman. Sidang berlanjut sesuai prosedur, sementara keputusan akhir belum ditetapkan.
Di luar ruang sidang, Rangga kembali mencoba mendekati Jingga.
Namun, perempuan itu hanya berkata dingin. “Jangan mencariku lagi untuk memintaku kembali pada pria pengkhianat sepertimu!”
Jingga kemudian pergi bersama kuasa hukumnya, meninggalkan Rangga yang terpaku. Hari itu, ia akhirnya memahami satu hal, Jingga tidak lagi takut kehilangan dirinya. Dan mungkin... itulah kehilangan terbesar yang pernah ia rasakan.
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
bahagia ngga kamu skrg ..
denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita