Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DIBALIK BALKON
“Maksud kalimat Aris ini apa, Aura?”
—
Suara Hendra terdengar amat berat dan tertahan. Mata cokelat gelap sang taipan menatap lurus ke dalam manik mata istrinya. Di dalam ruang makan kediaman utama Fahreza yang mendadak hening, udara terasa begitu kaku dan menekan.
—
Aura membaca ulang baris tulisan tangan Aris di atas kertas putih itu. Tidak ada riak ketakutan di wajah cantiknya. Wanita berusia muda yang sedang mengandung empat bulan itu dengan tenang meletakkan kertas tersebut di atas meja makan, lalu menatap Hendra tanpa ragu sedikit pun.
—
“Aris cuma berusaha menabur benih keraguan di antara kita sebelum dia membusuk di sel, Mas,” sahut Aura dengan suara halus dan jernih.
—
Hendra meraih jemari lentik Aura, menggenggamnya dengan hangat namun pandangan matanya menuntut kejujuran penuh.
—
“Saya percaya sama kamu, Sayang. Saya cuma mau dengar langsung dari mulut kamu sendiri... Dari mana kamu dapat dokumen riset soal posisi Paman Danu dan dewan direksi sebelum kamu mendatangi saya di balkon malam itu?” tanya Hendra lembut.
—
Aura mengulas senyuman tipis yang sangat anggun. Ia membalas genggaman tangan suaminya, lalu mengusap pelan punggung tangan Hendra.
—
“Satu bulan sebelum malam pesta itu, Aris pernah mabuk berat di apartemennya,” terang Aura jujur tanpa ada yang disembunyikan. “Dia mengeluh dan marah-marah soal Paman Danu yang terus menekan kinerjanya di kantor cabang. Di sana, dia membocorkan beberapa berkas internal dan berkas rencana pamanmu.”
—
Hendra mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya mulai melunak.
—
“Saat Aris mencampakkan aku di kafe dengan hinaan bahwa aku cewek biasa yang nggak selevel...” sambung Aura pelan, matanya memancarkan ketegasan yang cerdas, “aku nggak menangis meratapi nasib. Aku pakai semua informasi yang dibocorkan Aris buat meriset situasi kamu dan Fahreza Group secara mendalam. Informasi itu jadi modal awal aku buat menawarkan draf kerja sama di atas balkon malam itu.”
—
Aura mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan kehangatan murni.
—
“Tapi semua yang terjadi setelah malam itu... rasa kagumku, keputusanku buat ngelindungin kamu, dan rasa cintaku sama kamu... semuanya seratus persen tulus dari hatiku, Mas Hendra. Bukan sekadar taktik bisnis,” bisik Aura penuh kelembutan.
—
Hendra menahan napasnya sejenak. Rasa cemas dan keraguan yang sempat terbersit di dadanya seketika sirnah tanpa sisa, berganti dengan rasa haru dan cinta yang kian membara. Pria matang berusia 38 tahun itu menyunggingkan senyuman paling menawan di wajah tegasnya.
—
Hendra membungkuk, mengecup kening Aura dengan sangat mesra dan lama, lalu menempelkan telapak tangannya di atas perut membuncit istrinya.
—
“Terima kasih sudah jujur sama saya, Ratu saya,” bisik Hendra dengan suara beratnya yang seksi. Pria itu meraih kertas tulisan tangan Aris, lalu meremasnya hingga hancur dan melemparkannya ke tempat sampah. “Rencana murahan Aris buat menghancurkan hubungan kita sama sekali nggak berguna.”
—
Aura tertawa pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Hendra yang hangat.
—
Namun, baru saja ketegangan itu mencair, ponsel pribadi Hendra di saku jasnya kembali bergetar nyaring. Panggilan masuk dari direktur utama bursa saham nasional tertera di layar.
—
Hendra mengerutkan keningnya, lalu mengangkat panggilan tersebut.
—
“Selamat pagi, Pak Hendra,” ujar suara di balik telepon dengan nada amat panik. “Mohon maaf mengganggu... Ada pergerakan saham anomali secara masif pagi ini! Seseorang baru saja memborong lima belas persen saham lepas Fahreza Group melalui akun asing dan menuntut rapat darurat pemilik saham siang ini!”
—