NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Akar Yang Tidak Mau Mati

Tiga hari setelah bangunan LANGUR PARADISE RESORT ambruk, Langgur terlihat tenang dari luar. Langit sudah biru lagi, tidak ada lagi kabut merah di pagi hari. Bau besi dan bau asap sudah hilang. Sumur-sumur warga yang tadinya airnya merah dan asin, perlahan kembali jernih dan bisa diminum lagi. Anak-anak sudah mulai bermain bola lagi di lapangan dekat pantai.

Tapi di halaman belakang rumah Ara, ada yang aneh.

Pohon mangga raksasa yang tumbuh di tengah puing-puing resort itu memang sudah berhenti menghancurkan bangunan. Bangunan itu sekarang tinggal puing batu dan semen yang ditutupi akar besar. Tapi akar pohon itu tidak berhenti tumbuh. Setiap malam, Ara mendengar suara gemerisik dari dalam tanah, seperti ada cacing raksasa yang bergerak di bawah rumahnya.

Pagi itu, Ara bangun dan melihat lantai dapur rumahnya retak. Retakan kecil memanjang dari pintu belakang sampai ke tungku kayu. Dari dalam retakan itu, keluar akar kecil berwarna merah, sama seperti akar pohon mangga raksasa itu. Akar itu bergerak pelan, seperti mencari sesuatu.

"Mama, lihat ini!" panggil Ara panik.

Mama Ino yang sedang menjemur ikan asin di depan rumah langsung masuk ke dapur. Wajahnya pucat melihat retakan dan akar merah itu.

"Itu akar punya Revan?" tanya Mama Ino dengan suara gemetar.

Ara mencoba mencabut akar itu dengan tangan, tapi akarnya sangat kuat dan licin. Ketika dia tarik, akar itu malah masuk lebih dalam ke dalam tanah dan lantai dapur retaknya semakin besar.

Malam harinya, suara gemerisik di bawah tanah semakin keras. Ara tidak bisa tidur. Dia memakai jaket hitam milik Revan yang dia temukan di bawah pohon raksasa itu, jaket yang sudah bersih dan wangi melati, dan keluar ke halaman belakang dengan membawa senter.

Pohon mangga raksasa itu berdiri menjulang tinggi di tengah kegelapan, tingginya sudah melebihi pohon kelapa. Daunnya sangat lebat, tapi buah mangga merahnya yang kemarin lebat, sekarang sudah tidak ada satu pun. Semua buahnya jatuh dan busuk di tanah, mengeluarkan bau anyir yang menyengat lagi. Di batang pohon itu, keluar getah hitam kental yang menetes terus menerus ke tanah.

Ara menyorotkan senter ke bawah. Tanah di sekitar pohon itu bergerak-gerak sendiri, seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.

Tiba-tiba, dari balik pohon raksasa itu, muncul siluet seseorang. Ara langsung menyorotkan senter ke arah siluet itu.

Itu bukan Revan.

Itu adalah seorang laki-laki muda, umurnya sekitar dua puluh lima tahun, memakai kemeja putih bersih dan celana panjang hitam. Wajahnya tampan dan bersih, tidak seperti warga Langgur yang kulitnya sawo matang karena matahari. Di tangannya ada map hitam dan meteran bangunan. Di lehernya ada kalung ID Card bertuliskan PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA.

Laki-laki itu tersenyum melihat Ara, tapi senyumnya dingin.

"Selamat malam. Kamu Ara ya? Adiknya Revan yang viral kemarin karena hancurkan resort Pak Hendra?" kata laki-laki itu dengan logat kota yang kental.

Ara mundur selangkah. "Kamu siapa? Ngapain malam-malam di sini? Ini tanah kami."

Laki-laki itu tertawa pelan. "Perkenalkan, aku Dion. Dion Hendra. Anaknya Pak Hendra yang punya resort kemarin. Aku kesini bukan mau balas dendam kok. Aku kesini mau melanjutkan proyek ayahku, tapi yang lebih besar. Ayahku mau bangun resort, aku mau bangun tambang emas. Di bawah tanah Langgur ini ada emas banyak sekali, hasil tes lab kami. Termasuk di bawah rumah kamu dan di bawah pohon ini."

Darah Ara langsung mendidih. Jadi anaknya yang datang sekarang.

"Gak akan aku kasih! Tanah ini tanah adat! Pohon ini penjaga tanah kami! Kamu gak bisa ambil!" teriak Ara dengan suara keras.

Dion masih tersenyum dingin. Dia membuka map hitamnya dan menunjukkan beberapa lembar kertas.

"Ini sertifikat baru. Ayahku sudah urus sebelum resortnya hancur. Tanah dari pantai sampai ke rumahmu, semua sudah atas nama perusahaan kami. Sah secara hukum. Kalau kalian tidak mau jual, kami akan gusur paksa minggu depan pakai alat berat. Negara dukung kami, karena tambang emas ini untuk pembangunan Maluku."

Ara merebut kertas-kertas itu dan merobeknya. "Palsu! Itu palsu! Sama seperti sertifikat ayahmu yang palsu!"

Dion tidak marah kertasnya dirobek. Dia malah menatap pohon mangga raksasa di belakang Ara dengan mata berbinar serakah.

"Pohon ini unik ya. Tumbuh besar dalam tiga hari. Pasti akarnya sudah sampai ke urat emas di bawah. Justru bagus, jadi kami tidak perlu gali dalam-dalam. Kami tebang saja pohon ini besok pagi. Akarnya pasti sudah melilit emasnya."

Saat Dion mengatakan akan menebang pohon itu, angin kencang tiba-tiba datang dari arah laut. Daun-daun pohon mangga raksasa berguguran dan beterbangan. Akar-akar merah yang ada di tanah bergerak dengan sangat cepat dan melilit kaki Dion.

Dion terkejut dan mencoba melepas lilitan akar itu, tapi akarnya semakin kencang melilit.

Dari atas pohon mangga raksasa, muncul siluet Revan. Tapi kali ini wajah Revan tidak tenang seperti waktu pemakaman. Wajahnya marah, mata merah menyala lebih terang dari sebelumnya, dan jaket hitamnya berkibar kencang. Di belakang Revan, muncul lagi puluhan arwah penjaga tanah, tapi kali ini jumlahnya lebih banyak, hampir seratus orang, semua membawa tombak dan parang adat.

"Jangan sentuh pohon ini," suara Revan menggema keras, bukan hanya satu suara, tapi ratusan suara arwah yang berbicara bersamaan. Suaranya membuat tanah bergetar.

Dion yang kakinya masih dililit akar, wajahnya pucat ketakutan. Tapi dia masih mencoba sombong.

"Hantu! Kalian cuma hantu! Hantu tidak bisa lawan hukum! Aku akan kembali besok dengan polisi dan alat berat! Aku akan tebang pohon sialan ini!" teriak Dion sambil berusaha menarik kakinya.

Revan melompat turun dari atas pohon setinggi sepuluh meter tanpa terluka. Dia mendarat tepat di depan Dion. Wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari wajah Dion.

"Kamu mau tebang?" bisik Revan dengan suara dingin yang membuat bulu kuduk Ara merinding meski dia berdiri agak jauh. "Coba saja."

Lalu Revan menatap Ara. Tatapannya berubah lembut, tidak marah lagi.

"Jaga jaketnya, Ra. Jangan lepas. Besok mereka akan datang. Aku butuh kamu. Tanah ini butuh kamu."

Setelah berkata itu, Revan dan semua arwah penjaga tanah menghilang menjadi asap putih yang masuk kembali ke dalam batang pohon mangga raksasa. Akar yang melilit kaki Dion juga lepas dan masuk kembali ke dalam tanah.

Dion langsung lari tunggang langgang meninggalkan halaman belakang, map hitamnya tertinggal di tanah. Mobil hitamnya yang parkir di depan jalan desa langsung tancap gas pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak ban di tanah merah.

Ara memungut map hitam itu. Di dalamnya, selain sertifikat palsu, ada foto satelit tanah Langgur dengan tanda X besar tepat di bawah rumahnya dan di bawah pohon mangga raksasa. Ada tulisan tangan di foto itu: TITIK EMAS TERBESAR.

Ara menggenggam jaket hitam Revan erat. Perang pertama melawan Pak Hendra sudah selesai, tapi perang yang lebih besar melawan anaknya baru saja dimulai. Dan kali ini, mereka tidak hanya mau ambil tanahnya, mereka mau keruk isi perut bumi Langgur sampai habis.

Di bawah tanah, suara gemerisik akar semakin keras, seperti pohon mangga raksasa itu sedang bersiap untuk perang.

Ara tahu, besok pagi akan menjadi hari yang sangat panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!