NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Jam istirahat.

"Van, aku ke ruang dosen dulu ya, ngambil kuesioner," bisik Kila.

"Aku tunggu di kantin?" tawar Elvano.

Kila mengangguk.

Koridor gedung dosen jam istirahat biasanya ramai. Tapi siang itu anehnya sepi. Hanya AC yang berdengung.

Pintu ruang Pak Rhaegar tidak tertutup rapat. Terbuka sedikit.

Kila ketuk pelan. "Pak... permisi."

"Masuk."

Suara itu masih sama. Dingin.

Kila masuk dengan langkah ragu. Ruang dosen Pak Rhaegar tidak besar, tapi sangat rapi. Tidak ada kertas berantakan. Semua map hitam berjajar sempurna. Aroma parfum mahal yang sama seperti kemarin di restoran.

Pak Rhaegar sedang duduk di kursi kerjanya, kemeja putihnya lengan digulung sampai siku. Dia melepas jam mahalnya, ditaruh di meja. Baru kali ini Kila lihat pergelangan tangan Pak Rhaegar tanpa jam.

Di atas mejanya, ada satu map biru. Dan... satu kotak bekal kaca.

"Kila, duduk," kata Pak Rhaegar

Kila duduk di kursi depan mejanya, punggung tegak, seperti mahasiswi mau sidang.

"Kuesionernya sudah saya rekap. Kamu tinggal input lagi yang 10 responden terakhir. Kemarin kurang," kata Pak Rhaegar sambil mendorong map biru itu ke arah Kila.

Kila menerima. "Siap, Pak. Terima kasih."

Hening.

Kila pikir urusan selesai. Dia mau berdiri, tapi Pak Rhaegar menahan dengan satu kalimat.

"Mama kamu gimana?"

Kila membeku, lalu duduk lagi.

"Sudah... sudah lebih baik, Pak. Sidangnya singkat, karena buktinya lengkap."

Pak Rhaegar mengangguk pelan. Dia menatap Kila lekat.

"Tadi pagi... Elvar cerita sedikit tentang Mama kamu. Dan tentang Papa kamu," katanya pelan. Suaranya tidak sedingin tadi pagi di parkiran. Lebih rendah.

Kila menunduk. Tiba-tiba malu. Keluarga berantakannya diceritain Kak Elvar ke Pak Rhaegar.

"Terima kasih ya, Pak, kemarin di restoran... Kak Elvar senang sekali bisa ketemu Bapak lagi," kata Kila mencoba ganti topik.

Pak Rhaegar tidak menjawab soal itu. Dia malah mendorong kotak bekal kaca di mejanya ke arah Kila.

"Bawa pulang."

Kila kaget. "Ini apa, Pak?"

"Sup ayam. Mama saya masak kebanyakan tadi pagi. Elvar dulu suka. Saya tidak bisa makan semua," jawabnya datar, tapi telinganya... merah lagi seperti kemarin di restoran.

Kila menatap kotak bekal itu. Sup ayam bening, masih hangat, ada wortel dan ayam suwir. Ini sup yang sama yang diceritakan Kak Elvar kemarin di mobil. Sup dari Mama Pak Rhaegar yang baik.

"Pak... ini buat Kila?" tanya Kila pelan.

Pak Rhaegar berdeham, pura-pura merapikan map di mejanya.

"Elvar bilang kamu tidak bisa masak. Dan kamu baru balik dari luar kota. Pasti belum sempat belanja. Jangan sampai sakit tipes seperti kakak kamu dulu."

DEG.

Kila langsung ingat cerita Kak Elvar. Dulu waktu Kak Elvar tipes, Pak Rhaegar yang jagain 3 hari 3 malam tidak tidur.

Jadi... ini cara Pak Rhaegar menjaga?

Tidak pakai kata-kata manis, tidak pakai roti dan susu seperti Elvano.

Tapi pakai sup ayam buatan Mamanya yang diam-diam dibawain ke ruang dosen.

Kila menahan senyum. Pipinya panas.

"Terima kasih, Pak. Tapi Aku udah bisa masak kok Pak. Oiyaa nanti kotaknya Kila cuci dan Kila kembalikan," bisik Kila, suaranya kecil.

Pak Rhaegar mengangguk. "Satu lagi."

"Apa, Pak?"

"Motor matic putih kamu itu, rem belakangnya bunyi tadi pagi pas kamu parkir. Sudah cek ke bengkel?"

Kila melongo. Jadi tadi pagi, dia beneran ngeliatin sampai sedetail itu?

"Belum, Pak..."

"Nanti sore kamu bawa ke bengkel kenalan saya, nanti saya kasi alamatnya, bilang aja ke tukang bengkelnya saya yang merekomendasikan."

Kila tidak bisa menahan senyum lagi. Senyumnya lebar.

Pak Dosen Kulkas ini... kalau peduli, detailnya ngeri sekali. Dari kuesioner, sampai sup ayam, sampai rem motor.

"Siap, Pak. Terima kasih, Pak Rhaegar," kata Kila dengan suara ceria.

Pak Rhaegar menatap senyum Kila itu sekilas, lalu langsung buang muka ke laptopnya, pura-pura sibuk ngetik.

"Kamu bisa keluar sekarang. Saya ada kelas."

"Baik, Pak!"

Kila keluar dari ruang dosen membawa map biru dan kotak sup ayam hangat. Jantungnya berdebar tidak jelas.

Di koridor, Elvano sudah menunggu dengan dua es tehnya.

"Gimana? Dimarahin?" tanya Elvano panik.

Kila menggeleng, mengangkat kotak sup ayamnya.

"Dikasih sup ayam, Van."

Elvano bengong. "HAH? Pak Kulkas ngasih sup ayam? Buat siapa? Buat kamu?"

Kila mengangguk, pipinya masih merah.

"Gila... dia tidak pernah ngasih apa pun ke mahasiswa, Kil... paling mentok ngasih revisian 10 halaman," bisik Elvano tidak percaya.

Kila hanya tertawa kecil, memeluk kotak sup hangat itu.

Di dalam ruang dosen, Pak Rhaegar yang pura-pura ngetik tadi, mengintip dari celah gorden. Melihat Kila dan Elvano jalan berdua ke kantin sambil rebutan es teh, dengan kotak sup ayam di tangan Kila.

Dia menghela napas pelan, mengambil HP-nya, dan chat satu kontak:

*Rhaegar:* Supnya sudah saya kasih ke adik kamu, Var. Dia kelihatan sudah baikan.

 

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!