Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Bai Ling mendekat, meletakkan tangannya di atas bahu Jiang Yui untuk memberikan dukungan spiritual. "Jiang Yui, kutukan sekejam ini biasanya hanya dimiliki oleh para tetua agung dari sekte terlarang dimensi utara. Apa kita perlu melacak pelakunya?"
Jiang Yui tidak segera menjawab.
Ia berdiri tegak di samping sofa, menatap lekat-lekat garis-garis hitam yang merambat di wajah Mei Lan. Alisnya berkerut tipis, menunjukkan keseriusan yang amat jarang terlihat.
"Tidak perlu melacak pelakunya, Bai Ling, jawab Jiang Yui dingin.
"Orang-orang yang menciptakan kutukan pengecut seperti ini sudah pasti hidup dalam ketakutan dan kebencian mereka sendiri. Yang terpenting sekarang bukan menghukum mereka, tapi menyelamatkan jiwa gadis ini sebelum ingatannya benar-benar lenyap tak bersisa."
Mei Lan membuka matanya perlahan.
Air mata bercampur darah kembali menetes ke bantal. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mencengkeram ujung jubah putih Jiang Yui.
"Yang Mulia..." bisik Mei Lan lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
"Aku... aku mulai lupa suaranya... Aku bahkan sudah lupa warna jubah yang ia kenakan saat terakhir kali kami berjanji di bawah pohon plum... Tolong... jangan biarkan aku melupakannya..."
Tangisan itu memecah ketenangan malam.
Nona Mei yang berdiri di sudut ruangan bahkan ikut menyeka air matanya, sementara Liu Tian mengalihkan pandangan ke luar jendela dengan rahang mengeras menahan amarah.
Jiang Yui menarik napas panjang. Ia berjongkok kembali, menatap mata Mei Lan dengan penuh keyakinan.
"Dengar, Mei Lan," kata Jiang Yui dengan suara yang begitu tenang dan menghanyutkan.
"Ingatan tentang orang yang kau cintai tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi di sudut paling dalam dari jiwa yang terluka. Dan aku... adalah Makcomblang Agung yang bertugas merajut kembali benang takdir yang sengaja diputus oleh orang-orang bodoh."
Jiang Yui mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, pendar cahaya keemasan yang hangat dan lembut mulai berpendar terang, memancarkan aroma wangi bunga persik yang menenangkan.
"Murong Chen, siapkan kendi giok penyaring jiwa dan dupa spiritual dari bunga bintang!" perintah Jiang Yui tegas.
"Bai Ling, bantu aku menjaga kestabilan energi di sekitar ruangan agar kutukan itu tidak memantur keluar."
"Baik, Paman!" seru Murong Chen sigap, berlari mengambil peralatan yang dibutuhkan.
"Serahkan padaku," balas Bai Ling mantap, mengalirkan hawa es spiritual yang membentuk perisai transparan di sekeliling ruangan untuk menahan aura hitam kutukan agar tidak menyebar.
Jiang Yui perlahan mendekatkan telapak tangannya yang berpendar ke dahi Mei Lan. Begitu cahaya keemasan itu menyentuh kulit wanita tersebut, jeritan tertahan keluar dari bibir Mei Lan.
Kutukan hitam di wajahnya memberontak hebat, mencuat keluar seperti ribuan jarum tak kasat mata yang mencoba menusuk tangan Jiang Yui.
"Kau pikir bisa merusak jiwa di hadapanku?" geram Jiang Yui rendah.
Ia mengerahkan seluruh kekuatan kosmik asmaranya, memaksa cahaya keemasan itu menerobos masuk ke dalam lautan kesadaran Mei Lan.
Di dalam ruang memori wanita itu, kekacauan luar biasa terjadi, kabut hitam pekat merobek-robek kepingan kenangan, menghapus senyuman seorang pemuda berambut hitam yang berdiri di bawah pohon plum bersalju.
Tidak akan ku biarkan! batin Jiang Yui tegas.
Dengan gerakan tangan yang cepat dan presisi, Jiang Yui menangkap serpihan-serpihan kenangan yang hampir musnah itu, menyatukannya kembali dengan benang empati dan ketulusan jiwa, lalu meniupkan kehidupan baru ke dalam memori yang hampir mati.
BZZZZT....!
Seketika itu juga, ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari tubuh Mei Lan. Aura hitam kutukan itu menjerit keras sebelum akhirnya hancur berkeping-keping dan tersedot habis ke dalam kendi giok yang dipegang oleh Murong Chen.
Di dalam ruangan, napas Mei Lan yang tadinya tersengal-sengal kini perlahan menjadi teratur.
Garis-garis hitam di wajahnya memudar dan lenyap sepenuhnya, menyisakan wajah pucat namun tenang dalam tidur lelapnya.
Mei Lan membuka matanya perlahan. Air matanya masih menetes, tetapi kali ini bukan karena keputusasaan atau rasa sakit, melainkan karena kelegaan yang teramat sangat.
Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Jiang Yui dengan senyuman terindah yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.
"Aku... aku mengingatnya..." bisik Mei Lan dengan suara bergetar bahagia. "Namanya... Feng Yi... dan aku ingat persis bagaimana suara tawanya saat kami berjanji di bawah pohon plum..."
Jiang Yui tersenyum hangat, berdiri perlahan dan merapikan jubahnya. Ia menghela napas lega, merasakan beban kutukan itu telah sepenuhnya diangkat dari pundak sang gadis.
"Baguslah," ucap Jiang Yui lembut.
"Sekarang, istirahatlah dengan tenang, Mei Lan. Karena esok hari, kita akan memulihkan sisa benang takdir yang sempat terputus itu."
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧