Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Damian menghela napas panjang, menatap wanita cerdik di hadapannya dengan rasa campur aduk antara jengkel dan takjub.
Mengingat laporan Lukas tadi, bahwa si kembar perlahan mulai menunjukkan sedikit perubahan sejak kedatangan Zoey, Damian tahu ia memang membutuhkan campur tangan wanita ini di dalam rumah.
“Baiklah. Aku setuju.”
“Semudah ini dia menyerah?” pikir Zoey dalam hati dengan sebelah alis terangkat heran.
Namun sedetik kemudian ia menepis keraguan itu. Terserah apa alasannya, yang terpenting Damian sudah mengibarkan bendera putih.
Seketika itu juga tangisan palsu Zoey lenyap tanpa bekas, digantikan seringai manis nan memesona. Zoey membungkuk cepat, mendaratkan kecupan hangat di pipi Damian.
Sebelum Damian sempat membalas atau memintanya membuka simpul dasi yang melilit tangannya, Zoey sudah berbalik dan melenggang santai menuju pintu keluar.
“Terima kasih atas kerja samanya, Suamiku yang tampan! Selamat malam!” seru Zoey riang tanpa menoleh.
“Tunggu!”
Suara bariton yang dingin itu membuat langkah Zoey terhenti. Begitu ia berbalik, matanya membelalak sempurna.
Dasi yang tadi mengikat tangan Damian kini sudah teronggok mengenaskan di atas karpet. Dan entah sejak kapan Damian sudah berdiri tegap di hadapannya, merapikan kemeja dengan ekspresi amat santai.
“Kau?!” Zoey menunjuk wajah Damian dengan telunjuk gemetar. “B–bagaimana bisa lepas?!”
“Kau terkejut, Istriku?” Damian menyeringai. Ia melangkah maju dan menyambar pinggang ramping Zoey.
“Kau pikir hanya kau yang bisa bermain licik di sini, hmm?”
“Sial, aku benar-benar salah memilih lawan!” batin Zoey memaki kebodohannya. Jantungnya berdentum kencang, tapi harga dirinya menolak runtuh.
Zoey berdehem pelan, memaksakan senyum percaya diri yang kaku.
“Apa maumu?” tanya Zoey dengan nada setenang mungkin.
“Imbal balik dari persetujuanku,” bisik Damian serak.
Alih-alih mundur, Damian justru menundukkan wajahnya, mengendus ceruk leher Zoey hingga aroma manis vanila menguar tajam.
Bulu kuduk Zoey seketika meremang hebat. Damian memanfaatkan keterkejutan itu untuk me-nyesap kulit halus di perpotongan bahu istrinya, lalu menggigitnya kecil penuh perhitungan.
“Ugh, Damian... apa yang kau—ah!”
Zoey meremas kuat pundak Damian tatkala pria itu meng-hisap kulitnya makin dalam tanpa ampun, meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok di sana.
Sensasi panas seketika menyengat dari leher menjalar ke seluruh tubuh Zoey.
Belum sempat Zoey menarik napas, telapak tangan kanan Damian yang besar dan luar biasa hangat tiba-tiba menyusup ke balik belahan gaun tidur sutranya.
Jemari pria itu mendarat mulus di paha telan-jang Zoey, mengusap kulit mulus bagian dalam itu perlahan, kian lama kian naik mendekati batas sensitifnya.
“Damian... hentikan...” bisik Zoey dengan napas tersengal, kedua matanya terpejam pasrah tatkala sentuhan itu terasa begitu intim dan membakar.
Pikirannya sudah menduga hal terjauh akan terjadi di atas lantai ruang kerja ini.
Tepat di saat tubuh Zoey menegang menunggu kelanjutan sentuhan itu, Damian tiba-tiba mencubit paha Zoey dengan cukup keras.
“Aduh!” Zoey terlonjak kaget, membuka matanya lebar-lebar.
Damian menarik tangannya kembali, lalu tertawa mengejek tanpa beban. “Kenapa wajahmu tegang begitu? Kau mengira aku akan me-nelanjangi mu di sini?”
Zoey mematung, menyadari dirinya baru saja dikerjai habis-habisan oleh pria ini. Darahnya langsung mendidih sampai ke ubun-ubun.
“Layani aku selayaknya istri sesungguhnya. Jika kau menolak satu poin saja, seluruh kekuasaan yang kau minta tadi ku batalkan detik ini juga,” lanjut Damian dengan nada memerintah.
“Maksudmu apa?! Melayanimu di ranjang setiap malam?! Aku tidak sudi,” pekik Zoey spontan seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Pletakk!
“Sakit, Damian!” keluh Zoey sembari mengusap dahinya yang baru saja disentil keras oleh jemari Damian.
“Dasar otak mesum!” ejek Damian sembari memutar bola matanya malas dan memalingkan muka.
“Memangnya siapa yang berniat menidurimu? Lihat tubuhmu itu, kurus dan tidak ada menarik-menariknya sama sekali di mataku.”
“Apa kau bilang?!” Zoey mendelik murka.
“Maksudku, siapkan pakaian kerjaku setiap pagi, sediakan sarapanku, dan perlakukan aku dengan sopan di depan orang lain,” tandas Damian tegas.
“Dan satu lagi, aku butuh sekertaris. Aku mau kau menjadi sekretaris pribadiku di kantor. Jika sewaktu-waktu aku memanggilmu, kau harus siap tanpa alasan. Mengerti?”
Tanpa menunggu bantahan dari Zoey yang masih melongo syok, Damian melenggang pergi begitu saja melewati pintu, meninggalkan istrinya yang terpaku.
”Pria arogan sialan! Dia selalu saja bertindak seenak jidatnya,” gerutu Zoey setengah histeris seraya menghentakkan kakinya ke lantai.
Tok, tok!
Pintu yang setengah terbuka diketuk pelan. Zoey buru-buru membetulkan gaun tidurnya dan menoleh cepat.
“Victor?” Zoey mematung mendapati anak sambungnya berdiri di ambang pintu.
Remaja itu tampak canggung luar biasa. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara pandangannya sengaja dilempar ke sudut dinding.
Jelas-jelas gengsi menatap wajah Zoey secara langsung.
“Kau... belum tidur?” tanya Victor.
“Belum. Ada apa, Victor? Lukamu di sekolah tadi siang terasa sakit lagi?”
Melihat kekhawatiran di wajah wanita itu, telinga Victor memerah samar. Ia berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya.
“Bukan itu,” gumam Victor pelan. Ia menarik napas panjang, tampak bergulat hebat dengan harga dirinya sebelum akhirnya bicara.
“Kepala sekolah sialan itu menelepon lagi. Dia meminta perwakilan orang tuaku datang ke ruangannya besok jam sembilan pagi.”
Zoey menatap Victor lekat. “Lalu? Kau sudah memberi tahu papamu?”
“Aku tidak sudi bicara dengannya. Dia cuma akan memaki dan mengurungku,” balas Victor melirik Zoey dengan enggan.
“Bisakah... kau yang datang besok, Zoey?” pintanya.
Melihat remaja pemberontak itu akhirnya menurunkan egonya demi meminta tolong, senyum lembut perlahan mengembang di bibir Zoey.
“Tentu saja aku akan datang. Aku akan bereskan urusan kepala sekolahmu itu,” jawab Zoey mantap.
Victor mendengus pelan, buru-buru membuang muka agar Zoey tak melihat raut leganya.
“Jangan besar kepala dulu! Aku terpaksa memintamu karena tidak ada pilihan lain. Bukan berarti aku menyukaimu jadi ibu tiriku!”
Setelah melontarkan kalimat ketus khas remajanya, Victor berbalik cepat dan melangkah tergesa-gesa menuju kamarnya.