Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik...
Di dalam ruang komando bawah tanah kediaman Uchiha, pendaran lampu indikator di jajaran monitor raksasa memantulkan bayangan dua pria dewasa.
Shisui dan Hatake Kakashi berdiri tegap di depan terminal server utama. Jemari Shisui menari cepat di atas kibor mekanik, membedah lapis demi lapis algoritma enkripsi yang semalam sempat menjadi misteri.
"Satu per satu benang kusutnya mulai terurai, Kakashi," bisik Shisui dengan suara beratnya yang fokus.
Layar monitor mendadak berkedip hijau, menampilkan pemetaan geolokasi lalu lintas data yang melompati server Universitas Tokyo. Garis sinyal merah yang tadinya berputar-putar di dalam negeri, kini meluncur lurus menembus batas samudera dan terkunci di satu titik koordinat spesifik.
Mata kelam Kakashi menyipit tajam. "Bukan server lokal?"
"Bukan," sahut Shisui sambil menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Laptop Mahira di kampus cuma dipakai sebagai relay proxy. Pusat kendali peretas yang sebenarnya... berada langsung di daratan Tiongkok."
"Klan musuh bersembunyi di sana," timpal Kakashi, mengepalkan tangannya rapat. "Sangat rapi, tapi akhirnya jejak mereka ketahuan juga."
Di saat Shisui dan Kakashi berhasil mengurai benang merah sang peretas, di lantai paling atas menara Uchiha Group di daerah Marunouchi, suasana ruang kerja CEO terasa amat sangat megah dan berwibawa.
Itachi Uchiha duduk anggun di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni langka. Pria itu mengenakan kemeja hitam bergaris halus dan dasi sutra, memancarkan aura pemimpin korporat global yang sangat dingin dan tidak tersentuh.
Pintu ruang kerja berdesain kedap suara itu terkuak. Haneda—kepercayaan tim intelijen bisnis Uchiha Group—melangkah masuk membawa map dokumen tebal berlambang khusus.
"Tuan Itachi," panggil Haneda sambil membungkuk hormat. "Ada laporan penting terkait aliran dana internal Universitas Tokyo yang terhubung dengan rekening yayasan klan kita."
"Bicaralah," sahut Itachi datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Sesuai perintah Anda, saya menelusuri transaksi janggal selama tiga bulan terakhir," panggil Haneda melaporkan. "Sabtu sore ini, seluruh data akuntansi berhasil terkumpul. Ada indikasi penggelapan dana hibah penelitian dan fasilitas kampus dalam jumlah yang sangat masif."
Haneda membuka map dokumen tersebut di atas meja Itachi.
"Pelaku utamanya adalah sang Dekan Fakultas Bisnis," lanjut Haneda. "Pria tua itu secara aktif mencuci uang kampus lewat perusahaan luar. Dan yang lebih menarik... pejabat kampus ini sering sekali bergonta-ganti wanita."
Itachi menyandarkan punggungnya di kursi kulit mewahnya. Jemarinya yang panjang merapikan posisi penanya. Tatapan matanya yang tajam bagaikan pisau es menatap dokumen penggelapan dana tersebut.
"Jadi... dia menguras dana kampus untuk kantong pribadinya?" gumam Itachi dingin.
"Benar, Tuan Itachi. Apakah perlu saya teruskan laporan ini ke pihak kepolisian sekarang?" tanya Haneda.
Itachi mengetukkan jarinya pelan di atas meja. Sebuah sunggingan tipis yang amat sangat berbahaya terukir di bibirnya.
"Jangan dulu," potong Itachi tenang. "Kalau langsung ditangkap sekarang, kurang seru. Kita berikan mereka kejutan yang lebih menggemparkan."
Itachi berdiri, melangkah menuju jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan lanskap kota Tokyo dari ketinggian.
"Jadwal audit menyeluruh untuk Universitas Tokyo biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali, kan?" ujar Itachi dengan nada suara yang penuh wibawa. "Hari Senin besok... saya sendiri yang akan turun langsung ke kampus untuk melakukan Audit Dadakan."
Sementara Itachi sedang merancang skenario audit raksasa untuk hari Senin, malam minggu ini Izumi justru sama sekali tidak dilibatkan dalam urusan kerjaan lapangan yang berat.
Sebagai sekretaris sekaligus orang terdekat Itachi, Izumi diberikan waktu libur penuh oleh sang CEO untuk menikmati malam minggunya.
Di pelataran parkir sebuah cafe lounge estetik di kawasan Omotesando, sebuah mobil imut yang amat sangat modis terparkir anggun—sebuah Mini Cooper 3-Door warna baby pink yang menggemaskan dengan atap dan velg warna hitam pekat. Mobil mewah berukuran kompak itu adalah salah satu fasilitas manis yang khusus disediakan oleh Itachi agar Izumi bisa jalan-jalan santai saat akhir pekan tanpa perlu repot.
Cr. Pinterest
Izumi baru saja turun dari Mini Cooper pink-nya bersama dua orang sahabat dekatnya.
Penampilan Izumi malam minggu ini memancarkan gaya casual-chic yang amat sangat manis dan segar.
Izumi mengenakan kaos I Love Paris T-Shirt warna putih berkerah merah dari DIOR, dilapisi dengan jaket Cotton Citizen Manhattan Zip Hoodie warna putih bersih yang resletingnya dibiarkan terbuka santai. Bawahannya dipadukan dengan celana jins RE/DONE Stove Pipe Jeans warna biru klasik dengan aksen sobekan manis di bagian lutut yang santai. Kakinya dibungkus sepatu kets Adidas Forum Luxe Low Sneakers warna putih. Untuk menyempurnakan gayanya, Izumi menyampirkan tas AVAM Red Swing Bag warna krem bertepi merah di tangannya dan mengenakan topi EMIS Corduroy Red Cap warna merah menyala di kepalanya.
REFERENSI OUTFIT by JISOO BLACKPINK
"Wah, Izumi! Mobil pink dari bos kamu ini imut banget anjir!" puji salah satu temannya sambil mengelus bodi Mini Cooper itu.
"Iya dong, nyaman banget lagi dibawanya," sahut Izumi tersenyum manis, membetulkan posisi topi merahnya.
Ketiga gadis itu melangkah masuk ke dalam lounge, memesan minuman dingin dan makanan ringan, lalu duduk ngerumpi santai di sofa sudut yang teduh. Mereka tertawa lepas, membicarakan topik-topik random mulai dari rekomendasi tempat liburan, kosmetik terbaru, sampai gosip harian—benar-benar melepaskan seluruh penat usai seminggu penuh berkutat dengan berkas-berkas kantor Uchiha Group.
Namun, di tengah-tengah keasyikan mereka tertawa...
BZZZT... BZZZT...
Ponsel canggih di atas meja milik Izumi mendadak bergetar. Layar ponsel menampilkan nama kontak yang membuat alis Izumi seketika terangkat: Itachi Uchiha.
Izumi mengerutkan keningnya. "Perasaan ini hari Sabtu malam jam sembilan... ada urusan darurat apa bos gue telepon?" batin Izumi heran.
Izumi menggeser layar, menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.
"Selamat malam, Itachi-san. Ada hal darurat di kantor?" tanya Izumi formal tapi santai.
Di ujung telepon, suara berat dan dingin milik Itachi terdengar berdehem pelan. "Ekhem... Izumi. Dokumen laporan kuartal empat yang kamu simpan di folder server internal... apakah sudah kamu cek ulang angka marginnya?"
Izumi seketika memutar bola matanya, menahan rasa gemas yang luar biasa!
"bener-bener ya lu Itachi!" omel Izumi dalam hati. "Laporan kuartal empat kan udah gue benerin dan gue kirim dari Jumat sore! Mana mungkin ada yang salah!"
Izumi tahu betul kelakuan bosnya yang satu ini. Itachi itu dasar sifat dasarnya memang tsundere tingkat dewa! Pria itu murni bingung mau cari alasan apa buat menghubungi Izumi di malam minggu, jadi dia sengaja membawa-bawa topik pekerjaan konyol cuma demi mencari tahu keberadaan sekretaris cantiknya!
"Sudah saya periksa dan angkanya sudah sempurna sejak kemarin sore, Itachi-san," sahut Izumi sambil menahan senyum geli di bibirnya. "Apakah ada yang perlu saya bantu lagi malam-malam begini?"
Hening sejenak di ujung telepon. Itachi tampak terdiam sebentar sebelum kembali bersuara dengan nada lempeng yang sok dingin.
"...Bagus kalau begitu. Kamu... sedang berada di mana malam ini?" tanya Itachi akhirnya, meloloskan pertanyaan utamanya.
Izumi tersenyum jahat, sengaja menggoda bos gengsinya itu. "Saya lagi nongki cantik sama teman-teman di Omotesando, Itachi-san. Mumpung mobil pink fasilitas dari Anda enak banget dipakai jalan-jalan."
"Mmm. Jangan pulang terlalu larut. Jalanan malam minggu agak ramai," balas Itachi singkat
"Baik, Itachi-san. Terima kasih atas perhatiannya~" goda Izumi dengan nada manja yang sengaja ditinggikan.
KLIK.
Panggilan terputus. Teman-teman Izumi yang memperhatikan percakapan itu langsung meledak tertawa goda.
"Aww! Bos ganteng kamu perhatian banget anjir!"
"Gengsi banget nanyain lagi di mana pake kedok nanyain berkas kantor! Wkwkwk!"
Izumi menyeruput minumannya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan pipi yang sedikit merona merah. "Dasar Itachi koplak... gengsinya setinggi langit menara Uchiha!"
Di saat malam makin larut, situasi di markas bawah tanah klan Uchiha kembali menjadi sangat fokus.
Shisui dan Kakashi berdiri di depan peta digital jaringan internasional. Setelah menemukan lokasi pasti sang peretas yang berada di Tiongkok, kedua eksekutor senior Uchiha ini tidak berniat menunggu musuh bergerak duluan.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka terus-terusan menyerang dari jauh," tegas Kakashi, membetulkan posisi masker hitamnya. "Kita harus memotong kepala ular itu langsung di tempatnya."
Shisui mengangguk setuju. Pria green flag itu merogoh ponsel khususnya yang terenkripsi jalur diplomatik bawah tanah.
"Gue bakal hubungi kolega kita di Tiongkok malam ini," ujar Shisui tenang tapi pekat. "Kita minta bantuan jaringan Yakuza dan Triad lokal di sana buat menyiapkan logistik, tempat aman, dan persenjataan."
Shisui menekan nomor kontak rahasia, lalu menempelkan ponselnya ke telinga. Tak butuh waktu lama, suara koneksi khusus terhubung dengan seorang pemimpin jaringan sekutu di Shanghai.
"Shisui Uchiha... ada angin apa tiba-tiba menghubungi kami?" sapa suara berat di ujung telepon menggunakan bahasa Mandarin yang fasih.
Shisui menyunggingkan senyuman dinginnya. "Sahabatku... aku dan Kakashi butuh bantuan kalian. Ada beberapa peretas pengganggu yang bersembunyi di wilayah kalian dan berani mengusik klan Uchiha."
"Haha! Siapa pun yang berani mengusik Uchiha adalah musuh kami juga. Katakan apa yang kalian butuhkan, Shisui."
"Siapkan jalur pengamanan VVIP dan tim taktis di daratan," bisik Shisui dengan pendaran mata Yakuza yang sangat tajam. "Dalam waktu dekat... gue sama Kakashi bakal terbang langsung ke Tiongkok buat meratakan mereka sampai ke akar-akarnya."
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.