Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 - Arga Berdiri di Depan
Reza masih berada di aula ketika mereka kembali.
Ia tidak kabur. Itu membuat Nadira semakin yakin ia sudah menyiapkan wajah tidak bersalahnya sejak awal. Orang seperti Reza tidak selalu berlari setelah melempar batu. Kadang ia berdiri di sana, menunggu korban tampak lebih kacau darinya.
Nadira masuk bersama Mama Ratih, Arga, Kevin, Maya, dan Bima.
Percakapan di aula langsung melemah. Beberapa tamu pura-pura sibuk dengan piring. Beberapa yang tadi menonton dengan mata lapar kini menunduk.
Mama Ratih menggenggam tangan Nadira terlalu kuat.
"Tidak apa-apa, Ma," bisik Nadira.
"Ibu takut."
"Aku juga."
Mama Ratih menoleh kaget.
Nadira tidak tersenyum. "Tapi kita tetap jalan."
Arga mendengar itu. Matanya bergerak ke wajah Nadira, lalu turun ke tangan Mama Ratih yang gemetar. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi bahunya seperti mengeras.
Kevin naik ke panggung lebih dulu. Ia mengambil mikrofon dari staf.
"Bapak dan Ibu, acara malam ini dihentikan."
Beberapa orang mulai bergerak, tapi Kevin mengangkat tangan.
"Sebelum Anda semua pulang, saya harus menyampaikan satu hal. Video yang diputar tadi tidak disetujui oleh Hartono Group, tidak ada dalam susunan acara, dan saat ini sedang kami serahkan kepada pihak berwenang untuk diperiksa."
Reza berdiri dari meja samping. "Mas Kevin, jangan dramatis. Saya hanya ingin melindungi perusahaan."
Kevin menatapnya. "Dengan menayangkan rekaman seorang ibu tanpa izin?"
"Kalau isi rekaman itu benar, publik berhak tahu."
Maya langsung menyahut, "Publik yang mana? Ini makan malam tertutup, bukan sidang rakyat."
Beberapa tamu menahan napas.
Reza menunjuk Maya. "Anda tidak punya hak bicara di sini."
"Saya punya telinga. Sayangnya telinga saya bekerja."
Nadira hampir tertawa kalau situasinya tidak begitu buruk.
Arga maju ke tengah aula. Ia tidak mengambil mikrofon. Suaranya cukup jelas tanpa alat.
"Saya yang akan bicara."
Nadira menoleh cepat. "Arga..."
Ia menatap Nadira sebentar. Bukan meminta izin seperti anak kecil. Lebih seperti bertanya, apakah aku boleh berdiri di depan kali ini?
Nadira tidak mengangguk. Tapi ia juga tidak melarang.
Arga melihat seluruh ruangan.
"Nama saya Arga Pratama Wijaya. Saya suami Nadira Prameswari. Saya orang yang selama bertahun-tahun gagal menjalankan pernikahan saya dengan benar."
Ruangan benar-benar diam.
"Nadira tidak pernah meminta uang kepada keluarga saya. Dia tidak pernah memakai nama saya untuk naik jabatan. Dia bekerja sebagai dokter sebelum saya mengakui dia di depan orang banyak. Kalau ada orang yang ingin mencari siapa yang pantas disalahkan dalam rumah tangga kami, orang itu saya."
Mama Ratih menatap Arga dengan mata basah.
Nadira merasa tenggorokannya seperti tertutup.
Di meja rumah sakit, dr. Rini menunduk pelan, lalu berkata cukup keras untuk didengar orang di sekitarnya, "Dokter Nadira memang begitu. Dia bahkan menolak fasilitas tambahan waktu jadwal jaga kacau. Kalau ada yang bilang dia mengejar uang, orang itu tidak pernah kerja dengannya."
Pak Damar ikut mengangguk. "Ruang anak ini butuh dia. Bukan sebaliknya."
Ucapan sederhana itu membuat beberapa tamu berhenti berbisik. Nadira tidak menyangka pembelaan kecil dari rekan kerja bisa terasa sehangat itu. Ia selalu mengira reputasi harus dipertahankan sendirian. Malam itu, dua orang dari rumah sakit berdiri tanpa diminta.
Reza tertawa pelan. "Pengakuan menyentuh, Mayor. Tapi masalahnya bukan hanya rumah tangga Anda. Masalahnya keluarga Dokter Nadira membicarakan kompensasi."
Arga berbalik. "Kamu punya rekaman penuh?"
"Saya tidak wajib menyerahkan sumber."
"Berarti kamu tidak bisa membuktikan konteks."
"Konteks tidak mengubah kalimat."
"Konteks selalu mengubah kalimat," kata Arga. "Seorang ibu yang ditakut-takuti bisa bicara berantakan. Itu tidak membuat anaknya penipu."
Reza tersenyum tipis. "Anda sangat cepat belajar membela istri yang dulu Anda lupakan."
Kalimat itu mengenai sasaran. Nadira melihat rahang Arga mengeras.
Reza melanjutkan, "Mungkin rasa bersalah membuat orang buta."
"Mungkin keserakahan juga," kata Kevin.
Reza menoleh tajam. "Hati-hati, Mas."
"Tidak. Kamu yang hati-hati." Kevin turun dari panggung dan berdiri berhadapan dengannya. "Aku sudah cukup menutup mata karena kamu keluarga. Vania menghilang setelah mencemarkan nama dokter yang kita undang. Kamu menyimpan video ibunya. Sopir yang menjemput Ibu Ratih menerima pesan dari nomor bernama Dewi, dan pesannya menyebut video diputar. Apa kamu masih mau bilang ini kebetulan?"
Reza mengangkat kedua tangan. "Silakan buktikan."
Bima maju dan menyerahkan ponsel Yusuf ke Arga. "Mayor, nomor pemesan sudah dilacak awal. Kartu prabayar. Tapi perangkat yang dipakai sempat menyala dekat Menara Hartono sore tadi."
Wajah Reza berubah.
Kecil saja, tapi cukup.
Nadira melihatnya. Kevin juga.
Reza cepat tertawa. "Menara Hartono punya ribuan orang."
"Benar," kata Arga. "Karena itu kami cek CCTV."
"Anda tidak punya wewenang mengambil CCTV gedung swasta."
Kevin berkata dingin, "Saya punya."
Reza menatap Kevin seperti baru sadar malam ini tidak berjalan sesuai rancangan.
Di sudut aula, seorang perempuan muda yang sejak tadi berdiri dekat meja dessert bergerak cepat menuju pintu. Maya melihat lebih dulu.
"Hei! Itu staf yang tadi pegang laptop!"
Bima langsung berlari. Perempuan itu panik dan menabrak pelayan yang membawa nampan gelas. Gelas-gelas jatuh. Pecahan menyebar.
Nadira secara refleks menarik Mama Ratih mundur, tapi satu tamu laki-laki yang berdiri di dekatnya mendorong kursi dengan keras. Kursi itu mengenai meja kecil. Vas bunga jatuh ke arah Nadira.
Arga bergerak lebih cepat daripada siapa pun.
Ia menutup tubuh Nadira dan Mama Ratih dengan punggungnya.
Vas itu pecah di bahunya. Air dan pecahan kaca menghantam lantai. Satu serpihan mengenai sisi lengan Arga, merobek kain batiknya.
"Arga!" Nadira memegang lengannya.
Darah muncul.
"Aku tidak apa-apa."
"Diam."
Nada Nadira membuat beberapa orang yang hendak bicara langsung bungkam.
Ia memeriksa luka itu cepat. Tidak dalam, tapi panjang. Lebih buruk, gerakan mendadak itu membuat wajah Arga pucat. Luka lamanya belum sepenuhnya pulih.
"Kamu pusing?"
"Sedikit."
"Bima, kursi."
Bima yang baru kembali sambil menahan perempuan staf itu langsung mendorong kursi.
Arga hendak menolak, tapi Nadira menatapnya.
"Duduk."
Ia duduk.
Mama Ratih masih gemetar. "Nad, dia berdarah."
"Saya urus, Ma."
Perempuan staf yang ditahan Bima menangis. "Saya cuma disuruh upload file! Saya tidak tahu isinya!"
Kevin mendekat. "Siapa yang menyuruh?"
Perempuan itu menatap Reza.
Reza membentak, "Jangan sembarangan!"
Tangis perempuan itu pecah. "Pak Reza bilang cuma video klarifikasi. Saya tidak tahu akan ada ibu-ibu..."
Ruangan bergemuruh. Kali ini bisik-bisik tidak lagi diarahkan pada Nadira.
Kevin memejamkan mata. "Reza."
Reza mundur satu langkah. "Dia bohong."
Maya mengangkat ponselnya lagi. "Bagus. Semua orang dengar."
Arga mencoba berdiri, tapi Nadira menekan bahunya. "Aku bilang duduk."
Ia menurut.
Nadira mengambil kotak P3K dari staf hotel. Tangannya bergerak cekatan membersihkan darah. Arga menatapnya terus, seolah ingin bicara.
"Jangan minta maaf sekarang," kata Nadira tanpa melihatnya.
"Aku tidak..."
"Kamu akan."
Arga diam.
Nadira membalut lukanya. "Kamu selalu muncul dengan luka baru saat aku hampir bisa bernapas."
Kalimat itu keluar lebih jujur daripada yang ia rencanakan.
Arga menunduk. "Maaf."
Nadira berhenti sebentar, lalu melanjutkan balutan. "Aku sudah bilang jangan sekarang."
Di belakang mereka, Kevin meminta keamanan menahan Reza dan staf laptop sampai polisi datang. Reza masih membantah, tapi suaranya mulai kehilangan kekuatan.
Mama Ratih duduk di samping Nadira. Ia melihat Arga dengan mata yang berbeda dari tadi.
"Kamu melindungi kami," katanya pelan.
Arga menoleh. "Saya terlambat melindungi Nadira terlalu banyak kali, Bu."
Mama Ratih meneteskan air mata. "Tapi malam ini kamu tidak terlambat."
Nadira mengikat balutan terakhir.
Arga melihatnya. "Aku tidak melakukan itu untuk mendapatkan maaf."
"Bagus," kata Nadira.
"Aku cuma..."
"Arga."
"Ya?"
"Aku tahu."
Dua kata itu membuat Arga diam lama.
Malam itu belum selesai. Polisi belum datang. Reza belum jatuh sepenuhnya. Vania masih belum terlihat.
Tapi untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, Nadira merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di depan serangan, bukan berdiri di belakang alasan.
Ponsel Kevin berbunyi lagi.
Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.
"Apa?" tanya Nadira.
Kevin menatapnya.
"Vania mengirim pesan."
Arga langsung berdiri meski Nadira memelotot.
Kevin menunjukkan layar.
Pesan itu singkat.
Kalian sibuk dengan Reza, tapi belum bertanya kenapa aku tahu ibu angkat Nadira.