NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6: Sentuhan Pertama Yang membeku

Suasana di meja makan keluarga Aristha terasa padat oleh tekanan. Lampu kristal yang menggantung elegan di atas meja memantulkan kilau piring-piring porselen mewah, namun kehangatan sebuah makan malam keluarga sama sekali tidak terasa di sana.

​"Ibu masih tidak mengerti," suara Nyonya Rosalinda memecah keheningan saat pelayan menyajikan hidangan utama. Matanya menatap Aira tanpa berkedip. "Reynand tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Bagaimana mungkin kamu yang baru beberapa waktu menjadi asistennya bisa mendadak menjadi tunangannya?"

​Devan terkekeh tipis dari seberang meja. "Ibu benar. Rasanya terlalu pas, bukan? Tepat saat foto skandal itu bocor tadi pagi, tiba-tiba timbul narasi bahwa mereka sudah bertunangan. Jangan-jangan ini hanya sandiwara untuk menyelamatkan harga saham Aristha Corp?"

​Aira merasakan genggaman jemarinya di bawah meja mengencang. Sebelum ia sempat merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaannya yang memojokkan itu, sebuah tangan hangat dan besar tiba-tiba menggenggam jemarinya.

​Reynand memotong steak di piringnya dengan tenang, lalu menoleh menatap Aira. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es mendadak berubah lembut—sebuah akting yang begitu sempurna hingga membuat dada Aira berdesir hebat.

​"Devan," ujar Reynand seraya meletakkan pisau dan garpunya dengan denting halus. "Tidak semua hal dalam hidup saya harus menjadi konsumsi publik atau pengumuman di rapat dewan. Saya menahan pengumuman ini justru karena saya ingin melindungi Aira dari tatapan sinis orang-orang seperti dirimu."

​Reynand kemudian mengangkat tangan Aira yang digenggamnya ke atas meja, memperlihatkan cincin berlian yang melingkar indah di jari manis wanita itu. Tanpa diduga, Reynand mendekatkan jemari Aira ke bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di punggung tangan Aira.

​Deg!

​Jantung Aira seakan berhenti berdetak seketika. Sentuhan bibir Reynand di kulit punggung tangannya terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan aura dingin yang selalu dipancarkan pria itu. Sensasi sengatan halus menjalar hingga ke dadanya, membuat Aira harus bersusah payah mempertahankan raut wajah tenangnya.

​"Aira bukan sekadar asisten saya," panggil Reynand dengan nada suara yang dalam dan protektif, menatap langsung ke dalam mata Aira. "Dia adalah wanita yang membuat saya sadar bahwa ada hal lain yang layak diperjuangkan selain bisnis."

​Nyonya Rosalinda menatap putranya dengan cermat. Ia bisa melihat kilatan ketegasan di mata Reynand—sesuatu yang tak pernah ia lihat saat Reynand berhadapan dengan wanita mana pun sebelumnya. Senyum tipis akhirnya terukir di bibir sang ibu.

​"Jika Reynand sudah berbicara seperti itu, Ibu percaya," ucap Nyonya Rosalinda pelan. "Devan, hentikan introgasimu. Mulai malam ini, Aira adalah bagian dari keluarga Aristha."

​Wajah Devan mengeras, bibirnya tertutup rapat menahan kekesalan karena rencananya kembali gagal total.

​Makan malam berlanjut dalam suasana yang sedikit lebih tenang. Namun sepanjang sisa acara, tangan kiri Reynand tak pernah benar-benar melepaskan jemari Aira di bawah meja. Setiap kali jemari pria itu mengusap lembut punggung tangannya untuk meyakinkan sang ibu, Aira merasa benteng pertahanan dirinya mulai diuji.

​Ketika mereka akhirnya pamit dan masuk ke dalam mobil sedan hitam untuk perjalanan pulang, Reynand langsung melepas genggaman tangannya. Aura dingin dan kaku seketika kembali menyelimuti kabin mobil.

​"Aktingmu cukup bagus malam ini," kata Reynand datar, menatap keluar jendela tanpa melihat Aira. "Kamu tidak membuang kesempatan."

​Aira menyentuh bekas sentuhan bibir Reynand di punggung tangannya yang terasa masih hangat. Ia menghela napas pelan, mengingatkan dirinya sendiri pada poin kontrak yang sudah disepakati.

​"Saya hanya menjalankan kewajiban saya sesuai kontrak, Pak Reynand," sahut Aira dingin, menegaskan batas di antara mereka. "Sentuhan tadi... tidak perlu diulangi jika tidak ada penonton."

​Reynand menoleh pelan, menatap Aira dengan alis terangkat tipis, terdiam tanpa membalas kata-kata wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!