Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Gadis yang berdiri di hadapan Kyra mengenakan mantel hitam tebal, wajahnya tegas dengan tatapan mata yang tajam namun penuh misteri. Air hujan mengalir di celah-celah garis wajahnya, tidak melunturkan ketenangan luar biasa yang ia pancarkan.
"Si... siapa kamu?" bisik Kyra dengan suara tercekat di tenggorokan, kedua tangannya yang berlumuran darah dan lumpur gemetar hebat.
"Yolla," jawab perempuan bernama Yolla itu singkat.
Yolla tidak menunggu reaksi Kyra lebih lanjut. Dengan langkah tenang namun pasti, ia melangkah mendekati Paman Dion yang masih mengerang kesakitan di atas tanah lumpur dan menahan kayu yang menancap di dadanya, Yolla merogoh balik mantelnya dan menarik sebilah pisau berburu berpendar perak.
Jleb!
Tanpa ragu sedikit pun, Yolla menghujamkan pisau itu tepat ke leher Paman Dion. Suara erangan pria itu mendadak terputus, matanya mendelik lalu perlahan meredup. Tak berhenti di situ, Yolla berbalik menuju Bibi Lista yang tergeletak pingsan, lalu melakukan hal yang sama pada leher wanita tua itu.
"TIDAK! Apa yang kau lakukan?" jerit Kyra histeris, ia menutupi mulutnya dan berusaha mundur dengan merangkak di atas tanah licin.
Yolla mengusap sisa darah pada bilah pisaunya dengan kain pelapis mantel, lalu menatap Kyra. "Aku hanya merapikan pekerjaanmu. Lagipula, aku paling benci melihat pria yang kasar pada wanita," jawabnya santai.
"Kamu... kamu membunuh mereka! Aku tidak pernah berniat membunuh mereka! Aku hanya ingin kabur!" tangis Kyra memecah gemuruh hujan.
Yolla berlutut di tumpukan lumpur dan mensejajarkan posisinya dengan Kyra, tangannya yang dingin menyentuh pipi Kyra yang pucat.
"Dengar. Kalau mereka hidup, kau yang akan mati dan aku hanya membantumu agar kau tidak mati," balas Yolla.
"Tapi polisi akan menangkapku! Aku yang menancapkan kayu itu lebih dulu!" Kyra panik luar biasa.
"Tenanglah, kau harus bersandiwara. Katakan pada polisi ada pria asing tak dikenal yang mendobrak rumahmu, lalu menyerangmu sampai kau terluka. Mengerti?" bisik Yolla pelan namun penuh penekanan.
"Bagaimana bisa? Aku baik-baik saja," tanya Kyra.
Yolla menatap pisau di tangannya, lalu menatap perut Kyra. "Maka dari itu, kita harus membuatnya masuk akal," ucapnya.
Sebelum Kyra sempat memproses kata-kata Yolla, sebuah rasa sakit yang membakar tiba-tiba menghujam bagian samping perutnya. Yolla telah menusukkan pisaunya ke tubuh Kyra, cukup dalam untuk mengucurkan dar*h, namun menghindari organ vital.
"Aaargh!" Kyra menjerit memegangi perutnya, dar*h merah menyembur membasahi bajunya yang lusuh.
"Bertahanlah, aku sudah menelpon polisi dan ambulan dari ponselku sebelum mendekat kemari, aku akan menunggumu di rumah sakit," ucap Yolla sambil menepuk bahu Kyra pelan.
Yolla bangkit dan menghilang di telan kegelapan malam serta lebatnya hujan hutan desa. Kyra terkapar di tanah, pandangannya perlahan kabur seiring rasa dingin dan sakit yang menggerogoti kesadarannya.
Suara sirine meraung-raung di tengah pekatnya malam yang diguyur hujan deras. Cahaya lampu merah dan biru memantul di genangan air lumpur, menerangi tubuh Paman Dion dan Bibi Lista yang sudah tak bernyawa serta Kyra yang terkulai lemas di tanah.
Para petugas medis bergerak cepat, tubuh Kyra yang dingin dan bersimbah darah diangkat ke atas tandu dengan sangat hati-hati. "Detak nadinya melemah! Cepat siapkan tabung oksigen dan balut luka tusuk di perutnya!" teriak salah satu petugas medis kepada rekannya di dalam mobil ambulans.
Di dalam ambulans yang melaju kencang membelah jalanan desa yang berlubang, pandangan Kyra samar-samar. Rasa sakit yang luar biasa melilit perutnya, namun hawa dingin di hatinya terasa jauh lebih menyiksa dan kesadarannya pun perlahan menghilang seiring suara detak mesin pemantau jantung yang melemah di telinganya.
Beberapa jam kemudian, Kyra tersentak bangun. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang serba putih dengan selang infus menancap di punggung tangannya dan perban tebal melilit erat perut bagian kirinya.
Pintu kamar rawat perlahan terbuka, seorang dokter bersama dua orang polisi berseragam masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya salah satu polisi.
Kyra menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. Mengingat perkataan Yolla di tengah hujan malam itu, Kyra mulai memainkan perannya. Dengan mata berkaca-kaca dan tubuh yang sengaja dibuat gemetar ketakutan, ia menangis lirih.
"Ta-tadi a-da pria tinggi besar masuk ke rumah... Dia memukul Paman dan Bibi... Lalu saat saya mencoba lari, dia menusuk perut saya...," tangis Kyra histeris, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang kurus.
"Apa kau melihat wajahnya?" tanya polisi.
"Ti-tidak... pria itu menggunakan penutup wajah, dia sangat menakutkan dan dia membawa uang tabungan Paman hiks hiks...," jawab Kyra.
Polisi mengangguk-angguk sambil mencatat keterangan Kyra. Bukti luka tusuk di tubuh Kyra, luka parah pada Paman Dion dan Bibi Lista, serta kondisi rumah yang berantakan membuat polisi meyakini bahwa mereka bertiga adalah korban dari tindak kejahatan pencurian.
Setelah Dokter dan petugas polisi melangkah keluar dari ruang rawat, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Kyra masih menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan napasnya memburu halus, sementara jarinya mencengkeram sprei rumah sakit yang kaku. Rasa sakit di perutnya masih menjalar, namun penderitaan di dalam dadanya jauh lebih menyiksa.
Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Sosok Yolla melangkah masuk dengan anggun, mengenakan pakaian bersih yang jauh berbeda dari mantel basahnya malam itu, wajahnya tenang tanpa riak emosi sedikit pun saat ia mengunci pintu di belakangnya.
"Akting yang lumayan," ujar Yolla dengan suara rendah seraya berjalan mendekati ranjang Kyra. Ia menarik sebuah kursi besi dan duduk di samping Kyra, menatap wajah kusam gadis itu yang dipenuhi lebam lama dan baru.
Kyra menatap Yolla dengan bauran rasa takut dan bingung, "Kenapa... kenapa kamu menolongku? Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.
Yolla menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke mata Kyra. "Aku sudah bilang, aku tidak suka melihat wanita disiksa oleh pria bajingan. Hari itu aku ada urusan di desamu dan aku nggak sengaja lihat kejadian di rumahmu. Kau harusnya bersyukur, karena tanpa pisauku dan luka ganti rugi di perutmu itu, polisi akan dengan mudah menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan pembunuhan," ucapnya.
"Tapi... tapi tetap saja mereka mati!" bisik Kyra, suaranya gemetar.
"Mereka mati karena perbuatan mereka sendiri! Aku yakin pasti selama ini kau selalu dipukul, luka di tubuhmu cukup banyak dan akan sangat susah hilang. Terus, apa kau mau terus menangisi dua iblis yang hampir menjualmu ke pria hidung belang?" ucap Yolla.
Perkataan Yolla membungkam Kyra. Bayangan siksaan Paman Dion, makian Bibi Lista, serta fakta pahit bahwa dirinya dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri kembali berputar hebat di kepala Kyra. Perlahan, jemari Kyra memutih karena mengepal erat dan kebencian yang sempat teredam ketakutan kini kembali membara.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧