NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Hayden menatap lekat paras Aluna yang gemetar hebat namun memancarkan kilatan benci yang luar biasa. Cengkeraman jemarinya pada sudut podium bertambah erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak liar di dalam dadanya. Belum pernah ada satu orang pun dalam hidupnya yang berani menatapnya dengan penuh amarah seperti ini—apalagi seorang gadis muda yang posisinya berada sepenuhnya di bawah cengkeramannya.

Perlahan, Hayden menarik kembali kedua tangannya dari sisi tubuh Aluna. Pria itu berdiri tegap, membelakangi Aluna dengan pandangan dingin yang menghunus lurus ke arah kanvas raksasa.

"Pakai pakaianmu," perintah Hayden datar, suaranya sangat tenang namun sarat akan keangkuhan yang membeku. "Sesi malam ini selesai."

Begitu Hayden berbalik dan melangkah dingin menuju meja kerjanya, Aluna tak membuang waktu satu detik pun. Dengan jemari bergetar hebat dan napas yang masih memburu oleh kekagetan, ia menyambar pakaiannya di sudut podium. Kain kemeja dan celana jinsnya dipasang terburu-buru, menutup rapat kembali tubuh polos yang tadi sempat terpapar di bawah pendar lampu studio.

​Selendang putih tipis yang basah oleh keringat dinginnya dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai semen.

​Hayden berdiri membelakanginya, mencuci jemarinya yang teroles cat minyak di mangkuk air stanless steel. Pria itu sama sekali tidak menoleh saat Aluna menyampirkan tas ranselnya dan melangkah cepat menuju pintu kayu besar.

​"Sopirku sudah menunggu di depan," ujar Hayden tanpa berbalik. Suaranya datar, namun ada gema dingin yang menembus hingga ke tengkuk Aluna. "Jangan berpikir kau bisa kabur dari perjanjian ini hanya karena tepisan kasarmu malam ini, Aluna."

​Aluna menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu, meremas tali ranselnya kuat-kuat. Ia tidak menjawab. Dengan sisa keberanian yang ia punya, Aluna mendorong pintu kayu itu keras-keras dan berlari menembus kabut malam perbukitan menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggunya.

​Perjalanan kembali ke kota terasa bagai mimpi buruk yang panjang. Di dalam kabin sedan yang sunyi, Aluna hanya bisa memandangi lalu lintas malam dari balik kaca mobil yang berembun. Punggung tangannya masih merinding membayangkan gesekan jemari kasar Hayden di paha dan area intimnya tadi.

​Dia sengaja... batin Aluna menahan isak tangis di tenggorokan. Dia bukan sekadar ingin melukis. Pria itu ingin menghancurkan sisa-sisa harga diriku sampai tidak ada lagi yang tersisa.

​Namun, kenyataan tentang kolektor privat yang diceritakan Hayden terus bergema di kepalanya. Jika lukisan itu benar-benar terjual dengan harga fantastis, biaya operasi dan perawatan fasilitas medis Romeo akan lunas total. Beban finansial yang mencekik lehernya selama ini bisa lenyap dalam semalam.

​Cuma perlu bertahan sedikit lagi... Demi Kak Romeo, bisik Aluna menguatkan hatinya sendiri.

*

​Pukul sebelas malam lewat sedikit, sedan hitam itu berhenti perlahan di depan gerbang Rumah Sakit Medika. Aluna mengangguk singkat pada sang sopir lalu bergegas turun, melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit yang kini sudah temaram dan sepi.

​Suasana di lorong kelas dua terasa sangat tenang. Pintu Ruang Melati sedikit terbuka, membiarkan pendar lampu tidur berwarna kuning temaram menguar ke luar.

​Aluna mendorong pintu secara perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.

​Di atas ranjang perawatan, Romeo masih terlelap. Dada kakaknya naik turun teratur, napasnya terdengar halus dan stabil. Selimut putih membungkus tubuh Romeo hingga batas dada, dan selang infus di tangannya mengalirkan cairan obat dengan lancar.

​Aluna menarik napas panjang, meresapi aroma antiseptik rumah sakit yang mendadak terasa jauh lebih menenangkan dibanding aroma cat minyak di studio Hayden. Ia melangkah perlahan menuju sisi ranjang, meletakkan ranselnya di lantai, lalu duduk di kursi plastik.

​Melihat wajah Romeo yang begitu damai di bawah pendar lampu temaram, pertahanan Aluna akhirnya runtuh.

​Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan menetes, membasahi pipinya yang pucat. Aluna mengulurkan tangannya yang gemetar, meraih jemari Romeo yang dingin, lalu membenamkan wajahnya di atas kasur di samping lengan kakaknya.

​Isak tangisnya sangat pelan, nyaris tak terdengar, teredam oleh sprei rumah sakit.

​"Kak..." bisik Aluna serak di sela isakannya. "Aluna takut sekali..."

​Tiba-tiba, jemari Romeo di dalam genggamannya bergerak tipis.

​Aluna tersentak kecil dan langsung mendongak, menyapu air matanya cepat-cepat dengan lengan kemeja.

​Romeo perlahan membuka matanya. Pandangannya agak kabur oleh kantuk, namun begitu menangkap sosok adiknya yang duduk di samping tempat tidur, mata pria itu mengernyit pelan.

​"Aluna...?" panggil Romeo parau, suaranya sangat lemah. "Kamu... kok belum pulang ke rumah? Katanya tadi mau tidur di rumah...?"

​Aluna memaksakan sebuah senyuman di bibirnya, meski matanya masih sembab dan memerah. "Tugas kuliah Aluna sudah selesai diantar ke teman, Kak. Tapi pas mau tidur di rumah... Aluna malah tidak bisa tidur. Aluna kangen Kakak, jadi Aluna balik lagi ke sini."

​Romeo menatap adiknya lekat-lekat. Pria itu memperhatikan raut wajah Aluna yang kentara sangat lelah, juga mata adiknya yang basah.

​"Kamu menangis, Na?" tanya Romeo cemas, berusaha menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Aluna. "Ada apa? Tugas kuliahmu susah? Atau... ada orang yang mengganggumu?"

​"Tidak ada, Kak! Tidak ada yang mengganggu Aluna," potong Aluna cepat, menggelengkan kepala erat-erat. Ia menggenggam tangan Romeo dan menempelkannya di pipinya sendiri. "Aluna cuma terharu... Aluna cuma senang bisa melihat Kakak tidur dengan tenang malam ini. Dokter bilang grafik pemulihan Kakak bagus sekali."

​Romeo memandangi adiknya dengan binar mata yang sarat akan kasih sayang sekaligus penyesalan. Pria itu mengelus pipi Aluna dengan ibu jarinya yang agak kasar.

​"Maaf ya, Na..." bisik Romeo lirih. "Harusnya Kakak yang ada di sampingmu, melindungimu... Tapi Kakak malah cuma bisa berbaring di sini, bikin kamu bolak-balik malam-malam begini."

​"Kakak tidak boleh bicara begitu lagi," sahut Aluna tegas namun lembut. "Aluna tidak pernah merasa direpotkan. Bagian Aluna cuma menjaga Kakak sampai Kakak sembuh total. Lagipula... kata pihak yayasan tadi, sebentar lagi seluruh administrasi rumah sakit bakal selesai. Kakak tinggal fokus pemulihan saja."

​Romeo tersenyum tipis, memejamkan matanya kembali karena efek obat bius yang masih menyisa. "Iya, Sayang... Terima kasih ya, Aluna..."

​"Sama-sama, Kak. Sekarang Kakak tidur lagi ya, Aluna jagain di sini."

​Aluna mengusap dahi kakaknya sampai napas Romeo kembali teratur masuk ke alam mimpi.

​Keheningan malam kembali menguasai Ruang Melati. Aluna menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, menatap jemari kakaknya yang ia genggam erat. Bayangan raut wajah Hayden yang dingin dan ancaman pria itu sebelum ia pergi tadi kembali membayang di benaknya.

​Keberanianmu malam ini akan ada harganya...

​Aluna memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kegelapan malam membungkus kepasrahannya. Apapun pembalasan atau tuntutan yang disiapkan Hayden Mahendra besok, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan bertahan sampai akhir demi keselamatan sang kakak.

**

Sementara itu, di studio perbukitan yang kini sunyi, aroma tiner dan cat minyak terasa begitu menghimpit.

Hayden berdiri membisu di tengah ruangan, memandangi selendang putih tipis yang tergeletak pasrah di atas lantai semen tempat Aluna tadi berdiri. Cahaya lampu sorot kuning yang masih menyala terang kini terasa membakar matanya.

Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan memucat.

Brak!

Dengan satu gerakan liar, Hayden menendang palet kayu di dekatnya hingga cat warna-warni terlempar dan mencoret dinding studio. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun menahan emosi asing yang bergejolak ganas di dalam dirinya.

Ia berjalan gusar menuju meja kerjanya, menyambar gelas kristal berisi whisky dan meneguknya habis dalam satu tegukan hingga tenggorokannya terasa terbakar. Namun, sensasi terbakar itu sama sekali tidak sanggup memadamkan kebingungan dan frustrasi yang mencengkeram kepalanya.

Hayden menjatuhkan tubuhnya di atas sofa kulit. Pria yang selama ini dikenal berdingin hati, penuh kendali, dan tak pernah tersentuh oleh emosi apa pun itu, kini merasa goyah secara tragis.

Bagaimana mungkin? batinnya meraung frustrasi. Bagaimana mungkin seorang Hayden Mahendra bisa kehilangan kendali sampai sejauh itu?!

Selama bertahun-tahun, ia telah memosisikan dirinya sebagai penguasa yang tak tergoyahkan. Di matanya, wanita hanyalah objek estetik untuk kanvasnya atau sekadar alat untuk melancarkan bisnisnya. Tidak pernah ada satu pun model—seanggun atau secantik apa pun mereka—yang sanggup memicu hasrat pribadinya saat memegang kuas.

Namun malam ini, di depan seorang gadis polos bernama Aluna, benteng pertahanannya hancur berkeping-keping.

Dan yang paling menyiksanya adalah kenyataan pahit di balik sosok gadis itu: Aluna adalah adik kandung Romeo.

Romeo—pria yang menjadi satu-satunya sahabat sejati yang ia miliki sejak masa SMA. Pria tulus yang saat ini sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit, bertaruh nyawa setelah menjalani operasi dan menaruh kepercayaan penuh padanya sebagai 'penyelamat'.

"Kelewat batas, Hayden..." bisik Hayden pada dirinya sendiri, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang tertahan. Ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Bayangan tepisan kasar Aluna dan raut ketakutan yang bercampur amarah di mata gadis itu terus berputar ganas di benaknya. Kalimat Aluna tadi malam menghantam dadanya seperti telak: If you break this, you are no different from a street criminal.

Bayangan Romeo yang tersenyum tulus mengucapkan terima kasih di ruang ICU seketika terbayang, berbenturan keras dengan tindakannya yang baru saja hampir menjamah tubuh adik sahabatnya sendiri secara paksa. Rasa bersalah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya kini menggerogoti jiwanya.

Hayden mencengkeram rambut hitamnya erat-erat, merutuki kegilaan dan dorongan liarnya malam ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hayden Mahendra merasa sangat membenci dirinya sendiri.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!