Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gendong ....
Bab 33
Sudah sangat sore saat mereka dalam perjalanan pulang. Bara mengoceh membahas jadwal kerja Ruby, tidak mungkin yang berikutnya ia bisa melihat atau menemani lagi macam tadi. Terutama urusan berpose dan berganti pakaian.
“Minggu depan, ada draft kamu bertemu dengan pemilik brand kosmetik membicarakan kontrak brand ambassador.”
“Oh, nggak akan aku lanjut mas. Tenang aja, aku konsisten sama keputusan aku kok.”
“Ck, ingat yang aku bilang tadi,” ujar Bara lagi.
“Iya mas Bara, ya ampun gemes deh.” Tangan Ruby usil menyapit bibir Bara yang fokus sambil mengemudi.
Tadinya Bara akan mengajak Ruby kencan atau mengunjungi apartemen hadis itu untuk quality time, nyatanya Ruby mendapat email lagi dari kampus. Sebenarnya sudah dari kemarin tapi baru sempat ia buka. Jadwal sidang skripsinya dan pelaksanaannya besok, hari senin.
Tidak mungkin ia egois mengajak istrinya bermesraan sedangkan besok harus mempertanggung jawabkan karya ilmiahnya.
“Besok mas ikut hadir di sidang aku?”
Bara menggeleng.
“Padahal kalau mau ikut menguji kan seru, nanti aku balas menguji keimanan.”
Namun, kehangatan itu sirna saat tiba di rumah dan mendapati mobil lain terparkir di carport. Mobil milik Nilam.
“Ayah sama ibu kayaknya udah pulang ya,” ucap Ruby.
“Hm.”
"Jailangkung datang lagi…." gumam Ruby sangat lirih, hampir tak terdengar, seraya menghela napas panjang sebelum turun dari mobil. Terdengar percakapan dari dalam rumah, saat pasangan itu mengucap salam.
“Iya, mandi dulu ya, sama bu Siti,” ujar Sinta pada Jelita.
"Sudah pulang kalian!" Sinta yang duduk di sofa ruang keluarga melipat tangan di dada, matanya menatap tajam ke arah Bara dan Ruby. "Bagus ya, Adly keluar dari rumah sakit tapi neneknya sama sekali nggak diberi tahu. Kamu ini anggap saya apa sih, Bara? Mau memutus hubungan Adly sama keluarga almarhumah ibunya?"
Bara baru saja hendak membuka suara, tetapi Sinta langsung mengarahkan sasarannya ke arah Ruby.
"Lagipula kamu ini gimana sih, Ruby?" cerocos Sinta tanpa jeda. "Sebagai ibu sambung harusnya tahu diri dan punya tanggung jawab! Anak baru keluar rumah sakit, belum pulih total, bisa-bisanya malah ditinggal. Sibuk berduaan, mau pamer kemesraan? Takut ditinggal Bara? Tega sekali menelantarkan anak demi urusan pribadi!"
Ruby menghentikan langkahnya dan mengernyitkan dahi. Ia menatap Sinta dengan tenang, meski ingin sekali untuk meluapkan emosi dengan berteriak. Heh, nenek gayung, gue pergi karena ada kerjaan lagian tadi ada oma sama opanya. Selain donatur dilarang ngatur. Namun, itu hanya diucapkan dalam hati, tidak ingin menyakiti hati Bara dan anak-anak.
Dengan senyum tipis yang amat sopan, Ruby menjawab.
"Tante Sinta... maaf sebelumnya," potong Ruby dingin namun elegan. "Saya pergi karena ada pekerjaan dan Adly dengan Jelita sudah kami pastikan aman di rumah.”
“Bu,” ucap Bara. “Tolong jangan tegur istri saya, kalaupun dia bersalah biar saya yang menegurnya.”
Sinta tertahan, wajahnya memerah karena jawaban Ruby dan ucapan Bara. Nilam yang berada di samping ibunya tidak tinggal diam dan mencoba mengambil alih perdebatan.
“Maksud kalian ibu tidak berhak ikut campur dengan urusan cucu-cucu ibu?”
“Bukan tidak boleh ikut campur, tapi ibu sudah melewati batas. Kalaupun dia salah, biar jadi urusan saya.”
Sinta menarik nafasnya. “Nilam, ibu mau pulang dan kamu baiknya tetap tinggal di sini. Awasi Adly dan Jelita.”
“Maksudnya Nilam tinggal … dia nginep di sini, mas?”
“Ya iyalah, masa bikin tenda di luar,” sahut Nilam.
“Ya gak boleh dong, kalian sudah tidak ada urusan lagi,” sahut Ruby. “Pengen beneran jadi ipar maut kayaknya.”
"Ruby enggak usah merasa paling berjasa deh di rumah ini. Lagipula, masih ada hak Naomi di sini. Aku ini mantan adik iparnya Mas Bara, tante kandungnya Adly. Aku masih punya hak penuh buat datang, bahkan tinggal di sini kapan pun aku mau untuk nemenin Adly!"
Mendengar ucapan Nilam, Bara pun melangkah mendekat ke arah sofa.
"Hak apa yang kamu maksud, Nilam?" suara Bara terdengar berat dan menusuk.
Nilam sedikit tersentak, tetapi mencoba bertahan. "Ya... hak sebagai keluarga, Mas! Aku tantenya Adly—"
"Rumah ini milik saya atas nama pribadi, dan sekarang Ruby adalah istri sah saya, pemilik rumah ini yang sebenarnya," tegas Bara tanpa ragu, memotong ucapan Nilam. “Rumah yang sebelumnya kami tempati saat masih ada Naomi, ditempati kalian. Rumah ini saya bangun setelah Naomi tiada,” tutur Bara. “Kalau kamu dan Ibu datang untuk menjenguk Adly dengan niat baik, saya sambut. Tapi kalau cuma datang untuk membuat kekacauan, memojokkan istri saya … pintu masih terbuka."
Suasana mendadak hening total. Sinta dan Nilam terpaku, tak menyangka Bara akan membela Ruby secara terbuka dan tegas di hadapan mereka.
***
Ruby sulit untuk konsentrasi meski pandangannya tertuju pada layar laptop. Mengingat percakapan sore tadi, tepatnya perdebatan bersama Nilam dan Sinta. Pantas saja, ia tidak mendapati foto ibu kandung Adly dan Jelita di rumah ini, kecuali di kamar Jelita dan Adly. Bahkan di ruang keluarga adanya foto anak-anak saja. Tidak ada foto kebersamaan mereka saat masih jadi keluarga dan Bara tidak ingin dibayangi terus dengan keluarga mantan istrinya.
“Nenek gayung sama ikan nila, cocok kayak duo serigala. Hah, jadi nggak konsen ‘kan,” keluh Ruby.
Ruby menatap sekeliling ruangan itu, ia berniat memasang fotonya di sana. Juga foto bersama anak-anak. “Biar si duo serigala itu sadar kalau sekarang gue nyonya di rumah ini.”
Karena penasaran, Ruby menarik laci meja. Ada kotak pulpen tinta juga kotak, notebook dan amplop coklat yang berada paling atas.
“Ini apa?” gumam Ruby membaca tulisan di amplop tersebut. “Barata Airlangga dan Ruby Silvia Gunawan.”
Melirik ke arah pintu, memastikan aman untuk melihat isi amplop tersebut. Dengan pelan dibuka tali yang melilit dan mengeluarkan isinya. Ternyata buku nikah.
“Ini … ya ampun. Kapan Mas Bara urus beginian. Pantas aja udah meyakinkan banget jadi suami."
Ada berkas lain di dalam amplop coklat itu, sertifikat rumah. rupanya rumah yang mereka tinggali sekarang. yang membuat Ruby terkejut adalah nama di dalam sertifikat tersebut adalah namanya. Tidak ingin disebut lancang, biar saja itu menjadi urusan Bara. Pasti ada alasan kenapa Bara melakukan itu dan menunggu waktu di mana suaminya menjelaskan.
Kembali fokus dengan layar laptop, tidak sampai setengah jam sudah menguap.
Bara datang mendapati istrinya terkantuk menelungkupkan wajah di atas meja. Tidak aneh, kalau Ruby fokus belajar justru malah aneh.
"Sudah selesai?"
Ruby mengangkat wajahnya lalu menggeleng. "Aku ngantuk, mas."
"Sudah siap, besok sidang."
"Siap gak siap."
"Ya sudah, ayo tidur."
Ruby mengulurkan kedua tangannya. "Gendong," ujarnya manja.
mampir kak