Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Mengambil napas
Darah kental hitam masih menetes dari sela-sela runtuhan batu yang menghimpit kepala Serigala Batu Kelam. Ye Chan menarik tangannya yang gemetar. Napasnya masih menderu cepat, memecah kesunyian ruang kuno itu.
Ia berlutut di dekat bangkai raksasa itu. Tangannya bergerak cekatan, menghindari gumpalan energi abu-abu misterius yang sebelumnya bergetar di dekat kulit monster. Ia memotong beberapa bagian daging yang masih bersih untuk makanan, lalu mengambil taring serta kuku tajam sebagai bahan obat dasar.
"Aku sudah hampir mati sekali karena meremehkan sesuatu yang tidak kupahami," bisik Ye Chan pada diri sendiri.
Ia tidak ingin serakah. Baginya, bertahan hidup malam ini jauh lebih penting daripada memaksakan diri mengambil sesuatu yang belum jelas kegunaannya.
Ia menatap gumpalan kabut kelabu yang melayang tipis di atas dada serigala yang telah mati itu. Ketika ia mendekatkan Giok Kehampaan yang tersembunyi di balik jubahnya, pusaka itu mendadak bergetar halus.
Penasaran, ia mencoba mengarahkan secuil kesadarannya untuk menyentuh kabut itu.
Seketika, rasa dingin yang menusuk langsung menghantam kepalanya. Dada Ye Chan terasa sangat sesak, seolah ada batu besar yang mendadak menindih paru-parunya.
Ia segera menarik kembali kesadarannya dengan napas terengah-engah. Keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya.
"Tidak tahu apa itu, jangan masukkan ke tubuh," gumamnya, memperingatkan dirinya sendiri dengan tegas.
***
Ye Chan menyeret tubuhnya ke dalam celah dinding yang lebih sempit dan aman. Api kecil dinyalakan tanpa asap menggunakan sisa kayu kering di sudut ruangan.
Ia membakar sepotong daging serigala dengan tenang. Sambil menunggu makanan itu matang, ia mengoleskan sisa obat murah ke luka robek di bahunya, menahan ringisan perih yang menyengat kulit.
Setelah perutnya terisi, ia duduk bersila dan memejamkan mata.
Kehangatan dari Giok Kehampaan mulai menjalar, mengalirkan energi murni ke dalam meridiannya yang hancur. Ia mengalirkan Qi itu dengan sangat lambat. Satu tarikan napas, satu aliran kecil, lalu ia berhenti untuk membiarkan tubuhnya beradaptasi.
Malam berlalu dalam keheningan yang dingin. Ye Chan terus mengulangi proses melelahkan itu berulang kali tanpa mengeluh.
Sedikit demi sedikit, Qi tipis mulai menetap di dalam sisa-sisa jalurnya yang masih utuh. Tubuhnya terasa lebih ringan, tidak lagi sekaku sebelumnya.
Namun, begitu ia mencoba menarik energi dari udara dengan jumlah yang sedikit lebih banyak, rasa sakit yang luar biasa langsung menusuk ulu hatinya.
Ye Chan tersentak, menghentikan latihannya seketika sebelum jalur energinya kembali pecah. Ia membuka mata dan menatap telapak tangannya yang masih pucat.
"Bukan kembali ke titik awal," desisnya dengan tawa hambar.
Ia mengepalkan tinjunya dengan perlahan.
"Aku bahkan lebih rendah dari titik awal."
Ia bangkit berdiri untuk menguji kondisi fisiknya.
Satu langkah teknik meringankan tubuh berhasil dilakukan dengan mulus. Namun, saat ia mencoba melangkah untuk kedua kalinya, meridian di kakinya langsung berdenyut nyeri. Ia terpaksa menghentikan teknik itu sebelum kerusakannya menjadi permanen.
Pandangannya lalu beralih pada sebuah batu besar yang runtuh di dekatnya.
Dulu, batu seukuran kereta kuda pun bisa dihancurkannya hanya dengan satu kibasan tangan. Kini, ia harus mencengkeram batu yang hanya berukuran setengah badan itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh tenaga fisik yang tersisa.
Batu itu terangkat beberapa senti, sebelum akhirnya terlepas dari genggamannya dan jatuh berdentum ke lantai.
Ye Chan terdiam menatap batu itu, lalu tertawa kecil tanpa rasa sesal.
"Dulu aku bisa meratakan gunung dengan kekuatan penuhku," ucapnya datar.
Ia menggelengkan kepala, menyeka keringat di dahinya.
"Lihatlah aku sekarang, kesusahan hanya dengan bongkahan batu."
Rasa frustrasi tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia kembali mengambil pecahan tajam sebagai senjata darurat dan melangkah menyusuri lorong yang lebih dalam di belakang reruntuhan.
Lorong tua itu sebelumnya tertutup oleh runtuhan tebing, namun hantaman serigala tadi rupanya telah membuka celah baru.
Embusan angin dingin bertiup dari kegelapan di depannya, membawa aroma tanah basah. Ada jalan keluar di ujung sana.
Namun, mata tajamnya menangkap sesuatu di dinding gua. Goresan cakar baru dan beberapa bercak darah kering yang bukan milik manusia.
Tempat ini bukan wilayah mati yang ditinggalkan. Ada hal lain yang masih hidup di dalam kegelapan yang lebih dalam.
Ye Chan berdiri diam di ambang batas antara cahaya redup reruntuhan dan kegelapan lorong. Qi tipis di dalam tubuhnya mengalir lambat, memberinya sedikit kehangatan di tengah udara dingin yang mencekam.
Ini bukan kekuatan yang cukup untuk membalas dendam pada murid durhakanya itu—Shi Zhong. Namun, ini adalah nyala api kecil yang baru saja menyala kembali dari abu kematian.
"Kalau ingin kembali..." gumamnya sambil menatap lurus ke depan.
Ia mengeratkan genggaman tangannya pada pecahan batu tajam itu.
"Aku harus keluar dari tempat ini terlebih dahulu."
KRAK... KRAK...
Suara gesekan keras tiba-tiba menggema dari kegelapan lorong di depannya. Itu bukan suara satu makhluk, melainkan puluhan kaki keras yang merayap cepat di atas dinding batu.
Ye Chan menahan napasnya, menatap ke dalam kegelapan yang pekat.