Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Madu Racikan Khusus
Setelah obrolan besar itu usai, keluarga masih belum bisa memejamkan mata.
Pukul sepuluh malam lebih, Intan duduk di tepi tempat tidur memandangi tumpukan uang yang sudah dirapikan kembali.
Uang itu terasa berubah wujud: yang ia rasakan bukan lagi kertas, melainkan beban yang sudah terangkat dari pundak kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, tanah itu tidak usah disewa dulu," kata Intan pelan, seolah berbicara dengan rencana di kepalanya sendiri.
Pada tahun dua ribu lima, di kota sekecil ini, belum ada instansi tata usaha yang menetapkan letak lapak jualan. Siapa pun boleh menduduki lahan kosong, dan yang pertama mendudukinya dianggap sebagai pemiliknya; selama tidak ada orang lain yang kebetulan memilih lahan sama, tidak akan ada yang mencari ribut.
"Yang penting kita bereskan dulu urusan dengan Pak Lamijo: minta lokasinya diperluas, sewa dinaikkan menjadi tujuh ratus ribu sebulan, dan beliau sekalian menjaga tempat kita. Dengan begitu, malam hari kita tidak perlu cemas barang di gerobak diambil orang."
Bapak menghitung-hitung dalam hati sejenak.
Tujuh ratus ribu sebulan memang terasa mahal, tetapi kalau ditambah minta Pak Lamijo menjaga lokasi, angka itu tidak berlebihan.
"Baik, kuturuti. Hanya saja, kau tetap harus datang mengelola gerobak bakso ini; Bapak yang membantumu."
Intan mengangguk cepat. Segalanya berjalan sesuai dengan yang ia perkirakan, dan ia yakin ke depan akan semakin baik.
Intan lalu memaparkan rencana yang lebih rinci: besok Bapak menemui Pak Lamijo, menyampaikan tawaran sewa baru; kalau beliau setuju, tenda didirikan dan meja kursi ditata, gerobak bakso akan berjajar di samping gerobak es campur.
Bapak menggaruk-garuk kepala sambil mengangguk.
Sejak gerobak itu berdiri, Pak Lamijo tidak pernah berhenti menganggap keluarga Intan lebih dekat daripada kerabat sendiri. Usaha mereka membuahkan keuntungan yang tidak sedikit baginya, dan tata krama seperti itu tidak perlu dipaksakan.
Selanjutnya soal uang. Intan mengeluarkan lima ratus ribu rupiah dari tumpukan itu, menaruhnya di sudut meja, lalu memasukkan sisanya ke dalam tas sekolah yang ia serahkan kepada Bapak.
"Bapak, lima ratus ribu ini kita tinggalkan di rumah dahulu untuk belanja bahan bakso besok. Uang yang ada di tas segera dibawa ke bank; kita akan semakin banyak punya uang ke depan, dan menaruhnya di rumah tidak aman. Bapak sebaiknya membuka buku tabungan dan kartu bank, lalu menyimpannya di tempat yang aman."
Tempat tinggal mereka memang tidak punya pengaman apa pun: jeruji jendela tipis, pintu depan hanya berkunci gembok kecil.
Kalau ada pencuri, paling lama beberapa menit sudah kebobolan.
Hanya saja penghuni kampung ini bukan orang kaya, dan hampir setiap sore ada warga yang duduk mengobrol di depan rumah, sehingga orang asing tidak mudah mondar-mandir seenaknya.
Mendengar pengingat itu, Ibu langsung panik.
"Benar kata anakmu! Rumah ini benar-benar tidak aman. Kamu harus segera menaruh uang di bank; mulai sekarang kita setor setiap sepuluh hari sekali."
Ibu lalu menunjuk suaminya: "Begitu uang masuk bank, buku tabungan dan kartunya kamu bawa selalu. Kalau belum punya tas kencang, besok kubelikan. Mulai sekarang semua barang penting keluarga kubawa melekat di badan, biar tenang!"
Bapak, Intan, dan Dimas saling berpandangan tercengang. Ibu yang biasanya hanya menyibukkan diri di dapur kini tampil menjadi penjaga keluarga yang paling waspada.
Dengan tumpukan uang yang tiba-tiba datang, suasana rumah malam itu jauh lebih lega daripada sebelumnya; mereka membayangkan masa depan cerah yang sedang mendekat kepada mereka, sampai-sampai sulit mengantuk.
Hampir pukul sebelas malam, Ibu tiba-tiba teringat sesuatu, lalu mendesak keras: "Sudah segini malam, Intan dan Bapak belum mandi! Bajunya belum kucuci!"
Sambil ketawa-ketawa, keluarga itu akhirnya membubarkan diri.
Keesokan paginya, Bapak mulai menimba ilmu dari Intan: cara memasak mutiara dan teh untuk es campur.
Karena nanti Bapaklah yang menangani semua pekerjaan itu sendirian, Intan hanya bisa menyiapkan air mustika ke dalam madu terlebih dahulu, lalu berpesan agar mutiara dan teh selalu dimasak memakai madu racikan khusus itu.
Madu yang dibeli dari grosir kini datang dalam ember besar, mirip ember cat.
Satu ember cukup untuk dua sampai tiga hari, dan setiap kali Intan selalu memesan tujuh atau delapan ember sekaligus.
Setiap ember diisi air mustika, lalu diracik, dan ia bercerita kepada Bapak bahwa madu itu dicampur gula dengan takaran khusus.
Bapak tidak pernah curiga sedikit pun.
Karena itu, Bapak tidak akan pernah memesan madu sendiri; setiap kali madu hampir habis, pasti ia menghubungi Intan.
Dengan begitu, kelezatan es campur mereka tetap terjaga.
Memasak mutiara dan teh sebenarnya sederhana.
Teh datang dalam kantongan kemasan, tidak perlu ditimbang-timbang; cukup air dimasukkan ke panci, lalu dididihkan sampai warnanya pekat, kemudian ditambah sesendok madu racikan.
Untuk mutiara, tinggal memasukkan air madu lebih dulu lalu merebus mutiara di dalamnya sambil diaduk pelan sampai bening dan kenyal.
Bagi Bapak yang pandai masak sejak muda, pekerjaan ini hanya seperti latihan sore.
Hari pertama Intan menuntun sekali, Bapak langsung hafal.
Pagi itu pula, sebelum berangkat menjaga gerobak, Bapak mampir ke bank untuk membuka buku tabungan dan menyetorkan uang yang selama ini ditimbun di rumah.
Nomor antrean panjang, tetapi wajahnya tetap cerah; ia menunggu gilirannya dengan sabar seperti orang yang sedang menunggu panen pertama.
Pukul sembilan tepat, ia sudah berangkat membawa gerobak ke Plaza Cendrawasih.
Begitu Bapak keluar, Intan bersiap menuju pasar grosir untuk membeli bahan-bahan bakso.
Namun sebelum beranjak, ia menyadari ada orang yang diam-diam mengikutinya.
"Intan! Serius mau ikut belanja?"
Intan menatap Dimas curiga. Ia mengira sang kakak, yang biasa menyelam dalam lautan buku ketika pulang, sudah kembali ke kamar.
Hari ini Dimas mengenakan kaus lengan pendek, celana jin longgar, dan topi baseball hitam, sehingga kelihatan lebih cakap daripada biasanya.
Mungkin karena terlalu sering melihatnya berseragam sekolah, sesekali begini Dimas terlihat tidak seperti dirinya sendiri.
Dimas memasukkan kedua tangannya ke saku, mengangkat sudut bibir, menyipitkan mata, dan tersenyum: "Kenapa? Dik tidak boleh ikut membantumu?"
Intan mengerik dahinya; sebenarnya ia tidak butuh pembantu.
Tetapi Dimas sudah siap sedemikian rupa, dan mustahil ia mengusir kakaknya begitu saja.
"Baiklah, semua barang yang kubeli hari ini, Kakak yang bawakan."
"Baik!" Dimas menyanggupi dengan senang.
Di tengah jalan, ia menepuk-nepuk tas kecil di pundaknya.
"Kau sudah menyiapkan daftar belanja, kan? Jangan sampai kelupaan, nanti keliling dua kali."
"Sudah," jawab Intan singkat. "Semuanya sudah kucatat satu per satu. Kakak yang keliling dua kali kalau terus melihat kiri dan kanan."
Dimas terkekeh; keduanya berjalan beriring seperti biasa, saling ledek tetapi tetap kompak.
Setelah berdua turun ke gang rumah, tetangga-tetangga yang duduk berkumpul menyapa mereka.
Nenek tua yang biasa duduk di depan pintu, nenek yang berkali-kali menjadi penengah di kampung ini, berseru dengan suara yang lebih lantang dari biasanya: "Eh, Intan! Kudengar kau juara satu se-kota waktu ujian masuk SMA! Anak hebat! Masa depannya cemerlang!"
Wanita yang baru balik dari pasar menyusul, menoleh takjub, lalu menarik beberapa ibu dan orang tua dari kampung ikut serta.
Intan tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini.
Ia mengangguk canggung tetapi tetap sopan, memanggil satu per satu orang yang hadir, lalu berkata, "Nenek, Tante, aku dan Kakak mau berbelanja, kami permisi dahulu."
Orang-orang itu awalnya ingin menarik Intan dan menanyai soal belajar, tetapi melihat Intan setengah berlari meninggalkan kerumunan, tidak lama kemudian Intan lenyap dari pandangan mereka.
Dari kejauhan, Bu Irma yang sejak tadi memperhatikan segala sesuatu, berkomentar dengan nada masam: "Cih! Sok jagoan! Juara se-kota saja bukan juara provinsi. Anak perempuan sehebat apa pun ujiannya, toh nanti tetap menjadi milik rumah orang lain!"
Mendengar itu, para warga langsung tidak senang.
Siapa pun punya anak perempuan; merendahkan putri orang tidak akan ada gunanya.
Seorang warga langsung menimpali: "Kau ini, anggur masam yang tak bisa dimakan! Dulu bilang Intan tidak tembus SMA Mutiara, katanya tidak bisa sekolah, lebih baik berjualan dari kecil. Sekarang lihat sendiri, bocahnya juara se-kota—bohongmu ketahuan! Yang tidak tembus SMA Mutiara itu kau sendiri; cuma kau yang menganggap SMA Mutiara seperti barang suci!"
Seorang lelaki yang ikut berkumpul menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata pelan kepada orang di sebelahnya: "Sudah-sudah, biarkan saja. Perempuan seperti itu, makin diladeni, makin menjadi tidak sopan. Yang penting anak-anak bisa maju."
Kerumunan itu perlahan-lahan terpecah ketika setiap orang kembali ke kesibukan hariannya.
Bu Irma memang pernah banyak berucap seperti itu di kampung, merendahkan keluarga Intan yang miskin sampai-sampai tidak sanggup membiayai anak belajar.
Pernyataan-pernyataan itu sudah lama menjadi buah bibir para warga.
Kini, dikelilingi oleh tatapan tajam, Bu Irma merah karena malu dan marah; ia meninggikan suaranya dengan kesal: "Siapa tahu juara satu itu didapatnya dengan cara apa! Padahal jelas dia gagal! Kalian malah ikut sombong seperti ini, kukira yang juara itu putri kalian sendiri!"
"Kau gila!" Warga yang menimpali itu tahu tak ada gunanya bertengkar dengan perempuan yang sedang kalap; ia mendengus keras dan pergi.
Orang-orang lain menganggapnya membosankan, lalu kembali ke kegiatan mereka masing-masing.
Di sisi lain gang, Intan yang sudah jauh sama sekali tidak tahu keributan kecil yang baru saja pecah di belakang punggungnya.
Ia berjalan santai bersama Dimas.
Pasar grosir di pinggir kota itu setiap pagi dipadati pedagang dan buruh angkut; daging, sayur, dan rempah menggunung di lapak-lapak terbuka.
Di kepalanya mengalir daftar bumbu yang akan dibeli: daging, telur, bawang merah dan bawang putih, lada, dan sebaris barang kecil lainnya untuk resep bakso yang sudah ditulis rapi di balik buku catatannya.
Bagi Intan, setiap langkah menuju pasar grosir adalah langkah menuju gerobak bakso pertama yang akan mengikuti gerobak es campur di Plaza Cendrawasih.
Ia tidak punya niat membalas omongan orang yang baru saja lewat dari telinganya; ia terlalu sibuk membayangkan kepulan kaldu dan bulatan-bulatan bakso yang akan menggiring lebih banyak uang ke tangan keluarganya.
Dimas berjalan di sebelahnya sambil membawa tas kecil di pundak. Sesekali ia menengadah ke arah saudaranya, lalu segera meneruskan langkah. Keduanya tidak banyak bicara; yang ada di kepala mereka saat itu hanya daftar belanja dan uang yang harus di tangan.