Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Setelah beberapa hari izin karena sakit, akhirnya Valeska kembali ke sekolah. Pagi itu, kondisi cuaca sangatlah cerah, dan udara terasa menyegarkan bagi Valeska lantaran dia sudah lama tidak keluar apartemennya.
Kebetulan satu arah dengan kampus tempat sang abang berkuliah, jadilah mereka berangkat bareng. Kaivandra tampak menunggu Valeska di depan dengan motor yang siap melaju.
"Semangat banget, dek. Pasti kangen sama suasana sekolah ya, udah lama juga nggak ketemu temen-temen," ucap Kaivandra, kemudian membantu Valeska naik ke atas motor.
Di perjalanan, Valeska banyak berpikir karena khawatir tidak bisa mengejar pelajaran yang tertinggal. Dia tidak sanggup membayangkan berapa banyak tugas yang akan dia kejar, secara, sekolahnya itu pasti saja setiap hari ada tugas. Kalau dalam sehari ada 4 pelajaran, nah dalam setiap mata pelajaran pasti ada tugas.
"Tegang amat, dek. Semangat dong, yang penting kamu sehat dulu. Urusan pelajaran, bisa dikerjain pelan-pelan," ucapnya lagi setelah paham apa yang dipikirkan oleh adiknya.
Valeska hanya mengangguk,sembari tersenyum manis. Sampai di gerbang sekolah, Valeska disambut ramah oleh pak satpam dan 3 teman dekat yang sejak tadi menunggu dirinya di depan sana. Mereka tampak senang, terlihat dari raut wajahnya.
"Ya ampun, anak ini, perasaan sakit mulu deh," ujar Parisha, sembari menggandeng tangan Valeska.
"Bukan keinginan, Prisha!" timpal Anaya sedikit sewot.
"Masuk kelas aja yuk, bentar lagi bel masuk." Usul Laksha, yang langsung disetujui oleh mereka bertiga.
Setelah memastikan adiknya masuk ke dalam kelas, Kaivandra mulai meninggalkan area sekolah tempat sang adik belajar sambil berkata.
"Kalau kayak ginikan, enak. Adek sehat, abang bahagia."
Hari pertama Valeska masuk sekolah, cukup membuat dirinya senang. Meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi dia merasa lebih baik karena memiliki teman dekat yang perhatian kepadanya.
***
Sementara di kampus Kaivandra. Satya baru saja tiba di kelas dan langsung duduk di antara ketiga temannya. Tidak jauh darinya, terlihat Kaivandra yang sedang sibuk dengan ponsel yang dia miliki. Dia sedang berbalas pesan dengan Valeska. Satya berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan sembari menunggu kelas terakhir pada hari ini.
"Apa persamaan anak elektro, dengan baterai?" tanya Satya, membuat mereka mengernyitkan dahi.
"Mulai-mulai," jawab Arjuna.
"Apaan ege? Gue males mikir!" sahut Vikara, kesal.
"Ah, nggak seru!"
"Mampus ahahah." Tiba-tiba saja Kaivandra menyahut diakhiri dengan gelak tawa. Jujur saja, Vikara sangat kepo dari pertanyaan Satya barusan. Hanya saja dirinya tidak mau berusaha dulu sebelum menjawab,
"Cepet apaan, Satya?" tanya Vikara terlihat frustasi. Satya menyentil dahi Vikara, yang kebetulan berada di sampingnya.
"Makanya mikir, bodoh." Celetuknya sembari tersenyum meremehkan. Kaivandra menggeleng lelah diikuti dengan helaan napas.
Senyum dari bibir kecilnya masih belum pudar, bahkan dia merangkul Satya lalu berkata, "Sesama bodoh, jangan saling membully." Arjuna bertepuk tangan merasa setuju dengan perkataan Kaivandra.
Sepersekian detik, dia pun menjawab, "Eh gila, ngena banget, Kai. Ang ang ang,"
"Si Juna, demam tektok," ujar Vikara.
"Jawaban dari pertanyaan lo tadi, apa Satya?" tanya Arjuna.
"Tau deh, gue pundung. Mau ngadem aja di DPR," lanjutnya ketus. Vikara menarik tangan Satya saat hendak berdiri.
"Sat, jawab jujur. Lo, nggak mungkin datang ke gedungnya'kan? Ini cuma candaan doang,"
"Di bawah pohon rindang. Gitu aja kagak tahu, huh! Bodoh!" Tidak lama dari situ, seorang dosen pun masuk ke dalam kelas. Suara langkahnya terdengar jelas, bersamaan dengan suara pintu saat ditutup kembali, membuat semua orang yang berada di dalam kelas mendadak hening.
Kaivandra mulai mengambil iPad dari dalam ransel saat dosen memulai pembelajaran, beliau menjelaskan terkait elektronika dasar, dan elektromagnetika dengan jelas dan rinci. Kaivandra tampak fokus, pandangannya menatap layar iPad dan sesekali menatap ke depan. Jari jemarinya begitu lihai saat mencatat materi yang dirasa penting.
Dia menggunakan aplikasi khusus untuk mencatat agar terlihat rapi dan terstruktur. Di dalam kelas, hampir semua orang menggunakan iPad, tapi ada juga yang memakai buku catatan dengan pena. Sedangkan Kaivandra lebih nyaman menggunakan iPad karena merasa lebih canggih.
Di tempat lain, Valeska berkumpul di dalam kelas bersama teman dekatnya. Valeska sangat menikmati jam istirahat terakhir, dia memilih menu paling best seller di kantinnya, yaitu menu mie goreng spesial, dan minumnya es jeruk agar menetralkan tenggorokan.
Es jeruk yang Valeska pesan, tanpa gula, dia memangsuka dengan rasa asam khas dari jeruk.
"Waktu di rumah sakit, gue nggak sengaja lihat abang lo, Val. Mau nyamperin, tapi gue agak segan," ucap Prisha, memberikan informasi sesuai kejadian beberapa hari pada teman-temannya.
"Mukanya kalut banget, kayak orang banyak pikiran," lanjutnya.
"Lo, mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Valeska, santai. Sebetulnya dia paham, mengapa abangnya seperti itu.
"Waktu itu, mau nganterin berkas yang ketinggalan di rumah. Dan kebetulan, ayah gue lagi dipindah tugas kerumah sakit tersebut," jelas Prisha yang awalnya Laksha dan Anaya sedang menghabiskan mie, langsung terhenti begitu saja.
Keduanya menatap ke arah Valeska dengan ekspresi terkejut. Valeska yang kebetulan duduk di depan mereka, jelas menyadari tatapan tersebut. Dengan cepat, Valeska berkata.
"Jangan gitu, kemarin cuma demam biasa. Lagian, gue nggak tahu ayah Prisha,"Laksha dan Anaya, memakan mie nya kembali. Seakan tidak terjadi apa-apa.
"Gitu ya," jawabnya singkat.
"Nanti, lo nggak usah makan mie lagi. Gue perhatiin, dalam sebulan ini lo, sering bulak balik rumah sakit. Entah karena demam, atau hal lain," jelas Prisha memberikan saran dengan nada santai.
Valeska hanya mengangguk, tapi di dalam hatinya, dia sangat berterima kasih pada teman-temannya karena sudah peduli pada dirinya.
***
Langit sore mulai merekah keemasan, Valeska melangkah keluar gerbang sekolah dengan napas lelah. Setelah seharian berkutat dengan beberapa mata pelajaran, membuat tubuhnya terasa terkuras. Dia hanya ingin pulang dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Namun, di antara banyak kerumunan teman-teman yang saling berpencar, sosok Girga melambai-lambaikan tangan. Valeska melihat sang papa kemudian menghampirinya. Sebelumnya Girga mengirimkan pesan pada Valeska, untuk makan malam di sebuah restoran yang sering mereka kunjungi. Jujur saja Girga rindu pada putri bungsunya.
"Berangkat sekarang aja," ucap Valeska, seakan mengejar waktu.
Girga tampak terkejut, seakan waktu putrinya itu sangat berharga. "Ya udah, ayok. Adek pasti udah laper, nanti makan yang banyak ya, Dek."
Meskipun tubuhnya sudah lelah, Valeska tidak bisa menolak. Di dalam mobil, aroma familiar dari stela yang sengaja di pajang di dashbord dan suara musik kesukaan Valeska menyelimuti perjalanan.
"Papa, beneran ngasih tahu abangkan?" pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja.
"Udah kok, udah." Jawabnya bohong.
Sebenarnya, sebelum menjemput Valeska, Girga tidak sama sekali menghubungi putra sulungnya. Niat hati, Valeska ingin tidur lebih lama karena sejujurnya dia sangat capek. Namun, baru juga sempat memejamkan mata, Girga sudah memberitahu bahwa sudah sampai di depan restoran khas Jepang.
"Ayok dek," ajak sang papa.
Mereka berjalan masuk dan memesan beberapa menu, Valeska hanya pesan 2 menu, yang membuat papa nya terheran-heran.
"Masa cuma dua, pesan lagi, dek. Makan yang banyak,"
"Nggak Pa, takut nggak abis. Lagian, adek udah jajan banyak waktu di sekolah." Girga hanya mengangguk, entah apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya.
Sejak tadi, Valeska hanya berbicara seperlunya, saat menikmati makanan pun tidak ada gelak tawa yang Valeska ciptakan. Hanya ada keheningan. Di tempat lain, Kaivandra dilanda panik. Dia berusaha menelpon Valeska, tapi panggilannya selalu tidak terjawab.
Seharusnya Valeska menunggu di depan, tapi kenapa tidak ada? Nomor ponselnya mati, dan tak ada pesan yang dikirimkan sejak tadi.
"Dek, kemana sih kamu ini? Kalau kamu pulang duluan, kan biasanya kirim pesan dulu ke abang," ucapnya dalam hati.
Kecemasan kian menjalar cepat, layaknya kabut yang sudah menutup segala arah. Berulang kali dia mencoba mengirimkan pesan pada teman-teman Valeska, namun hasilnya nihil. Jalanan yang ramai, seakan mempermainkan perasaannya sekarang. Membuat Kaivandra kian terjebak dalam kekhawatiran yang membelenggu.
Waktu terus berjalan, dan di tengah menikmati makanannya, Valeska merasa ada sesuatu yang mengganjal.
"Papa, pulang sekarang yuk, abang pasti kesepian di apartemen sendiri," ucap Valeska.
Pandangan Girga seketika menyiratkan terkejut, tapi dia tutupi dengan senyuman tipis. "Papa lupa ngasih tahu jam berapa kita pulang, mau pulang sekarang? Tapi abisin dulu makannya," Valeska menggelengkan kepala pelan,
"Nggak Pa, adek mau pulang sekarang. Kasihan Abang," lanjutnya memohon.
Valeska menyimpan sumpit yang berada di tangannya lalu terdiam. Perasaan bahagia saat makan bersama sang papa digantikan dengan kerisauan. Tanpa banyak pikir, Girga memutuskan untuk pulang.
Valeska diantarkan sampai depan apartemen, dan ternyata Kaivandra berada di sana sampai akhirnya dia melihat Valeska turun dari mobil. Ada tatapan lega bercampur marah ketika melihat papa nya ikut keluar dari mobil.
"Papa kenapa nggak bilang, kalau mau ajak jalan adek?" sergahnya dengan suara yang tertahan oleh rasa sayang yang begitu besar.
Valeska hanya menatap bingung pada papa nya, bukannya sudah izin? Tapi kenapa abangnya itu terlihat marah, dan khawatir? Sementara Girga, pria dewasa itu hanya tertawa kecil.
"Jangan khawatir, Papa cuma pengen makan bareng doang. Kalau begitu, Papa izin pulang." Saat itu juga, Valeska mulai paham apa yang dilakukan oleh papa nya.
"Abang, Papa berbohong? Maafkan adek, pasti Abang nyariin ya?" tanya Valeska.
"Gapapa, sekarang kita masuk, lalu istirahat." Jawabnya dingin.