Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 33
Suasana di dalam mobil terasa hening. Setelah mendapatkan ben-ka-kan ke-ras Dari Fathur saya di rumah sakit tadi Rumi memilih diam dan menatap ke arah mobil menatap jalanan yang ramai. Seramai hati dan pikirannya yang bergemuruh.
Tak ada air mata yang keluar dari kedua mata Rumi. Fathur juga hanya terdiam sedari tadi gelisah merasa bersalah sudah membentak Rumi di depan semua keluarganya. Keluarga yang membencinya. Tak sadarkan Fathur perbuatannya itu sudah sangat melukai hati Rumi yang terdalam?
"Dek, ... Maafkan atas ucapan mas tadi di rumah sakit! Maaf Mas Refleks dan tak sengaja mem-ben-tak kamu," Fathur akhirnya membuka suara setelah beberapa saat terdiam.
Rumi tak menjawab, bahkan melirik ke arah suaminya. Dia hanya mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat baby bumpnya. Fathur semakin merasa bersalah. Diamnya Rumi membuat dia semakin serba salah. Di sisi lain dia khawatir dengan keadaan ibunya. Apalagi dengan keadaannya yang seperti tadi. Di sisi lainnya lagi dia kurang suka dengan ucapan dan sikap Rumi di ruangan ibunya tadi. Seolah istrinya tak percaya jika ibunya sakit parah. Dan menuduh mereka sedang membohonginya.
saat tiba di halaman rumah, Arumi keluar dan masuk ke dalam rumah tanpa kata. Menutup pintu dengan rapat, karena tahu jika suaminya akan pergi ke rumah sakit. Fathur yang mengejar bahkan hanya bisa mematung di depan pintu.
"Astaga, Rumi benar-benar marah padaku. Apa aku nanti saja kembali ke rumah sakitnya? Aku. gak tenang meninggalkan Rumi dalam keadaan seperti ini. Jangan sampai Rumi stres dan pada akhirnya terjadi sesuatu dengan kehamilannya.
Drrrtttttttt
Drrrrrtttttt
Ponsel Fathur bergetar saat dia baru saja mau membuka pintu rumah menyusul Rumi. Fajar menghubungi, katanya Bu Tari ingin bertemu dengan Fathur. Fathur tampak bimbang namun pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menemani Bu Tari dan meninggalkan Rumi.
Janji Fathur kepada Rumi yang baru saja dia ucapkan beberapa hari lalu rupanya sudah di lupakan oleh suaminya itu. Rumi sebenarnya masih berada di balik pintu sambil menahan isak tangisnya. Dia mendengarkan pembicaraan suami dan juga orang di sebrang sana yang meminta segera ke rumah sakit.
"Bentakkan kamu di depan seluruh keluargamu apalagi di depan Dona membuat aku cukup tahu. Sejauh mana rasa sayang kamu kepadaku. Janji yang kamu ucapkan hanya sebatas janji. Pada akhirnya kamu akan tetap lebih memilih ibumu, Mas!"
"Aku mengatakan kebenaran, jika mereka semua berbohong. Tapi kamu tak percaya,dan lebih percaya mereka. Kenapa kamu memberikan aku harapan jika pada akhirnya akan tetap sama. Pilihanmu adalah ibu dan keluargamu.apa kamu tahu Mas? Rasanya jauh lebih sakit," Rumi luruh di lantai sambil memeluk lututnya.
Rumi masih bersimpuh di balik pintu. Tangannya gemetar, mencengkeram daster di bagian perutnya. Ada denyut halus di sana, kehidupan kecil yang seharusnya menjadi pemersatu, namun kini terasa seperti satu-satunya alasan mengapa ia masih mencoba bertahan di tengah badai penghinaan keluarga Fathur. Haruskah kali ini dia benar-benar memilih? Karena ternyata suaminya masih tetap sama.
Dia meraih ponselnya, saat mendengar ada suara notifikasi yang masuk. Bukan dari Fathur, melainkan pesan singkat dari adik iparnya, Fajar, yang isinya penuh nada sindiran.
“Puas lo bikin Ibu drop lagi? Gak usah sok suci nuduh Ibu akting. Fathur udah di sini, jangan harap lo bisa narik dia balik malam ini.”
Rumi tidak membalas, dia hanya tersenyum kecut. Dia merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang kosong. Biasanya, aroma tu-buh Fathur di bantal ini menenangkannya, namun malam ini aroma itu terasa asing. Seasing sikapnya malam ini. Berbeda dengan sikap Fathur beberapa hari lalu.
Dia mematikan lampu, membiarkan kamar itu gelap gulita, sama seperti perasaannya. Di bawah selimut, tubuhnya meringkuk kecil. Isak tangis yang sedari tadi dia tahan di depan Fathur akhirnya kembali pecah, tertahan oleh bantal agar suaranya tidak menggema ke seluruh penjuru rumah yang kosong.
Baru tiga hari lalu Fathur bersimpuh di depannya, berjanji akan menjaga perasaannya dan juga dirinya di atas segalanya. Apalagi setelah tahu bagaimana perlakuan mereka kepada Rumi.
Hanya satu panggilan telepon yang mengatakan jika ibunya sakit. Membuat Fathur kembali menjadi putra yang patuh dan meninggalkan istri yang tengah mengandung anaknya dalam keadaan han -cur. Padahal semua yang mereka lakukan di sana tak lebih dari sandiwara.
Malam semakin larut. Rumi merasakan kram ringan di perutnya akibat stres yang memuncak. Ia mengusap perutnya dengan lembut, air mata membasahi sprei.
"Maafkan Ibu, Nak! Ibu belum bisa memberimu Ayah yang berani berdiri di depan kita. Ibu yang akan menggantikan peran ayahmu kelak, Nak! Ibu akan menjadi orang yang akan selalu menjagamu dari orang-orang yang akan berusaha menyakitimu, Nak," rintihnya perih.
Di rumah sakit sana, Fathur mungkin sedang menggenggam tangan ibunya dengan penuh kecemasan. Sementara di sini, di rumah yang mereka bangun dengan kata cinta, Rumi harus berjuang sendirian melawan rasa sakit. Sesak napas, dan kesadaran pahit bahwa bagi Fathur, dia akan selalu menjadi prioritas kedua.
Rumi memejamkan mata, namun bukan untuk tidur. Dia sedang menyusun puing-puing hatinya, menyadari bahwa mulai malam ini, dia harus belajar berdiri tegak. Bahkan jika itu berarti tanpa sandaran suaminya lagi. Dia harus bersiap dengan kemungkinan terpahit. Apalagi saat ini Fathur sudah memiliki jabatan yang cukup tinggi. Sehingga memiliki penghasilan yang cukup besar, mereka pasti tidak akan membiarkan Fatur begitu saja. Dia tahu bagaimana sifat keluarga Fathur.
"Aku harus siap, kita akan hidup berdua, Nak!" ucap Rumi kembali menyemangati diri sambil mengusap lembut perutnya.
berpisah dengan Fathur.
lihat selanjutnya ....