Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Masalah Sudah Terselesaikan
Ruang keluarga yang biasanya terasa hangat malam itu justru dipenuhi keheningan. Cahaya lampu kristal memantul lembut di lantai marmer, menerangi empat orang yang duduk saling berhadapan. Danendra dan Fina berada di sofa utama, sementara Amora duduk di samping sang kakak, Jelita.
Tidak ada yang langsung membuka percakapan. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri hingga akhirnya Jelita mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk.
"Ma... Yah... maafin Jelita," ucapnya lirih. Suaranya bergetar menahan tangis. "Jelita sadar apa yang Jelita lakuin udah bikin semuanya jadi berantakan."
Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Ia bahkan tidak sanggup menatap kedua orang tuanya. Rasa bersalah yang memenuhi dadanya terasa jauh lebih berat dibanding dua hari saat ia memilih menghilang.
Fina mengembuskan napas panjang. Sebagai seorang ibu, hatinya lega karena putri sulungnya telah kembali dengan selamat. Namun di sisi lain, ia tetap tidak bisa mengabaikan luka yang ditinggalkan oleh keputusan Jelita.
"Apa yang kamu lakukan memang membuat kami sangat khawatir, Kak," ucap Fina pelan. "Selama dua hari ini Mama sama Ayah hampir enggak bisa tenang."
Jelita menggigit bibir bawahnya. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Ia memang memilih pergi karena tidak siap menjalani pernikahan yang telah ditentukan. Saat itu pikirannya hanya dipenuhi keinginan untuk menghindar. Namun ia sama sekali tidak membayangkan bahwa keputusan tersebut justru membuat Amora harus menggantikannya di pelaminan dan menikah dengan Atharazka Bagaskara.
Danendra yang sejak tadi diam akhirnya bersandar sambil menatap putri sulungnya.
"Kalian bisa pulang bareng gimana?" tanyanya tenang.
Amora lalu menceritakan bagaimana secara tidak sengaja ia bertemu Jelita di sebuah swalayan ketika hendak membeli kebutuhan apartemen. Dari pertemuan itulah ia berhasil membujuk sang kakak untuk kembali ke rumah.
Danendra mengangguk pelan setelah mendengarnya.
"Selama ini kamu tinggal di mana?" tanyanya lagi.
"Di kos-kosan, Yah," jawab Jelita jujur tanpa berusaha menutupi apa pun.
Danendra mengusap dagunya pelan.
"Pantas saja orang-orang yang Ayah minta mencari kamu enggak menemukan jejakmu. Kami fokus mencari di hotel dan apartemen. Sama sekali enggak terpikir kalau kamu memilih tinggal di kos-kosan."
Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian Danendra kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih dalam.
"Masalah yang terjadi sekarang sudah selesai. Pernikahan tetap berlangsung karena Amora menggantikan posisi kamu." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau ada orang yang paling pantas menerima permintaan maafmu, itu bukan Mama atau Ayah... tapi Amora."
Ucapan itu membuat kepala Jelita semakin tertunduk. Dadanya kembali terasa sesak. Ia perlahan menoleh ke arah Amora. Adiknya sedang menatapnya dengan senyum kecil yang menenangkan, tanpa sedikit pun menyimpan amarah.
Sebelum Jelita sempat membuka suara, Amora lebih dulu menggenggam tangannya.
"Kak, enggak usah minta maaf lagi," katanya lembut. "Di perjalanan tadi Kakak juga udah berkali-kali bilang maaf ke aku. Dan jawabanku tetap sama. Aku enggak pernah nyalahin Kakak."
Mendengar kalimat itu, air mata Jelita kembali jatuh. Ia benar-benar tidak menyangka adiknya bisa menerima semua keadaan dengan hati selapang itu.
Fina mengusap sudut matanya yang mulai basah, sementara Danendra mengembuskan napas lega. Setidaknya malam itu, keluarga mereka kembali berkumpul dalam satu rumah.
Setelah mengobrol cukup lama, Jelita akhirnya berdiri.
"Aku mau istirahat dulu ya. Besok sekalian ambil barang-barang yang masih ada di kos."
Walaupun uang sewa satu bulan sudah dibayarkan dan kamar itu baru ditempatinya selama dua malam, Jelita tidak terlalu memikirkan kerugian tersebut. Baginya, kembali ke rumah jauh lebih penting daripada mempersoalkan biaya yang sudah terlanjur keluar. Toh biayanya juga tidak seberapa.
Fina mengangguk pelan.
"Amora, malam ini temani Kakakmu, ya."
"Iya, Ma," jawab Amora sambil tersenyum.
Kedua bersaudara itu pun berjalan menuju tangga. Langkah mereka terdengar pelan menyusuri anak tangga marmer menuju lantai dua.
Belum lama mereka menaiki beberapa anak tangga, suara Fina kembali terdengar dari ruang keluarga.
"Amora... Jelita... nanti jangan lama-lama di atas. Turun lagi buat makan malam bersama. Mama sudah minta Bi Pinah dan Bi Mursih menyiapkan makan."
Amora menoleh sambil tersenyum.
"Iya, Ma. Sebentar lagi kami turun."
Setelah itu, Amora dan Jelita kembali melanjutkan langkah menuju kamar masing-masing. Meski masih banyak hal yang harus diperbaiki, malam itu setidaknya menjadi awal bagi keluarga Atmojo untuk kembali menyatukan kepingan-kepingan yang sempat tercerai berai.
Malam semakin larut. Apartemen di lantai tujuh 17 itu kembali diselimuti kesunyian. Ruang tengah hanya diterangi cahaya televisi yang masih menyala, sementara suara pembawa berita mengalun pelan tanpa benar-benar menarik perhatian siapa pun.
Atharazka duduk seorang diri di sofa. Sebelah tangannya menopang kepala, sedangkan tangan lainnya memainkan remote televisi. Beberapa kali ia mengganti saluran, tetapi tidak ada satu pun acara yang sanggup membuatnya fokus.
Tanpa sadar, pandangannya berulang kali beralih ke arah pintu utama apartemen.
Lelaki itu kemudian melirik jam dinding.
Pukul 21.08.
Keningnya langsung berkerut.
"Belum pulang juga?" gumamnya lirih.
Ia masih mengingat jelas ucapan Amora sebelum pergi. Gadis itu hanya mengatakan ingin keluar sebentar membeli beberapa kebutuhan dapur. Supermarket yang dituju pun berada tidak terlalu jauh dari apartemen. Seharusnya perjalanan pulang-pergi tidak memakan waktu selama ini.
Atharazka meraih ponselnya dari atas meja. Ia membuka layar, berharap ada pesan atau panggilan yang masuk.
Tidak ada.
Ia menghela napas pelan sebelum kembali menyandarkan tubuhnya.
"Mungkin lagi antre di kasir," pikirnya, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Namun beberapa menit berlalu, pikirannya justru semakin dipenuhi berbagai kemungkinan.
Apa mobilnya mogok? Atau mungkin terjadi sesuatu di jalan? Atharazka menggeleng pelan, berusaha mengusir bayangan-bayangan buruk yang mulai memenuhi kepalanya.
"Aneh! kenapa gue jadi kepikiran begini?"
Ia tersenyum tipis, menertawakan dirinya sendiri.
Hubungan mereka bahkan belum bisa disebut sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya. Pernikahan itu terjadi begitu cepat, tanpa proses saling mengenal. Selama dua hari tinggal serumah, percakapan mereka pun bisa dihitung dengan jari.
Meski begitu status Amora tetap tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagaimanapun, selama perempuan itu tinggal bersamanya, keselamatan Amora menjadi tanggung jawabnya.
Atharazka kembali membuka aplikasi percakapan. Chat terakhir yang ia kirim masih berisi PIN kartu ATM yang diberikan sore tadi. Pesan itu bahkan belum dibuka oleh Amora.
"Dia enggak ada buka HP sama sekali?" keluhnya pelan.
Jarinya sempat berhenti di tombol panggil. Ia berniat menelepon, tetapi urung melakukannya.
"Nanti malah dikira gue ngekang."
Ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Tatapannya sekali lagi tertuju ke arah pintu apartemen. Dalam benaknya mulai terbayang Amora masuk sambil membawa beberapa kantong belanja dan meminta maaf karena pulang terlambat.
Sayangnya, bayangan itu tidak kunjung menjadi kenyataan. Beberapa saat kemudian, layar ponselnya tiba-tiba menyala disertai suara notifikasi. Atharazka segera mengambilnya.
Nama Amora muncul di layar. Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka pesan tersebut.
from: Amora
Mas Razka, maaf baru ngabarin. Aku sekarang lagi di rumah Mama sama Ayah. Malam ini aku izin menginap di sini dulu, ya.
Atharazka membaca pesan itu sampai dua kali.
Ekspresinya berubah datar. Ia mengembuskan napas panjang sebelum mengunci layar ponselnya.
"Katanya cuma beli kebutuhan apartemen..." gumamnya pelan. "Ternyata malah nginep di rumah orang tua."
Entah mengapa, ada rasa jengkel yang perlahan muncul di dalam dirinya. Bukan karena Amora pulang ke rumah keluarganya, melainkan karena kabar itu baru diterimanya setelah menunggu hampir dua jam.
Ia mengusap wajahnya kasar.
"Setidaknya sekarang gue tahu dia baik-baik aja."
Kalimat itu terdengar lebih seperti usaha menenangkan dirinya sendiri.
Atharazka kemudian mematikan televisi. Seketika ruang apartemen kembali sunyi. Ia membawa botol air mineral menuju kamar, meletakkan ponsel di atas nakas, lalu merebahkan tubuh di ranjang.
Langit-langit kamar menjadi satu-satunya pemandangan yang ia lihat malam itu. Meski matanya perlahan terpejam, pikirannya masih sempat mengingat isi pesan singkat dari Amora.
Dengan napas panjang, Atharazka akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkannya dan mencoba beristirahat, berharap esok hari semuanya kembali berjalan seperti biasa.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰