"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Persiapan Persidangan
"Tentu saja," Naya mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat dingin namun cerdas. "Di dalam persidangan pra-perwalian anak minggu depan, tim hukum Clarissa pasti akan membangun opini bahwa Saskia adalah ibu kandung yang penuh kasih sayang dan rindu pada anaknya. Rekaman video tadi siang —di mana Kenzie menjerit ketakutan melihat Saskia dan tindakan agresif Saskia yang mencoba menyeret anak tanpa izin—akan menjadi bukti otentik yang mematikan opini tersebut. Kita akan menunjukkan pada hakim bahwa kehadiran Saskia justru memberikan trauma psikologis yang buruk bagi tumbuh kembang Kenzie."
Arka terpaku seribu bahasa. Di dalam kepalanya, ia tidak pernah membayangkan bahwa seorang wanita yang ia bawa dari latar belakang yang sederhana, mampu mengeksekusi sebuah serangan balik tingkat tinggi dengan memanfaatkan kecerobohan musuh dalam hitungan menit. Ketenangan batin dan kecerdasan taktis yang dimiliki Nayara sore ini tidak hanya menyelamatkan anaknya, melainkan telah memberikan kartu as yang akan mengunci kemenangan mereka di meja hijau nanti.
Rasa kagum yang berbaur dengan rasa butuh yang teramat besar dan gelombang perasaan yang kian dalam kini membuncah hebat di dalam dada Arka. Pria sedingin es itu merasakan dinding pertahanannya telah sepenuhnya hancur lebur di hadapan pesona kekuatan sunyi milik istrinya.
Arka bangkit dari duduknya, melangkah mendekati sofa Naya dengan gerakan yang sangat tulus tanpa ada sekat kontrak kerja lagi. Ia berlutut di sebelah wanita itu, menyetarakan tinggi badan mereka, lalu menatap lekat-lekat wajah jernih Naya dengan sorot pemujaan yang mutlak.
"Kamu ... kamu benar-benar luar biasa, Naya," bisik Arka, suaranya parau dan bergetar samar karena emosi yang teramat dalam. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membalas semua ketulusan dan perlindungan yang kamu berikan pada anakku hari ini. Tanpa kehadiranmu di rumah ini, aku pasti sudah hancur oleh kelicikan mereka."
Naya merasakan debaran jantungnya sendiri berpacu dengan ritme yang liar mendapati kedekatan intim dan sorot mata hangat yang dipancarkan oleh Arka dari jarak sedekat ini. Kehangatan pria kaku itu seolah mengalir menembus batas pertahanan batinnya yang selama ini ia kunci rapat. Dada Naya berdesir hebat, ada dorongan asing di dalam hatinya yang mulai melanggar batas aturan kontrak mereka.
Namun, dengan kekuatan mentalnya yang luar biasa, Naya menarik napas panjang secara teratur untuk mempertahankan kewarasannya. Ia tidak memalingkan wajah, tetap menatap lurus ke dalam manik mata elang Arka dengan ketegasan yang menghanyutkan.
"Kita berada di dalam satu kapal yang sama untuk melindungi Kenzie, Mas Arka. Jangan biarkan emosi Anda mengaburkan fokus kita," ucap Naya dengan nada bicara yang kembali dikontrol dengan rapi. "Simpan rasa terima kasih Anda sampai hakim mengetuk palu kemenangan kita minggu depan. Sekarang, masuklah ke kamar utama. Bantu saya menata sisa berkas harian Kenzie sebelum malam tiba, karena badai dari luar sudah mulai mengetuk pintu, dan kita harus memastikan pertahanan di dalam kamar kita tidak memiliki celah sekecil apa pun."
Arka menatap garis senyum tipis Naya yang tampak berkilau diterpa cahaya sore yang mulai meredup lewat jendela besar. Ia mengangguk pelan, perlahan melepaskan ketegangannya karena tahu ia berada di tangan yang aman.
***
Ketukan palu seolah sudah berbunyi di dalam kepala Arkananta sejak fajar menyingsing. Pagi itu, ruang rapat privat di lantai dua kediaman Dewangga terasa jauh lebih sempit dari ukuran aslinya. Bau pekat kopi hitam tanpa gula berbaur dengan aroma kertas-kertas baru dari map jingga yang berserakan di atas meja kaca.
Di ujung meja, Stanley, pengacara senior berkepala penasihat hukum Dewangga Group, memijat pangkal hidungnya yang memerah. Di hadapannya, selembar kertas putih dengan kop resmi Pengadilan Agama dan Anak Jakarta Selatan tergeletak kaku. Surat panggilan sidang pertama untuk permohonan pra-perwalian yang diajukan oleh Saskia Maheswari.
"Sidangnya tertutup, Tuan Arka. Tapi Anda tahu persis cara kerja Clarissa," Stanley membuka suara, nadanya berat dan berpasir khas pria paruh baya yang kurang tidur. "Sidang boleh steril dari wartawan, tapi koridor pengadilan tidak. Dan yang paling krusial adalah penilaian subjektif hakim anak minggu depan. Begitu hakim menangkap kesan bahwa pernikahan Anda dengan Ibu Naya ini punya ... 'jarak emosional', tamat kita."
Arka tidak menyahut. Pria itu duduk bersandar, namun punggungnya tegak lurus sekeras papan jati. Jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk cangkir kopi yang sudah dingin. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah kertas panggilan itu seolah ingin membakarnya dengan pandangan mata.
"Jarak emosional yang seperti apa, Pak Baskara?"
Suara itu mengalun pelan dari sudut ruangan. Naya berjalan mendekat membawa nampan berisi teko air hangat. Pagi ini dia hanya mengenakan kemeja katun bergaris biru muda yang longgar dengan rambut yang digulung asal menggunakan jepitan lidi. Sederhana, tanpa pulasan lipstik tebal, namun cara berjalannya yang tenang tanpa suara justru mendominasi suasana ruangan.
Baskara menoleh, membetulkan letak kacamata bacanya. "Hakim anak di Indonesia itu sangat peka, Ibu Naya. Mereka dilatih untuk melihat bahasa tubuh. Kalau di dalam ruang sidang nanti Anda dan Tuan Arka duduk berjauhan, kaku saat saling bicara, atau ragu-ragu saat menjawab tentang kebiasaan harian Kenzie ... pengacara Saskia akan langsung menerkam. Mereka akan membuktikan bahwa pernikahan ini hanyalah transaksi kilat demi tameng hak asuh."
Arka mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya yang mulai berantakan. "Saskia membawa tiga saksi ahli psikologi anak dari London. Mereka mau mempretensi bahwa aku tidak punya waktu untuk Kenzie dan lingkungan rumah ini ... manipulatif." Pria itu menoleh ke arah Naya, sorot matanya yang tajam mendadak melunak, digantikan sejenis rasa bersalah yang tertahan di tenggorokan. "Mereka akan menguliti masa lalu keluargamu, Naya. Clarissa sudah menyiapkan narasi kalau kamu mengambil keuntungan finansial dari posisiku."
Naya meletakkan gelas air hangat di depan Baskara, lalu beralih berdiri tepat di samping kursi Arka. Alih-alih cemas, sudut bibirnya justru mengukir senyuman tipis yang sangat dingin—senyuman khas seorang wanita yang tahu persis letak kekuatannya.
"Biarkan mereka menguliti apa saja yang mereka mau, Mas Arka," ucap Naya lembut namun penuh penekanan. Panggilan 'Mas' itu meluncur begitu mulus dari bibirnya, membuat jepitan kaku di rahang Arka sedikit mengendur. "Uang yang Anda berikan untuk biaya rumah sakit ibu saya adalah fakta. Pernikahan kita yang terjadi tiga hari setelahnya juga fakta. Menyangkal hal itu di depan hakim justru akan membuat kita terlihat seperti pembohong."
Stanley agak terkejut, ia menegakkan duduknya. "Maksud Ibu Naya? Kita mau mengakuinya?"
"Kita akui dengan kepala tegak," Naya menatap Baskara dengan sepasang mata bulatnya yang jernih. "Apakah salah jika seorang pria mapan membantu membiarkan calon mertuanya sembuh sebelum dia meminang anaknya? Itu bukan transaksi kotor, Pak Stanley. Itu namanya tanggung jawab moral seorang lelaki yang ingin membangun keluarga baru. Kita putar narasi mereka dari sana."
Bersambung...