NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:154.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Persiapan Persidangan

"Tentu saja," Naya mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat dingin namun cerdas. "Di dalam persidangan pra-perwalian anak minggu depan, tim hukum Clarissa pasti akan membangun opini bahwa Saskia adalah ibu kandung yang penuh kasih sayang dan rindu pada anaknya. Rekaman video tadi siang —di mana Kenzie menjerit ketakutan melihat Saskia dan tindakan agresif Saskia yang mencoba menyeret anak tanpa izin—akan menjadi bukti otentik yang mematikan opini tersebut. Kita akan menunjukkan pada hakim bahwa kehadiran Saskia justru memberikan trauma psikologis yang buruk bagi tumbuh kembang Kenzie."

Arka terpaku seribu bahasa. Di dalam kepalanya, ia tidak pernah membayangkan bahwa seorang wanita yang ia bawa dari latar belakang yang sederhana, mampu mengeksekusi sebuah serangan balik tingkat tinggi dengan memanfaatkan kecerobohan musuh dalam hitungan menit. Ketenangan batin dan kecerdasan taktis yang dimiliki Nayara sore ini tidak hanya menyelamatkan anaknya, melainkan telah memberikan kartu as yang akan mengunci kemenangan mereka di meja hijau nanti.

Rasa kagum yang berbaur dengan rasa butuh yang teramat besar dan gelombang perasaan yang kian dalam kini membuncah hebat di dalam dada Arka. Pria sedingin es itu merasakan dinding pertahanannya telah sepenuhnya hancur lebur di hadapan pesona kekuatan sunyi milik istrinya.

Arka bangkit dari duduknya, melangkah mendekati sofa Naya dengan gerakan yang sangat tulus tanpa ada sekat kontrak kerja lagi. Ia berlutut di sebelah wanita itu, menyetarakan tinggi badan mereka, lalu menatap lekat-lekat wajah jernih Naya dengan sorot pemujaan yang mutlak.

"Kamu ... kamu benar-benar luar biasa, Naya," bisik Arka, suaranya parau dan bergetar samar karena emosi yang teramat dalam. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membalas semua ketulusan dan perlindungan yang kamu berikan pada anakku hari ini. Tanpa kehadiranmu di rumah ini, aku pasti sudah hancur oleh kelicikan mereka."

Naya merasakan debaran jantungnya sendiri berpacu dengan ritme yang liar mendapati kedekatan intim dan sorot mata hangat yang dipancarkan oleh Arka dari jarak sedekat ini. Kehangatan pria kaku itu seolah mengalir menembus batas pertahanan batinnya yang selama ini ia kunci rapat. Dada Naya berdesir hebat, ada dorongan asing di dalam hatinya yang mulai melanggar batas aturan kontrak mereka.

Namun, dengan kekuatan mentalnya yang luar biasa, Naya menarik napas panjang secara teratur untuk mempertahankan kewarasannya. Ia tidak memalingkan wajah, tetap menatap lurus ke dalam manik mata elang Arka dengan ketegasan yang menghanyutkan.

"Kita berada di dalam satu kapal yang sama untuk melindungi Kenzie, Mas Arka. Jangan biarkan emosi Anda mengaburkan fokus kita," ucap Naya dengan nada bicara yang kembali dikontrol dengan rapi. "Simpan rasa terima kasih Anda sampai hakim mengetuk palu kemenangan kita minggu depan. Sekarang, masuklah ke kamar utama. Bantu saya menata sisa berkas harian Kenzie sebelum malam tiba, karena badai dari luar sudah mulai mengetuk pintu, dan kita harus memastikan pertahanan di dalam kamar kita tidak memiliki celah sekecil apa pun."

Arka menatap garis senyum tipis Naya yang tampak berkilau diterpa cahaya sore yang mulai meredup lewat jendela besar. Ia mengangguk pelan, perlahan melepaskan ketegangannya karena tahu ia berada di tangan yang aman.

***

Ketukan palu seolah sudah berbunyi di dalam kepala Arkananta sejak fajar menyingsing. Pagi itu, ruang rapat privat di lantai dua kediaman Dewangga terasa jauh lebih sempit dari ukuran aslinya. Bau pekat kopi hitam tanpa gula berbaur dengan aroma kertas-kertas baru dari map jingga yang berserakan di atas meja kaca.

Di ujung meja, Stanley, pengacara senior berkepala penasihat hukum Dewangga Group, memijat pangkal hidungnya yang memerah. Di hadapannya, selembar kertas putih dengan kop resmi Pengadilan Agama dan Anak Jakarta Selatan tergeletak kaku. Surat panggilan sidang pertama untuk permohonan pra-perwalian yang diajukan oleh Saskia Maheswari.

"Sidangnya tertutup, Tuan Arka. Tapi Anda tahu persis cara kerja Clarissa," Stanley membuka suara, nadanya berat dan berpasir khas pria paruh baya yang kurang tidur. "Sidang boleh steril dari wartawan, tapi koridor pengadilan tidak. Dan yang paling krusial adalah penilaian subjektif hakim anak minggu depan. Begitu hakim menangkap kesan bahwa pernikahan Anda dengan Ibu Naya ini punya ... 'jarak emosional', tamat kita."

Arka tidak menyahut. Pria itu duduk bersandar, namun punggungnya tegak lurus sekeras papan jati. Jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk cangkir kopi yang sudah dingin. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah kertas panggilan itu seolah ingin membakarnya dengan pandangan mata.

"Jarak emosional yang seperti apa, Pak Baskara?"

Suara itu mengalun pelan dari sudut ruangan. Naya berjalan mendekat membawa nampan berisi teko air hangat. Pagi ini dia hanya mengenakan kemeja katun bergaris biru muda yang longgar dengan rambut yang digulung asal menggunakan jepitan lidi. Sederhana, tanpa pulasan lipstik tebal, namun cara berjalannya yang tenang tanpa suara justru mendominasi suasana ruangan.

Baskara menoleh, membetulkan letak kacamata bacanya. "Hakim anak di Indonesia itu sangat peka, Ibu Naya. Mereka dilatih untuk melihat bahasa tubuh. Kalau di dalam ruang sidang nanti Anda dan Tuan Arka duduk berjauhan, kaku saat saling bicara, atau ragu-ragu saat menjawab tentang kebiasaan harian Kenzie ... pengacara Saskia akan langsung menerkam. Mereka akan membuktikan bahwa pernikahan ini hanyalah transaksi kilat demi tameng hak asuh."

Arka mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya yang mulai berantakan. "Saskia membawa tiga saksi ahli psikologi anak dari London. Mereka mau mempretensi bahwa aku tidak punya waktu untuk Kenzie dan lingkungan rumah ini ... manipulatif." Pria itu menoleh ke arah Naya, sorot matanya yang tajam mendadak melunak, digantikan sejenis rasa bersalah yang tertahan di tenggorokan. "Mereka akan menguliti masa lalu keluargamu, Naya. Clarissa sudah menyiapkan narasi kalau kamu mengambil keuntungan finansial dari posisiku."

Naya meletakkan gelas air hangat di depan Baskara, lalu beralih berdiri tepat di samping kursi Arka. Alih-alih cemas, sudut bibirnya justru mengukir senyuman tipis yang sangat dingin—senyuman khas seorang wanita yang tahu persis letak kekuatannya.

"Biarkan mereka menguliti apa saja yang mereka mau, Mas Arka," ucap Naya lembut namun penuh penekanan. Panggilan 'Mas' itu meluncur begitu mulus dari bibirnya, membuat jepitan kaku di rahang Arka sedikit mengendur. "Uang yang Anda berikan untuk biaya rumah sakit ibu saya adalah fakta. Pernikahan kita yang terjadi tiga hari setelahnya juga fakta. Menyangkal hal itu di depan hakim justru akan membuat kita terlihat seperti pembohong."

Stanley agak terkejut, ia menegakkan duduknya. "Maksud Ibu Naya? Kita mau mengakuinya?"

"Kita akui dengan kepala tegak," Naya menatap Baskara dengan sepasang mata bulatnya yang jernih. "Apakah salah jika seorang pria mapan membantu membiarkan calon mertuanya sembuh sebelum dia meminang anaknya? Itu bukan transaksi kotor, Pak Stanley. Itu namanya tanggung jawab moral seorang lelaki yang ingin membangun keluarga baru. Kita putar narasi mereka dari sana."

Bersambung...

1
Engkar Sukarsih
dasar Kunti kampret 🙄🙄🙄main peluk" aja laki orang.arka kamu ko lembek banget jadi laki diam aja bukan suruh Heri bawa lagi ke Sentul tu kunti🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
kenapa sih...itu kuntilanak ginsul bisa keluar 🤬🤬🤬 katanya di jaga ketat,ko bisa kecolongan we🤔🤔🤔
Fa Yun
tuh keluar aslinya wanita rubah gak tau maluu,Uda lihat arka sifat wanita yg kamu tolong 😕
Fa Yun
terlambat sudah penyesalanmu Arka, paling kasian sama Kenzie kalo Naya pergi 😕
Yayang Coedil
minta d ulek tuh wanita jadijadian🤭
Mulaini
Arka sifat asli Gisella sudah kelihatan dan kamu mau membelanya dan memilih dia atau memilih mempertahankan Naya yang sudah berkali² membela mu.
Mulaini
Arka kamu sudah tahu tapi tetap kamu lakukan jadi ya memang kamunya gak bisa mempertahankan Naya.
Lia Rahmawati
greget banget sama ceritanya,hayo lah Thor bikin si Naya pergi jauh sejauh mungkin sama ibunya,biar si arka menyesal 😡
Wiek Soen
arka buka matamu klo yg kamu tolong itu ulaaaarrrr😡😡😡
Wiek Soen
Giselle perempuan sampah berhati tamak serakah, menjijikan sekali
Rarik Srihastuty
dasar wanita ular, gimana arka orang yg katanya cuma minta perlindungan nekat secara terang2an mau jd pelakor rumah tanggamu. apa tindakan tegasmu arka? para pembaca sedang menunggu
Wiek Soen
makanya arka jangan bodoh ,nolong boleh tp lihat dulu yg di tolong,yg di tolong gigit kok ko GK rasa ,dasar dongoook,kok esmosi aq...sama arka
Ummee
dasar Gisella... kita lihat apa Arka terbuai tipu daya Gisella
Bagong
demi Alloh segala,,,,,,tahu g kambing bertelur aja lebih masuk akal
Zalmah Adiwi
perempuan 'GILA'..sampe segitux dia pny otak..🤦‍♀️🤣🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
mmng wajar klo naya terluka..
Eni Istiarsi
ayolah Arkaaa... mikiiiir!.. pake logikamu, jangan cuma kedepankan perasaan bersalah dan kasihan pada Giselle yang nyatanya cuma memanfaatkan mu
Kar Genjreng
ihhh wanita menjijikan dan laki laki bodohhhhh padahall sudah di nasehatin orang tua nya dan di kasih tau siapa gisel ahh tapi memang CEO ceroboh nanti kalau sudah di kuasai barulah menyesal sampai ujung dunia,,,lihat harusnya dari kelicikan nya jadi apa bedanya siska satu sama kan bedanya siska bisa memberikan Kenzie walaupun saat ini sedang di perebutkan,,,, kalau Ak jadi Arka berusaha mati Matian buat mempertahankan Nayara Kenapa sudah terlihat wanita itu tidak ambisius tidak tamak tidak jahat terhadap putranya dan bisa membela dan m memberikan ide agar tidak kehilangan proyek trilyunan tidak membuang uang untuk shopping,,,tapi terserah biar tersesat kembali apabila tidak bisa mengusir Gisele,,salam waras gemes mommy sama arka jadi laki laki ko lihat mana wibawanya sebagai pemimpin kalah sama wanita abal abal,,👍🤭🤭
Rahmawati
jijik bgt sm gisel😡
Mamah Nisa
tuuh arka....buka matamu...buka otak dan pikiranmu....sdh tau blm liciknya mantanmu itu...pantesan bu ambar ga suka sm mantanmu itu...karena ibumu sdh tau yg sebenarnya siapa gisela ...wanita rubah....
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!