Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siaran pertama keiko
Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Cahaya jingga menyinari gedung-gedung Aoyama, memantul di kaca-kaca jendela hingga membuat kota tampak lebih hangat.
Keiko berdiri di depan cermin, merapikan blazer krem yang dikenakannya. Rambut panjangnya diikat setengah ke belakang, menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajah. Ia melirik jam dinding.
Jarum jam dinding menunjukkan pukul 17.20.
"Sudah waktunya."
Tas kerja disampirkannya ke bahu, lalu ia mematikan lampu sebelum melangkah keluar menuju rooftop. Seperti biasa, sebelum berangkat, ia menyempatkan diri menyiram beberapa pot bunga yang berjajar di sepanjang pagar. Setelah memastikan semuanya cukup air, Keiko tersenyum puas.
"Oke, aku berangkat dulu."
Baru dua langkah menuruni tangga, ia berhenti.
Keiko menoleh ke belakang, ke arah pintu apartemennya. Tak ada siapa pun. Ia tertawa pelan sambil menggaruk pipi, merasa geli pada dirinya sendiri.
"Aku bicara pada siapa, sih?"
Gelengan kecil mengiringi langkahnya menuruni tangga menuju jalanan yang mulai ramai.
***
Gedung stasiun radio hanya berjarak beberapa blok dari apartemennya. Aoyama kini memasuki jam sibuk; orang-orang berjalan cepat dengan tas kerja di tangan, sementara aroma kopi dari kafe di sudut jalan bercampur dengan wangi roti yang baru keluar dari oven.
Tak lama kemudian, gedung berlapis kaca dengan logo FM Aoyama berdiri di hadapannya. Pintu otomatis terbuka.
"Selamat sore, Keiko-san."
"Sore," jawabnya sambil membungkuk kecil kepada petugas keamanan.
"Eh!" Seorang pria muda dari ruangan staf melambaikan tangan saat melihatnya. "Keiko! Akhirnya kembali dari libur panjang."
Keiko terkekeh. "Namanya juga cuti."
"Hei, Mana oleh-olehnya?"
Keiko menyerahkan sekotak manju yang ia bawa dari Tsukimori. "Tuh, tapi jangan dihabiskan sendiri ya."
"Hahaha, siap!" Beberapa rekan kerja ikut menghampiri untuk menyapa. Suasana kantor mendadak ramai kembali setelah penyiar Night Letter itu kembali bertugas.
Diruang Studio
Keiko meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu berdiri seraya merapikan blazer yang ia kenakan. Dari balik kaca studio, Renji, sang operator audio, melambaikan tangan.
"Keiko-san," panggil Renji saat gadis itu sedang mencari posisi nyaman di kursi siarannya. "Stand by lima menit lagi, ya." isyarat dengan gerakan tangan dan jam ditangannya
"Oke."
Gadis itu memasang headphone, lalu membuka lembar rundown malam itu. Tak lama, Renji masuk ke dalam studio membawa sebotol air mineral.
"Minum air putih dulu," ucapnya sambil menyodorkan botol itu.
"Arigato."
Renji memperhatikan wajah Keiko beberapa detik sebelum menyeringai.
"Kamu gugup?"
Keiko mengangkat alis. "Hah? Aku? hehehe keliatan ya? dia terkekeh pelan. "Mungkin karena sudah beberapa hari tidak siaran."
"Biasanya kalau habis cuti memang begitu," ujar Renji sambil bersandar di pintu studio. "Tapi tenang saja, Night Lovers pasti jauh lebih gugup menunggu kamu balik."
Keiko tertawa kecil. "Renji-san, kamu berlebihan"
"Serius. Seminggu ini banyak yang bertanya kapan Okiek siaran lagi." Keiko hanya menggeleng sambil tersenyum. "Jangan bikin aku tambah grogi."
Renji mengacungkan jempol. "Relax. Anggap saja lagi mengobrol sama teman." Ia melirik jam dinding. "Dua menit lagi."
"Oke."
renji keluar dari studio menuju ruang kontrol. Keiko menarik napas panjang, mengatur posisi mikrofon, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja. Perlahan, senyumnya kembali muncul.
"Baiklah..." bisiknya pelan. "Ayo mulai."
Tak lama kemudian, Keiko merapikan catatan di atas meja, lalu mengangkat jempol ke arah operator di balik kaca.
Renji membalas dengan anggukan. "Okiek-san, stand by."
Keiko menarik napas dalam, lalu senyumnya mengembang. Lampu studio diredupkan. Operator mengangkat tangan, memberi aba-aba.
"Go...( lima),Yon..(empat) San...(tiga) Ni...(dua)..Ichi...(satu) "
Jempolnya terangkat, Lampu merah bertuliskan ON AIR menyala. Musik pembuka Night Letter mengalun lembut.
Keiko tersenyum kecil sebelum bibirnya mendekat ke mikrofon.
"Malam memang selalu punya cerita."
"Hai... hai... haiii..." sapa Keiko dengan nada hangat.
"Apa kabar, Night Lovers? Aku Okiek. Senang sekali akhirnya bisa kembali menemani kalian selama enam puluh menit ke depan."
Ia memberi jeda sejenak. "Setelah beberapa hari mengambil cuti... aku yakin pasti ada yang sempat merindukan suaraku, kan?"
Musik tetap mengalun dengan irama yang menenangkan.
"Buat kalian yang masih di perjalanan pulang... yang masih lembur... yang belum bisa tidur... atau..." Keiko sengaja memberi jeda penuh arti,
"...atau mungkin sedang membantu ayah mengangkat barang di toko."
"Temani aku sebentar, ya."
***
Di tempat yang berbeda. Ratusan kilometer dari Aoyama,
Desa Tsukimori.
Bel kecil di atas pintu toko kelontong berdenting pelan saat pelanggan terakhir keluar. Di sudut ruangan, radio tua yang setia menemani malam mulai mengalunkan suara yang begitu akrab.
“...mungkin sedang membantu ayahnya mengangkat barang di toko.”
Kyo yang sedang mengangkat dus minuman mendadak berhenti. Ia menoleh ke arah radio, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Itu..." gumamnya pelan. "Pasti buat aku."
"Apa?" suara ayahnya terdengar dari balik rak.
Kyo cepat-cepat menggeleng. "Bukan apa-apa ayah."
Ia kembali menyusun dus minuman ke rak, namun senyum di wajahnya tak kunjung hilang. Sementara itu, Di radio tua yang mulai dimakan usia, suara Okiek terus mengalun hangat, seolah jarak rAtusan kilometer bukanlah penghalang untuk menyapa seseorang yang sedang ia ingat.
Suara Keiko kembali terdengar dari radio tua itu.
"Hmm..."
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak berbincang."
"Mungkin hanya beberapa hari. Tapi lucunya, kadang waktu berjalan begitu cepat. namun di saat lain, beberapa hari saja bisa terasa seperti satu musim yang panjang.
Selama cuti kemarin, aku sempat pergi ke sebuah desa kecil. Tempat yang udaranya begitu sejuk, Orang-orang yang ramah, malamnya selalu ditemani suara jangkrik, dan ada seekor kucing yang selalu mengawasi setiap aku pulang.
Hahaha... aneh, ya?
Awalnya aku pikir dia hanya kebetulan sering muncul di tempat yang sama. Tapi lama-kelamaan, aku merasa dia sebenarnya sedang menunggu seseorang pulang.
Sekarang, aku sudah kembali ke kota. Ternyata... rumah terasa sedikit lebih sepi. Padahal yang berubah hanya satu: tidak ada lagi mahluk berbulu yang menyambutku di depan pintu.
Jadi... kalau malam ini kalian sedang merindukan seseorang, atau mungkin... merindukan teman kecil yang sedang jauh di sana, semoga suaraku bisa sedikit menemani malam kalian.
Radio kembali memutar alunan musik instrumen yang lembut.
Kyo tetap berdiri di tempatnya. Pandangan pria itu jatuh ke radio tua di sudut toko, Sudut bibirnya kembali terangkat.
"Selamat bekerja..." gumamnya pelan "...Keiko-san."
Ia kembali mengangkat dus minuman, tetapi kali ini langkahnya terasa jauh lebih ringan.
Di luar toko, angin malam berembus pelan melewati deretan lampion yang mulai bergoyang.
Sementara suara Okiek masih terus mengalun hangat, menemani malam di Desa Tsukimori.
***
Malam semakin larut, dua jam siaran keiko berakhir, ketika lampu merah bertanda ON AIR akhirnya padam. Keiko melepas headphone-nya dan mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sejak tadi membelenggu bahunya perlahan menguap, berganti dengan rasa lega yang menenangkan.
"Selamat datang kembali, keiko-san"
Suara Renji terdengar dari balik pintu studio. Pria itu masuk sambil membawa lembar rundown yang tadi dipakai Keiko.
"Terima kasih," jawab Keiko sambil tersenyum lega "Lima menit pertama tadi jantungku rasanya mau copot."
Renji terkekeh pelan. "Padahal sama sekali tidak kelihatan."
"Benarkah?"
"Iya. Begitu mikrofon menyala, kamu langsung berubah."
Keiko mengangkat sebelah alis. "Berubah?"
"Jadi Okiek-san yang ditunggu penggemar nya."
Mereka tertawa bersama. Renji melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Keiko. "Sudah makan malam?"
Keiko menggeleng. "Belum sempat."
"Aku juga belum." Renji memasukkan tangan ke saku celana. "Mau makan sebentar sebelum pulang? Ada warung langgananku di dekat sini."
Keiko berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Boleh."
***
Warung tenda itu berada di sudut jalan, hanya beberapa menit berjalan kaki dari gedung FM Aoyama. Lampu-lampu kuning menggantung di atap terpal, menerangi kepulan uap dari panci besar di balik gerobak. Aroma kaldu sapi yang gurih langsung menyambut mereka begitu duduk di bangku kayu.
"Selamat malam, Renji-kun," sapa pemilik warung yang sudah sepuh dengan ramah. "Seperti biasa?"
Renji mengangguk. "Iya, Pak. Dua porsi nasi dan sup daging."
Tak lama kemudian, dua mangkuk sup daging hangat tersaji di hadapan mereka. Keiko meniup kuahnya pelan sebelum menyeruput.
"Hmm... enak sekali."
Renji tersenyum puas. "Makanya aku sering ke sini setelah siaran."
Mereka menikmati makan malam dengan suasana santai. Sesekali suara kendaraan melintas di jalan utama, bercampur dengan bunyi sendok yang beradu pelan dengan mangkuk keramik.
"Jadi," Renji membuka percakapan, "bagaimana liburanmu?"
Keiko meletakkan sendoknya. "emmm sangat Menyenangkan."
"Cuma itu?"
Keiko terkekeh. "Iya, Desanya tenang, udaranya sejuk, dan orang-orangnya juga baik sekali, dan disana banyak sekali kucing"
"Kucing?"
"Iya, sangking banyak nya sampai kamu bisa kira desa ku itu negri dongeng kucing ."
Renji mengangguk, menyimak dengan saksama. "Wahh...."
Keiko terdiam sejenak. "...Aku juga bertemu seekor kucing."
Renji langsung tertawa. "Lagi-lagi kucing? Tadi di radio kamu juga bercerita soal itu."
"Soalnya yang satu ini memang ajaib " Keiko mulai senyum senyum mengingat "awalnya sombong banget, suka nyakar, galak banget deh, tapi ketika aku sakit dia mahluk pertama yang datang "
Keiko menopang bahu dengan kedua tangannya. "sejak malam itu kami berteman"
Renji menggeleng geli. "Jarang-jarang aku melihatmu semangat hanya gara-gara cerita soal kucing."
Keiko ikut tertawa. "Mungkin karena dia memang berbeda."
Sesaat setelah mengucapkannya, Keiko tampak berpikir. Berbeda... Entah sejak kapan ia mulai menganggap Shiro tidak seperti kucing-kucing lain. Renji, yang tidak menyadari perubahan ekspresi itu, terus melanjutkan makannya sambil sesekali mendengarkan cerita Keiko tentang Desa Tsukimori.
***
Selesai makan malam, pelan pelan Udara malam Aoyama semakin dingin. Mereka berjalan pulang dan Trotoar sudah mulai lengang. Seekor kucing abu-abu tiba-tiba melompat dari pagar rumah warga. Keiko spontan berhenti.
"...Shiro?"
Kucing itu menoleh sesaat, lalu berjalan santai menyusuri trotoar. Keiko mengembuskan napas panjang. "Bukan..."
Renji ikut berhenti. "Itu yang kamu ceritakan tadi?"
"Bukan. Cuma mirip sedikit."
Keiko mengeluarkan ponsel dan membuka galeri foto. "Nah, ini dia."
Renji mendekat agar bisa melihat layar ponsel lebih jelas. Karena layar ponsel itu kecil, Keiko yang menyadarinya refleks menoleh namun renji tidak menyadari kalau jarak mereka terlalu dekat "Wah... lucu juga. Tapi mukanya galak."
Keiko tertawa. "Iya kan,, tapi dia ngegemesin banget."
Renji mengangguk pelan. "Sekarang aku mengerti kenapa kamu terus membicarakannya."
Keiko kembali memandang foto Shiro dengan senyum kecil yang muncul tanpa sadar. "...Iya."
***
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan apartemen tempat Keiko tinggal. Bangunan bata merah itu tampak hangat diterpa lampu jalan. Di sisi kanan, tangga besi mengarah ke paviliun kecil Keiko di rooftop.
Renji mendongak. "Rumahmu di atas?"
"Iya, di rooftop."
"Keren juga." Renji tersenyum kecil. "Naiklah dulu. Kalau kamu sudah masuk, baru aku pulang."
Keiko terkekeh "Terima kasih sudah mengantar pulang"
"iya... welcome back Okiek-san, Sampai jumpa !! "
"Hehehe Sampai besok, Renji-san."
Keiko melambaikan tangan, lalu mulai menaiki tangga. Ia tidak menoleh lagi. Sementara Renji tetap berdiri di bawah, menunggu hingga Keiko tidak terlihat. Barulah setelah itu, ia berbalik dan berjalan perlahan menyusuri malam Aoyama yang mulai sepi.