Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Dekapan Hangat
Ketegangan di ruangan itu mencapai titik didih. Di balik histerianya, Laura tampak mulai kehilangan fokus. Tangannya yang memegang pisau tak lagi sekokoh tadi karena gemetar hebat akibat luapan amarah dan ketakutan melihat Max yang menatapnya bagai predator.
Yeza, meski dalam keadaan terikat dan syok, merasakan momen itu. Ia sadar bahwa ia tidak bisa terus pasrah. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan dari dalam lubuk hatinya, Yeza memusatkan seluruh tenaganya ke pinggul dan kakinya.
Saat Laura sedikit lengah dan pisaunya bergeser menjauh satu milimeter saja dari lehernya, Yeza dengan cekatan menghentakkan tubuhnya ke samping, menghantamkan kursi kayu itu sekuat tenaga ke arah kaki Laura yang sedang tidak stabil.
Braakk!
Tiba-tiba keseimbangan Laura goyah. Wanita itu menjerit kaget saat tubuhnya oleng dan akhirnya jatuh menghantam lantai kayu yang berdebu. Pisau di tangannya terlepas dari genggaman dan bergeser ke arah lain.
Melihat celah sedetik itu, Max bergerak lebih cepat dari kilatan petir. Ia menerjang maju, mencengkeram pergelangan tangan Laura sebelum wanita itu sempat meraih pisaunya kembali, lalu dengan satu sentakan keras, Max mengambil pisau itu dan melemparnya jauh ke sudut ruangan.
"Cukup, Laura! Permainanmu sudah berakhir!" bentak Max dengan suara yang menggetarkan ruangan.
Sementara Max menahan Laura agar tidak kembali menyerang, Bram dengan sigap berlari ke arah Yeza. Pisau lipat kecil di saku Bram dikeluarkan, dan dalam hitungan detik, ikatan tali di tangan Yeza terlepas.
"Yeza, kamu tidak apa-apa?" tanya Bram dengan napas terengah-engah, suaranya penuh kekhawatiran.
Yeza yang sudah bebas segera berdiri meski kakinya lemas, ia langsung terisak di pelukan Bram, rasa takut yang tertahan akhirnya pecah. Bram tidak membuang waktu; ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pihak kepolisian.
"Halo, saya Bram, manajer Max. Kami berada di gudang tua sektor utara. Kami telah menahan pelaku percobaan penculikan dan ancaman pembunuhan. Segera kirim petugas dan ambulans ke sini!" seru Bram tegas ke arah telepon.
Di sudut ruangan, Laura kini terduduk lemas di lantai, wajahnya yang tadi angkuh kini penuh dengan air mata dan rasa putus asa. Ia menatap Max dengan pandangan nanar, menyadari bahwa tak ada lagi jalan keluar. Dua anak buahnya masih terkapar pingsan tak berdaya. Dalam beberapa menit ke depan, sirene polisi akan segera memecah keheningan malam, menjemput akhir dari obsesi gila Laura.
Suara raungan sirene mobil polisi dan ambulans akhirnya memecah keheningan malam di kawasan gudang tua tersebut. Lampu rotator berwarna merah dan biru berputar-putar, menerangi dinding-dinding usang yang gelap. Sejumlah petugas polisi bersenjata lengkap langsung merangsek naik ke lantai dua, dengan sigap memborgol Laura yang sudah histeris dan menyeret dua anak buahnya yang baru saja sadar dari pingsan.
Namun, Max sama sekali tidak memedulikan pemandangan itu. Fokusnya seratus persen tertumpu pada gadis di depannya.
Yeza terduduk lemas di lantai, tubuhnya bergetar hebat karena syok yang teramat sangat. Air mata masih terus menetes dari pelupuk matanya. Max berlutut di hadapan Yeza, dan saat matanya menangkap gurat merah tipis di leher, pipi yang lebam memerah, serta setitik darah yang mengering di ujung bibir mungil gadis itu, dada Max bergemuruh oleh rasa bersalah dan amarah yang bercampur aduk.
"Yeza..." panggil Max, suaranya melembut, sangat kontras dengan nada dinginnya saat menghadapi Laura tadi.
Tanpa menunggu persetujuan, dengan gerakan yang sangat cekatan namun penuh kehati-hatian, Max menyelipkan kedua lengannya yang kekar di bawah punggung dan lutut Yeza. Ia mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya (bridal style) dengan sangat mudah.
Yeza yang sudah kehabisan tenaga refleks mengalungkan kedua tangannya yang masih gemetar ke leher Max, menyembunyikan wajahnya yang pucat di dada bidang sang aktor. Aroma parfum maskulin Max yang familier dan detak jantung pria itu yang berdegap kencang entah mengapa memberikan rasa aman yang instan di tengah ketakutannya.
"Tahan sebentar, kita turun sekarang. Kamu sudah aman," bisik Max lembut di dekat telinga Yeza sembari melangkah lebar menuruni anak tangga.
Bram berjalan di depan mereka, membuka jalan dan memastikan petugas medis dari ambulans yang baru tiba di lobi segera menyiapkan tandu. Beberapa petugas medis langsung bergerak mendekat begitu melihat Max menggendong Yeza keluar dari pintu gedung.
Max perlahan membaringkan tubuh Yeza di atas tandu ambulans, namun tangannya tetap menggenggam erat jemari Yeza yang dingin, enggan melepaskannya walau sedetik pun. "Aku akan ikut di dalam ambulans, Bram. Urus sisanya di sini bersama polisi," perintah Max tegas kepada manajernya.
Bram mengangguk paham. Pintu ambulans pun ditutup rapat, lalu kendaraan itu melesat membelah malam menuju rumah sakit terdekat, meninggalkan Laura yang kini harus mempertanggungjawabkan perbuatan nekatnya di balik jeruji besi.