Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia direnggut kehormatannya dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Haris meringis menahan sakit, tangannya terkulai lemah ke samping saat Victor melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Wajahnya memerah menahan amarah sekaligus rasa malu yang mendalam, namun ia tak berani menatap mata pria di hadapannya yang memancarkan kekuasaan mutlak.
"Ini... ini urusan pribadi kami," ucap Haris terbata, "Saya hanya ingin bicara dengan Kanaya."
Victor melangkah selangkah lebih maju, menaungi tubuh Kania di belakang punggungnya. Tatapannya tajam menembus jiwa, seolah siap menghancurkan siapa pun yang berani mengganggu wanita itu.
"Pribadi?" desisnya dingin, nada suaranya menekan hingga membuat orang-orang di sekitar tak berani bergerak. "Aku rasa kau tidak tuli dan sudah mendengar dengan jelas apa yang aku katakan sebelumnya. Kanaya Aurelia, dia adalah tunanganku. Dan jika kau berani menyentuhnya sekali lagi, aku tidak akan segan-segan mematahkan tanganmu ini."
Ancaman itu begitu nyata, begitu meyakinkan hingga membuat darah Haris seakan membeku. Ia menelan ludah susah payah, mundur perlahan tanpa sadar.
Luna yang berdiri terpaku di sampingnya kini menunduk dalam, tak berani menatap mata Victor apalagi Kania. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Victor berbalik perlahan ke arah Kania, dan seketika tatapan tajamnya melunak menjadi perlindungan yang lembut. Ia merapikan sedikit lipatan gaun di bahunya, gerakannya begitu hati-hati.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya rendah.
Kania mengangguk pelan, menatap sekilas ke arah Haris dan Luna yang kini berdiri kaku sebelum akhirnya menatap Victor kembali. "Aku baik-baik saja, Vic."
Tuan Darius dan Nyonya Astrid bergegas mendekat, wajah mereka tampak kaget dan cemas melihat pemandangan tadi. Namun sebelum mereka sempat membuka suara, Victor lebih dulu menatap tajam ke arah Tuan Darius, sorot matanya penuh peringatan yang tak bisa diabaikan.
"Jaga putra Anda dengan baik, Tuan Darius," ucapnya dingin dan tegas, suaranya cukup jelas terdengar oleh mereka yang ada di sana. "Ajarkan dia sopan santun untuk tidak menyentuh sesuatu yang bukan miliknya."
Wajah Tuan Darius seketika memerah menahan rasa malu, sementara Nyonya Astrid menunduk dalam, napasnya tercekat mendengar teguran yang begitu telak itu. Sebelum sempat ada jawaban, Victor sudah berbalik, menggenggam tangan Kania erat, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka yang terpaku di tempat.
Haris hendak mengejar, napasnya masih memburu dan tatapannya tak lepas dari sosok yang menjauh itu. Namun tangan kuat Tuan Darius segera mencengkeram lengannya, menahannya dengan tegas hingga ia tak bisa bergerak maju lagi.
"Berhenti!" bisik Tuan Darius rendah namun penuh penekanan, wajahnya tegang dan penuh kekecewaan. "Cukup, Haris! Jangan membuat malu di depan orang banyak."
Haris menoleh menatap ayahnya, matanya menyiratkan keputusasaan yang mendalam. "Tapi Ayah... itu benar-benar Kania! Aku yakin itu dia!"
Tuan Darius menggeleng pelan, menatap tajam ke arah putranya. "Bahkan jika itu benar dia, lihatlah bagaimana dia bersikap padamu. Ini adalah pesta besar dan banyak tokoh penting yang hadir, jadi berhentilah membuat malu dan keributan. Kita tidak boleh mempermalukan diri di sini."
Perkataan itu menghantam dada Haris lebih keras daripada pukulan apa pun. Ia menunduk lemas, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, menahan rasa sakit yang seakan merobek dadanya.
-
-
-
Malam semakin larut, dan lampu-lampu di ballroom perlahan diredupkan, menandakan berakhirnya pesta megah itu. Para tamu undangan mulai beranjak pulang satu per satu, meninggalkan ruangan yang tadi penuh hiruk-pikuk kini perlahan menjadi sepi.
Di halaman depan, kendaraan mewah berdatangan kembali untuk menjemput pulang pemiliknya. Tuan Aryan masuk ke dalam mobil bersama dengan istri dan anaknya. Kehadiran Kanaya Aurelia terus menganggu pikirannya, tadi dia ingin sekali menghampiri dan berbicara dengan wanita itu untuk memastikan, tapi dia tidak memiliki kesempatan karena Victor terus berdiri di sisi wanita itu.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil berhenti di halaman rumah yang tampak sunyi. Mereka melangkahkan turun dan masuk ke dalam rumah, begitu pintu tertutup rapat, suasana di ruang tengah yang luas seketika terasa menyesakkan. Tuan Aryan melempar jasnya ke sofa dengan kasar, lalu berbalik menatap tajam ke arah Nyonya Melani yang berusaha menghindari pandangannya.
"Katakan padaku, Melani!" bentaknya rendah namun penuh amarah yang tertahan. "Apa yang sebenarnya terjadi malam ini?!"
Nyonya Melani menelan ludah susah payah, tangannya meremas tasnya erat. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud, Mas. Itu hanya kebetulan, wanita itu hanya mirip saja dengan Kan—"
"Jangan berbohong!" potong Tuan Aryan dengan keras, langkahnya berat mendekati istrinya hingga wanita itu mundur terdesak ke dinding. "Aku tidak mungkin salah mengenali wajah anakku sendiri! Katakan padaku, Melani... di mana sebenarnya kau menyembunyikan Kania selama ini? Dan siapa wanita yang berdiri di samping Tuan Victor itu? Apakah itu Kania atau Kanaya?"
Nyonya Melani segera menegakkan tubuhnya, berusaha menata kembali ekspresi wajahnya yang sempat hancur karena ketakutan. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang berusaha tampak berani, meski tangannya masih gemetar samar di balik lipatan gaunnya.
"Kamu salah paham, Mas!" serunya cepat, suaranya kini terdengar lebih tajam dan defensif. "Tadinya Kania akan di bawa ke tempat yang aman! Tapi orang-orang yang membawanya bilang malam itu dia kabur, dia menghilang tanpa jejak dan sampai sekarang aku juga tidak tahu di mana keberadaannya!"
Tuan Aryan menatapnya lekat-lekat, matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang nyata. "Kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku, Melani?! Kenapa kau tidak mengatakan jika Kania kabur!"
"Aku takut, Mas!" potong Nyonya Melani keras, mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah tak kuat menatap tatapan tajam suaminya. "Orang-orang yang aku bayar sudah mencarinya selama berbulan-bulan, tapi jejak Kania seperti hilang di telan bumi. Aku takut jika aku berkata sejujurnya, kamu akan marah padaku seperti ini. Itulah sebabnya aku mencari cara sendiri untuk berusaha menemukannya."
Tuan Aryan menghela napas panjang, napasnya terasa berat dan penuh kepahitan. Ia tahu, ia tidak seharusnya percaya pada istrinya begitu saja dulu saat istrinya menyuruh orang untuk membawa Kania pergi begitu saja.
"Lalu menurutmu siapa wanita yang berdiri di sisi Tuan Victor tadi? Apakah itu Kania?" tanya Tuan Aryan, suaranya terdengar lebih rendah.
Nyonya Melani meraih lengan suaminya dan mengusapnya pelan, "Mas, kamu lihat tatapan wanita bernama Kanaya tadi. Tatapannya begitu dingin dan asing. Aku yakin dia bukan Kania, hanya wajahnya saja yang mirip."
Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Begini saja, Mas, kita utus orang lagi untuk mencari keberadaan Kania. Dengan begitu kita bisa tenang setelah memastikan keberadaan Kania. Aku juga khawatir, Mas... Aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Kania di luar sana."
Tuan Aryan terdiam sejenak, mengusap wajahnya kasar dengan tangan kirinya, "Baiklah. Aku akan menyuruh orang untuk mencari keberadaan Kania, sekaligus untuk menyelidiki siapa wanita bernama Kanaya Aurelia itu."
-
-
-
Bersambung...
semangat trs untuk karya² selanjutnya kk 😘
kamu dan karyamu sangat keren🥰🥰
peluk jauh🤗
teruslah berkarya thor💪🏼