Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ucapan salam terakhir mengakhiri shalat Subuh yang baru saja Aisyah kerjakan.
"Assalamu'alaikum warahmatullah, Assalamu'alaikum warahmatullah.."
Perlahan ia menurunkan kedua tangannya dari posisi berdoa. Bibirnya masih terus bergerak melantunkan istigfar dan dzikir pagi yang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Suara itu begitu lirih, nyaris menyatu dengan sunyi nya pagi yang masih menyelimuti rumah megah keluarga Adhitama. Setelah beberapa menit berdzikir, Aisyah mengusap wajahnya pelan. Hatinya memang belum benar-benar tenang. Luka yang ia rasakan semalam masih ada, bahkan terasa begitu nyata setiap kali ia mengingat perkataan Ammar. Namun setelah mengadu kepada Allah, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Setidaknya, Aisyah tahu kepada siapa harus kembali ketika tidak ada seorang pun yang mampu memahami isi hatinya. Perlahan Aisyah melepas mukenanya, lalu melipatnya dengan sangat rapi. Sajadah yang digunakannya pun dilipat tanpa meninggalkan sedikit pun lipatan yang berantakan sebelum disimpan kembali ke dalam lemari kecil di sudut kamar. Semua ia lakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Tatapannya kembali beralih ke arah ranjang. Ammar masih tertidur. Posisinya nyaris tidak berubah sejak tadi. Selimut masih menutupi sebagian tubuhnya, sementara wajah laki-laki itu terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat mereka berbicara semalam.
Aisyah memandangnya beberapa detik. Dalam hati, ia kembali diliputi kegelisahan.
"Mas Ammar belum bangun juga daritadi." Bisiknya pelan.
Keinginan untuk membangunkan Ammar kembali muncul, namun kali ini Aisyah benar-benar mengurungkannya. Ia tidak ingin pagi pertama setelah pernikahan mereka diawali dengan pertengkaran lagi.
"Cukuplah semalam." batinnya. "Aku tidak boleh membuat Mas semakin membenciku." Perlahan Aisyah mengambil napas panjang, lalu menundukkan kepalanya. "Semoga suatu hari nanti Allah sendiri yang mengetuk hati Mas."
Doa itu keluar begitu saja tanpa ia sadari. Tak ada sedikit pun doa agar Ammar mencintainya. Yang ia inginkan hanyalah semoga laki-laki itu kembali dekat kepada Rabb-nya karena menurut Aisyah, jika hubungan seseorang dengan Allah telah baik, maka hubungan dengan manusia pun lambat laun akan ikut membaik. Dengan langkah pelan, Aisyah mengambil cadarnya, memakannya dan memastikan hijabnya telah rapi menutupi seluruh aurat, lalu berjalan menuju pintu kamar. Tangannya menggenggam gagang pintu.
Ceklek.
Ia membuka pintu sepelan mungkin. Sesaat sebelum keluar, Aisyah kembali menoleh ke arah kamar. Tatapannya menyapu sofa tempat ia tidur semalaman, lalu beralih ke arah ranjang besar yang ditempati Ammar seorang diri. Entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu asing. Itu adalah kamar pengantinnya, namun ia sama sekali tidak merasakan hangatnya sebuah rumah tangga. Aisyah menarik napas panjang kemudian melangkah keluar dan menutup pintu kembali dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Ammar.
Begitu keluar dari kamar, Aisyah baru benar-benar menyadari betapa luasnya kediaman keluarga Adhitama. Lorong panjang membentang di hadapannya. Lantai marmer berwarna krem mengilap memantulkan cahaya lampu gantung yang masih menyala redup. Lukisan-lukisan mahal menghiasi dinding, sementara vas bunga besar diletakkan di beberapa sudut ruangan. Rumah itu begitu mewah, bahkan jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Namun kemewahan itu justru terasa begitu sepi. Aisyah berdiri beberapa saat sambil memandang ke kanan dan kiri.
"Dapur, di sebelah mana ya?" gumamnya pelan.
Ia belum mengenal rumah itu sama sekali. Tak ada seorang pun yang sempat menunjukkan letak ruangan-ruangan penting kepadanya karena seluruh perhatian keluarga semalam tertuju pada pesta pernikahannya.
Dengan langkah kecil, Aisyah mulai menyusuri lorong. Sesekali ia memperhatikan setiap pintu yang dilewatinya. Beberapa ruangan masih tertutup rapat. Mungkin seluruh penghuni rumah masih tertidur. Aisyah berjalan semakin pelan, Ia benar-benar takut salah masuk ruangan. Sesekali Aisyah berhenti ketika mendengar suara dari kejauhan.
Namun ternyata hanya suara langkah seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai. Begitu melihat Aisyah, petugas itu langsung terkejut.
"N-nyonya muda."
Pria paruh baya itu buru-buru menundukkan kepala.yang membuat Aisyah justru membalas dengan senyum hangat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa... wa'alaikumussalam, Nyonya."
"Tidak usah memanggil saya seperti itu, Pak."
Petugas itu tampak kebingungan.
"Lalu saya harus panggil apa?"
"Panggil saja Aisyah."
Pria itu langsung menggeleng cepat.
"Aduh, saya mana berani."
Aisyah tersenyum kecil. Ia sadar mungkin akan membutuhkan waktu agar semua orang terbiasa dengannya.
"Kalau begitu boleh saya bertanya?"
"Tentu, Nyonya."
"Dapur ada di sebelah mana ya?"
Petugas itu langsung menunjuk ke arah tangga utama.
"Dari sini lurus, nanti belok kiri. Dapurnya ada di belakang ruang makan."
"Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama, Nyonya."
Aisyah kembali mengucapkan salam sebelum melanjutkan langkahnya dan membuat petugas kebersihan itu masih memandang punggung Aisyah hingga perempuan itu menghilang di ujung lorong. Dalam hati ia bergumam,
"Pantas saja semua orang bilang Nyonya muda yang baru ini sangat lembut hatinya,"
Beberapa menit kemudian, Aroma bawang putih yang sedang ditumis mulai tercium. Disusul harum kaldu ayam dan mentega yang memenuhi udara. Aisyah menghentikan langkahnya. Matanya sedikit berbinar.
"Alhamdulillah. Berarti dapurnya sudah dekat."
Aisyah mempercepat langkahnya, Tak lama kemudian, sebuah dapur luas dengan berbagai peralatan modern terbentang di hadapannya. Di dalamnya sudah ada beberapa orang pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan. Ada yang sedang memotong sayur, ada yang menata buah, ada pula yang sedang mengaduk bubur di atas kompor besar. Suasana dapur terasa hangat namun begitu melihat Aisyah berdiri di ambang pintu, seluruh aktivitas pelayan seketika berhenti dan membuat mereka menoleh bersamaan.
"Nyonya muda."
Salah seorang pelayan perempuan langsung meletakkan talenan yang dipegangnya.
"Astaga, Kenapa Nyonya sudah bangun sepagi ini?"
Aisyah tersenyum sopan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jawaban itu terdengar hampir bersamaan. Aisyah melangkah masuk.
"Maaf kalau saya mengganggu."
Pelayan-pelayan itu saling berpandangan.
"Mengganggu? Tidak, tentu tidak, Nyonya."
Aisyah menggeleng pelan.
"Saya ingin menyiapkan sarapan untuk semua orang."
Ucapan itu membuat seluruh isi dapur kembali saling memandang.
"Menyiapkan sarapan?" Salah satu pelayan yang usianya paling tua tersenyum kikuk. "Nyonya tidak perlu membantu kami."
"Iya, Nyonya. Ini memang pekerjaan kami."
"Nanti kalau Tuan Besar tahu, kami malah dimarahi."
Aisyah tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa. Saya juga terbiasa berada di dapur."
"Tapi, Nyonya..."
"Sungguh." Aisyah mengambil celemek yang tergantung di dekat pintu. "Kalau saya hanya duduk diam, saya malah bingung harus melakukan apa."
Pelayan-pelayan itu mulai terlihat salah tingkah. Mereka belum pernah melihat seorang nyonya muda yang baru menikah justru datang ke dapur sebelum matahari terbit. Biasanya para nyonya rumah baru akan bangun lebih siang setelah kelelahan karena resepsi pernikahan. Namun perempuan di hadapan mereka berbeda. Tanpa menunggu jawaban lagi, Aisyah mencuci kedua tangannya.