cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25_Arisan Maut part 1
"Hanya delapan orang..."
"Yang datang akan pulang membawa uang."
"Tapi satu orang..."
"...tidak akan pernah pulang."
"Hah... siapa yang kirim surat begini?" gumam Rina pelan. Wajahnya tampak bingung, sementara dahinya berkerut saat memandangi amplop hitam yang baru saja ia temukan di depan pintu rumahnya.
Amplop itu tidak memiliki nama pengirim. Di bagian depannya hanya tertulis tinta merah yang terlihat seperti darah.
ARISAN MAUT
Rina menelan ludah.
Dengan tangan gemetar ia membuka amplop tersebut. Di dalamnya hanya ada secarik kertas.
"Datanglah malam Jumat pukul sebelas malam." bunyi kalimat pertama. Huruf-huruf itu tampak berantakan, seolah ditulis dengan tergesa-gesa, namun memancarkan ancaman yang membuat tengkuk siapa pun merinding.
"Rumah tua di ujung Desa Sukamurni." lanjut tulisan berikutnya. Kesan dingin dan menyeramkan seakan terpancar dari setiap goresan tinta, membuat suasana terasa semakin mencekam.
"Jangan terlambat." bunyi kalimat selanjutnya. Pesan singkat itu terasa seperti perintah yang tidak bisa dibantah, seolah pengirimnya sedang menatap langsung ke arah pembacanya dengan wajah datar dan tatapan tajam.
"Kalau tidak datang..." tertulis pada baris berikutnya. Kalimat itu menggantung, seakan sengaja dibiarkan membuat rasa takut memenuhi dada siapa pun yang membacanya.
"Kami yang akan menjemputmu." bunyi kalimat terakhir. Kata-kata itu terasa begitu dingin dan mengancam, seolah diucapkan dengan senyum mengerikan, sementara sepasang mata gelap mengawasi dari balik kegelapan.
Deg!
Jantung Rina berdegup sangat keras.
"Apa ini cuma lelucon?" bisiknya pelan. Wajahnya berubah pucat, sementara matanya terus membaca tulisan itu berulang kali.
Tiba-tiba...
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan terdengar dari jendela. Padahal rumahnya berada di lantai dua.
Rina langsung menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Ia menghela napas lega.
"Mungkin cuma ranting pohon." ucapnya mencoba menenangkan diri. Wajahnya memaksa tersenyum, tetapi kedua tangannya masih bergetar.
Tok!
Tok!
Tok!
Kali ini lebih keras.
Rina perlahan mendekati jendela.
Saat tirai dibuka... Tidak ada siapa pun. Namun di kaca jendela terlihat bekas telapak tangan merah seperti darah.
"Astaga!" teriak Rina. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara tubuhnya mundur beberapa langkah.
Brak!
Ia menjatuhkan amplop itu ke lantai. Ketika hendak mengambilnya tulisan pada surat tadi berubah.
"Kami sudah melihatmu."
Rina membelalakkan mata.
"A-apa...? Siapa kalian?" tanyanya dengan suara bergetar. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara napasnya mulai memburu.
Tidak ada jawaban. Hanya suara tawa perempuan.
"Hihihihihihi..."
Suara itu terdengar sangat dekat. Seolah berada tepat di belakangnya.
Rina membalikkan badan. Kosong. Namun aroma melati tiba-tiba memenuhi ruangan. Lampu kamar berkedip.
Ceklek...
Ceklek...
Ceklek...
Lalu...Padam. Gelap. Sangat gelap.
"Siapa di sana?" teriak Rina. Wajahnya dipenuhi rasa takut, sementara kedua matanya berusaha menembus kegelapan.
"Hihihihi..."
Suara tawa itu kembali terdengar. Lebih dekat. Lebih jelas.
Rina segera menyalakan senter ponselnya. Sorot cahaya bergerak ke seluruh kamar. Kosong.
Lalu...Cahaya berhenti di depan lemari. Ada seseorang berdiri di sana.
Seorang perempuan. Bergaun putih lusuh. Rambutnya sangat panjang menutupi wajah. Kakinya tidak menyentuh lantai.
Rina membeku.
"K-kamu siapa?" tanyanya lirih. Wajahnya memucat, sementara bibirnya gemetar hebat.
Perempuan itu perlahan mengangkat kepalanya.
Di balik rambut panjangnya...Tidak ada mata. Hanya dua lubang hitam yang mengeluarkan darah. Mulutnya tersenyum sangat lebar. Terlalu lebar. Hingga robek sampai ke telinga.
"Aku..." ucapnya tertahan. "...ketua arisan." Suaranya parau. Bercampur suara seperti banyak orang berbicara bersamaan.
"Tidak...Tolong jangan ganggu aku!" teriak Rina histeris. Wajahnya dipenuhi air mata, sementara tubuhnya gemetar hebat.
Perempuan itu mengangkat satu tangan.
Di tangannya tergenggam sebuah kotak arisan tua. Kotak kayu itu bergerak sendiri.
Tok...
Tok...
Tok...
Seolah ada sesuatu yang mengetuk dari dalam.
"Ambil satu gulungan..." bisiknya pelan. Wajahnya tetap tersenyum mengerikan, sementara darah terus menetes dari rongga matanya.
"Aku tidak mau!" jerit Rina. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara ia terus mundur hingga membentur dinding.
Kotak itu tiba-tiba terbuka sendiri.
Delapan gulungan kertas berada di dalamnya. Tujuh berwarna putih. Satu berwarna hitam.
"Kalau mendapat putih..." ucap wanita bergaun putih itu.
"...kau hidup." lanjutnya dingin.
"Kalau mendapat hitam..." katanya lagi. Wajahnya berubah semakin kelam, sementara sorot matanya memancarkan ancaman yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.
"...kami mengambil nyawamu." ucapnya tegas.
Tangan-tangan hitam mendadak keluar dari dalam kotak. Jumlahnya puluhan. Semuanya meraih kaki Rina.
"Aaaahhh! Lepaskan aku!" jeritnya histeris. Wajahnya dipenuhi ketakutan luar biasa, sementara ia berusaha melepaskan diri.
Tangan-tangan itu semakin banyak. Mereka menyeret tubuh Rina menuju kotak arisan.
Kotak itu perlahan membesar. Semakin besar. Sampai menyerupai sebuah peti mati.
Dari dalam peti terdengar suara orang menangis.
"Tolong..." rintih suara itu pelan.
"Jangan pilih aku..." tangisnya semakin keras.
"Tolong..." isaknya kembali terdengar lirih. Suara itu terdengar sangat nyata.
Rina menangis histeris.
"Tolong... siapa saja... tolong aku!" teriaknya. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara air matanya terus mengalir deras.
Tiba-tiba...
Semua suara menghilang. Lampu kembali menyala. Ruangan kembali normal. Perempuan itu lenyap. Kotak itu juga hilang.
Rina terengah-engah.
Ia melihat ke lantai. Amplop hitam masih berada di sana. Namun kini ada tambahan tulisan baru.
"Peserta pertama telah dipilih." bunyi tulisan itu.
"Tersisa tujuh orang lagi." lanjut tulisan berikutnya.
Belum sempat Rina berpikir... Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
Dengan tangan gemetar ia mengangkatnya.
"Halo?" ucap Rina pelan. Wajahnya masih dipenuhi ketakutan, sementara napasnya belum kembali normal.
Dari seberang telepon tidak ada suara. Hanya bunyi undian arisan diputar.
Klotak...
Klotak...
Klotak...
Lalu terdengar suara perempuan tua berbisik sangat pelan.
"Besok malam..." bisiknya perlahan. Nada suaranya dingin, sementara terdengar embusan napas panjang yang membuat tengkuk Rina seketika meremang.
"...semua peserta akan berkumpul." lanjutnya.
"...dan yang pertama mati..."ucapnya kembali. Terdengar suara tawa lirih yang menyeramkan di sela-sela bisikannya, seolah ia sudah mengetahui nasib yang akan terjadi.
"...adalah kamu." bisik nya pelan.
Tut...
Sambungan telepon terputus.
Di saat yang sama...Dari balik pintu kamar terdengar seseorang mengetuk perlahan.
Tok...
Tok...
Tok...
Lalu sebuah suara anak kecil memanggil dengan lirih,
"Bu Rina..." ucap sosok itu. "Boleh saya masuk?"
Padahal...Rina tinggal sendirian.