Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Penyelamatan Luna
Beban fisik dari tubuh seorang gadis yang kehilangan kesadaran ternyata jauh melampaui perhitungan matematis di dalam kepala Reno.
Reno menahan ritme napasnya, berusaha menyeimbangkan postur tubuh Luna yang kini terkulai lemas tanpa daya di dalam pelukannya.
Gadis bergaun merah marun itu kehilangan kesadaran sepenuhnya, tak mampu menanggung beban kejut dari serangkaian malapetaka mekanis yang baru saja terjadi.
Reno memandangi wajah ayu Luna yang tertidur damai, sebuah pemandangan yang terasa sangat kontras dengan situasi mengerikan di sekeliling mereka.
{Aku harus segera membawa Luna pergi dari tempat ini sebelum aparat keamanan menyisir area atap pencakar langit ini secara menyeluruh.}
Ia perlahan memosisikan tubuh langsing Luna ke atas punggungnya dengan susah payah, menggendong gadis itu demi memudahkan pergerakannya menuruni anak tangga.
Jas hitam hasil retasan yang tersampir di bahu Luna dijaganya agar tidak merosot, memberikan kenyamanan ekstra bagi gadis yang sedang tidak sadarkan diri itu.
Langkah kaki Reno diseret perlahan menuju pintu besi merah kusam, tempat ia tadi menyelipkan sepotong balok kayu sebagai pengunci darurat.
Balok kayu itu ditendangnya pelan hingga terlepas, membuka kembali satu-satunya akses menuju lorong tangga evakuasi yang sangat membatasi jarak pandang visual.
Pemadaman kelistrikan massal yang ia picu menggunakan modul peretasan beberapa waktu lalu ternyata memberikan sebuah keuntungan strategis tanpa terduga.
Seluruh sistem pengunci magnetik dan alarm otomatis pada pintu darurat hotel dipastikan lumpuh total tanpa adanya suplai daya.
Ia bisa membawa Luna melarikan diri menyusuri jalur evakuasi ini tanpa perlu khawatir memicu sirene peringatan yang akan mengundang para penjaga.
||||
Perjalanan menuruni puluhan anak tangga beton terasa bagaikan sebuah siksaan fisik yang jauh lebih berat daripada sesi maraton tanpa persiapan.
Reno melangkah ekstra hati-hati menembus ruang pandang yang minim, memastikan ujung sepatu hak tinggi Luna tidak membentur dinding atau pegangan besi.
Napas pemuda kurus itu terdengar menderu sangat kasar, menguras seluruh sisa tenaga di kakinya yang mulai gemetar menahan beban ganda.
Keringat bercucuran deras membasahi dahi dan kemejanya, namun semangat untuk menyelamatkan sang pujaan hati terus memompa adrenalinnya tanpa henti.
Setiap pijakan kakinya diatur dengan ritme yang konstan, mencegah guncangan berlebih yang mungkin bisa membangunkan Luna dari pingsannya secara prematur.
Reno terus menggumamkan kata-kata penyemangat di dalam hati, memfokuskan pikirannya pada pintu keluar lantai dasar yang perlahan semakin dekat.
{Tolong bertahanlah sebentar lagi, persendian kakiku, kita hampir berhasil melewati garis finis dari malam paling gila dalam sejarah peradaban manusia.}
Sebuah pintu besi berlabel jalur evakuasi utama akhirnya terlihat menyambut di ujung bawah lorong, menjanjikan akses langsung menuju jalanan luar.
Reno menekan tuas pintu tersebut menggunakan punggungnya, membiarkan engsel besinya bergeser terbuka membelah kesunyian malam yang mencekam.
Mereka berhasil keluar melalui sebuah gang sempit di sisi belakang bangunan hotel, jauh dari kerumunan petugas kepolisian yang mengepung lobi utama.
Kondisi di gang belakang itu terpantau sangat sepi, hanya dipenuhi oleh deretan tempat sampah besar milik pihak manajemen kebersihan hotel.
Reno mempercepat langkahnya menyusuri jalanan paving block tersebut, membawa Luna menuju jalan raya kota yang masih dilewati oleh beberapa kendaraan umum.
||||
Sebuah taksi komersial yang sedang melaju pelan akhirnya merespons lambaian tangan panik Reno di pinggir trotoar jalan raya.
Mobil berpelat kuning itu menepi perlahan, memberikan ruang yang cukup bagi Reno untuk segera membuka tuas pintu penumpang bagian belakang.
Ia membaringkan tubuh Luna dengan sangat hati-hati di atas jok belakang, menyandarkan kepala gadis itu ke permukaan bantal kursi penumpang.
Reno kemudian memutar tubuhnya untuk menyusul masuk, menutup pintu mobil dengan bantingan yang sengaja diperhalus agar tidak menimbulkan suara bising.
"Tolong melaju lurus menjauhi area bangunan hotel ini, Pak Sopir, nanti saya arahkan jalan menuju kompleks perumahan mahasiswa di pusat kota."
Reno memberikan instruksi darurat tersebut sambil menyandarkan punggungnya, berusaha mengatur kembali ritme napasnya yang belum sepenuhnya stabil.
Sopir taksi itu hanya mengangguk patuh tanpa banyak bertanya, menginjak pedal akselerasi untuk membawa kendaraannya bergabung kembali dengan arus lalu lintas.
Ponsel hitam ajaib miliknya kini teronggok mati di dalam saku celana, kehilangan seluruh kemampuan komputasi akibat kehabisan sisa daya baterai terakhir.
Reno menyadari bahwa ia kini sepenuhnya kembali menjadi manusia biasa, tanpa ada satupun alat bantu retas untuk memanipulasi keadaan di sekitarnya.
Ia menatap lekat-lekat wajah Luna yang masih tertidur pulas, merasa sangat bersyukur karena gadis itu tidak terluka sedikit pun di tengah pertempuran tadi.
{Setidaknya aku berhasil membawa Luna keluar dengan selamat dari kepungan maut, meskipun aku harus kehilangan senjata rahasiaku yang paling mematikan.}
Taksi itu terus melaju membelah jalanan aspal yang mulus, meninggalkan siluet bangunan pencakar langit yang masih lumpuh akibat pemadaman listrik buatannya.
Keheningan di dalam kabin mobil hanya diisi oleh suara putaran mesin yang konstan, memberikan sebuah jeda kedamaian fiktif bagi pikiran Reno.
Pemuda itu memijat pergelangan tangannya yang terasa kaku, mencoba merelaksasi otot-otot yang sempat dipaksa bekerja jauh melampaui batas toleransi medis.
Ia merangkai berbagai macam skenario kebohongan baru di kepalanya, bersiap untuk memberikan penjelasan epik saat gadis di sebelahnya ini kembali terbangun.
||||
Guncangan pelan dari manuver kendaraan yang melintasi jalanan kota perlahan mulai mengembalikan kesadaran Luna yang sempat hilang total.
Kelopak mata gadis berprestasi itu bergerak-gerak kecil, sebelum akhirnya terbuka perlahan untuk menyesuaikan diri dengan situasi ruang sekitarnya.
Luna mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit kabin mobil yang terasa sangat asing dengan raut wajah kebingungan tingkat tinggi.
Ia menyadari bahwa dirinya sedang bersandar nyaman di kursi belakang sebuah taksi, terbalut aman oleh setelan jas hitam elegan milik Reno.
Ingatan terakhir mengenai drone militer yang menari perut lalu menukik tajam ke dalam kolam renang kembali berkelebat memukul logikanya secara brutal.
Rangkaian peristiwa tidak masuk akal itu terasa bagaikan sebuah mimpi buruk, namun rasa lelah di tubuhnya membuktikan bahwa semuanya adalah kenyataan.
Luna menoleh perlahan ke samping kirinya, menemukan sosok Reno yang sedang duduk mengawasinya dengan tatapan luar biasa lega.
Reno langsung memberikan senyum paling meyakinkan yang ia miliki, mencoba menularkan ketenangan kepada gadis yang baru saja melewati pengalaman traumatis tersebut.
"Kamu sudah sepenuhnya aman sekarang, Luna, kita sedang berada di dalam taksi menuju perjalanan pulang ke daerah kampus kita."
Kalimat penenang itu meluncur lancar dari bibir Reno, mempertahankan wibawa palsunya sebagai seorang agen rahasia pelindung dari komplotan berbahaya.
Luna membenarkan posisi duduknya dengan gerakan pelan, merapatkan kerah jas Reno yang menutupi bahunya dengan sebuah gestur perlindungan diri.
Tatapannya sama sekali tidak beranjak dari wajah pemuda kurus di sebelahnya, menyisir setiap detail ekspresi yang terpampang di wajah Reno.
Kejadian beruntun pada malam ini terlalu gila dan absurd untuk bisa diterima oleh akal sehat seorang mahasiswi biasa yang rasional.
Pertunjukan tarian perut dari sebuah mesin militer berharga fantastis itu benar-benar menghancurkan seluruh ekspektasi nalar yang ada di kepalanya.
Luna tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang sudah memuncak tajam hingga menyentuh batas maksimal toleransi pemikiran analitisnya.
"Reno... kamu sebenarnya agen rahasia CIA atau sekadar pesulap jalanan yang gagal?"
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending