NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pewaris Divisi Bayangan

Bab 25: Pewaris Divisi Bayangan

Langit di atas Kota Laut Kabut berubah menjadi kelabu pekat.

Retakan ruang yang menggantung di udara terus melebar, memancarkan aura asing yang membuat Qi di seluruh kota bergetar. Kabut hitam berputar seperti pusaran raksasa, sementara sosok-sosok berjubah hitam berdiri diam di atas udara, seolah mereka telah menguasai langit itu sejak lama.

Di garis terdepan berdiri wanita berambut putih dengan mata emas.

Tatapannya tidak pernah meninggalkan Ethan.

Begitu pula Ethan.

Ia tidak merasakan permusuhan yang membabi buta dari wanita itu. Sebaliknya, aura lawannya sangat terkendali. Dingin. Tajam. Seperti pedang yang disimpan di dalam sarungnya selama bertahun-tahun.

Musuh seperti itu jauh lebih berbahaya.

"Aura Dao Bayangan..."

gumam Ethan dalam hati.

"Bukan tiruan."

"Itu benar-benar berasal dari garis warisan yang sama."

Jenderal Rong berdiri di sisi Ethan.

"Wanita itu bernama Yue Ling."

"Kau mengenalnya?"

Jenderal Rong mengangguk perlahan.

"Ribuan tahun lalu, Divisi Bayangan adalah pasukan elit yang hanya tunduk kepada Kaisar Bayangan."

"Tetapi setelah perang besar..."

"...mereka terpecah."

"Sebagian menghilang."

"Sebagian lagi memilih mengikuti Gerbang Hitam."

Tatapan Ethan tetap tenang.

Berarti dugaannya benar.

Gerbang Hitam bukan sekadar organisasi modern.

Mereka adalah penerus dari salah satu kekuatan kuno.

Yue Ling perlahan melangkah di udara.

Setiap langkahnya menciptakan riak energi hitam keemasan.

"Akhirnya kita bertemu."

Suara wanita itu terdengar lembut.

Namun mengandung tekanan yang luar biasa.

"Kau terlihat jauh lebih lemah daripada yang kubayangkan."

Ethan tidak terpancing.

"Aku juga bisa mengatakan hal yang sama."

Sudut bibir Yue Ling sedikit terangkat.

"Masih seperti dulu."

"Tidak suka berbicara."

Lina menoleh heran.

"Kalian benar-benar pernah bertemu?"

"Tidak."

jawab Ethan singkat.

"Aku tidak mengenalnya."

Yue Ling menggeleng pelan.

"Benar."

"Kau memang tidak mengenalku."

"Tapi aku mengenalmu..."

"...melalui catatan yang diwariskan guruku."

Jenderal Rong diam-diam menggerakkan tangan.

Puluhan Penjaga Batu Naga mulai bergerak menuju gerbang kota.

Mereka membentuk formasi setengah lingkaran.

Sinar biru memenuhi permukaan tubuh batu mereka.

Ethan menangkap gerakan itu.

Namun ia juga menyadari sesuatu yang lain.

Pasukan Gerbang Hitam belum menyerang.

Mereka...

Seolah sedang menunggu.

"Dia sedang membeli waktu."

pikir Ethan.

"Tapi untuk apa?"

Ia segera menutup mata sejenak.

Kesadaran spiritualnya menyebar ke seluruh kota.

Detik berikutnya...

Matanya langsung terbuka.

"Di bawah tanah."

"Ada sesuatu yang bergerak."

"Ethan."

Jenderal Rong menoleh.

"Ada apa?"

"Mereka bukan datang untuk kota ini."

"Mereka datang untuk sesuatu yang berada di bawah kota."

Wajah Jenderal Rong berubah.

"Mustahil..."

Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

BUM!

Tanah di tengah alun-alun retak.

Seluruh kota berguncang.

Patung naga raksasa mengeluarkan cahaya merah.

Sebuah lingkaran formasi kuno muncul dari dalam tanah.

Yue Ling tersenyum.

"Akhirnya terbuka."

Ia mengangkat tombaknya.

Puluhan kultivator berjubah hitam langsung bergerak.

Namun bukan menyerang Ethan.

Mereka justru melompat menuju pusat formasi.

Ethan langsung memahami tujuan mereka.

"Mereka ingin mengambil sesuatu."

"Tahan mereka!"

teriak Jenderal Rong.

Penjaga Batu Naga segera menyerbu.

Pertempuran pun pecah.

Dentuman demi dentuman memenuhi kota.

Penjaga batu yang memiliki kekuatan setara Alam Pengumpulan Qi Bintang Tinggi beradu dengan kultivator berjubah hitam yang terlatih.

Pedang dan tombak bertabrakan.

Qi memenuhi udara.

Lina ikut bergerak.

Ia menghunus pedangnya dan menghadang seorang pria bertopeng.

Benturan pertama membuat lengannya bergetar.

"Lumayan..."

gumam pria itu.

"Tidak buruk untuk gadis muda."

Lina menarik napas.

Ia mengubah posisi pedangnya.

Tidak gegabah.

Pelajaran Ethan selama perjalanan mulai membuahkan hasil.

Daripada menyerang membabi buta...

Ia menunggu celah.

Ketika lawannya mengayunkan pedang kedua kalinya—

Sret!

Pedangnya berputar memotong sisi lengan lawan.

Pria bertopeng mundur.

Tatapannya berubah serius.

"Teknik itu..."

"Bukan milik keluarga mana pun."

Lina tidak menjawab.

Ia kembali mengambil posisi bertahan.

Di sisi lain...

Ethan masih diam.

Bukan karena ragu.

Melainkan karena sedang menghitung.

Ada dua puluh tiga musuh.

Delapan menjaga Yue Ling.

Lima menuju formasi.

Sisanya menahan Penjaga Batu Naga.

Namun...

Masih ada satu aura yang belum muncul.

Aura yang berasal dari retakan ruang.

Makhluk bermata merah itu.

"Ethan."

bisik dirinya sendiri.

"Jangan terpancing."

"Musuh utama belum bergerak."

Yue Ling akhirnya turun ke tanah.

Jarak mereka kini hanya sekitar dua puluh meter.

"Apa kau tidak akan menghentikanku?"

tanyanya.

"Aku sedang menunggu."

jawab Ethan.

"Menunggu apa?"

"Kesalahanmu."

Wanita itu tertawa pelan.

"Kau benar-benar mirip dengan cerita."

Ia mengangkat tombaknya.

Bayangan hitam muncul di belakang tubuhnya.

Bukan satu.

Melainkan sembilan.

Kesembilan bayangan itu memegang senjata berbeda.

Pedang.

Kapak.

Rantai.

Busur.

Tombak.

Cambuk.

Belati.

Palu.

Dan satu tangan kosong.

Lina yang melihatnya langsung merasakan tekanan luar biasa.

"Apa itu?"

Jenderal Rong berkata lirih,

"Teknik Rahasia Divisi Bayangan."

"Sembilan Jiwa Tempur."

Tatapan Ethan sedikit berubah.

Teknik itu...

Belum sempurna.

Tetapi...

Sangat dekat dengan teknik yang pernah ia gunakan lima ratus tahun lalu.

"Ethan."

kata Yue Ling.

"Guruku selalu berkata..."

"...jika Kaisar Bayangan benar-benar bereinkarnasi..."

"...maka hanya ada satu cara membuktikannya."

Ia mengangkat tombak lurus ke depan.

"Kalahkan aku."

Aura hitam langsung meledak.

Sembilan bayangan menyerbu bersamaan.

Namun Ethan tidak mundur.

Ia melangkah satu kali.

Tubuhnya berputar setengah lingkaran.

Tangannya membentuk segel sederhana.

Teknik yang sangat sederhana.

Bahkan hampir tidak mengandung Qi.

Namun...

Kesembilan bayangan itu tiba-tiba saling bertabrakan.

Ledakan terjadi di tengah udara.

Yue Ling membelalakkan mata.

"Itu..."

Ethan menjawab datar.

"Kau terlalu bergantung pada sinkronisasi."

"Saat ritmenya diputus..."

"...formasi bayanganmu saling menghancurkan."

Wanita itu segera mundur beberapa langkah.

Sorot matanya berubah.

Untuk pertama kalinya...

Ia benar-benar terkejut.

"Itu benar..."

gumamnya.

"Persis seperti catatan guru..."

Tetapi sebelum Ethan sempat bergerak lebih jauh—

Langit berguncang.

Retakan ruang yang selama ini hanya terbuka sedikit...

Kini pecah sepenuhnya.

Suara geraman rendah mengguncang jiwa semua orang.

Puluhan kultivator Gerbang Hitam langsung berlutut.

Bahkan Yue Ling ikut menundukkan kepala.

"Selamat datang..."

ucapnya pelan.

"...Yang Mulia."

Jenderal Rong memucat.

"Itu tidak mungkin..."

Dari balik retakan perlahan keluar sebuah tangan raksasa yang diselimuti sisik hitam.

Bukan tangan manusia.

Melainkan tangan makhluk yang dipenuhi energi iblis.

Tanah kota retak.

Patung naga mulai runtuh satu per satu.

Qi di seluruh wilayah menjadi kacau.

Ethan menatap makhluk itu tanpa berkedip.

Lima ratus tahun lalu...

Ia yakin telah membunuh salah satu Jenderal Iblis yang memimpin invasi ke Alam Kultivasi.

Aura di hadapannya...

Persis sama.

Namun ada satu hal yang membuatnya jauh lebih terkejut.

Makhluk itu menatap Ethan.

Lalu perlahan...

Ia tersenyum.

Senyum yang penuh ejekan.

"Akhirnya..."

suara berat itu mengguncang langit.

"...aku menemukanmu lagi, Kaisar Bayangan."

"Dan kali ini..."

"...tidak akan ada seorang pun yang menyelamatkanmu."

Di saat yang sama, jauh di bawah singgasana putih, Pecahan Inti Dunia yang disegel tiba-tiba memancarkan cahaya ungu.

Cahaya itu membentuk sebuah peta kuno yang belum pernah dilihat Ethan sebelumnya.

Di tengah peta tersebut hanya ada satu tulisan.

"Makam Kaisar Bayangan — Segel Pertama Telah Terbuka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!