kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
pada keesokan harinya
Subuh-subuh warung Pak Samsul sudah buka dan Anehnya padahal biasanya jam 8 baru membuka pintu.
Jam 6 pagi pembeli udah ngantri dan Ibu-ibu yang biasanya ke warung Pak Safri, tiba-tiba belok ke warung Pak Samsul semua
Katanya, "tidak tau kenapa, kaki rasanya pengen ke sini." Gula, beras, kopi, minyak ludes dalam 3 jam dan Sitoh senyum-senyum sendiri sambil menghitung duit.
Sementara di seberang jalan, warung Pak Safri beda 180 derajat.
Biasanya jam segitu Pak Safri udah sibuk ngelayanin tukang sayur sama anak sekolah. Tapi pagi itu sepi dan Bener-bener sepi kayak kuburan? Lalat aja males hinggap.
Ada 1-2 orang mampir, tapi baru pegang pintu, mukanya langsung pucat terus balik kanan. Katanya."angin di dalem warung dingin banget, merinding."
Siang dikit, Pak Safri mulai merasakan badanya meriang dan juga Badannya panas, tapi telapak kakinya dingin, Di punggungnya ada lebam biru bentuk 3 garis sejajar. Kayak dicakar.
Bu Safri langsung ingat, Kemarin sore ada anak kecil beli garam di warungnya, bayarnya pake uang lecek 2 ribuan Anak itu tidak pernah kelihatan di kampung. Matanya merah dan setelah itu anaknya langsung pergi, toples kerupuk di etalase tiba-tiba pecah sendiri.
Pak Safri cuma bisa istighfar, setelah itu Dia melihat ke seberang Warung Pak Samsul rame bukan main, Plastik kresek terbang-terbang. Tapi dia juga melihat di atas genteng warung Pak Samsul ada burung gagak hitam nongkrong dari pagi tidak terbang-terbang dan Matanya menatap lurus ke warung Pak Safri.
Setelah warungnya sepi 40 hari, badan Pak Safri semakin menyusut, Bukan karena sakit dokter.
Minggu pertama, setiap malam dia bermimpi di ikat di pohon karet tua belakang rumah Pak Samsul, Ada nenek-nenek ketawa cekikikan sambil nyucuk perutnya pake bambu runcing.
Paginya, pusarnya merembes darah tapi gak ada luka.
Minggu kedua, pak samsul tidak bisa makan. Nasi yang masuk langsung dimuntahin jadi pasir sama belatung dan anehnya dia laper terus dan tidak merasa kenyang, Matanya cekung, bibirnya pecah-pecah. Bu Safri udah bawa ke 3 orang pinter. Jawabannya sama: "Telat buk Ini santau bungkus san sudah masuk tulang."
Minggu ketiga, Pak Safri mulai ngomong sendiri. Katanya ada Sitoh duduk di pojokan kamar, nyisir rambut sambil nyanyi lirih. "Tidur Safri, tidur?. warungmu sudah aku tutupin..." Padahal di kamar itu cuma ada dia sama Bu Safri.
Puncaknya malem Jumat Kliwon
Hujan sangat deras Jam 1 malem, Pak Safri kejang-kejang dan Dari mulutnya keluar paku karatan, rambut, sama kapas kebakar, Badannya panas kayak kebakar, tapi keringatnya dingin.
Bu Safri nangis sambil membaca Al-Qur'an disamping pak Safri dan Tiba-tiba lampu mati. Di kegelapan, kedengeran suara dari atas genteng: "sUdah cukup... utangmu lunas..." Itu suara perempuan Berat, parau, Mirip suara Sitoh.
Pas lampu menyala lagi, Pak Safri sudah tidak bernapas, Matanya melotot ke arah pintu. Di telapak tangannya tergenggam uang 2 ribuan yang lecek dan bau anyir dan itu adalah Uang yang dikasih anak kecil misterius sebulan yang lalu.
keesokan harinya, pada saat dimandikan Pak doni menemukan 3 lebam biru yang berbentuk telapak tangan di punggung Pak Safri, Kata Pak doni, "Ini tapak kiriman dan Yang ngirim kidal, ilmunya mateng."
Setelah dimandikan Jenazah Pak Safri sudah bersih, dikafanin, Tapi ada yang ganjil pada saat baru mulai mau disholatkan
Empat orang yang mengangkat keranda pak samsul ke masjid mengeluh beratnya bukan main. Padahal Pak Safri saat sakit badannya tinggal tulang. "Kayak ngangkat mayat 3 orang," bisik Pak RT.
Kerandanya juga bunyi "_krek... krek..._" seperti ada yang nyakar dari dalam.
Pada saat disholatkan, lampu masjid yang baru ganti langsung _pet..._ mati satu. Imam sampe mengulang takbir 2 kali karena suaranya hilang ketelan angin, Padahal semua jendela ketutup rapat dan Di shap paling belakang ada anak kecil nunduk. Bajunya kumal dan tidak ada yang kenal.
saat imam salam, anak itu sudah tidak ada.
Yang paling bikin bulu kuduk berdiri saat di kuburan.
Pada saat Tanah lagi digali, cangkulnya Pak Modin kena sesuatu yang keras. _Ting!.Dikira batu. Pas diangkat, ternyata paku karatan panjang sejengkal, bungkusannya kain kafan kecil. Isinya rambut, kuku, sama foto Pak Safri yang matanya dicoblos jarum.
"Sudah, cepetan kebumi," kata Pak Doni yang wajahnya sudah pucat. "Ini barang kiriman?. Kalo kelamaan di atas, yang gali bisa ketempelan."
Pada saat jenazah mau diturunin tali kafan di bagian kepala Pak Safri terlepas sendiri, Ikatan yang sudah kencang tiba-tiba, " slluuur." terbuka dan Dari dalam kain terlihat bibir Pak Safri membiru, tapi sudutnya nyengir. Bukan nyengir biasa, tapi Nyengir yang dipaksa, Kata yang lihat seperti ada yang menarik pipinya dari dalam.
Pak Ustad Kamil langsung cepat-cepat azanin di kuping jenazah, terus tali kafannya diikat ulang sambil baca ayat kursi dan setelah itu Baru jenazahnya bisa anteng.