Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Allah
Pagi itu, Alisa sedang memasak nasi di dapur. Baru saja meletakan panci beras ke dalam magicom. Dari luar seperti terdengar suara ketukan pintu.
Kening gadis itu melebar, spontan menoleh, "Siapa pagi-pagi begini bertamu?"
Namun karena ketokan semakin nyaring, akhirnya Alisa pun memutuskan untuk membukakan pintu. Ia berjalan dengan langkah tenang menuju ruang tamu, "Sebentar!"
Ternyata yang datang adalah Damar, "Lho, Mas Damar, ada ap—"
Alisa terperanjat saat tiba-tiba mulutnya dibekap dari depan. Lalu pria itu menyeret tubuhnya masuk, menutup pintu dengan kaki.
Alisa gemetar setengah mati, matanya melotot, berusaha sekuat tenaga untuk terlepas dari belenggu pria yang berhasil membekap mulutnya.
Air matanya luruh deras. Padahal ia kira Damar adalah pria yang baik. Namun ternyata, statementnya kali ini terlalu naif. Dia terlalu percaya bahwa yang berbulu putih itu hanyalah domba, padahal serigala juga memiliki warna yang sama.
"Tolong lepaskan aku!" teriak Alisa saat tubuhnya dijatuhkan pada ranjang.
Damar menyeringai di depannya, perlahan merangkak naik sembari menjulurkan lidahnya seperti serigala yang kelaparan.
"Hiks! Apa yang mau anda lakukan?! Tolong lepaskan aku!" pekik Alisa menangis histeris, mencoba merangkak mundur.
"Kyaaa!!!" Kakinya dengan kuat di tarik oleh pria itu, membuat Alisa meringkuk di bawah kungkungan Damar seperti wanita penghibur yang menyedihkan.
"Sudah lama aku menahannya, Alisa. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu!" Dengan sekali sentakan, krudung yang Alisa kenakan terhempas ke lantai.
"Kya!! Tolong lepaskan aku!! Tolongg!!!" teriak gadis itu histeris, rasa putus asa semakin menggerogoti hatinya saat dengan lancangnya tangan pria itu mencoba merangsek kerah bajunya ke bawah.
"Aku benar-benar salah menilai mu! Kau—tak lebih dari pria pecundang yang kurang ajar!" sentak Alisa akhirnya, menatap tajam pria di atasnya.
Ekspresi Damar kali ini benar-benar menjijikan! Alisa benar-benar tertipu dengan rayuan dan mulut manisnya. Meski begitu, Alisa tetap tak goyah. Sebisa mungkin ia memanfaatkan celah untuk kabur.
BUGHHH!!
Dengan keberanian matang, Alisa langsung menendang area sensitif Damar dengan lututnya. Membuat pria itu melotot, tubuhnya langsung kaku, terjatuh kensamping sembari memegangi burung perkututnya yang mungkin pecah Alisa buat.
Alisa spontan melompat dari ranjang, hendak turun, "Tolong siapapun tolong akuu!!" teriak Alisa mencoba berlari ke arah pintu.
Senyumnya merekah setelah akhirnya ia sampai di ruang pintu, lekas memutar kenop. Namun telat. Tangannya tiba-tiba di tarik dari belakang, lalu di hempaskan ke dinding oleh Damar.
"Dasar gadis kurang ajar! Sepatutnya kau kuberi pelajaran sekarang!!"
BRUUEEETTTT!!
"ASTAGHFIRULLAH!!!" Pekik Alisa terbangun dari mimpinya.
Nafasnya memburu, tubuhnya mengeluarkan keringat yang begitu banyak saking syoknya dengan mimpi yang ia rasakan.
"Ternyata cuma mimpi...." lirihnya tercekat.
Namun faktanya mimpi itu terlalu nyata. Apa ini petunjuk dari Tuhan? Apa....ini artinya Allah menyuruhnya untuk cepat angkat kaki dari tempat ini?
"Ke-kenapa Mas Damar....kaya gitu di mimpiku?" cicitnya gemetar.
Alisa turunkan kedua kakinya kebawah, dadanya masih deg-degan, nafasnya juga tersengal. Ia belum benar-benar tenang sekarang.
Namun dipikir sampai kepala mau meledakpun, Alisa seperti merasakan ada yang janggal. Seolah, ini benar-benar petunjuk dari Tuhan untuk menyelamatkannya.
"Ak-aku harus pergi dari sini!"
Dengan langkah sedikit oyong, Alisa ambil segala barang yang setidaknya bisa diperlukan untuk kabur. Sementara baju dan barang-barang yang merepotkan lainnya. Alisa tidak membawanya. Entah mengapa, ia merasakan firasat buruk malam ini.
Ia tatap jam di handphone miliknya.
23:20
"Apa iya aku harus keluar dari tempat ini jam segini?" lirihnya gugup, mulai sedikit ragu.
"Mu-mungkin cuma mimpi?"
CKLEKK!! CKLEKK!!
Terkejut gadis itu mendengar ada yang mencoba membuka knop pintu rumahnya, melotot syok. Nafasnya makin memburu, jantungnya berdetak tidak karuan. Kakinya seolah lemas tak berdaya hanya sekedar untuk melangkah ke depan.
"CK! Sial! Malah dikunci!"
Membulat langsung sepasang mata Alisa, "I-itu....suara Mas Damar!" lirihnya parau, semakin jantungan.
Tidak, bukan sekarang waktunya ia untuk melamun dan pasrah. Kini Alisa sudah mengantongi handphone, uang dan keperluan lain yang bisa ia butuhkan dalam tas miliknya.
Ia celingak-celinguk ke sekeliling, berharap menemukan jalan untuk keluar. Semakin lama Damar semakin kuat saja memutar-mutar knop pintu. Alisa baru teringat, ia masih menggantungkan kuncinya di dalam, hal itu membuat Damar tidak bisa membukanya meski punya kunci cadangan.
"Aku harus pergi dari sini, bismillahirrahmanirrahim!"
Dengan sisa tenaga yang ada. Gadis itu lekas berjalan cepat menuju jendela yang untungnya tidak di tralis. Ia lekas menarik kuncinya ke atas, lalu mendorong cepat. Keluar dari sana dengan kaki polos tanpa sandal demi tidak menimbulkan suara.
"Benar! Tuhan sedang menolongku! Jika tidak,tidak mungkin aku mendapat petunjuk lewat mimpi!"
Dalam hati, Alisa merasa lega karena akhirnya ia bisa keluar. Namun ia tidak sepenuhnya tenang, karena tiba-tiba saja, suara di depan kontrakannya semakin ramai. Membuat langkah Alisa terhenti. Refleks bersembunyi dibalik semak.
"Gimana bos? Bisa ngga?!"
"Hooh bos, aku juga pengen senang-senang malam ini, mwehehehe....ga sabar icip perawan!"
Jantung Alisa rasanya nyaris berhenti berdetak. Ternyata bukan hanya Damar saja, tapi pria itu juga membawa preman-preman yang tadi. Membuat air mata gadis itu semakin luruh.
"Ya Allah....Kenapa jahat sekali dunia ini pada perempuan? Bahkan yang tidak mengumbar aurat pun, masih tetap kena....hiks!"
Tidak, bukan sekarang waktunya ia meratapi nasib. Ia—harus pergi dari sini—sekarang juga!
Alisa celingak-celinguk ke sekeliling untuk mencari jalan keluar dari area kontrakan itu. Akibat sekelilingnya di pagar tembok. Alisa tak tau harus kabur lewat mana.
"Aku harus pergi sebelum Mas Damar sadar aku gaada di kamar!" lirihnya, mulai berdiri, mindik-mindik ke belakang di tengah gelapnya malam.
CKLEKK!!
"Pantesan! Kuncinya yang di dalam aja ngga dicabut! Pekik mereka saat sudah berhasil membuka pintu ruang tamu.
Ekspresi mereka semua langsung berubah menjijikan. Berjalan dengan langkah santai menuju kamar.
"Ughhh! Ga sabar aku mau icip-icip!"
"Tanggung, coblos aja langsung, hahaha! Biasanya yang berhijab desahannya lebih mantap, wkwkwk!"
Damar tatap malas mereka semua, "Diam! Kalian akan membangunkannya!"
Namun saat mereka semua membuka pintu kamar. Barulah mereka melihat, Alisa tidak ada lagi di kamar.
"Sial! Kemana bocah itu?!" pekik Damar spontan mengecek sekeliling.
Dari dapur, ruang tengah, kamar mandi, hingga kamar. Semuanya kosong.
"Arrghhh!!!" Ia banting vas bunga kecil di meja samping pintu kamar Alisa, menggeram marah.
"Sialan! Alisa malah kabur disaat aku pengen banget!" Ia lantas menoleh ke arah teman-temannya, "Cepat keluar! Cari dia sampai dapat!"