NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Hawa panas dan lembap khas Jakarta langsung menyergap pori-pori kulit, begitu mereka melewati jembatan pesawat Bandara Soekarno-Hatta. Kontras yang luar biasa tajam dengan dinginnya London belakangan ini. Sesuai perkataan Axel, area kedatangan internasional dipenuhi oleh gemuruh riuh para penggemar, jurnalis esports, dan kilatan lampu kilat kamera yang menyilaukan. Spanduk-spanduk bertuliskan "WELCOME HOME CHAMPIONS" dan logo Tim Aether bertebaran di mana-mana. Axel berjalan di paling depan, memimpin formasi tim dengan dagu terangkat dan ekspresi penuh karisma seorang kapten juara dunia. Di belakangnya, Bryan dengan bangga mengalungkan medali emasnya ke leher, sesekali melambaikan tangan ke arah kamera sambil memamerkan trofi perak raksasa yang digendong oleh Kenzie dan Ilias bergantian. Jasmine sendiri berjalan di barisan paling belakang, melempar senyum tipis yang sopan setiap kali namanya diteriakkan oleh kerumunan, namun fokusnya tetap terkunci untuk menyelesaikan sesi formalitas ini secepat mungkin. Setelah melewati konferensi pers singkat yang melelahkan di terminal bandara di mana Axel mendominasi sebagian besar jawaban taktis sementara Jasmine hanya menjawab beberapa pertanyaan mengenai akurasi tembakannya, mereka akhirnya diizinkan naik ke dalam bus eksekutif milik manajemen.

Perjalanan dari bandara menuju kompleks perumahan tepi danau memakan waktu sekitar dua jam akibat kemacetan ibu kota. Di dalam bus yang melaju membelah rona senja, keheningan kembali merayap. Bryan yang energinya habis setelah melayani para penggemar langsung tertidur pulas di barisan depan. Kenzie sibuk memeriksa jadwal siaran langsung pasca turnamen di ponselnya, sedangkan Ilias hanya menatap keluar jendela dengan gurat kelelahan yang bercampur rasa puas. Di barisan tengah, Axel beberapa kali menoleh ke belakang, menatap Jasmine yang duduk diam sambil mendekap tas selempangnya. Ada sebuah keheningan yang canggung di antara mereka sejak percakapan di London. Axel tidak lagi melontarkan perintah kaku, namun tatapan matanya tetap memancarkan intensitas perhatian yang sangat pekat, sebuah tatapan yang menyiratkan rasa kepemilikan yang terluka sekaligus kecemasan yang mendalam akan jarak emosional yang kian membentang di antara mereka. Jasmine memilih memalingkan wajah, menatap siluet pepohonan yang bergerak cepat di luar kaca bus, menghitung setiap kilometer yang tersisa sebelum ia tiba di rumah.

---

Tepat pukul lima sore, bus besar berwarna hitam legam itu perlahan melambat dan akhirnya berhenti dengan desisan hidrolik yang halus tepat di depan pagar kayu rumah Jasmine. Begitu pintu bus terbuka, anak-anak Tim Aether yang bersiap menurunkan barang-barang mereka mendadak dibuat terpaku oleh pemandangan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya. Halaman depan Floraison Cafe yang biasanya tenang dan asri, sore ini telah berubah menjadi sebuah arena perayaan kecil yang sangat mencolok. Untaian balon berwarna putih dan emas tampak menghiasi tiang-tiang kaca kafe. Di antara dua pohon ceri besar yang tumbuh subur di tepi jalan setapak, terbentang sebuah spanduk kain putih berukuran besar yang ditulis dengan guratan cat minyak yang sedikit berantakan namun sangat mencolok. "Selamat Datang Kembali, Penembak Jitu Kelas Dunia! (Persediaan Teh Chamomile Gratis Seumur Hidup dan Seekor Bebek Rusuh Sudah Siap Melayanimu)."

Di bawah spanduk tersebut, berdiri tegak sosok jangkung Liam dengan gaya kasualnya yang khas yang selalu berhasil mencuri perhatian. Pria itu mengenakan kemeja linen putih longgar dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku, dipadukan dengan celana kain cokelat ringan. Rambut hitam berponinya sedikit berantakan tertiup angin sore tepi danau, dan di wajah tampannya, terukir seulas senyuman miring yang begitu hangat, jenaka, dan penuh dengan karisma maskulin yang matang. Tidak jauh di samping kaki kirinya, Donald si bebek putih gemuk tampak berdiri dengan sangat tegak dan lucu. Entah bagaimana caranya, Liam berhasil memasangkan sebuah dasi kupu-kupu kecil berwarna merah menyala di leher bebek itu. Begitu melihat bus tim berhenti, Donald langsung berkuak-kuak dengan sangat heboh, mengepakkan kedua sayap pendeknya seolah-olah ikut memahami euforia penyambutan sang juara sejati. Jasmine yang baru saja melangkah turun dari anak tangga bus langsung menghentikan langkah kakinya di atas aspal. Matanya membelalak lebar, menatap spanduk konyol, balon-balon, Donald yang berdasi, dan yang paling utama, tatapan mata teduh Liam yang langsung mengunci pandangannya dari seberang jalan. Seketika itu juga, seluruh rasa lelah yang menumpuk di pundak Jasmine selama belasan jam penerbangan, seluruh kepenatan mental dari kilatan kamera bandara, dan hawa dingin kaku yang mengurungnya selama di London menguap tanpa bekas. Sebuah senyuman yang sangat lepas, benderang, dan tulus seutuhnya, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan selama berada di panggung dunia, akhirnya pecah dan mekar dengan begitu indahnya di wajah cantik Jasmine. Tanpa memedulikan koper bawaannya yang masih berada di bagasi bus, dan tanpa memedulikan tatapan heran dari Bryan atau Kenzie, Jasmine melangkah cepat membelah jalan aspal. Ia berlari kecil dengan perasaan yang begitu ringan, mengabaikan segala bentuk dinding protektif yang selama ini mengurungnya, menuju ke arah Liam yang kini sudah menurunkan tubuhnya sedikit dan merentangkan kedua tangannya dengan sangat hangat untuk menyambut kepulangannya. Namun, kebahagiaan itu mendadak terhenti oleh sebuah pergerakan yang kasar.

Sreeek.

Sebuah langkah kaki yang besar dan berat melompat turun dari pintu bus dengan sangat terburu-buru. Sebelum Jasmine sempat melewati pembatas jalan setapak, sebuah tangan yang kekar mencengkeram lembut namun sangat kuat pada lengan mantel wolnya, menarik tubuh mungil Jasmine ke belakang hingga langkahnya terhenti secara paksa tepat dua meter di hadapan Liam.

"Jasmine, berhenti di situ."

Suara bariton yang sangat dingin, tajam, dan sarat akan otoritas mutlak dari Axel seketika memotong keheningan sore itu. Wajah tampan sang kapten kini telah menggelap sempurna, dipenuhi oleh kombinasi antara rasa cemburu yang membakar, amarah yang meledak setelah berhari-hari ia tahan di London, dan sisa ego seorang pria yang merasa teritori kekuasaannya diinjak-injak secara terang-terangan. Axel melangkah maju, memposisikan tubuh tingginya yang tegap tepat di tengah-tengah jalan setapak, bertindak sebagai perisai manusia yang menutup total akses fisik antara Jasmine dan sang barista. Matanya memicing tajam, menatap Liam dengan pandangan membunuh yang sangat pekat.

"Rencana konyol apa lagi yang sedang Mas Liam lakukan di sini?" desis Axel dengan nada suara yang sangat rendah namun bergetar menahan amarah. "Jasmine baru saja mendarat setelah melakukan perjalanan belasan jam yang sangat melelahkan demi membawa pulang trofi juara dunia untuk negara ini. Dia butuh masuk ke dalam rumahnya sendiri untuk beristirahat total, bukan menjadi objek dari lelucon kain flanel dan dekorasi kekanak-kanakan Mas yang tidak bermutu ini."

Mendapat perlakuan kasar dan tatapan intimidasi dari sang kapten juara dunia, Liam sama sekali tidak menunjukkan riak ketakutan atau kemunduran sedikit pun. Ia perlahan menurunkan kedua tangannya yang sempat terentang, memasukkannya ke dalam saku celana kainnya dengan gerakan yang luar biasa santai dan tenang. Namun, jika seseorang memperhatikan matanya dengan saksama, tatapan mata teduh Liam kini telah berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan memancarkan aura menantang yang tidak kalah kuat dari sang kapten. Ini adalah konfrontasi verbal langsung pertama di antara dua kutub emosi yang memperebutkan hati Jasmine.

"Lelucon kekanak-kanakan?" Liam terkekeh kecil, sebuah tawa meremehkan yang sangat tipis namun langsung menyulut api emosi di dada Axel. Liam sedikit memiringkan kepalanya, menatap Axel lurus-lurus sebelum beralih menatap Jasmine di belakang bahu sang kapten.

"Saya tidak sedang membuat lelucon, Mas Kapten," lanjut Liam, nadanya melorot rendah namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu berwibawa dan penuh penekanan yang matang. "Saya sedang menyambut kepulangan seorang gadis luar biasa yang akhirnya kembali ke tempat asalnya, setelah selama dua minggu penuh dipaksa bekerja keras seperti robot tak berjiwa di tempat yang sangat dingin demi memuaskan ambisi mas nya ini. Saya menyambut Jasmine sebagai seorang manusia, bukan sebagai trofi atau properti berharga milik Tim Aether."

Liam melangkah satu langkah maju, mengikis jarak di antara dirinya dan Axel hingga atmosfer di jalan setapak tepi danau itu mendadak terasa mencekam dan membeku seketika. "Mas yang seharusnya tahu batas. Turnamen dunia sudah selesai, piala Mas Kapten sudah berhasil mas dapatkan untuk manajemen. Jadi, berhenti bertingkah seolah-olah mas memiliki hak paten atas seluruh sisa napas, waktu, dan kehidupan pribadi Jasmine di luar dunia game."

Di belakang mereka, Bryan, Kenzie, dan Ilias hanya bisa berdiri mematung di samping badan bus. Mereka bertiga saling pandang dengan ekspresi tegang, menyadari bahwa situasi ini telah berada di luar kendali profesional tim. Bahkan Donald si bebek putih tampak menghentikan suaranya, memiringkan kepalanya seolah ikut merasakan tekanan tak kasatmata yang luar biasa besar di antara kedua pria tampan tersebut.

"Anda tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Jasmine! Jangan berlagak seolah Mas Liam adalah pahlawannya hanya karena Anda punya secangkir teh gratis dan kafe kaca!" bentak Axel, suaranya meninggi satu oktav dengan urat-urat leher yang menegang keras, mengekspresikan seluruh rasa frustrasinya yang mendalam karena menyadari kekalahannya secara emosional. "Saya yang bersamanya selama lima tahun ini! Saya yang menyelamatkannya, mengajarinya segala hal, dan membangun masa depannya yang bersinar di dunia ini!"

"Lima tahun bersamanya bukan berarti Mas Kapten memiliki hak legal untuk mengurungnya di dalam sebuah sangkar emas yang kaku, sampai dia lupa bagaimana caranya tersenyum dengan lepas," balas Liam dengan intonasi suara yang sangat tenang namun menusuk tepat ke pusat rasa bersalah terdalam di hati Axel. Liam menatap kapten itu dengan pandangan menegur yang sangat dingin. "Mas melindunginya bukan karena mas peduli pada kebahagiaannya, tapi karena ego mas terlalu takut kehilangan aset terbaik yang membuat tim kalian bersinar. Tapi di sini, di seberang jalan ini, dia tidak perlu menjadi penembak jitu terbaik di dunia untuk bisa diterima dan dihargai. Di tempat ini, dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Menjadi Jasmine."

Axel yang merasa argumennya dipatahkan secara telak hendak melayangkan kata-kata kasarnya lagi dan mempererat cengkeramannya pada lengan Jasmine. Namun, sebuah tarikan lembut namun sangat tegas pada ujung jersinya membuat seluruh pergerakan Axel terhenti seketika. Axel menoleh ke belakang dengan cepat, dan matanya mendadak melemah ketika melihat Jasmine sedang menatapnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, namun memancarkan binar ketegasan dan keberanian mutlak yang belum pernah ia lihat selama lima tahun mereka bersama.

"Cukup, Kak Axel. Tolong... lepasin tangan aku," ucap Jasmine pelan, namun suaranya terdengar begitu mutlak, menggema di antara desir angin sore tepi danau.

Jari-jemari Axel perlahan-lahan melonggar, kehilangan seluruh kekuatannya seketika seperti untaian tali yang putus. Jasmine menarik lengannya dengan perlahan, melepaskan dirinya seutuhnya dari jangkauan sang kapten. Ia melangkah maju melewati tubuh tegap Axel, meninggalkan bayang-bayang kaku Tim Aether, dan menempatkan dirinya berdiri tepat di samping Liam.

Jasmine menatap Axel untuk terakhir kalinya sore itu dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa hormat yang mendalam atas masa lalu mereka, namun juga dipenuhi oleh garis batas yang sangat tegas untuk masa depan. "Makasih untuk trofi juara dunia di London, Kak. Aku akan selalu menghargai semua bimbingan Kakak di dalam game. Tapi sekarang, turnamen udah selesai, dan aku juga udah pulang ke tempat di mana aku bisa bernapas dengan bebas."

Jasmine membalikkan tubuhnya dengan sangat ringan, menyambut uluran tangan Liam yang menggenggam jemarinya yang hangat. Mereka berdua berjalan beriringan melangkah memasuki halaman Floraison Cafe yang bernuansa emas disiram cahaya senja, diikuti oleh Donald yang berjalan berlenggok riang sambil mengeluarkan kuakan pendek yang penuh kemenangan. Axel berdiri membeku sendirian di tengah jalan setapak itu, menatap punggung gadis itu yang melangkah masuk ke dalam kehangatan dinding kaca seberang jalan. Di bawah langit senja Jakarta yang mulai meredup, sang kapten akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa perisai besarnya telah kalah telak oleh kesederhanaan sejati yang ditawarkan oleh sang barista seberang jalan.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!