"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Suasana di dalam penthouse perlahan-lahan mulai mendingin setelah badai air mata dan pengakuan yang menguras emosi itu mereda.
Meskipun kebenaran tentang dua tahun yang hilang telah meruntuhkan dinding es di antara mereka, rasa canggung yang samar tetap menggantung di udara. Enam tahun terpisah sebagai orang asing tidak bisa terhapus begitu saja dalam hitungan jam.
Vexana duduk di tepi ranjang, menatap ujung celana training abu-abu milik Landon yang menutupi seluruh kakinya. Ia mengembuskan napas berat, mencoba menata kembali serpihan logikanya yang sempat berantakan.
Di sampingnya, Landon sudah berganti pakaian dengan celana jins hitam dan kaus senada, tampak jauh lebih tenang namun sorot matanya memancarkan ketegasan yang baru.
Pria itu tidak lagi menatapnya dengan keputusasaan, melainkan dengan binar tekad seorang pria yang telah menemukan kembali arah hidupnya.
"Kita tidak bisa terus mengurung diri di sini," ucap Landon memecah keheningan, suaranya bariton lembut namun tak terbantahkan. "Kau belum makan sejak semalam, Bee. Dan tubuhmu butuh asupan setelah semua... pergulatan kita."
Vexana melirik Landon dengan tatapan jengkel yang tertahan. Kata 'pergulatan' membuat pipinya kembali memanas, mengingatkannya pada betapa bar-barnya mereka di bawah selimut sutra itu. "Aku ingin langsung pulang ke mansion. Aku harus melihat AJ."
"Tidak dalam kondisi perut kosong dan lemas seperti ini," sergah Landon cepat. Ia meraih kunci mobil dan ponselnya di atas nakas. "Kita sarapan di kafe bawah dulu. Setelah itu, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang ke mansion Valerio."
Vexana sempat ingin memprotes, namun bunyi keroncongan dari perutnya sendiri mengkhianati harga dirinya.
Dengan langkah yang masih agak kaku di bagian paha, ia terpaksa mengikuti langkah tegap Landon keluar dari penthouse menuju lift privat yang membawa mereka langsung ke area komersial di lantai dasar gedung.
Sebuah kafe bergaya Prancis yang terletak di sudut lobi gedung menjadi pilihan mereka. Beruntung, karena hari masih cukup pagi, kafe itu belum terlalu ramai oleh pengunjung.
Mereka memilih meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi, dekat dengan jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan Los Angeles yang mulai dipadati kendaraan.
Aroma biji kopi yang dipanggang dan mentega segar dari roti yang baru matang sedikit menenangkan saraf Vexana yang tegang.
Landon memesankan sepiring croissant hangat, telur orak-arik, dan segelas jus jeruk segar untuk Vexana, sementara dirinya sendiri hanya memesan secangkir double espresso hitam tanpa gula.
Keheningan yang canggung sempat merayap di antara mereka saat pesanan tiba. Vexana memotong croissant-nya dengan garpu dengan gerakan anggun yang dipaksakan, berusaha mengabaikan tatapan intens Landon yang sama sekali tidak beralih darinya sejak mereka duduk.
"Berhenti menatapku seperti itu, Don. Rasanya seperti sedang diinterogasi oleh dosen penguji," gerutu Vexana, mengunyah rotinya dengan kesal.
Landon terkekeh pelan, menyesap kopi hitamnya yang pekat. "Aku tidak sedang mengujimu, Sayang. Aku hanya sedang memastikan bahwa wanita di depanku ini nyata, bukan sekadar visualisasi dari mimpiku."
Vexana mendengus, namun sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Kedamaian kecil ini terasa begitu asing namun sekaligus sangat ia rindukan.
Namun, kedamaian itu mendadak sirna saat Vexana tidak sengaja melirik pantulan dirinya di kaca jendela besar di samping meja mereka.
Sinar matahari pagi yang terang mengekspos segalanya dengan jelas. Di leher jenjangnya yang putih, di balik kerah kemeja flanel hitam Landon yang agak melonggar, bertebaran noda-noda kemerahan pekat dan keunguan yang kontras. Itu adalah mahakarya gila yang ditorehkan Landon sepanjang malam hingga subuh tadi.
Plak!
Vexana menjatuhkan garpunya ke atas piring, membuat suara dentangan yang cukup keras hingga beberapa pelayan kafe menoleh. Pipi wanita itu seketika merona merah padam, campuran antara rasa malu dan amarah yang tiba-tiba memuncak.
"Landon Desmon!!!" Desis Vexana dengan suara tertahan, tangannya bergerak cepat menarik kerah kemejanya tinggi-tinggi hingga menutupi dagu. "Lihat apa yang sudah kau lakukan pada leherku! Kau ini benar-benar tidak punya otak, ya?!"
Landon menaikkan satu alisnya, menatap leher Vexana dengan pandangan santai. "Ada apa? Aku hanya memberikan tanda pengenal pada milikku."
"Milikmu kepalamu!" Vexana menggerutu dengan sangat galak, matanya melotot laksana ingin menguliti pria di depannya.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada Daddy dan Mommy saat pulang ke mansion nanti, hah?! Aku pamit semalam untuk pergi ke pesta rilis koleksi perhiasan Andriana, dan pagi ini aku pulang dengan leher penuh tato kemerahan seperti ini! Mereka tidak bodoh, Landon! Mereka pasti tahu aku habis ditiduri oleh seseorang!"
Mendengar gerutuan panik Vexana, Landon bukannya merasa bersalah, ia malah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menampilkan senyuman geli yang sangat menyebalkan di mata Vexana.
"Itu cantik, Sayang. Coraknya indah dan merata," ucap Landon dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan seksi, matanya berkilat penuh kilatan kepemilikan yang absolut.
"Mesum! Dasar Dosen cabul!" Umpat Vexana, wajahnya semakin memerah hingga ke telinga. Ia benar-benar ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam mangkuk sup saat ini juga jika ada.
"Aku tidak mau tahu. Kita harus mencari toko kosmetik sekarang juga. Aku butuh concealer dengan coverage paling tinggi untuk menutupi semua kegilaanmu ini!"
Landon terkekeh lagi, suara tawa rendahnya terdengar begitu renyah. "Baik, baik. Setelah menghabiskan makananmu, kita pergi mencari kosmetikmu itu. Jadi, habiskan sarapan mu, Vexa."
Setengah jam kemudian, mobil SUV hitam milik Landon membelah jalanan distrik komersial Beverly Hills.
Landon menghentikan mobilnya di depan sebuah gerai kosmetik kelas atas yang baru saja membuka pintunya.
Vexana turun dari mobil dengan langkah tergesa-gesa, masih mengenakan kemeja kotak-kotak besar dan celana training longgar milik Landon yang membuatnya terlihat sangat kontras dengan wanita-wanita sosialita Beverly Hills yang biasanya berlalu-lalang di sana.
Namun, nama keluarga Valerio yang melekat pada wajahnya membuat para pelayan toko tetap menyambutnya dengan bungkukan hormat yang dalam.
Landon berjalan di belakangnya dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jinsnya. Ia mengamati Vexana yang sedang panik berkonsultasi dengan seorang penasihat kecantikan toko, menunjuk-nunjuk lehernya yang sengaja ia tutupi dengan rambut panjangnya.
"Aku butuh sesuatu yang bisa menutupi bekas luka... maksudku, bekas kemerahan yang sangat pekat. Yang tahan air dan tidak mudah luntur," kata Vexana dengan suara yang sengaja dikecilkan, mencoba menahan rasa malunya yang sudah di ambang batas.
Pelayan toko itu tersenyum maklum, tampaknya sudah sangat sering menghadapi situasi darurat khas wanita muda kelas atas.
"Tentu saja, Miss. Kami memiliki waterproof full-coverage concealer yang biasa digunakan untuk menutupi tato. Mari saya tunjukkan."
Saat pelayan itu mengambilkan produk, Landon melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang tubuh Vexana. Ia menundukkan kepalanya, berbisik tepat di dekat telinga wanitanya hingga embusan napas hangatnya membuat Vexana meremang.
"Kau yakin ingin menutupinya? Padahal aku sudah bersusah payah membuatnya semalaman, Bee."
Vexana menyikut perut Landon dengan keras menggunakan sikutnya.
Bugh!
Landon mengaduh pelan sambil memegangi perutnya, namun senyuman geli tidak luntur dari wajah tampannya. "Kau kasar sekali pada calon suamimu."
"Diam atau aku akan membelikanmu racun tikus sekarang juga," ancam Vexana ketus.
Setelah membayar concealer tersebut dengan kartu kreditnya, Vexana langsung menuju ke toilet toko.
Di depan cermin besar, dengan gerakan yang terampil namun penuh dengan gerutuan maki untuk Landon, ia menepuk-nepukkan krim tebal itu ke seluruh permukaan lehernya.
Butuh waktu hampir lima belas menit hingga semua mahakarya gila Landon semalam berhasil tersamarkan dengan sempurna di balik lapisan kosmetik.
Begitu keluar dari toilet, ia mendapati Landon sedang berdiri menunggunya di dekat pintu keluar, memegang sebuah kantong belanjaan kecil dari butik pakaian di sebelah toko kosmetik tadi.
"Apa itu?" tanya Vexana sembari membenarkan tatanan rambutnya.
Landon mengulurkan kantong itu. "Sebuah syal sutra hitam. Cuaca di luar semakin dingin, dan aku tidak mau concealer-mu itu luntur karena keringat atau gesekan kerah kemejaku. Pakai ini untuk perlindungan ganda."
Vexana menatap kantong itu, lalu menatap wajah Landon yang kini menampilkan raut wajah yang tulus dan perhatian. Rasa hangat yang sempat ia tekan kembali menyeruak di dadanya. Tanpa banyak protes lagi, ia menerima kantong itu dan melilitkan syal sutra tersebut di lehernya.
"Terima kasih," bisik Vexana lirih, matanya beralih menghindari tatapan Landon.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang, mari kita pulang ke rumahmu. Aku ingin melihat putraku," jawab Landon, menggandeng jemari tangan Vexana dengan erat, menuntunnya kembali menuju mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan menuju Bel-Air terasa berjalan begitu cepat seiring dengan debaran jantung Vexana yang semakin tidak beraturan.
Semakin dekat mobil Landon membelah kawasan perumahan elit itu, semakin besar pula rasa cemas yang menggerogoti dinding dadanya.
Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah AJ—putranya yang selama ini mengira dirinya adalah seorang kakak perempuan.
Mobil SUV hitam Landon akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa berukir inisial keluarga Valerio. Dua orang penjaga berbadan tegap dengan seragam hitam langsung keluar dari pos penjagaan, bersiap untuk menginterogasi mobil asing yang berani berhenti di kediaman utama Maximilian Valerio.
Namun, begitu kaca mobil bagian penumpang diturunkan dan menampilkan wajah dingin Vexana Valerio, kedua penjaga itu seketika menundukkan kepala mereka dengan patuh.
"Buka gerbangnya," perintah Vexana pendek, suaranya kembali datar dan penuh otoritas seorang putri tunggal Valerio.
"Baik, Nona," jawab salah satu penjaga, yang kemudian melirik dengan pandangan penuh selidik ke arah pria tampan berkaus hitam yang duduk di kursi kemudi—Landon Desmon.
Gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka dengan bunyi derit halus, menampilkan halaman mansion yang sangat luas dengan hamparan rumput hijau yang dipotong rapi dan air mancur marmer di tengahnya.
Landon melajukan mobilnya perlahan menyusuri jalan setapak beraspal menuju ke arah teras utama mansion yang megah laksana istana bergaya Eropa klasik.
Landon menghentikan mobilnya tepat di depan undakan tangga marmer teras. Ia mematikan mesin mobil, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Vexana. Suasana mendadak kembali tegang.
"Aku tidak akan turun sekarang, Bee," ucap Landon perlahan, mengusap punggung tangan Vexana yang terasa dingin dan gemetar.
"Aku tahu kau butuh waktu untuk menata emosimu di depan AJ setelah kebenaran ini terungkap. Dan aku juga harus menyiapkan beberapa hal sebelum nanti malam aku datang bersama keluargaku untuk menuntut hakku pada Daddy mu."
Vexana menatap tangan mereka yang saling bertautan. "Kau... kau benar-benar akan datang nanti malam, Don? Daddy tidak akan tinggal diam jika kau mencoba mengusik status AJ."
Landon membawa tangan Vexana ke depan bibirnya, mengecup buku jari wanita itu dengan takzim dan penuh kepastian.
"Persetan dengan apa yang akan dilakukan daddymu, Vexa. Bertahun-tahun aku kehilangan waktu karena ketidakberdayaanku. Tapi sekarang... aku adalah seorang pria yang memiliki seluruh kartu as untuk menghancurkan kebohongan keluargamu. Aku akan menjemputmu dan AJ, tidak peduli jika aku harus membakar mansion ini sekalipun."
Vexana menarik napas dalam-dalam, mencoba menyalurkan keberanian dari genggaman tangan Landon ke dalam jiwanya yang rapuh. Ia mengangguk pelan, lalu melepaskan tautan tangan mereka.
"Aku turun dulu," ucap Vexana pendek.
Saat ia membuka pintu mobil dan bersiap untuk melangkah turun dengan kemeja kebesaran dan syal sutranya, sebuah suara panggilan bernada tinggi dan cempreng khas anak kecil mendadak menggema dari arah pintu utama mansion yang terbuka.
"Kak Vexa!!!"
Deg.
Jantung Vexana seolah berhenti berdetak. Ia menoleh dengan cepat ke arah sumber suara.
Anak itu adalah Austin Jaxon Valerio—AJ. Darah dagingnya sendiri yang selama ini memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'.
Di dalam mobil, Landon yang masih duduk di kursi kemudi seketika terpaku dengan mata membelalak sempurna.
Pandangan mata legamnya terkunci sepenuhnya pada sosok anak kecil yang baru saja keluar dari mansion.
Tanpa perlu penjelasan medis atau tes DNA apa pun, Landon tahu... anak itu adalah salinan sempurna dari dirinya saat kecil, namun memiliki sepasang mata bulat yang sangat indah yang diturunkan langsung dari Vexananya.
Jagoannya ada di sana, hanya berjarak beberapa meter dari jangkauan tangannya.