Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Kembali ke Zona Berburu
Sepatu bot Wan Chen menginjak tanah kering berpasir. Melewati garis demarkasi maya.
Suara teriakan para pencari tumbal di gerbang langsung terputus. Seolah ada dinding kedap suara kasat mata yang membelah dunia.
Bau pesing kotoran manusia dan asap pembakaran sampah mendadak hilang. Hidungnya kini dipaksa menerima realitas baru. Aroma udara dingin yang mati. Dicampur bau sengatan karat dari kerangka baja yang telanjang.
Reruntuhan kota di depannya membentang bisu. Rangkaian gedung pencakar langit yang hancur tampak seperti nisan-nisan raksasa di padang ilalang beracun.
Ia berhenti sejenak. Menarik ritsleting jaket bututnya sampai ke batas leher.
'Gila,' batinnya pelan. 'Sepi begini justru bikin muak.'
Langkah kakinya mulai melambat. Kewaspadaannya ditarik paksa sampai ke ambang batas rasional.
Tanpa tiga orang bodoh yang biasanya mengekor di belakang, punggungnya kini terasa sangat terbuka. Sangat rentan.
Satu kelengahan konyol, rahang monster kelaparan atau peluru nyasar sesama pemburu akan langsung melubangi kepalanya. Tidak ada kompromi. Tidak ada perundingan.
Tidak ada cadangan nyawa. Tidak ada rekan yang akan membalut lukanya saat ia tersungkur.
Tapi otaknya justru menari.
Kesendirian ini adalah profit absolut. Risiko murni yang dibayar tuntas dengan koin utuh di akhir hari.
Wan Chen menyimpang dari jalan aspal utama. Rute itu terlalu lebar. Terlalu memancing mata.
Hanya kelompok pemburu amatir bergerombol atau bandit tengik yang suka mondar-mandir di jalur raksasa itu. Ia lebih memilih celah sempit di antara himpitan dua gedung perkantoran komersial yang sudah ambruk separuh.
Matanya menyapu lantai beton yang retak. Menguliti setiap inci permukaan jalan layaknya mesin pemindai.
Ada lapisan debu abu-abu di sana. Tumpukannya tidak rata.
Ia berjongkok sedikit. Menurunkan titik berat tubuhnya.
Jari telunjuknya menyentuh pinggiran goresan memanjang pada sisa aspal kasar tersebut. Pinggiran goresan itu masih terasa cukup tajam di ujung saraf jarinya. Belum terkikis sapuan angin liar sektor luar.
'Baru lewat sekitar tiga jam lalu,' gumamnya dalam hati, matanya menyipit logis.
Ia berdiri lagi. Memutar arah pandangannya ke tumpukan puing beton di sisi kiri gang.
Itu sama sekali bukan goresan pelat sepatu bot manusia. Ini pola tarikan kuku yang sangat brutal. Tiga jari. Anatomi monster tingkat rendah.
Wan Chen sangat hapal tabiat penghuni area pinggiran seperti ini.
Mereka pengecut, rakus, dan murni mengandalkan insting untuk memakan sisa-sisa bangkai yang ditinggalkan predator kelas atas. Mangsa empuk untuk mesin panen koinnya.
Langkahnya menjadi sangat ritmis dan ringan. Hampir seperti bayangan malam yang meluncur di atas pecahan kaca tanpa menimbulkan bunyi derak sekecil apa pun.
Satu jam penuh ia menyelinap di antara labirin kota mati.
Menghindari dua rute persimpangan besar yang memiliki jejak ban kendaraan lapis baja. Jejak ban berarti kelompok konglomerat hunter. Berurusan dengan mereka sama saja mencari masalah yang tidak dibayar.
Telinganya tiba-tiba menangkap sebuah anomali frekuensi.
Ia langsung menempelkan sisi kepalanya ke dinding pilar bata berlumut tebal. Menahan tarikan napasnya di kerongkongan.
Kraak.
Suara decakan basah. Sangat menjijikkan.
Diikuti bunyi tulang rapuh yang diremukkan paksa oleh rahang dengan daya hancur berlebih.
Arahnya mengejutkan. Dari atas.
Wan Chen mendongak perlahan. Matanya mengunci sebuah bekas ruko tiga lantai komersial.
Fasad bangunannya sudah hancur lebur terkena dampak anomali masa lalu. Memperlihatkan kerangka lantai dua yang menggantung ngeri seperti lidah beton menjulur.
Ia mulai memanjat lewat sisa tangga darurat berkarat di sisi luar dinding.
Tangannya mencengkeram batang besi dengan presisi matematis. Kalkulasi beban tubuhnya diukur cermat. Ia tidak membiarkan struktur rapuh itu berderit sedikit pun saat menahan berat badannya.
Begitu pucuk kepalanya melewati batas lantai dua, matanya langsung membidik target operasi.
Tepat tiga puluh meter di depannya.
Empat ekor Anjing Pemakan Bangkai Mutasi sedang berebut sisa tulang belulang berbalut daging busuk dari sisa bangkai entah apa.
Bentuk anatomi mereka sangat mengerikan. Kulit tanpa bulu yang melepuh merah seolah habis disiram zat asam. Otot punggung yang tumbuh tidak wajar dan asimetris.
Rahang mereka jelas terlalu besar untuk ukuran tengkorak aslinya. Air liur kental menetes jatuh dari sela taring-taring yang berantakan.
Wan Chen tidak langsung gegabah. Matanya bergerak cepat memindai seluruh perimeter medan bentrokan.
'Empat ekor,' hitungnya dengan sangat dingin. 'Terlalu menguras kalori dan daya tahan kalau ditabrak frontal.'
Perhitungan efisiensinya menolak aksi bunuh diri heroik. Luka sayat di bahu kirinya masih dibalut perban seadanya. Bergerak serampangan hanya akan merobek jahitan kasarnya.
Satu ekor di sebelah kiri tampak berukuran sedikit lebih kecil dari tiga saudaranya.
Anjing itu terusir dari kerumunan perebutan utama. Ia mendengus marah, menggeram rendah. Mulutnya kemudian menggigit paksa sepotong tulang paha berlumur darah muda, lalu berjalan menjauh dengan langkah pincang.
Monster buangan itu memisahkan diri. Menuju ke arah lorong sempit di ujung ruko yang lebih gelap. Mengarah tepat ke bawah area plafon yang sebagian besar strukturnya sudah ambruk ke lantai.
Ini celah operasional yang sangat brilian.
Ia merayap naik menembus sisa rangka atap yang keropos.
Bergerak menyamping bagai predator sesungguhnya, melewati jalur balok baja berkarat. Posisinya kini berada persis lima meter di atas rute vertikal yang akan dilewati anjing buangan itu.
Sudut sergap ini adalah titik buta yang absolut.
Pandangan monster rakus di bawah sana sepenuhnya terhalang oleh deretan rak pajangan minimarket yang sudah lama menjadi arang hitam.
Wan Chen bersiap menyetel pernapasan.
Kedua tangannya sengaja dibiarkan kosong melompong. Tidak ada bilah logam taktis yang digenggam di sana.
Membawa senjata terbuka saat bermanuver di udara hanya akan mengacaukan pusat gravitasinya. Lebih fatal lagi, gesekan udara pada logam akan memicu dengungan tipis. Anjing mutan punya pendengaran kelewat sensitif terhadap getaran baja pembunuh.
Bahu kirinya berdenyut pelan memperingatkan kondisinya, tapi letupan adrenalin menekan paksa rasa sakit itu sampai tenggelam ke dasar saraf.
Monster itu melangkah lambat tepat di bawah bayangannya. Rahangnya sibuk mengunyah daging busuk. Lengah sepenuhnya.
Wan Chen melepas cengkeraman jari dari balok baja di atasnya.
Tarikan gravitasi langsung menyeret tubuh kurusnya ke bawah.
Tanpa suara sama sekali. Tanpa aba-aba napas panjang.
Tubuhnya membelah udara dingin sektor tiga belas seperti sebongkah batu padat yang jatuh bebas mengarah ke tengkorak mangsa.
Pikirannya menajam seketika dalam hitungan milidetik. Ia mengakses ruang hampa di sudut ruang kognitifnya.
'Penyimpanan Dimensional. Eksekusi.'
Tepat dua meter sebelum ujung sol sepatunya menghantam tengkuk monster yang masih asyik mengunyah tulang itu, anomali ruang terjadi.
Udara di depan telapak tangan kanan Wan Chen terdistorsi kilat. Riak ruang dimensi meludahkan barang miliknya secara mutlak.
Gagang pisau taktis lurus berbalut karet materialisasi secara instan di udara kosong. Senjata mematikan itu jatuh menancap sempurna ke dalam telapak tangannya yang sudah menganga menanti benturan.