NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Yang Tinggal Disebuah Patung

Hantu Tampan Yang Tinggal Disebuah Patung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Hantu
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.

kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27.

 Hantu Keo pun ngajak Arun bersembunyi masuk di sebuah patung keramik berbentuk dewi. "Leo kita ngapain disini?" tanya Arun yang penasaran sejak tadi.

"Arun dengan mereka itu beda, mereka sudah menjadi arwah yang gentayangan bertahun-tahun sedangkan Arun belum waktunya meninggalkan dunia fana, jadi kalau mereka sampai tau, mereka akan menghalangi Arun untuk masuk ketubuh Arun lagi, jadi kalau malam berbahaya sekali buat Arun dan sementara ini kita sembunyi disini."

"Besuk pagi baru Arun kembali."

"Tapi Leo ikut kan, iya kan?" Arun dengan mata tajam memandang wajah Leo untuk memastikan kalau Leo akan ikut Arun ke dunia fana, meskipun Arun tidak bisa melihatnya lagi, paling gak, dia bisa di ajak ngobrol. "Arun maafin Leo ya? Sepertinya kali ini Leo gak bisa?"

"Kenapa Leo, kenapa jawab..!" Dengan mata berkaca-kaca Arun mendesak Leo untuk bercerita.

Suasana di dalam pelukan patung keramik itu terasa semakin dingin. Arun masih menatap Leo lekat-lekat, menunggu jawaban yang sesungguhnya. Leo menghela napas panjang, napas yang tak berwujud, namun terasa begitu berat keluar dari dadanya.

"Leo capek, Run..." suara Leo pecah, matanya menatap kosong ke lantai. "Kemarin... Leo membiarkan amarah menguasai diri Leo sepenuhnya. Leo kehilangan kendali. Dan akibatnya... kekuatan spiritual yang sudah susah payah Leo kumpulkan selama ini hilang begitu saja."

Leo menatap wajah Arun yang masih bingung.

"Kalau Leo ingin kembali ke alam manusia, atau bahkan ingin naik ke alam yang lebih tinggi... Leo harus mulai dari nol lagi. Harus meditasi dari awal lagi, dari dasar. Padahal sudah sejauh ini perjalanannya..."

Leo menggeleng pelan, raut wajahnya penuh keputusasaan.

"Leo sudah lelah, Run. Berpuluh-puluh tahun... Leo sudah melakukan itu. Bertahun-tahun Leo bertapa, berlatih, mencari jalan. Tapi hasilnya apa? Leo masih saja di sini. Masih belum juga ketemu sama Mama dan Papa."

Suaranya bergetar hebat, penuh rindu yang menyiksa.

"Impian Leo cuma satu, Run. Leo pengen cepat dijemput sama mereka. Leo pengen pindah ke alam yang tenang. Meskipun kita sudah jadi arwah, kan ada alamnya yang bener-bener damai, tempat kita bisa kumpul sama keluarga selamanya. Leo nggak mau berputar-putar di sini lagi, latihan ini itu, tapi ujung-ujungnya masih sendirian."

Leo memalingkan wajah, air mata beningnya akhirnya jatuh meluncur di pipi pucat nya.

"Makanya Leo mau nyerah, Run. Leo udah gak sanggup lagi meditasi. Leo capek berjuang. Leo cuma pengen istirahat dan cepat-cepat ketemu orang tua Leo..."

Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Leo, Arun hanya bisa diam terpaku. Tidak ada pertanyaan, tidak ada protes. Hanya kebisuan yang berat, seolah udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi sangat tipis dan sulit dihirup.

Dadanya terasa sesak, sangat sesak. Rasa sakit itu bukan sakit fisik, melainkan sakit yang menusuk sampai ke ulu hati, mendengar betapa lelah dan putus asanya orang yang disayanginya meskipun beda alam sat ini. Arun mengerti. Dia mengerti betapa beratnya perjalanan yang sudah Leo tempuh selama berpuluh-puluh tahun sendirian. Mengerti betapa perihnya rindu yang tak kunjung terobati, menunggu orang tua yang tak kunjung datang menjemput.

Perlahan, bahu mungil Arun mulai bergetar. Rasa sesak yang ia tahan sejak tadi akhirnya meluap. Matanya yang tajam tadi kini memerah, dan tak lama kemudian, butiran-butiran air mata bening itu jatuh membasahi pipinya.

Air mata itu mengalir deras, tanpa suara. Arun hanya menatap Leo dengan pandangan yang penuh haru, sedih, dan tak tega. Ia ingin berkata sesuatu, ingin menghibur, tapi rasanya semua kata-kata tidak akan cukup untuk menghapus rasa lelah yang sudah bertahun-tahun menumpuk di hati Leo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!